[PIKIR] Membaca di Era Digital
By: Date: June 13, 2018 Categories: Uncategorized

Penulis: Sofie Dewayani

sumber-teorikomputer.Com

Selamat datang di dunia Gen Z, dunianya generasi muda yang melek teknologi. Survei Nielsen di Indonesia pada Oktober 2016 memperkuat ungkapan ini. Survey ini menemukan bahwa anak (usia 10-14 tahun) dan remaja Indonesia (umur 15-19) lebih gemar mengakses internet ketimbang membaca buku. Survey ini lebih jauh menyebutkan bahwa persentase anak yang membaca buku hanya 11 %, dan remaja hanya 10 %. Sementara itu, hanya 4 % orang dewasa membaca buku. Anak-anak dan remaja mengakses internet untuk mencari informasi (8 % untuk anak-anak dan 17 % untuk remaja) ketimbang bermain (hanya sekitar 6 % pada kedua kelompok ini. Fakta bahwa media teknologi lebih banyak diakses ketimbang media cetak tak dapat dielakkan lagi.

Perkembangan teknologi digital acapkali dianggap sebagai kambing hitam bagi kegemaran membaca. Orang risi bahwa waktu internet semakin mudah diakses, buku cetak nir lagi menarik minat pembaca. Di Indonesia terutama, kekhawatiran ini muncul karena minat membaca belum tumbuh. Kekhawatiran yang sama mengemuka pada dunia Barat pada awal kemunculan teknologi visual, yaitu televisi dan film. Namun kekhawatiran ini tidak terbukti. Buku-kitab cetak permanen digemari waktu itu, lantaran diproduksi dengan memenuhi tantangan teknologi visual. Buku-buku dibentuk menggunakan kaya warna, gambaran dan desain yg menarik. Inovasi terjadi pada dunia komik, novel grafis, dan kitab bergambar, yg digarap dengan kualitas konten, warna, & desain yang lebih baik. Televisi sempat mencuri perhatian sesaat, namun orang permanen pulang kepada buku cetak. Hal ini pertanda bahwa teknologi visual bahkan menaruh donasi bagi perkembangan global membaca. Budaya membaca buat kesenangan (reading for pleasure) semakin tumbuh karena dipupuk & dimanjakan sang buku-buku yg baik. Perkembangan budaya membaca buat kesenangan tumbuh seiring menggunakan penemuan dalam teknologi visual.

Sumber-wawanindrairawan.Wordpress.Com

Inovasi dalam produksi buku telah tampak pada Indonesia dengan kemunculan kitab -buku bergambar yg memperhatikan aspek desain, penataan, dan ilustrasi secara lebih serius. Penulis-penulis buku anak, contohnya, berpartisipasi dalam ajang kompetisi taraf Asia dan internasional & perhatian konsumen kitab mulai diarahkan pada kitab -buku yg mendapatkan pernghargaan dalam kompetisi ini. Sayangnya, kitab -buku berkualitas hanya dapat diakses sang kelas atas dan menengah pada daerah perkotaan di Pulau Jawa. Rendahnya daya beli & mahalnya ongkos ekspedisi serta distribusi menyebabkan kitab -buku berkualitas ini tidak bisa diakses sang sebagian akbar pembaca, terutama mereka yang tinggal di pedesaan, luar Jawa, dan wilayah-wilayah terluar di Indonesia. Karenanya kita memaklumi, apabila perpustakaan-perpustakaan SD masih menyimpan kitab -kitab Inpres atau DAK (Dana Alokasi Khusus) yg miskin kualitas dan cerita warga yang tidak sesuai menggunakan daya akal & pemahaman mereka. Inovasi dalam peningkatan kualitas & distribusi buku anak terbukti kalah cepat dengan perkembangan teknologi internet dan gawai elektronika yg telah menyebar ke segala penjuru Indonesia. Informasi digital saat ini telah sebagai materi bacaan yg diakses secara masif. Kegiatan membaca digital mempengaruhi cara seorang mencerna fakta, perilaku membaca, dan cara tahu bacaan. Lantaran itu, upaya menumbuhkan minat baca membutuhkan taktik spesifik dan perlu memperhatikan perilaku dan preferensi membaca pada era digital ini.

Perilaku Membaca Gen Z

Apabila pada seseorang anak balita diberikan perangkat gawai berlayar, umumnya ia akan mendapat gawai itu dengan antusias, lalu menggeser-geserkan telunjuk dan mak jarinya pada layar tersebut, meskipun perangkat tersebut tidak memakai teknologi ?Touch sreen;. Salah satu karakteristik Gen Z merupakan mereka terlahir dengan kepiawaian memakai gawai karena mereka tumbuh menyaksikan, dikelilingi, dan terhibur oleh perangkat tersebut. Anak-anak Gen Z dibesarkan sang apa yang tersaji pada layar kaca & layar digital sehingga mereka berpikir & membaca dengan nalar dan cara yang tidak sama dengan generasi pendahulunya. Salah satu perilaku membaca masa kini yang diamini oleh poly peneliti adalah norma membaca teks-teks pendek dan kemampuan multitasking waktu membaca. Pembaca di era digital jarang berfokus pada satu bacaan dalam jangka saat yang usang. Mereka beralih perhatian menurut bacaan satu kepada bacaan lain, kepada surel, kepada kegiatan berselancar pada dunia maya, atau berkomunikasi pada media umum. Jenis teks & cara membaca ini menunjukan berkurangnya rentang konsentrasi & daya tahan membaca pada satu bacaan. Tujuan membaca sebagai semakin pragmatis; orang membaca hanya buat mencari liputan tertentu yang khusus.

Sumber-cityanalysts.Blogspot.Com

Banyak peneliti menempatkan kegiatan membaca kitab cetak dan elektronik dalam sisi yang antagonis. Ziming Liu (2005) mengungkapkan bahwa waktu membaca informasi digital, pembaca cenderung mencari liputan yg khusus dengan teknik memindai (scanning), menggunakan istilah kunci tertentu, membaca dengan alur yang nonlinear, & membaca penggalan kabar secara selektif. Ketika melakukan ini, pembaca mengabaikan poly warta detail. Hal ini tentunya tidak sama menggunakan pembacaan terhadap buku cetak yang biasanya dilakukan dengan perhatian penuh, lebih terfokus, sebagai akibatnya mendapatkan warta secara lebih sistematis. Praktik menuliskan komentar dalam marjin buku dan menggarisbawahi kalimat (teknik anotasi) yang sering dilakukan pembaca saat membaca kitab cetak pun nir dilakukan oleh pembaca konten digital, meskipun fitur ini tersedia pada perangkat digital.

Aktivitas memindai pun dilakukan sang pembaca cetak & digital menggunakan cara yg berbeda (Olsen, 1994). Saat membaca kitab cetak, pembaca memindai bacaan buat menemukan keterangan tertentu sembari berusaha tahu keseluruhan teks. Pembaca pun bisa mengingat informasi yang dipindai tadi dengan lebih baik karena ia dapat menandai letaknya dalam buku. Menurut Olsen (1994), ingatan visual ini nir terjadi pada aktivitas menelusuri bacaan digital (scrolling up, scrolling down). Teks digital umumnya dibaca secara parsial, sehingga pembaca nir membacanya menjadi satu kesatuan wangsit secara utuh. Dalam hal ingatan terhadap konten bacaan, Penelitian Anne Mangen berdasarkan Universitas Norwegia menemukan bahwa pembaca kitab cetak buat mengingat berita dari materi bacaan dengan lebih baik ketimbang kitab elektro. Studinya menerangkan bahwa pembaca kitab cetak mampu menceritakan ulang isi bacaan menggunakan lebih baik & lebih detil ketimbang pembaca kitab elektronik.

Meskipun demikian, kita tidak mengelak informasi bahwa konten digital memiliki beberapa fitur unggul. Pertama, teks digital memperlihatkan cara yg instan buat mengakses berita. Kedua, bacaan digital bersifat multimodal. Teks, gambar/elemen visual, bunyi, bahkan fitur-fitur interaktif menjadi elemen pemikat bacaan digital. Paket komplet ini memampukan teks digital buat mengakomodasi kekhususan belajar; sinkron bagi pembaca berkebutuhan khusus atau pembaca dengan ragam gaya belajar: visual, auditori, & kinestetik. Ketiga, membaca digital memungkinkan pembaca buat mengakses banyak materi pada ketika yg singkat sebagai akibatnya mempertinggi kemampuan sintesis mereka. Tentunya, kecakapan literasi berita ? Yaitu kemampuan buat memilah fakta dari akurasi & kemanfaatannya ? Perlu ditingkatkan secara sistematis. Dengan semua potensi menarik ini, kemampuan membaca materi digital bisa ditumbuhkan seiring menggunakan minat & budaya membaca materi cetak. Keduanya saling melengkapi. Membaca digital lebih sinkron buat penelusuran fakta secara instan, sedangkan membaca materi cetak membantu buat memahami fakta secara menyeluruh.

Preferensi Bacaan

Materi bacaan dalam bentuk digital dan cetak perlu dipahami sebagai alternatif yang tersedia untuk dipilih pembaca di era modern ini. Pembaca memiliki preferensi yang luas; yang menentukan pilihan material bacaan adalah keterikatan emosional terhadap material tersebut dan kebiasaan individu. Sebagian pembaca mungkin lebih nyaman membaca pada layar gawai. Sebagian yang lain tetap setia pada materi cetak. Preferensi terhadap materi cetak atau digital ini ternyata tak dipengaruhi oleh usia. Survei Ramirez (2003) membuktikan bahwa kebanyakan (68 %) remaja di Amerika lebih menyukai membaca bacaan cetak karena mereka mendapatkan dan mampu mengingat lebih banyak informasi. Penelitian lain oleh Hartzell (2002) menyebutkan bahwa remaja mengakui membaca lebih lambat pada layar monitor komputer dibandingkan apabila mereka membaca buku cetak. Preferensi ini menunjukkan bahwa invasi teknologi sesungguhnya bukanlah ancaman terhadap minat membaca, melainkan tantangan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan kualitas buku dan kegiatan penumbuhan minat baca.

Dengan mengetahui perilaku & preferensi Gen Z, kita dapat menyikapi mereka menggunakan lebih bijak. Preferensi mereka terhadap teknologi tidak perlu disikapi dengan paranoid jika kita tidak memperlakukan teknologi sebagai ancaman; melainkan, tantangan yang mengharuskan orang dewasa buat semakin kreatif lagi.

Sumber-animalpolitico.Com

Daftar Referensi

  1. Hartzell, G. (2002). Capitalizing on the school library’s potential to positively affect the students’ achievements. Diunduh dari http://eduscapes.com/sms/overview/hartzell.html
  2. Liu, Z. (2005). Reading behavior in the digital environment: Changes in reading behavior over the past ten years. Journal of Documentation, 61 (6), pp. 700-712.
  3. Olson, D. Z. (1994). The world on paper. New York: Cambridge University Press. Ramirez, E. (2003). The impact of the Internet on the reading practices of a university community: the case of UNAM. World Library and Information Congress: 69th IFLA General Conference and Council, August 1-9, 2003, Berlin, pp.1-13. Diunduh dari http://www.ifla.org/IV/ifla69/papers/019e-Ramirez.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *