[RUMAH KAIL] PERJALANAN KAIL MEMPRAKTEKKAN KESADARAN AKAN KEMANDIRIAN
By: Date: June 24, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Deta Ratna Kristanti

Menjadi berdaya merupakan sebuah kemewahan. Menjadi berdaya berarti mempunyai kebebasan buat memilih arah dan langkah yang dipilih buat tujuan kehidupan yang lebih berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan buat menjadi berdaya merupakan membangun kemandirian untuk diri sendiri. Apabila kita mengusahakan hayati berdikari adalah kita dengan berkesadaran berusaha tidak tergantung pada pihak lain pada pemenuhan kebutuhan kita. Sebab, bila masih tergantung dalam pihak lain,mungkin saja pihak lain tadi menyumbangkan hal yg berdampak negatif atau nir sinkron dengan prinsip atau kualitas hayati yg ingin kita capai.

Tentu saja, bukan berarti ketika kita mengupayakan kemandirian, kita menjadi tidak peduli dengan keberadaan pihak lain. Sulit juga membayangkan bahwa kita akan mampu 100% memenuhi semua kebutuhan hidup kita. Yang dapat kita perbuat adalah meningkatkan kesadaran dan aksi kita untuk mengurangi ketergantungan sampai sekecil mungkin. Ingatkah anda dengan salah satu peringatan di pesawat: Pakailah dulu masker Anda sebelum menolong yang lain? Kira-kira seperti itulah gambaran kemandirian yang kita upayakan. Ketika kita mampu menolong diri sendiri dan sudah  berdaya, maka kita juga bisa menolong pihak yang lain.

Perkumpulan KAIL didirikan menggunakan misi dan tujuan buat membantu para aktivis berbagi diri sehingga dapat berkontribusi lebih baik bagi dunia. Oleh karenanya, KAIL sebagai sebuah organisasi perlu mengupayakan kemandirian terlebih dahulu pada pada dirinya sendiri supaya sanggup menolong para aktivis atau lembaga yg membutuhkan layanannya. Selain itu, setiap upaya kemandirian yg dilakukan KAIL jua bertujuan memberikan kontribusi bagi global yang lebih baik, utamanya lingkungan alam dan makhluk pada sekitarnya.

Rumah KAIL & pekarangan yg ditanami tumbuhan pangan

Kesadaran KAIL buat mengusahakan kemandirian sudah berlangsung usang. Selama 17 tahun berkarya, KAIL nir pernah tergantung dalam satu pun lembaga donor dalam pendanaan program-program internalnya. Hal ini adalah salah satu upaya KAIL buat membebaskan diri menurut ketergantungan menurut pihak yg lain. Jika pendanaan KAIL bergantung dalam lembaga donor, mungkin akan mengganggu kontinuitas KAIL buat berkarya selama ini. Selain itu, ketergantungan tadi mungkin bisa mengganggu bepergian KAIL ke arah pencapaian visi & misi organisasi.

Sejak tahun 2013, KAIL membangun tempat permanen untuk melakukan segala aktivitasnya, yaitu Rumah KAIL. Memiliki tempat yang permanen berarti harapannya KAIL dapat lebih banyak mempraktekkan ide-ide kemandirian yang selama ini telah diketahui. Langkah pertama yang dilakukan KAIL sebagai wujud mempraktikkan kemandirian adalah merancang bangunan dengan sistem rumah yang selaras dengan alam. Misalnya, memilih bahan kayu bekas untuk membangun rumah KAIL. Memilih menggunakan ulang bahan bekas sehingga mengurangi timbulan sampah serta menghemat biaya merupakan wujud kemandirian di mana KAIL melepaskan ketergantungan terhadap bahan baru dan barang baru. Selain itu, pembuangan Rumah KAIL juga dirancang tersambung dengan kompor biodigester sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap gas elpiji.

Kompor biodigester

Kubah biodigester yang ditanam pada bawah tanah

Area yg relatif luas pada Rumah KAIL selain terdapat tempat tinggal , pula tanah yang dimanfaatkan untuk kebun. Kebun KAIL dirancang buat mendukung kemandirian pangan di Rumah KAIL. Berbagai tumbuhan konsumsi ditanam di area Kebun KAIL, termasuk bumbu-bumbu yang bisa dimanfaatkan buat membuat masakan sebagai lebih sedap. Saat sedang dilaksanakan training atau workshop, ataupun rapat-kedap di Rumah KAIL, sebisa mungkin makanan yang disajikan buat peserta training juga staf dan relawan KAIL dari dari kebun KAIL. Talas, daun singkong, daun, bunga & buah papaya, cabe rawit, daun pseudo ginseng, dan bumbu-bumbu seperti kunyit, jahe, kencur, & pandan disulap menjadi minuman jamu yg menyehatkan. Tak ketinggalan buah-buahan seperti pepaya, pisang, jambu, atau nangka menjadi hidangan snack sehat bila kebetulan sedang panen.

Kebun KAIL dikelola dengan prinsip selaras menggunakan alam. Sisa-sisa kuliner maupun bagian kulit bahan makanan yg tidak terpakai dibuang balik ke kebun KAIL sampai sebagai kompos yg menaikkan kesuburan tanah di kebun KAIL. Perlu diceritakan bahwa awalnya tanah di kebun KAIL adalah tanah berjenis lempung atau misalnya tanah liat yang lengket, yang sulit buat diolah dan ditanami. Di awal pengolahannya, Kebun KAIL membutuhkan media tanam berdasarkan luar yang dicampurkan menggunakan tanah di Rumah Kail, serta melakukan pengomposan eksklusif di tanah KAIL sehingga dalam akhirnya tanah kebun di tempat tinggal KAIL menjadi fertile sebagai akibatnya bisa ditanami & dinikmati hasilnya kemudian.

Beraneka jenis flora di kebun KAIL

Kebun KAIL menjadi pintu masuk yang paling memungkinkan buat mempraktekkan upaya kemandirian pada Rumah KAIL lantaran tanah yang sudah diolah, diatur, ditanami, & dirawat lalu bisa membentuk panen yg mampu dikonsumsi. Untuk memberi perhatian khusus pada pengelolaan kebun, KAIL menciptakan sebuah divisi spesifik bernama Kebun KAIL. Ada orang- orang yg bertugas memperhatikan perawatan Kebun KAIL. Namun, apakah selanjutnya proses pengelolaan Kebun KAIL menuju kemandirian menjadi mudah? Ternyata nir.

.

Banyak juga hambatan yang dijumpai yang membuat Rumah KAIL belum dapat mencapai kemandirian pangan dengan upaya maksimal. Ada banyak faktor yang memengaruhi. Salah satunya urusan menyesuaikan jadwal produksi dan panen pangan dengan jadwal pelatihan yang ada di rumah KAIL. Maksudnya bagaimana? Seringkali ketika di KAIL sedang tidak ada jadwal pelatihan atau workshop, buah-buahan yang sudah siap panen jumlahnya banyak. Akibatnya, jumlah panenan terlampau banyak, sedangkan orangnya sedikit. Sementara ketika ada jadwal pelatihan, hasil kebun yang dapat dipanen saat itu jumlahnya sedikit, sehingga mau tidak mau sebagian konsumsi harus dipenuhi dari warung atau pasar. Staf yang berinisiatif untuk menambah pengetahuan serta waktu untuk bereksperimen belum tersedia sehingga program pengolahan pasca panen yang dapat memanfaatkan hasil kebun yang berlebih ketika panen  juga belum terlaksana. Meskipun sistem sudah dibuat oleh Divisi Kebun KAIL, pada praktiknya ditemui kendala juga karena koordinasi dan komunikasi antar staf yang bertugas tidak terlalu berjalan dengan lancar. Jadi selain sistem yang diatur pada kebun, ternyata ada sistem lain yang terkait, yaitu sistem komunikasi antar staf yang bertugas mengurus Kebun KAIL.

Ada banyak ide kemandirian di Rumah KAIL yang belum dapat dipraktikkan secara konsisten hingga saat ini. Dalam rangka menambah pengetahuan tentang pengolahan dan pemanfaatan bahan-bahan alami, serta melepaskan ketergantungan pada produk pabrik, memang pernah diadakan beberapa workshop yang menghadirkan narasumber, misalnya membuat kombucha jus enzim, kimchi, serta pembuatan pembersih alami untuk lantai, kaca, dan meja. Beberapa staf sudah memiliki pengetahuan melalui workshop-workshop tersebut.  Tapi saat ini, praktiknya belum dilakukan di rumah KAIL. Padahal, misalnya cuka kombucha dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sabun dalam mencuci piring. Pernah dicoba, namun saat ini tidak lagi.

Dalam hal pengelolaan sampah, Rumah KAIL juga belum sepenuhnya mencapai kemandirian. Memang, sampah organik yang dihasilkan dari dapur Rumah Kail sudah 100% dapat dikembalikan ke kebun dan bermanfaat untuk menambah kesuburan tanah KAIL. Namun, untuk sampah anorganik, meskipun sejak awal KAIL berkomitmen untuk sesedikit mungkin menggunakan barang yang berkemasan plastik. Namun, pada prakteknya tetap masih terkumpul sampah plastik terutama dari pembelian barang-barang yang masih dibutuhkan KAIL dari luar, misalnya plastik pembungkus spidol, kaplet obat-obatan, sisa potongan sampul plastik dan banyak lagi.  Kadang-kadang ketika membersihkan Rumah KAIL ditemukan juga sampah-sampah dari makanan dan minuman berkemasan yang mungkin dibawa angin atau dibuang oleh orang yang lewat di halaman rumah KAIL. Hal ini terkadang menambah sampah yang ada di rumah KAIL. Untuk penanganan sampah non-organik, Rumah KAIL masih tergantung pada tukang sampah atau tempat pembuangan sampah yang ada di sekitar Kail. Meskipun begitu, KAIL tetap mengupayakan untuk mereduksi jumlah sampah non-organik misalnya jika perlu membeli bahan makanan, staf KAIL akan membawa tas belanja sendiri. Juga ketika membeli makanan di warung, KAIL selalu membawa tempat bekal sendiri untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke Rumah KAIL. Rumah KAIL juga mencari warung-warung yang menjual bahan pokok yang dapat dibeli dengan sistem curah, sehingga kebutuhan  beras atau gula dapat dibeli menggunakan wadah sendiri. Setidaknya ini upaya yang dapat dilakukan Rumah KAIL untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan sampah di luar, yaitu dengan sesedikit mungkin menghasilkan sampah anorganik yang perlu dibuang.

Dalam hal asal air, KAIL jua masih tergantung dalam air yg berasal dari mata air yg disalurkan lewat pipa kolektif. Ini berlaku buat semua keperluan, menurut memasak sampai urusan menyiram tanaman . Untuk air minum sehari-hari, KAIL menggunakan air dari keran yg dimasukkan ke filter air dari tanah liat yg lalu bisa eksklusif diminum. Namun, apabila aktivitas di Rumah KAIL melibatkan puluhan orang, KAIL masih tergantung pada air galon isi ulang. KAIL sebenarnya mempunyai bak tampungan air hujan, tetapi belum berfungsi lantaran bocor.

Meskipun ide-ide dan pengetahuan tentang kemandirian telah diketahui dan disadari selama bertahun-tahun, dan KAIL telah memiliki tempat sendiri yang permanen, nyatanya tidaklah mudah mewujudnyatakan ide-ide tersebut. Tidak lantas mudah pula melepaskan diri dari ketergantungan pada pihak lain dan menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan.  Beberapa hambatan di Rumah KAIL antara lain pengetahuan staf yang tidak sama, belum dibangunnya atau dijalankannya sistem untuk masing-masing hal yang diupayakan untuk kemandirian, serta belum adanya fokus perhatian dan kesediaan yang cukup dari semua orang yang terlibat di KAIL terhadap upaya ini. Saat ini, karena aspek kebun mendapat perhatian paling dominan maka sudah dapat dilihat hasilnya. Jika ingin aspek-aspek lain di rumah KAIL juga berkembang untuk mendukung upaya kemandirian, maka perlu dibangun sistem-sistem pendukung termasuk keterlibatan orang-orang di dalamnya secara bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *