[JALAN-JALAN] PIKNIK SEMALAM KE BADUY DALAM
By: Date: June 26, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Sally Anom Sari

Saya adalah galat satu orang yg tidak tahu bagaimana caranya hayati tanpa uang. Sehari-hari saya bekerja mencari uang, kemudian menghabiskannya buat memenuhi semua kebutuhan hidup saya. Di luar kebutuhan utama, saya juga perlu uang buat banyak sekali hiburan yang mampu menciptakan aku senang , seperti makan di luar, belanja, jalan-jalan, dan banyak lagi. Semakin poly hiburan yang aku perlukan, tentu semakin poly uang yang perlu aku cari. Untuk mendapatkan uang itu, tentu saya harus bekerja lebih keras lagi. Masalahnya, bekerja lebih keras ternyata membuat aku kurang senang & perlu mencari hiburan lebih banyak lagi. Artinya saya perlu uang lebih poly lagi. Begitu terus berputar-putar.

Beberapa tahun yang lalu setelah suntuk bekerja demi uang, saya merasa perlu hiburan dan memutuskan untuk jalan-jalan. Kali ini saya memilih jalan-jalan ke desa Kanekes yang lebih saya kenal dengan nama Baduy. Kenapa Baduy? Ya sebenarnya karena kebetulan di internet saya menemukan ada open trip [1]ke Baduy Dalam. Maka pergilah saya jalan-jalan ke Baduy Dalam.

Setelah melalui perjalanan dengan kereta dan mobil elf, rombongan wisata hingga di desa Ciboleger, keliru satu pintu masuk menuju desa Baduy. Dari sana kami akan berjalan menuju desa Cibeo, desa terluar Baduy Dalam, melewati beberapa desa Baduy Luar. Di Cibeo kami rencananya akan menginap semalam, sebelum pulang lagi keesokan harinya.

Begitu kendaraan beroda empat elf sampai pada depan gerbang, beberapa masyarakat Baduy Dalam eksklusif menyambut kami. Merekalah yang akan menemani bepergian kami kali itu. Sekilas aku eksklusif melihat penampilan orang Baduy Dalam yg berbeda menggunakan orang Baduy Luar dan masyarakat desa lain. Selain warna pakaian dan ikat kepala mereka yang hitam-putih, mereka juga nir mengenakan alas kaki dan hanya membawa tas berupa gembolan kain. Sederhana sekali.

Perjalanan menuju desa Baduy Luar dan Baduy Dalam. Foto oleh: Bimasakti Aryo Bandung

Setelah tanya sana-sini saya mengetahui bahwa orang Baduy Dalam sangat patuh dalam anggaran tata cara yg mengutamakan kesederhanaan. Mereka tidak menggunakan alas kaki, tidak memakai alat elektronika, tidak boleh menaiki tunggangan bermotor, tidak sanggup memakai sabun, pasta gigi atau detergen apapun, & hanya memakai pakaian yang ditenun & dijahit sendiri dengan warna hitam & putih. Sementara orang Baduy Luar punya aturan yang lebih longgar: mereka mampu menggunakan pakaian rona lain, bisa memakai alas kaki, alat elektronika, & bisa menaiki tunggangan bermotor. Meskipun begitu, cara hidup orang Baduy Luar pun masih permanen sederhana.

Setelah berjalan cukup jauh barulah saya melewati beberapa desa Baduy Luar. Rumah pada sana berbahan mayoritas kayu & bambu. Pondasinya batu, atapnya daun. Di pada rumah pun tidak banyak diisi perabotan & mebel, semua orang duduk dan tidur beralaskan tikar. Sederhana sekali.

Beristirahat sejenak sehabis perjalanan yang melelahkan. Foto sang: Bimasakti Aryo Bandung.

Melewati galat satu desa pada Baduy Luar. Foto sang: Bimasakti Aryo Bandung.

Pemandangan galat satu desa pada Baduy Luar. Foto sang: Bimasakti Aryo Bandung

Meskipun hidup sederhana, orang Baduy ternyata nir merasa kekurangan. Sebagian akbar kebutuhan utama sanggup mereka dapatkan pada kampung sendiri termasuk hutannya. Kalau di kota, buat makan saja aku perlu uang, tetapi orang Baduy tinggal mengolah simpanan hasil ladang atau mencari di hutan. Saya baru memahami kalau hutan dan hasil ladang pun ternyata mampu menjadi harta yang sangat berharga.

Lantaran dipercaya sebagai harta berharga, tentu saja orang Baduy memperlakukan hutan & ladang dengan sangat baik. Mereka memiliki banyak upacara dan tata aturan yg berkaitan dengan kelestarian alam dan pengelolaan huma. Mereka merogoh berdasarkan alam, namun tetap berusaha selaras dengannya. Hal ini galat satunya bisa ditinjau menurut bagaimana cara orang Baduy berladang buat memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Sebagian besar kebutuhan pangan Orang Baduy termasuk beras didapatkan dari ladang yang dalam bahasa setempat biasa disebut huma. Seluruh huma dijaga kesuburannya sesuai dengan ketentuan adat. Kemiringan humadibiarkan apa adanya sesuai bentuk tanah aslinya, tidak dipapas menjadi rata. Waktu tanam dan panen dilakukan secara bersamaan untuk mencegah hama tanaman. Pestisida dan pupuk kimia dilarang untuk digunakan. Selain itu hewan berkaki empat selain anjing tidak boleh masuk ke area Kanekes karena dikhawatirkan bisa merusak lahan. Orang Baduy Dalam dan Baduy Luar memiliki cara berladang yang mirip, meskipun Baduy Dalam memiliki aturan yang sedikit lebih ketat, seperti tidak boleh memperjualbelikan lahan dan tidak bisa menanam tanaman tertentu seperti singkong, kelapa, kopi dan cengkeh karena dipercaya bisa mengurangi kualitas tanah. Cara berladang yang sudah dilakukan selama puluhan tahun ini terbukti bisa menghasilkan bahan pangan yang berlimpah, dengan tetap menjaga kualitas tanah.

Seluruh hasil panen dari huma nantinya disimpan di dalam lumbung yang biasa disebut leuit. Bentuknya dibuat panggung untuk menghindari hama tikus dan serangga. Tiangnya menggunakan kayu keras yang sebelumnya sudah direndam dalam air dan lumpur untuk mencegah rayap. Dindingnya terbuat dari bilik bambu yang rapat. Atapnya menggunakan ijuk dan beberapa jenis daun seperti daun Patat, Nipah dan Teureup. Pencahayaan dan sirkulasi udara di dalam leuit cukup stabil dalam musim apapun karena leuitdibuat dengan teknik khusus yang ilmunya diajarkan secara turun temurun. Untuk menjaga leuit, orang Baduy menyiramkan ramuan tradisional dan membakar daun tertentu yang bisa mengusir hama. Hal itulah yang membuat bahan pangan tetap awet meskipun disimpan selama bertahun-tahun.

Salah satu leuit tempat menyimpan hasil pangan dari huma. Sumber foto: https://su.wikipedia.org/wiki/Huma#/media/File:Leuit_080814_2162_srna.JPG

Sepanjang perjalanan naik turun bukit saya sesekali melihat humadan hutan yang berisi tanaman yang sangat beragam. Saya berpikir apakah hutan bagi masyarakat Baduy tidak beda dengan toko atau supermarket bagi saya? Bukan hanya bahan pangan, namun banyak bahan lain seperti obat-obatan, kayu bakar, sampai bahan pembuat rumah pun bisa didapatkan di hutan. Tidak perlu membeli. Kalau ada bahan yang tidak ada di hutan, barulah orang Baduy mencari alternatif lain seperti melakukan barter. Kalau tidak bisa barter, baru mereka membeli. Transaksi dengan uang memang masih ada, namun tidak banyak. Tidak perlu pusing mencari banyak uang. Mungkin karena itulah orang Baduy tidak terlihat hidup susah. Andaikan saya bisa seperti itu.

Setelah melalui perjalanan melelahkan selama lima jam, akhirnya rombongan hingga di desa Cibeo, Baduy Dalam. Rumah pada desa Cibeo bentuknya lebih sederhana daripada tempat tinggal di Baduy Luar karena orang Baduy Dalam tidak boleh memakai alat bantu gergaji, palu & paku pada membangun rumah mereka. Suasana desanya terlihat lebih antik. Ketika malam datang suasana begitu sunyi dan gelap tanpa penerangan, tidak terdapat kemewahan, tetapi cita rasanya cukup.

Keesokan harinya saya dan beberapa teman menyempatkan berkeliling desa, lalu menjelang siang seluruh rombongan bersiap untuk kembali. Kami berjalan pulang menyusuri jalur yang berbeda, namun sama-sama melelahkan bagi saya yang jarang olah raga. Sambil berjalan ngos-ngosan saya berpikir kalau hidup saya ternyata hanya berputar-putar antara mencari uang dan buang-buang uang. Niatnya ingin bahagia, tapi sejujurnya saya malah merasa kurang bahagia. Selama ini fokus saya adalah terus bekerja supaya dapat banyak uang, namun kenyataannya saya malah banyak buang uang karena perlu hiburan untuk mengimbangi stress pekerjaan. Saya harus belajar mengurangi ketergantungan saya terhadap uang. Mungkin saya bisa mengurangi membeli barang yang tidak benar-benar saya perlukan; menanam sendiri beberapa tanaman yang saya perlukan di pot; barter barang dengan teman; atau mungkin menawarkan keahlian saya ketika ada hal yang saya perlukan, seperti menulis rubrik di majalah untuk mendapatkan buku yang saya idamkan. Mungkin.

Beberapa jam lalu rombongan hingga pada lokasi penjemputan. Saya telah sampai di akhir perjalanan ini. Pada bepergian pergi saya berpikir jika hayati orang Baduy yang sederhana meninggalkan kesan mendalam pada diri aku . Saya sadar kalau hayati nir melulu soal uang, apalagi kebahagiaan. Tiba-tiba saya merasa pilihan hayati saya semakin luas.

Rujukan:

Informasi mengenai leuit didapatkan dari Jurnal Biodjati Vol 2, no. 1 (2017) http://journal.Uinsgd.Ac.Id/index.Php/biodjati/issue/view/188 dengan judul Kearifan Ekologi Orang Baduy pada Konservasi Padi dengan ?Sistem Leuit" oleh Johan Iskandar dan Budiawati Supangkat Iskandar.

[1] Open trip adalah adalah wisata gabungan yang diikuti oleh beberapa orang yang bisa jadi tidak saling kenal. Penyelenggara open trip akan menentukan waktu dan lokasi wisata yang akan dikunjungi, lalu siapapun bisa mengikutinya secara individu maupun kelompok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *