[RUMAH KAIL] PEMANFAATAN SANDANG DI RUMAH KAIL
By: Date: June 16, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Didit Indriati

Sandang merupakan kebutuhan utama manusia buat melindungi tubuh berdasarkan cuaca panas atau dingin & buat menampilkan diri menjadi mahluk yg berbudaya.

Sandang lebih dari sekedar pakaian; sandang juga menunjukkan semangat, atau paham dari si pemakainya. Sandang pun menjadi cara seseorang atau sekelompok orang menyatakan identitas mereka. Misalnya dokter berpakaian khusus, tentara berseragam khusus, anak sekolah berseragam, ulama memakai jubah atau peci, perempuan muslim memakai jilbab,  tukang masak menggunakan celemek dan tutup rambut, semua memiliki ciri sandang yang khas. Sandang juga berbeda sesuai fungsi seperti untuk olah raga, renang, mendaki gunung, menyelam, balap motor, menjelajah angkasa sebagai astronot, dan semua memiliki standar yang sesuai dengan peruntukannya.

Sandang sebagai bukti diri diri?

Namun,dalam proses produksinya, sandang berpotensi menurunkan kualitas alam karena penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat mencemari tanah dan udara. Ditemukannya bahan-bahan sandang sintetis yang tak dapat diurai di alam,  berpotensi membahayakan alam di masa mendatang, jika pemakaiannya tidak diiringi dengan pemikiran yang arif terkait alam.

Seringkali seorang membeli produk pakaian lantaran dipercaya sedang tren pada jaman tersebut, tetapi segera dibuang ketika tren tersebut telah lewat. Padahal, untuk membuat satu bahan sandang tadi sekian banyak bahan yg berpotensi menghambat alam telah terbuang, mulai dari proses pembuatan hingga dengan pemasaran.

Visi Perkumpulan Kail terhadap Sandang

Rumah Kail mengedepankan visi keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan. Selain pangan dan papan, pakaian yang berkelanjutan merupakan asa primer dari Rumah Kail.

Kail membangun jaringan sosial menggunakan para teman melalui relawan Kail juga mitra-mitranya dalam mewujudkan visi Kail dalam pakaian yang berkelanjutan.

Berdasarkan pengalaman Kail pada mendorong sandang yang berkelanjutan, maka ide-ilham kegiatan berikut adalah akan terus dipraktekkan pada Rumah Kail:

  • apabila ada pakaian yang bahannya masih indah tetapi nir bisa dipakai lagi, mampu didaur ulang buat dijadikan lap tangan, cempal, keset, dan lain sebagainya
  • Kain residu proses menjahit yg tidak terpakai tetapi masih mengagumkan bisa diubah menggunakan sedikit kreativitas sebagai perca hias, kain penutup meja (taplak), gorden, boneka kain, sampul buku, hiasan kaleng ,arpillera, dan sebagainya.
  • Apabila ada relawan yang memiliki kecintaan pada bidang produksi pakaian berkelanjutan maupun pemanfaatan produk sandang ramah lingkungan yang bisa menyebarkan ilmu atau keterampilan, akan diundang buat mengenalkan minat mereka, seperti proses membatik, proses menenun, proses kerajinan perca, dan lain-lainnya.

Salah satu upaya mempromosikan sandang berkelanjutan adalah menyelenggarakan bazaar sandang bekas layak gunakan. Upaya ini sudah berjalan selama 5 tahun, & selalu dikemas pada seremoni Hari Ulang Tahun KAIL & Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus. Melalui para relawan juga kawan-mitranya, Kail mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumbangan pakaian bekas yang masih layak pakai, kemudian dijual secara murah kepada rakyat lebih kurang Rumah Kail juga para relawan yg hadir buat menyukseskan aktivitas tadi. Tujuan dari aktivitas ini tentunya adalah buat meneruskan umur pakai berdasarkan pakaian.

Suasana persiapan bazaar Rumah Kail

Kegiatan bazaar sandang bekas layak gunakan pada Rumah Kail

Selain bazaar murah, Kail menyimpan kain perca yg dapat digunakan buat membentuk produk-produk terkait pakaian yg dibutuhkan pada Rumah Kail, antara lain buat dijadikan keset, lap, cempal, taplak maupun hiasan ruangan.

Kegiatan yg pernah dilaksanakan sang Kail pada pemanfaatan residu-residu perca diantaranya mengadakan kegiatan keterampilan beserta ibu-mak berdasarkan Kampung Cigarugak yaitu menciptakan taplak, cempal & keset berdasarkan kain perca. Melalui aktivitas ini, masyarakat lebih kurang mendapatkan keterampilan baru, & juga memeriksa prinsip pakaian berkelanjutan melalui kegiatan siklus ulang bahan, yaitu kain perca.

Selain itu, Kail mengadakan kegiatan memasak perca yang diklaim menggunakan seni arpillera. Seni arpillera ini, selain mengusung prinsip pakaian berkelanjutan, pula adalah media penyembuhan batin dari syok. Jika ditengok ke belakang, pada awal mulanya, arpillera adalah bentuk protes para ibu terhadap kediktatoran Jendral Auguste Pinochet menurut Chile yg menyebabkan puluhan ribu orang terbunuh atau hilang lantaran penculikan. Para bunda di Chile berkumpul buat menyatakan duka & perlawanan mereka menggunakan membuat arpillera. Gambar-gambar yg muncul berdasarkan arpillera tadi adalah perwujudan perlawanan mereka terhadap kediktatoran pemerintah di masa itu.

Contoh karya arpillera pada Rumah Kail

Arpillera sebagai penyemarak dinding Rumah Kail

Artikel mengenai seni arpillera ini juga dapat dibaca di link berikut ini (https://proaktif-online.blogspot.com/search?q=arpillera). Selain sebagai bentuk protes damai, seni arpillera merupakan sarana penyaluran perasaan, penenangan batin serta proses pengabadian sebuah peristiwa.

Demikian seluk beluk pemanfaatan sandang berkelanjutan di KAIL. Kami berharap agar manfaat dan ilham menurut kegiatan yang kami laksanakan dapat pula menginspirasi masyarakat sekitar maupun para agen perubahan pada luar sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *