[Profil] Aviva Nababan
By: Date: June 21, 2018 Categories: Uncategorized

Berbeda menggunakan Yati, Aviva Nababan (biasa dipanggil Avi atau Iva oleh orang-orang terdekatnya) merupakan seorang jebolan Fakultas Pendidikan Sastra Inggris berdasarkan Universitas Atmajaya. Sedari kuliah Avi seringkali terlibat dalam kehidupan aktivis. Menapaki trotoar panas dan mengeluarkan aspirasi mahasiswa di era Reformasi ikut digelutinya. Setelah lulus, sedikit melenceng dari jurusan yang diambilnya ketika kuliah, Avi sempat terlibat relatif pada di ELSAM, sebuah LSM yang menyoroti duduk perkara Hak Asasi Manusia. Tak relatif di ELSAM, Avi pun turut membidani kelahiran suatu Yayasan baru yang keprihatinannya adalah pendidikan kritis bagi kaum belia. Di yayasan yang diberi nama Association for Critical Thinking ini, Avi mendedikasikan waktu dan energinya secara cuma-cuma.

Menunggu 2 tahun selepas lulus kuliah S1, Avie berhasil menggondol beasiswa ke London buat mengusut International Relationship melalui Chevening Scholarship. Minatnya dalam transitional justice mulai terwadahi. "Gue selalu merasa transitional justice itu krusial dalam mensukseskan transisi suatu negara berdasarkan dictatorship ke demokrasi," tuturnya lugas. Minat dalam hal inipun telah dipendamnya semenjak beliau masih belajar buat menjadi pengajar.

Entah karena minat yang beliau miliki sejak kuliah, sejak lulus, Avie belum pernah terjun ke dunia ‘coorporate’. Sampai sekarang beliau masih bergabung pada ACT. Namun satu organisasi belum cukup memuaskan sosok Avie yang tidak sanggup diam. Dia pun bergabung di ICTJ dan Human Rights Centre Berkeley. Meskipun sejarah hidupnya diwarnai menggunakan kehidupannya menurut satu LSM ke LSM lain, Avie mengakui bahwa beliau hanya ingin bekerja part time pada banyak sekali organ??Organisasi?? Yg dia geluti sekarang. "Agar tidak bosan dan punya keleluasaan memilih dalam proyek," alihnya. Dengan statusnya sekarang, Avie bebas memilih jam kerja dan berapa usang dia bekerja sehari. Terkadang ketika jiwa workaholicnya kumat, beliau sanggup bekerja lebih dari 12 jam sehari. Tetapi, disaat eksklusif, dia sanggup berdiam seharian di tempat tinggal buat menikmati dirinya sendiri.

Dari kedua loka dimana Avie berafiliasi, dia berhasil menerima keamanan finansial. "Cukup, relatif.." tuturnya. Tanpa perlu mendapatkan subsidi malahan justru menaruh subsidi dalam keluarganya, seorang Avie membeberkan manajemen keuangannya. Dari jumlah dua-lima juta/bulan yang niscaya beliau dapatkan (belum termasuk pekerjaan lepasan yg bersifat per proyek yang nir tentu nominalnya), 30% beliau berikan buat famili, 30% buat tabungannya & sisanya buat keperluan sehari-hari.

Salah satu saluran pembuangan keuangannya merupakan buku. Beberapa juta niscaya beliau habiskan pertahun buat membeli buku. "Tak pernah ada budget niscaya, namun ada beberapa juta." urainya. Beredar di TIM, ISAI & Q-B buat mencari buku-buku rupawan seringkali dilakoninya. Dia sendiri mengatur kitab -bukunya pada rumah, ada kitab -buku aturan (tentunya), sastra, novel suspense & aneka macam jenis buku lain yg dia beli tergantung moodnya ketika itu.

Waktu pada luar pekerjaannya sering pada habiskan untuk menjaga kesehatannya di fitness center. Selain itu dia masih seringkali berkunjung ke loka kuliahnya dulu. Avi jua dapat ditemukan pada warung-warung indomie tempat temannya nongkrong atau pada caf?-caf? Karena dia adalah sesosok penggemar kafein.

Orang tuanya tidak berkeberatan melihat anaknya berkiprah pada dunianya sekarang ini. Begitupun seseorang lelaki yg dekat dengannya beberapa tahun ini. Malahan ungkapnya, "kekasihnya yg bergerak pada bidang BUMN terlihat ingin bekerja tampaknya." Itulah sosok seorang Avie, yang hingga saat ini masih permanen konsisten menjalani minatnya, menuju negara yg demokratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *