[OPINI] AKTIVIS BEREFLEKSI
By: Date: July 13, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Anastasia Levianti

Apa tujuan Anda menekuni aktivitas keberpihakan dan membela kaum lemah?

Menegakkan keadilan?

Membantu sesama memperoleh haknya?

Menciptakan hening & bahagia pada kehidupan sekarang?

Memenuhi panggilan hidup?

Mengikuti teladan idola?

Menekuni kesempatan yang terberi?

Balas jasa atas pembelaan yang sebelumnya sudah diterima?

Atau, Anda belum mempunyai tujuan spesifik secara jelas? Anda sekedar mengikuti arus hidup pada depan mata, sambil menunggu pekerjaan yang sempurna buat Anda tekuni. Perlukah aktivis mempunyai, ataupun menyadari tujuan menurut keberpihakan dan aksinya? Untuk menjawab pertanyaan ini, ayo kita biologi terlebih dahulu 2 kondisi berikut.

Ada seseorang pemuda yg ditugaskan untuk menyelamatkan sebuah desa pada seberang hutan. Hal pertama yang ia lakukan dalam bepergian menuju desa itu merupakan mencari pohon yg sangat tinggi. Setelah menemukan pohon yang dirasanya paling tinggi, beliau pun memanjat hingga puncak dan berupaya melihat desa yg sebagai arah tujuannya. Ternyata, pohon yg ia panjat masih kalah tinggi dengan rimbunan pohon pada tengah hutan, sehingga pandangannya terhalang ke arah desa. Tetapi beliau relatif puas, karena beliau memahami sasaran terdekat yang perlu beliau wujudkan. Ia masuk ke tengah hutan. Setibanya di rimbunan pohon tinggi, ia memanjat balik galat satu pohon, dan kali ini, beliau dapat memandang leluasa ke arah desa. Ia melihat rintangan-rintangan yang akan beliau lalui. Ia turun, melakukan persiapan menghadapi rintangan, & penekanan melanjutkan bepergian hingga sampai tujuan.

Di ketika lain, terdapat jua seorang pemuda, menerima penugasan serupa, yakni menyelamatkan sebuah desa pada seberang hutan. Pemuda ini eksklusif melakukan bepergian masuk hutan buat menuntaskan tugasnya menggunakan segera. Pada awalnya, beliau yakin menggunakan arah jalan yg beliau pilih, karena kondisi hutan di pinggir mulai berubah sebagai syarat hutan pada dalam. Setibanya di tengah hutan, ia mulai berputar-putar. Beberapa malam berlalu, namun lagi-lagi ia kembali ke loka yang sepertinya telah pernah ia lewati. Ia lelah, nyaris putus harapan. Ia menetapkan beristirahat beberapa hari sembari memikirkan jalan munculnya. Setelah kondisinya pulih, dia melanjutkan bepergian. Ia memberi pertanda jalan yang sudah dia lalui. Pada waktu menemukan kembali jalan yang sudah ditandai, beliau menentukan jalan lain. Manakala lelah, ia berhenti buat istirahat. Demikian seterusnya, sampai akhirnya beliau semakin mendekati desa tujuannya.

Ambil waktu sejenak, buat menyadari kesan utama yang muncul dalam diri Anda.

Tidak terdapat kesan?

Atau terdapat rasa tertentu?

Bila nir ada kesan, tanyakan ke dalam diri, apakah Anda ingin memperoleh kesan eksklusif?

Jika ?Ya?, maka baca ulang pulang 2 paragraf pada atas, sampai mengalami rasa khusus.

Cecap dalam-dalam rasa yg hadir, sampai Anda pun bulat menamai kesan rasa tersebut.

Mungkin, Anda merasa salut pada komitmen dua pemuda dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Ya, tujuan mereka jelas, yakni memenuhi tanggung jawab yang diberikan. Mungkin, Anda mengagumi langkah taktis dari pemuda pertama, sekaligus memahami kondisi pemuda kedua. Ya, pemuda pertama berorientasi pada pentingnya tujuan, sehingga pikiran-tindakannya terarah secara tepat sasaran dan efisien. Sementara pemuda kedua berorientasi pada eksekusi, sehingga sebagian pikiran-tindakannya melalui masa trial-errorterlebih dahulu sebelum sampai ketujuan akhir. Jadi, menurut Anda, perlukah aktivis memiliki, ataupun menyadari tujuan dari keberpihakan dan aksinya?

Ada seorang aktivis yang bergerak di bidang trauma healing atau penyembuhan luka batin. Suatu ketika, ia berjumpa dengan subjek yang hendak diaborsi pada masa bayi, merasa bersaing terus dengan kakaknya yang hanya setahun lebih tua daripadanya, dan sedang terlibat perselingkuhan mendalam dengan beberapa lawan jenis karena tinggal berpisah kota dari pasangan menikahnya. Aktivis sendiri menyadari luka batinnya, dan menemukan penyembuhan pelan-pelan melalui hubungannya dengan subjek yang ia bantu. Tanpa sadar, kedalaman hubungan subjek dengan aktivis menimbulkan salah tafsir pada diri mereka masing-masing. Keduanya berpikir bahwa mereka saling jatuh cinta. Aktivis merasa bertanggung jawab untuk menetralisir kondisi. Kelekatan dua belah pihak perlu dilepas, mulai dari dirinya sendiri. Perjalanan melepas kelekatan pribadi sekaligus selalusiap sedia membantu sesuai permintaan berlangsung bersamaan. Dua arah perjalanan yang bertentangan ini mengalami jatuh bangun. Hingga pada suatu titik, aktivis sadar bahwa tujuan utama adalah melepas kelekatan, sementara kondisi aktual adalah belum 100% rela melepas kelekatan. Peta tujuan dan kondisi saat ini menjadi dasar pengambilan keputusan selanjutnya. Tujuan menjadi pusat dan satu-satunya dasar pertimbangan. Ia memilih menghentikan hubungan dengan subjek terkait hingga minimal kondisinya sendiri kembali netral. Entah bagaimana mekanisme alam semesta bekerja, tindakan aktivis melepas kelekatan dari subjek terjadi bersamaan dengan upaya subjek melepas kelekatan terhadap aktivis maupun beberapa selingkuhannya. Aktivis takjub, lega, bersyukur, dan yakin bahwa tujuan perlu jelas dan ditegakkan, sebagai acuan menimbang, memutuskan, dan bertindak.

Apa akibatnya jika aktivis tidak jernih menyadari tujuan berdasarkan keberpihakan & aktivitasnya? Aktivis berisiko salah arah atau galat penekanan dalam aksinya, yaitu mengutamakan cara / wahana, & bukan tujuannya.

Dua pengalaman di atas menunjukkan bahwa di samping tujuan yang jelas, ada satu faktor kunci dalam melakukan refleksi, yaitu penempatan diri sendiri sebagai sumber masalah sekaligus sumber solusi. Tanpa faktor kunci ini, analisa seperti lumpuh, karena eksekusinya bergantung pada orang lain, dan mengubah orang lain berada di luar kendali diri sendiri. Lihatlah nasib ragam analisa yang menempatkan pihak eksternal sebagai sumber masalah dan solusi. Kumpulan analisa tersebut hanya menggugah pikiran sejenak, lalu menjadisia-sia tanpa tindak lanjut. Aktivis yang melakukan analisa demikian, dan bukan berefleksi (bercermin-melihat bayangan diri dalam situasi di hadapan), menjadi lupa untuk memberdayakan dirinya sendiri sebagai titik pusat. Mari, Berefleksi!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *