[MEDIA] BELAJAR HIDUP MANDIRI DARI FILM
By: Date: May 29, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Sally Anom Sari

Pada tahun 1998, Indonesia mengalami puncak krisis moneter yang pertanda-tandanya sudah mulai dirasakan dari tahun 1997. Hanya pada beberapa bulan saja nilai tukar dolar naik tajam dari hanya 2000-an rupiah per dollar sebagai 17.000 rupiah per dollar. Inflasi sangat tinggi. Banyak bisnis rol tikar. Nasabah bank menguras simpanan dananya secara akbar-besaran. Dalam suasana penuh ketidakpastian, keliru satu hal yang dilakukan warga adalah pergi ke toko-toko & pasar swalayan, kemudian memborong bahan makanan sebanyak mungkin. Dalam waktu singkat etalase pasar swalayan mulai kosong. Apa yang terjadi jikalau krisis terus berlanjut & nir ada lagi bahan kuliner di sana?

Kejadian di tahun 1998 itu menciptakan aku berpikir betapa rentannya hayati kita selama ini. Sebagian masyarakat pada Indonesia, terutama yg hayati pada perkotaan, hanya bisa mengandalkan toko, pasar atau supermarket buat mendapatkan bahan kuliner. Hidup kita sama sekali nir berdikari. Kehidupan terkini yang kita jalani selama ini menjauhkan koneksi kita dengan alam. Kita tidak memahami lagi bagaimana cara menumbuhkan makanan sendiri atau bertahan hayati dalam keterbatasan.

Padahal sebenarnya aku percaya kalau manusia punya kemampuan yang tinggi buat mampu bertahan hidup secara mandiri. Mungkin kita hanya perlu belajar lagi buat mengasahnya. Siapa tahu kita mampu memulai dengan belajar dari film.

Cukup banyak film yang karakternya harus berada dalam situasi sulit dan penuh keterbatasan. Mereka harus mencukupi diri sendiri untuk bertahan hidup. Ada film The Blue Lagoon (1980) dan Cast Away (2000) yang karakternya terdampar dalam sebuah pulau kecil. Ada lagi film Life of Pi (2012) yang lebih ekstrim lagi karena karakternya harus hidup terkatung-katung di atas perahu bersama seekor macan.

Karakter dalam ketiga film tadi awalnya hanya orang biasa. Mereka semua belajar banyak hal untuk memenuhi kebutuhan mereka di situasi sulit. Mereka membangun sendiri tempat mereka berteduh menggunakan bahan yang terdapat pada sekitar mereka. Lalu mereka belajar memancing atau menombak ikan pada lautan buat mencukupi kebutuhan makan mereka.

Banyak hal yg sanggup dipelajari menurut ketiga film tadi, tetapi ketiganya masih memenuhi kebutuhan makan dengan merogoh sumber daya yang terdapat di sekitar mereka. Alangkah menariknya kalau kita mampu menemukan film dengan karakter yg bukan hanya mengambil asal daya yg ada, tetapi jua sanggup mampu bercocok tanam menumbuhkan makanan sendiri.

Salah satu film yang bisa kita pelajari adalah The Martian (2015), yang bercerita tentang Mark Watney (Matt Damon) seorang astronot yang terpaksa tinggal sendirian di Planet Mars. Mark terdampar di Mars akibat sebuah kecelakaan yang membuatnya diasumsikan meninggal dunia. Seluruh rekannya pergi, tidak sengaja meninggalkan Mark sendirian. Mark pun harus bertahan hidup di Mars, sebuah planet tanpa kehidupan.

Di Planet Mars, Mark tinggal di tempat yg dianggap Hab (kependekan dari Habitat), sebuah dome yg dilengkapi dengan peralatan relatif sophisticated dan penuh oksigen, relatif untuk melindungi Mark dari kerasnya lingkungan pada Mars. Tetapi Mark masih harus mencari jalan keluar buat menerima kuliner & air.

Mark Watney di depan Hab, tempat tinggalnya di Planet Mars, dalam film The Martian

Di hari-hari awal Mark hayati menurut persediaan makanan yg ada pada Hab, namun jumlahnya terbatas. Mark wajib mencari sumber makanan lain. Ia pun memutuskan buat menanam berdasarkan residu persediaan kentang yang dia miliki. Mark eksklusif membenahi salah satu ruangan Hab buat dijadikan lahan bercocok tanam. Seluruh ruangan beliau isi dengan tanah berdasarkan Planet Mars, kemudian diberi pupuk menurut sampah kotoran. Setelah itu Mark mulai menanam. Setelah menunggu beberapa minggu, bisnis Mark menunjukkan hasil, kentangnya mulai tumbuh menggunakan fertile. Mark sukses menanam makanannya sendiri.

Mark Watney pada tengah ladang kentang pada Hab pada Planet Mars

Sementara buat menerima air, Mark memisahkan nitrogen dan hidrogen dalam hydrazine dari bahan bakar roket. Setelah itu ia membakar hidrogen menggunakan oksigen, & terciptalah air. Tersedianya asal makanan & minuman ini membuat Mark berhasil bertahan hidup selama berbulan-bulan.

Upaya menanam sumber makanan pada luar bumi seperti yg dilakukan Mark Watney pada film The Martian sebenarnya hal yg jua dilakukan di global konkret. Para ilmuwan sejak lama melakukan riset ini menggunakan asa mampu memenuhi kebutuhan pangan para astronot di luar angkasa. Pada Agustus 2015,riset ini membuahkan output. Untuk pertama kalinya para astronot mencicipi selada yg ditanam pada stasiun ruang angkasa internasional. Riset ini terus berlanjut hingga saat ini dengan upaya menanam flora yang lebih majemuk sehingga misi ruang angkasa mampu lebih berkelanjutan.

Ilustrasi menanam tanaman pangan di Planet Mars. Kredit Gambar: NASA

Apa yang dilakukan di Mars dalam hal menanam tanaman pangan saat ini masih dalam tahapan riset. Hal itu mungkin akan bermanfaat di masa depan ketika kita harus bertahan hidup dalam lingkungan yang sulit. Namun ketika harus menjadi mandiri dalam situasi nyata saat ini juga, kita perlu belajar dari tempat lain. Misalnya seperti dalam film Captain Fantastic (2016).

Captain Fantastic bercerita tentang Ben Cash (Viggo Mortensen) dan enam anaknya yang hidup di tengah hutan, menjauh dari kehidupan modern. Ben Cash dan istrinya tidak tahan dengan kehidupan modern yang kapitalis, sehingga mereka membangun “surga” mereka di tengah hutan. Mereka mengagumi Noam Chomsky dan mengadaptasi pemikiran Noam Chomsky dalam kehidupan sehari-hari.

Ben Cash & enam anaknya dalam film Captain Fantastic

Untuk membentuk rumah berdikari di tengah hutan, penulis sekaligus sutradara film ini, Matt Ross, berusaha melakukannya senyata mungkin. Ia beserta kru desain produksi melakukan riset dengan mewawancarai banyak pakar dan orang-orang yg hidup secara berdikari. Mereka memikirkan baik-baik bagaimana loka tinggal, sanitasi, sumber kuliner, air dan cara hayati yang wajib dijalani famili Cash untuk bertahan hidup. Semuanya harus lumrah.

Persediaan kuliner di rumah keluarga Cash

Keluarga Cash berburu, namun juga menanam flora. Untuk mengawetkan kuliner mereka melakukan pengasapan & fermentasi. Untuk memenuhi kebutuhan air higienis, mereka memiliki filtrasi air untuk penyaringan & bak penampungan besar buat penyimpanan. Rumah keluarga Cash sanggup dibilang relatif terbaru meskipun tidak dilengkapi teknologi komputer atau sejenisnya. Hidup mereka sepertinya baik-baik saja.

Masalah terjadi ketika famili Cash wajib pulang ke kota untuk menghadiri pemakaman istri dari Ben Cash di kota. Terjadi kontradiksi menggunakan famili sang istri. Ayah oleh istri menilai anak-anak Ben Cash dididik menggunakan tidak semestinya. Ben memang melatih anak-anaknya buat bertenaga seperti atlet, & cerdas seperti filsuf. Sejak mini mereka sudah biasa berkutat dengan pisau & alat berbahaya lain karena harus bertahan hidup di tengah hutan belantara. Ayah sang istri percaya bahwa Ben Cash membahayakan hayati anak-anaknya.

Pada akhirnya Ben Cash sadar jikalau beberapa hal memang ada benarnya, beberapa hal terlalu bahaya untuk anak-anaknya. Ben Cash lalu berkompromi menggunakan membentuk tempat tinggal baru di pinggiran kota, nir di tengah hutan, namun tetap hidup mandiri. Rumah itu terasa latif dan penuh kehangatan.

Keluarga Cash pada rumah baru mereka.

Meskipun hanya diperlihatkan sekilas dalam film, tetapi tempat tinggal keluarga Cash memberi asa bahwa hal tersebut sangat mungkin buat dilakukan. Saya jadi percaya jika terdapat jalan tengah antara hayati ketika ini yg sangat konsumtif, dengan hidup berdikari yang penuh kesederhanaan.

Kemandirian merupakan kebebasan, & setiap orang punya harapan buat mencapainya. Seperti apa yang dikatakan Rellian, keliru satu anak Ben Cash, mengutip tokoh idola famili mereka, Noam Chomsky:

?If you assume that there is no hope, you guarantee that there will be no hope. If you assume that there is an instinct for freedom, that there are opportunities to change things, then there is a possibility that you can contribute to making a better world.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *