[MASALAH KITA] PANGAN DI ERA ANTROPOSEN : SISTEM PANGAN, MANUSIA DAN ALAM
By: Date: June 23, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Fransiska Damarratri

Kehidupan apa yg kita impikan buat global kini & mendatang? Tentu kehidupan yang sejahtera dan bahagia bagi kita dan bagi generasi mendatang. Serta keberlangsungan yang baik bagi alam di mana kita tinggal. Untuk keberlangsungan kehidupannya, manusia membutuhkan aneka macam hal. Dan kebutuhan-kebutuhan tersebut dihasilkan, secara fundamental, dari alam.

Berbagai kebutuhan hidup kita diderivasi dari minyak bumi.

(Mond Qu, Vimeo , 2012)

Sebagai contoh, bahan sandang kita berasal dari alam. Dahulu, sandang dibuat dari bahan seperti kapas. Kini bahan yang banyak digunakan adalah polyester. Pada dasarnya polyester merupakan polimer plastik yang berasal dari minyak mentah (petroleum/crude oil). Minyak mentah diekstraksi dari dalam perut bumi, dan merupakan bahan alam yang tidak dapat diperbaharui.

***

Hubungan antara insan & alam adalah subjek tersendiri yang menarik buat diulik. Paradigma & perasaan kita terhadap alam menghipnotis cara kita hidup. Namun nir bisa dipungkiri bahwa insan merupakan bagian menurut siklus alam, sebagaimana makhluk hayati lainnya. Apa yang dilakukan sang insan menghipnotis alam, dan syarat alam pun akan mempengaruhi syarat insan.

Manusia merupakan gugusan makhluk yg terus melakukan produksi dan konsumsi menggunakan teknologinya. Dengan jumlah umat manusia yg semakin poly, semakin majemuk dan masif pula proses tersebut pada muka bumi. Tren peningkatan populasi ini pun nampaknya akan terus berlanjut. Dampak keberlangsungan peradaban insan pun sangat akbar kepada Bumi.

Konon Bumi sudah memasuki era baru; Anthropocene atau Antroposen (1) . Karena“aktivitas manusia sudah berkembang menjadi kekuatan geologis tersendiri” melalui “perubahan guna lahan, deforestasi dan pembakaran bahan fosil” yang dimulai dua abad yang lalu bertepatan dengan James

Watt menemukan “mesin uap pada 1784” (2). Begitulah Paul Crutzen, pemenang Nobel Prize in Chemistry 1995, menuliskan makna istilah tersebut.

Dua material hasil produksi manusia yang sangat mudah ditemukan di permukaan bumi adalah beton dan plastik. Plastik merupakan material hasil turunan dari minyak bumi (crude oil). Sementara beton merupakan komposit dari agregat kerikil, pasir, dan semen. Semen sendiri terbuat dari batu kapur, silika, tanah liat dan pasir besi. Plastik berasal dari ekstraksi perut bumi. Sedangkan beton berasal dari ekstraksi batuan dan lapisan permukaan bumi. Produksi keduanya memindahkan dan memproses material-material planet Bumi menjadi dunia yang kita kenal kini.

Selain plastik dan beton, ada juga aluminium dan nitrogen dan fosfor menurut pupuk pertanian. Inilah material-material yg secara hipotetis akan ditemukan oleh makhluk masa depan.Ketika mereka menggali sedimen peradaban manusia kini .

Konon manusia sudah memproduksi sekitar 50 milyar ton beton. Jumlah itu setara dengan menyebarkan 1 kg beton/m2 (3) di seluruh luas Bumi. Setengah dari jumlah beton tersebut diproduksi dalam 20 tahun terakhir. Sementara hasil produksi plastik global, yang dikembangkan di sekitar tahun 1900-an, kini diperkirakan mencapai 8,3 milyar ton (4).

Lapisan anthropocene: sampah plastik.

(Sumber: Bo Elde, Flickr )

Selain indikator-indikator tersebut, ada beberapa indikator lain yang dipertimbangkan. Indikator yang beragam ini membuat Antroposen berbeda dari era-era geologi sebelumnya. Salah satunya adalah indikator tersebarnya elemen radioaktif karena teknologi manusia. Lalu ada indikator-indikator lain yang terkait produksi pangan. Bahkan sisa-sisa belulang dari perkembangbiakan ternak ayam global.

Manusia memang makin banyak mengonsumsi daging ayam. Konsumsi daging ayam Indonesia di tahun 2017 mencapai 6,4 kg/kapita/tahun, naik 1,5 kali lipat dari tahun 2007 (5). Angka tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan negara berpopulasi besar lain, Amerika Serikat. Pada tahun 2016 konsumsi ayam Amerika Serikat mencapai 40 kg/kapita/tahun (6). Data menunjukkan bahwa produksi pangan dunia mengalami peningkatan. Dan seiring peningkatan tersebut, berbagai polemik muncul.

Diagram 1. Trend populasi dunia yang meningkat, diiringi konsumsi pupuk nitrogen yang meningkat sangat tajam. Produksi serealia dan daging turut meningkat.  Sementara guna lahan untuk pertanian dan pengairan meningkat relatif sedikit. (7)

Masalah pangan di era Antroposen atau Era Manusia sudah menjadi sebuah wacana. Majalah daring Smithsonian memiliki tag topik berjudul Food in the Anthropocene atau Pangan di Era Antroposen (8). Foto-foto pengaruh manusia yang besar terhadap Bumi dapat juga dilihat di galeri yang diterbitkan oleh Guardian (9). Sementara Johan Rockström (Natural Resource Management, Stockholm University) di sebuah kelas daring mengungkapkan betapa produksi-konsumsi pangan adalah salah satu pendorong utama terjadinya pergantian era. (10)

[Manusia] sudah mengubah sekitar 50% permukaan tanah Bumi ke dalam beragam bentuk pertanian. Kita telah sampai pada titik di mana 70% sistem kelautan ditangkap secara berlebihan (overfished). Kita telah sampai pada titik pemanasan global 1,2 o  Celcius, yang bahkan di luar era Holocene; era terakhir yang kita telah masuki sejak zaman es terakhir. Dan pertanian adalah penyebab besar di balik perubahan ini. Produksi pangan adalah penggerak Antroposen. Dan kita berada di titik persimpangan kemanusiaan di Bumi ini. (11)

Produksi-konsumsi pangan kini masih adalah pembuat tempat tinggal kaca terbesar dan pengguna air bersih terbesar. Produksi-konsumsi pangan jua menyebabkan hilangnya keanekaragaman biologi pada beragam loka. Kegiatan insan ini juga telah mengakibatkan polusi nitrogen, fosfor, & bahan kimia lainnya secara hiperbola dalam badan-badan air.

Polemik Pangan Dunia

Malnutrisi

Banyak orang mengambil sudut pandang ?Kekurangan gizi? Lawan ?Obesitas?. Kekurangan gizi dan obesitas sejatinya adalah info malnutrisi. Malnutrisi merupakan kelebihan, kekurangan, atau ketidakseimbangan tenaga & nutrisi yang kita serap. Ketika kita kekurangan vitamin dan mineral. Atau ketika kita memiliki kadar kolesterol, lemak, gula, atau garam yang tinggi?Atau rendah. Ketika anak-anak kita mengalami masalah pertumbuhan. Ketika kita sensitif terhadap penyakit karena kebutuhan kita tak tercukupi.

Secara generik, Global Hunger Indeks pada negara berkembang sudah menurun 29% sejak tahun 2000. Tetapi pada luar indeks itu, sebenarnya kedaulatan dan akses terhadap pangan yg baik masih sebagai masalah. Menurut FAO, kerentanan pangan & obesitas seringkali terjadi bersamaan pada sebuah unit keluarga. Hal tersebut sekilas adalah sebuah bertentangan dengan harapan tersendiri. Hal tadi terjadi lantaran sumber daya & akses akan pangan sehat berkurang. Sehingga rakyat menentukan makanan yang padat kalori, mengenyangkan namun kurang sehat. (12)

Hal tersebut memicu kasus-masalah kesehatan, salah satunya obesitas. Statistik memberitahuakn bahwa buat setiap dua orang yang mengalami obesitas, masih ada satu orang kekurangan gizi. Lebih berdasarkan 2,1 milyar populasi dunia kini mengalami kasus obesitas/kelebihan berat badan. (13)

Kerusakan alam

Sumber dan akses terhadap pangan sehat ditentukan sang banyak hal. Dari segi daya dukung ruang, perkotaan semakin berkembang besar . Banyak terjadi perubahan kepemilikan dan guna lahan. Selain lahan yg berkurang, akses terhadap huma pertanian buat memproduksi pangan berkurang pula. Basis material buat masyarakat mengenal pertanian & pangan pun berkurang. Budaya dan profesi bertani kini bukanlah pilihan utama bagi generasi muda.

Daya dukung alam pun semakin terdegradasi. Salah satu sumber masalah adalah produksi-konsumsi pangan manusia yang masih mengikuti model ekonomi yang linear. Eksploitasi sumber daya tak terbarukan masih dilakukan. Limbah organis yang dihasilkan tidak dikelola untuk diuraikan kembali dengan sempurna oleh alam.  Limbah sedari produksi, pemrosesan, pengemasan dan konsumsi menjadi masalah, terutama plastik dan limbah kimia lain. Proses produksi-konsumsi pangan arus utama masih tidak mengindahkan siklus alam yang sudah ada.

Proses produksi-konsumsi pangan global menekan daur-daur alam. Keberlangsungan daur-siklus tersebut pun terpengaruh seiring waktu. Dan tentu dengan derajat yg tinggi, maka dari itu terjadilah perubahan era Antroposen.

UNEP (United Nations Environment Programme) menerbitkan laporan di tahun 2016 berjudul Food Systems and Natural Resources atau Sistem Pangan dan Sumber Daya Alam.(14) Di dalam tabel berikut dijabarkan penggunaan sumber daya terbarukan dan tidak terbarukan di rantai pangan. Terlihat bahwa rantai pangan bergantung pada sumber daya tidak terbarukan, baik dalam penanaman, produksi, pemrosesan, pemasakan, pengemasan dengan berbagai jenis kemasan termasuk plastik, hingga kebutuhan energi untuk penyimpanan dan penjualan.

Rantai pangan jua amat bergantung pada sumber daya terbarukan. Namun kita dapat menyimpulkan berdasarkan praktek arus utama bahwa pengelolaan manusia terhadap aspek ini pun bermasalah.

Fungsi-fungsi Sumber Daya Alam yang diperlukan untuk kegiatan rantai sistem pangan. Banyaknya titik menunjukkan perkiraan relatif penggunaan. Disadur dari laporan UNEP (2016). (15)

Hubungan antara penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan di sistem produksi pangan. EGS merupakan singkatan dari Ecological Goods and Services  (Barang dan Jasa Ekosistem), yang merujuk pada material dari alam dan layanan dari infrastruktur atau siklus alam. Disadur dari laporan UNEP (2016). (16)

Di dalam laporan yang sama, sebuah diagram sistem menjabarkan interaksi antara penggunaan kedua jenis sumber daya alam tersebut & efek terhadap aspek-aspek alam. Sistem pangan sesungguhnya membentuk siklus tertutup di mana efek yg dihasilkan mempengaruhi fungsi-fungsi alam pulang. Fungsi-fungsi alam tersebut lalu kita intervensi lagi buat menghasilkan pangan. Lalu dampak pun terjadi balik , dan seterusnya.

Kebun Kail berkaitan erat  infrastruktur alam; siklus air, udara, kualitas tanah, keanekaragaman hayati, dll. (Dok Kail)

Semakin tinggi tekanan dampak ke alam, kualitas fungsi alam menurun. Lalu hasil pangan kita akan menurun juga, baik dari segi kualitas dan kuantitas. Ketika kita masih bertahan dengan cara-cara yang masih memberikan tekanan dampak ke alam, maka kualitas fungsi alam akan terus menurun. Begitulah sistem pangan bergantung pada alam dan mempengaruhi alam. Di dalam Cara Berpikir Sistem (System Thinking), siklus sistem yang semakin menurun/menaik disebut juga reinforcing loop.

Sampah kuliner

Sistem pangan, yang beroperasi dengan fungsi alam, menghasilkan limbah atau material sisa produksi-konsumsi. Kita tidak dapat memungkiri bahwa material tersebut masih berada di alam. Dan  material-material hasil sisa produksi-konsumsi mempengaruhi fungsi alam.

Telah diajukan di awal tulisan bahwa salah satu indikator Antroposenadalah masifnya material plastik dan aluminium dari hasil kegiatan manusia. Ada juga material fosfor, kalium, dan nitrogen. Material-material tersebut banyak sekali digunakan di sistem pangan, sedari penanaman, produksi, pengemasan dan penjualan. Dapat kita ketahui juga dari diagram sistem di atas bahwa plastik dapat memberikan kontaminasi terhadap alam. Begitu juga material lainnya jika hadir dalam kadar yang mengganggu keseimbangan.

Dari aktivitas produksi-konsumsi, dihasilkanlah sisa material-material organis seperti sisa makanan, sisa material dari proses produksi dan pengolahan, material yang hilang atau terbuang saat proses transportasi dan penjualan, lalu material yang terbuang dari pola makan manusia. Material tersebut yang seringkali diberi istilah food waste atau di dalam tulisan ini akan disebut sampah makanan. Di negara berkembang, sampah makanan banyak terbuang dari sejak proses produksi hingga penjualan. Sedangkan di negara maju, sampah makanan banyak muncul dari perilaku pola makan manusia/konsumen.

Sampah kuliner, New York, Amerika Serikat. Amerika Serikat menghasilkan 277 kg sampah makanan per kapita. (Wikimedia Commons)

Dalam sebuah penelitian, Indonesia membentuk sampah makanan paling banyak per kapita ke 2 menurut 24 negara dunia yang diteliti. Secara berurutan keempat negara terbesar merupakan: Arab Saudi, Indonesia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab. Indonesia membuat 300 kg sampah makanan per kapita. (17)

Sampah kuliner, di Indonesia maupun secara global, masih lebih banyak terbuang ke TPA atau landfill. Sampah kuliner tercampur dengan material lainnya yang dibuang oleh manusia ke sistem persampahan. Kita menghabiskan sangat banyak sumber daya tidak terbarukan, seperti bensin dan solar, untuk memindahkan sampah tercampur tersebut ke TPA.

Apa yang mampu kita mulai?

Rangkaian masalah ini krusial buat dipecahkan bila kita mempunyai virtual akan sistem pangan yang baik bagi seluruh. Baik & mencukupi bagi insan & baik bagi alam. Sebuah sistem pangan yang nir membebani alam menggunakan imbas yang merugikan. Lantaran buat memproduksi pangan, kita akan bergantung pada material-material dari alam dan daur-siklus atau layanan menurut infrastruktur alam.

Penting bagi kita buat memikirkan ulang konflik di atas dengan lebih holistik. Memandang sistem pangan bukanlah sebagai rangkaian linear dari penghasil ke konsumen. Namun menjadi sebuah sistem kompleks pangan. Lalu menelaah ulang pilihan-pilihan teknologi dan cara hidup kita baik sebagai individu maupun kelompok.

Secara fundamental, kerangka berpikir insan terhadap alam menghipnotis pilihan-pilihan dan konduite kita. Paradigma tersebut berangkat dari memori, pengetahuan dan perasaan kita akan alam. Hal ini krusial buat kita pikirkan ulang atau kita dekonstruksi.

Kita dapat memperkaya pengetahuan menjadi umat manusia akan pangan dan ekologi. Lalu menelisik lagi perasaan kita terhadap alam itu sendiri. Apakah kita telah mengenal alam? Apakah kita sudah mempunyai pencerahan akan kebergantungan kita terhadap alam? Apakah kita berempati menggunakan semua ciptaan pada alam?

Dengan bekal kerangka berpikir yang mulai kita pikirkan ulang, barulah kita bisa mengambil posisi. Barulah kita memilih menggunakan lebih sadar. Barulah kita dapat mulai memikirkan hal-hal kreatif dalam memenuhi kebutuhan pangan kita & membantu pemugaran sistem pangan.

Menara cacing pada Kebun Kail merupakan wahana buat menguraikan sisa kuliner. (Dok Kail)

Ada pilihan yang memang sanggup kita lakukan pada ranah eksklusif atau famili. Tetapi ada juga batasan-batasan di kondisi global ketika ini. Maka dalam memecahkan rangkaian kompleks perkara, memang dibutuhkan upaya bersama.

Kita dapat menyelidiki lagi tabel dan diagram di atas. Siapa saja aktor yg berperan di tiap elemen kegiatan sistem pangan? Mulai berdasarkan pembuat seperti petani dan peternak, siapa saja yang mengolah hasilnya, seluruh yang mengonsumsi pangan, siapa yg menguraikan limbah. Berapa banyak asal daya yg terbarukan digunakan dan bagaimana menjaganya? Bagaimana menciptakan interaksi baru yg mentransformasi sistem yang linear agar berkontribusi pulang pada alam?

Dan pilihan tersebut mampu mulai menurut hal yang sangat dekat dan sederhana, misalnya tidak menyia-nyiakan makanan dan mencari cara mencegah sampah makanan kita hingga ke TPA. Bagaimana kita bisa mengakses layanan penguraian material organis? Mungkinkah kita memiliki akses terhadap hasil pangan lokal yang nir ditransportasikan dari jauh?

Sedangkan untuk pilihan-pilihan pada skala yg lebih besar , tentu kita harus beranjak bersama. Dengan melihat posisi kita pada sistem pangan & apa keahlian kita, baik menjadi individu maupun grup. Apa saja yang dapat kita lakukan? Dan apa saja yang bisa dikolaborasikan menggunakan orang ataupun grup lain? Tentu sebelumnya menggunakan memeriksa lagi sistem pangan pada Era Manusia kini dan paradigma kita.

Ketika kita semua terdapat pada persimpangan jalan, jalan apa yang akan kita ambil? Apakah kita sanggup meniti sebuah jalan yang baru?

***

Daftar Pustaka :

1. Era baru setelah 12.000 tahun Holocene. Pengaruh manusia mengubah planet bumi sangatlah besar. Salah satu indikatornya adalah betonisasi dan polusi plastic. The Anthropocene epoch: scientists declare dawn of human-influenced age https://www.theguardian.com/environment/2016/aug/29/declare-anthropocene-epoch-experts-urge-geological-congress-human-impact-earth  Diakses 31 Maret 2018.

2. Crutzen P.J. (2006) The “Anthropocene”. In: Ehlers E., Krafft T. (eds) Earth System Science in the Anthropocene. Springer, Berlin, Heidelberg. https://link.springer.com/chapter/10.1007/3-540-26590-2_3  Diakses 31 Maret 2018.

3. Human imprint has thrust earth into new geological epoch: study. https://www.reuters.com/article/us-environment-anthropocene/human-imprint-has-thrust-earth-into-new-geological-epoch-study-idUSKBN0UL29O20160107  Diakses  31 Maret 2018.

4. Production, use, and fate of all plastics ever made http://advances.sciencemag.org/content/3/7/e1700782  Diakses  31 Maret 2018.

5. Atau atau 0.124 kg/kapita/minggu, data Badan Pusat Statistik 2017. https://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/950/rata-rata-konsumsi-per-kapita-seminggu-beberapa-macam-bahan-makanan-penting-2007-2016.html  Diakses  3 April 2018.

6. Konsumsi per kapita http://www.nationalchickencouncil.org/about-the-industry/statistics/per-capita-consumption-of-poultry-and-livestock-1965-to-estimated-2012-in-pounds/  Diakses  3 April 2018.

7. https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/2015WR017053  Diakses  3 April 2018.

8. Food in the Anthropocene. https://www.smithsonianmag.com/smart-news/extinction-threatens-foods-we-eat-180965081/  Diakses  3 April 2018.

9. Overpopulation, overconsumption – in pictures. https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/gallery/2015/apr/01/over-population-over-consumption-in-pictures?CMP=soc_567

10. Food systems in the Anthropocene https://www.futurelearn.com/courses/food-systems-southeast-asia/1/steps/107823  Diakses  3 April 2018.

11. Ibid.

12. FAO, IFAD, UNICEF, WFP and WHO. 2017. The State of Food Security and Nutrition in the World 2017. Building resilience for peace and food security. Rome, FAO. http://www.fao.org/3/a-I7695e.pdf  Diakses  3 April 2018.

13. The obesity crisis. https://www.mckinsey.com/mgi/overview/in-the-news/the-obesity-crisis  Diakses  3 April 2018.

14. UNEP (2016) Food Systems and Natural Resources. A Report of the Working Group on Food Systems of the International Resource Panel. Westhoek, H, Ingram J., Van Berkum, S., Özay, L., and Hajer M. www.resourcepanel.org/file/395/download?token=JqcqyisH Diakses  3 April 2018.

15. Ibid

16. Ibid

17. Food Sustainability Index: Food Loss and Waste. http://foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/  Diakses  5 April 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *