[JALAN-JALAN] Pendidikan Pemilih untuk Perempuan
By: Date: June 22, 2018 Categories: Uncategorized

Menjelang Pemilu 2004 yang lalu, seorang staff Kail, Intan Darmawati, berkesempatan sebagai fasilitator training untuk pemilih wanita pada Makassar, Manado & Tahuna. Berikut ini cerita lengkapnya.

Menjelang pemilu 2004 yg kemudian, saya berkesempatan bergabung pada tim kerja Panitia Pendidikan Pemilih Bagi Perempuan, menjadi koordinator fasilitator. Program ini merupakan kerjasama JMP-KWI dan Bipelwan PGI, yg dilakukan dalam empat tahap, pada 23 kota dan 1090 lokasi di seluruh Indonesia.

Pelatihan diawali menggunakan TOT (pelatihan untuk para calon fasilitator) yang diadakan pada 3 kota, yaitu Jakarta, Makassar dan Denpasar. Ketiga pembinaan ini melibatkan kurang lebih 150 peserta menurut banyak sekali daerah pada Indonesia. Para peserta inilah yang akan menjadi fasilitator lokal & panitia lokal dan sosialisator pada training-pembinaan termin selanjutnya.

Saya sendiri berkesempatan buat memfasilitasi pada Makassar, pada mana para pesertanya berasal dari wilayah Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua. Hanya terdapat satu orang peserta laki-laki pada antara 49 orang peserta wanita berdasarkan banyak sekali usia & latar belakang. Keberagaman ini benar-benar memperkaya dinamika proses training, terutama ketika ekskavasi dan pemetaan masalah dan kebutuhan. Perbedaan wawasan dan kepekaan akan duduk perkara gender untungnya mampu dijembatani melalui sesi ini, sebagai akibatnya peta permasalahan yang muncul sungguh sanggup sebagai bahan yang signifikan dan membantu pada sesi selanjutnya, yaitu waktu mereka menyusun kriteria buat partai politik dan calon legislatif; serta diharapkan dapat menjadi tawaran rencana buat mereka perjuangkan.

Walaupun masalah yg muncul ada yg tidak sinkron, tapi ada beberapa masalah, terutama yg menyangkut kekerasan dan ketidakadilan terhadap wanita, secara spesifik muncul dan sebagai keprihatinan primer pada masing-masing daerah. Masalah-perkara di satu wilayah ternyata juga punya kaitan dengan wilayah lainnya. Misalnya masalah HIV/AIDS & prostitusi di Papua, nir terlepas berdasarkan perseteruan pada Minahasa. Keprihatinan bersama ini dalam gilirannya menggugah kesadaran & kebutuhan akan pentingnya solidaritas & terbentuknya jaringan kerjasama para wanita, dan terbangunnya komunitas basis wanita.

Selain pada Makassar, aku pula memfasilitasi proses pembinaan di Manado dan Tahuna. Saya merasa training ini disambut dengan antusias sang para peserta pada ketiga kota yg saya terlibat eksklusif tadi. Demikian jua menggunakan yang dialami mitra-kawan fasilitator kawan di 20 kota lainnya. Jadwal & materi yg padat nir mengendorkan semangat atau menciptakan mereka menyerah. Mereka permanen semangat hingga akhir sesi, menggunakan hasrat yang bertenaga buat bisa mensosialisasikan pulang apa yang mereka peroleh ke komunitas mereka masing-masing. Memang sepulang berdasarkan pembinaan ini setiap peserta bertanggungjawab untuk mensosialisasikan materi training ini ke minimal 60 orang.

Di Tahuna, sebuah kota di Kepulauan Sangihe, para wanita yang hampir semuanya merupakan bunda-mak , antusiasmenya tidak kalah dengan mereka yg terdapat pada Manado & Makassar. Walaupun dalam awalnya poly yang masih takut buat berbicara, akan tetapi mulai sesi pemetaan perkara, mereka mulai berani bicara & mengemukakan pendapat.

Untuk menjamin berlangsungnya proses yang benar-benar-sungguh partisipatif dan menurut perspektif peserta, metodologi pelatihan menjadi sangat penting. Alur training dibuat menggunakan mulai menurut peta perkara dan kebutuhan lokal (& perempuan ); kemudian dikaitkan dengan signifikansinya menggunakan Pemilu. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tentang Pemilu 2004 itu sendiri dan Kepentingan Perempuan di dalamnya. Setelah itu mereka merefleksikannya dari pertimbangan etis politis. Dari seluruh itu, mereka memperoleh bekal buat menciptakan kriteria ideal partai politik (parpol) dan calon legislatif (caleg). Berdasarkan kriteria inilah mereka kemudia beserta-sama belajar menganalisis parpol & caleg; sehingga mereka mampu menentukan pilihannya secara bebas & kritis. Tentunya, peluang dan tantangan ini lalu ditindaklanjuti menggunakan menciptakan taktik jangka pendek maupun jangka panjang.

Pendidikan Pemilih ini pada jangka panjang bertujuan mempersiapkan perempuan pada pendidikan politik. Pelatihan yang merogoh tema "Suara Perempuan buat Perubahandanquot; ini memang ingin konsisten menggunakan tujuannya, yaitu memberdayakan suara wanita buat membuat perubahan (transformasi sosial) menuju demokratisasi.

Secara keseluruhan, training ini boleh dikatakan berhasil, walaupun pada sana-sini terdapat keterbatasan dan kelemahannya. Apalagi respon yg hangat dan penuh semangat menurut para peserta, terutama yang pada daerah-daerah, telah menjadi pemacu semangat jua bagi para fasilitator yang telah menempuh perjalanan jauh. Semoga saja pendidikan dan penyadaran seperti ini nir berhenti sebatas acara apalagi hanya sebuah proyek saja!

(Intan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *