[PROFIL] CEU NDEN, PENTINGNYA MENCINTAI DIRI BAGI AKTIVIS
By: Date: July 12, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Lindawati Sumpena

No river can return to its source, yet all rivers must have a beginning”.

Begitulah salah satu pepatah orang Indian[1]. Ketika kita melihat dalam keseharian kita, banyak permasalahan sosial yang membuat hati kita terusik, mulai dari ranah pribadi seperti depresi hingga yang mampu menghasilkan kerugian pada kalangan yang luas seperti korupsi dan penindasan. Semua permasalahan yang telah terjadi memang tidak akan mampu kita kembalikan ke titik awal. Namun, di bawah pohon masalah yang kita lihat tersebut, kita dapat menelusuri hingga ke akarnya di masa lalu. Begitulah yang diyakini oleh seorang aktivis yang bergiat di isu kesadaran diri (self awareness)untuk transformasi diri dan dunia, Nenden Vinna Mutiara Ulfa.

Ceu Nden, begitu dia biasa disebut, menamakan profesi yang dia jalani saat ini adalah life care taker. Dia bersama rekan-rekannya di Initiatives of Changes (IofC) menggagas suatu program bernama Sekolah Rekonsiliasi. IofC adalah suatu gerakan dunia yang mulai lahir paska perang dunia kedua di Oxford dan diinisiasi oleh seorang pastor bernama Frank Buchman. Dilatarbelakangi oleh kegelisahannya saat melihat banyaknya korban kemanusiaan akibat perang, beliau memiliki inisiatif untuk menggagas gerakan rekonstruksi moral dan spiritual yang dinamai Moral Re-Armament (MRA). MRA ini kemudian berubah nama menjadi IofC[2]. Gerakan ini banyak menginspirasi orang-orang di seluruh dunia dengan metodenya yang sangat menyentuh, terutama Quiet Time atau waktu hening. Quiet time hanyalah metode sederhana untuk mengambil jeda sejenak dan berdialog dengan diri.

Quiet Time, metode buat berdialog menggunakan diri

Seiring berjalannya waktu, IofC ini digerakkan oleh anggotanya di seluruh dunia dengan gagasan yang berbeda-beda sesuai dengan tiga misi yang IofC perjuangkan, good governance, sustainable living, dan trust building. Di Indonesia, lahir Sekolah Rekonsiliasi delapan tahun yang lalu untuk mencapai misi trust building sekaligus sebagai ruang alternatif bagi individu yang ingin belajar mengolah rasa dan menyembuhkan luka di masa lalu. Ceu Nden menceritakan bahwa gagasannya ini muncul dari pengalaman masa lalunya yang sangat menantang bersama keluarga dan lingkungan sekitar. Dia juga melihat banyaknya luka yang dihidupi orang lahir dari keluarga yang disfungsi, pengalaman dirundung, dan memori masa kecil lain yang menyakitkan. Luka tersebut bisa saja tidak disadari namun mempengaruhi kepribadian dan bagaimana kita merespon pengalaman hidup sehari-hari. Secara metaforis, psikologi mengenal istitah inner child, yaitu sisi kepribadian anak kecil yang seringkali terabaikan dan menyimpan luka-luka di masa lalu. Manusia dapat tumbuh secara biologis dengan baik, namun belum tentu psikologinya demikian. Diri kita bisa saja masih menyimpan jiwa anak kecil yang merasa diabaikan, dibuang, dan kekurangan cinta. Jiwa anak kecil ini membangun hubungan dengan orang lain, menjadi pemimpin, bahkan menjadi orangtua.

Pengalaman pada masa kemudian pula menghipnotis bagaimana kita menerima rasa & merespon perseteruan yg terjadi. Misalnya, waktu kita murka , famili & lingkungan mengajarkan kita bahwa murka itu adalah sesuatu yang buruk. Maka, apabila kita berada pada keadaan murka , kita dianjurkan buat memendam perasaan tadi & mengingkarinya. Padahal, rasa marah bukan sesuatu yang nir boleh kita miliki. Kita dianugerahi rasa murka buat mempertahankan diri. Jadi, rasa murka wajib dilepaskan. Marah tidak sinkron dengan berongsang. Ketika seseorang menyakiti kita, kita perlu mengekspresikan rasa murka & memintanya bertanggungjawab terhadap perbuatan yg dia lakukan. Namun, cara mengekspresikannya harus dengan baik, tidak menggunakan cara memaki-maki dan melakukan kekerasan.

Rasa lain yg kerap kali dianggap mengganggu adalah rasa sedih. Ketika seseorang bersedih, tidak sporadis terdapat perasaan membuat malu buat mengakuinya. Hal ini kerap kali dialami sang pria. Laki-laki mempunyai kesempatan yang sedikit buat mengekspresikan kesedihan lantaran pandangan masyarakat yg menduga laki-laki yang menangis dianggap menghambat citra ?Maskulin?. Alhasil, pria harus menutupi kesedihannya dengan bersikap tegar & seolah-olah beliau baik-baik saja.

Kemudian, orang juga acapkali mengingkari rasa takut yg dimiliki. Banyak persepsi berdasarkan keluarga & lingkungan lebih kurang menganggap rasa takut merupakan tanda kurangnya kepercayaan atau iman seorang. Orang yg merasakan ketakutan dicermati menjadi orang yang tidak punya masa depan. Padahal kebalikannya, rasa takut merupakan mekanisme kita untuk mengevaluasi diri & melihat kesempatan hayati yg lebih baik. Jika kita memiliki rasa takut akan ketidakstabilan finansial pada masa depan, kita bisa membuahkan itu energi buat bekerja lebih baik & menabung. Jika kita merasakan ketakutan buat tidak memiliki pasangan, kita dapat mengevaluasi diri & menjadi pribadi dengan karakter yg baik.

Menurut Ceu Nden, segala rasa yang bergejolak dalam hati kita hanyalah sensasi yang lewat. Rasa itu hanya perlu kita akui. Di Sekolah Rekonsiliasi, setiap peserta belajar untuk mengolah rasa dan mencintai diri kita sendiri melalui berbagai metode sederhana yang dapat dilakukan orang lain secara mandiri. Contohnya adalah indepth healing. Kita menulis surat sebagai inner child untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan di masa lalu. Kemudian, kita membalas surat tersebut sebagai orangtua dari inner child untuk merespon perasaannya. Metode ini adalah bagian dari latihan berdialog dengan diri untuk menelaah permasalahan yang kita alami dan bagaimana kita seharusnya merespon. Jadi, pertanyaan dan jawaban datang dari diri sendiri. Metode lain adalah membuat genogram. Peserta membuat silsilah keluarga hingga tiga generasi (anak, orangtua, kakek-nenek) dan mencari tahu bagaimana mereka dibesarkan. Sejarah perkembangan mereka akan turut mempengaruhi bagaimana mereka mendidik kita saat kecil.

Sekolah Rekonsiliasi sudah berjalan selama delapan tahun dan mempunyai acara yg bhineka, pada antaranya workshop satu hari, sekoci (sekolah cinta), sepasang (sekolah pasangan), dan sekota (sekolah orangtua). Sekoci berfokus buat menilik bagaimana menyayangi diri sendiri). Sepasang adalah wahana mengenal pasangan & mengelola perseteruan sehingga tercipta hubungan yg serasi. Sekota (sekolah orangtua) buat mempersiapkan sistem bagi anak belajar tentang keteladanan.

Sesi sekolah cinta

Tantangan yang selama ini dihadapi merupakan proses menerima diri yg sangat berat dan nir sporadis menyakitkan. Peserta harus membuka balik luka-luka lama yg sudah ditutupi sedemikian rupa berpuluh tahun lamanya. Ada jua mereka yg harus secara terbuka berkonfrontasi menggunakan orang terdekat mereka, baik orangtua, pasangan, maupun sahabat yg telah berkontribusi dalam luka yg mereka miliki. Maka berdasarkan itu, acara ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yg secara sadar mau berproses. Meskipun demikian, kesakitan yg diperoleh selama berproses lambat laun akan terpulihkan & pada akhirnya kita belajar memaafkan. Kita bisa memaafkan jika kita merasa marah dan mengetahui penyebab kemarahan kita. Setelah memaafkan, kita bisa merogoh pembelajaran berharga dari apa yg telah kita lalui.

Proses mengenal diri, baik fisik, mental, maupun spiritual menjadi krusial agar kita memiliki pencerahan diri. Kesadaran diri ini akan menjadi energi bagi kita buat berusaha menyayangi diri sendiri. Proses mendapat diri akan mengajarkan kita banyak hal: bagaimana memperjuangkan keadilan menurut rasa marah, bersikap empati menurut rasa murung , dan sebagai pribadi yang optimis menurut rasa takut. Perubahan dunia yang lebih baik akan ada dari seorang yang telah terselesaikan berdamai menggunakan dirinya sendiri & siap berkontribusi bagi lingkungan yang lebih luas.

[1] Suku pribumi Amerika.

[2] https://www.iofc.org/our-history

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *