[Pikir] Dari Alat Tukar menjadi Alat Kekuasaan Menelusuri evolusi makna dan peran uang dalam kehidupan
By: Date: July 16, 2018 Categories: Uncategorized

Apakah anda kenal dengan gurauan tentang mengapa orang Jawa tidak bisa kaya seperti orang Cina Perantauan ?[1]

Katanya, itu karena jikalau orang Jawa ke luar rumah menggunakan maksud mencari penghidupan, mereka bilang, "Mau cari kerja" sedangkan orang Cina Perantauan bilang, "Mau cari uangdanquot;. Jadilah orang Jawa memang menerima pekerjaan seperti yang diinginkan, bukannya uang, sehingga mereka selalu miskin.

Gurauan ini sebenarnya mencerminkan kontras antara budaya agraris yang bergantung/berorientasi dalam alam dan budaya yang bergantung/berorientasi dalam uang. Seberapa dalamkah makna perbedaan ini bagi kehidupan kita, bahkan bagi masa depan umat insan ke depan ?

Di global terkini sekarang ini, sadar atau tidak sadar, poly dari kita yg mencicipi pertentangan dari dua contoh pemaknaan akan uang.

Di sekolah kita diajarkan bahwa uang adalah indera yg membantu kita mempertukarkan barang atau jasa. Jadi uang merupakan alat. Kalau indera tentu ia hanya digunakan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi kehidupan sehari-hari justru mengajarkan bahwa uang merupakan ‘hampir’ segalanya bagi hidup kita. Banyak orang menganggap bahwa tanpa uang ia nir sanggup hayati. Di sini uang bukan lagi sekedar alat, tetapi menjadi tujuan hayati kita.

Kita diajarkan bahwa pendidikan bertujuan buat berbagi manusia seutuhnya dan bermanfaat bagi nusa & bangsa. Tapi dalam kenyataannya, poly sarjana merasa bahwa sekolah mereka tidak ada keuntungannya (rugi kapital), bila mereka tidak berhasil memperoleh banyak uang darinya.

Uang telah memasuki relung-relung terdalam hidup kita. Ia telah menjadi sebuah sumberdaya yang fundamental yg memilih, apakah kita dapat sembuh menurut suatu penyakit, apakah anak-anak kita sanggup sekolah ataupun tempat tinggal misalnya apa yang kita tinggali. Bahkan, ketika ini perceraian karena kasus ekonomi (uang) ataupun pertarungan orang tua dan anak karena kasus uang jajan, semakin meningkat. Juga, tidak lagi terlalu mengherankan, jika seorang diketahui bunuh diri atau membunuh orang lain karena urusan uang.

Saya ingin mengajak anda untuk sejenak memandang uang berdasarkan perspektif sejarah ini dia. Semoga dapat memberikan sedikit ilham buat membantu kita memilih sikap terhadap uang.

Alat tukar yg mempermudah hidup kita

Pada awalnya uang memang sahih-sahih sebuah alat buat mempermudah & mengefisienkan proses tukar menukar. Dan nir seluruh proses tukar menukar memakai uang, cukup tak jarang juga dilakukan proses barter.

Sistem barter memang mempunyai beberapa duduk perkara simpel. Misalnya, suatu hari Pak Ujang ingin makan Ayam goreng. Ia tahu Bu Ratmi memiliki beberapa ekor Ayam. Untuk itu Pak Ujang mengajak Bu Ratmi menukar anak kambingnya menggunakan ayam Bu Ratmi.

Untuk melakukan pertukaran, Pak Ujang & Bu Ratmi harus menyepakati nilai barang masing-masing dibandingkan barang yang lain. Setelah berdiskusi keduanya sebenarnya sepaham bahwa anak kambing Pak Ujang, nilainya lima kali Ayam Bu Ratmi. Masalahnya Bu Ratmi hanya punya 3 ekor ayam. Nah lho ? Bingunglah keduanya.

Kemudian Pak Ujang menerima gagasan baru : ?Bagaimana bila ayam Bu Ratmi ditukar menggunakan Itik aku ??. Setelah diskusi Bu Ratmi bersikukuh bahwa itik Pak Ujang merupakan 2/tiga nilai ayammya. Nah lho, galau lagi mereka. Bagaimana pertukaran dilakukan ?

Ini baru beberapa masalah. Ada duduk perkara lagi, contohnya bila Bu Ratmi tidak menginginkan Itik ataupun Kambing. Kasihan betul Pak Ujang. Mau makan ayam goreng saja susahnya minta ampun?

Nah, hayati Bu Ratmi & Pak Ujang akan lebih mudah menggunakan memakai alat tukar. Alat tukar itu sendiri tidak perlu memiliki nilai & sanggup berupa apa saja. Bisa saja dipakai batu, potongan kayu, lembaran kertas, kain atau apapun. Yang penting sekelompok orang yg acapkali bertukar barang satu sama lain menyepakati penggunaannya.

Dengan memakai indera tukar, batu misalnya, Pak Ujang bisa & Bu Ratmi sanggup menyepakati bahwa Ayam bernilai 9 batu & Itik bernilai 6 batu, misalnya. Jadi Pak Ujang bisa mendapatkan seekor Ayam, menggunakan menaruh seekor itik ke Bu Ratmi ditambah tiga buah batu. Atau kalau Bu Ratmi nir menginginkan itik, Pak Ujang bisa saja menaruh 9 butir batu buat mendapatkan Ayam. Bu Ratmi sanggup menyimpan batu itu buat nantinya ditukar dengan baju yg dijual Pak Amir atau Tomat yang ditanam Bu Encih. Tentu selama seluruh orang itu pula sepakat bahwa batu itu merupakan indera tukar yg bisa diterima.

Alat tukar pada bentuk apapun inilah yg kemudian kita namakan menjadi uang.

Berubahnya Makna Alat Tukar

Berkembangnya pemaknaan terhadap uang dapat kita telusuri berdasarkan sejarah kebudayaan di Eropa. Memang, konsep uang misalnya yang kita pahami kini , mula-mula berkembang di Eropa, dan lalu menyebar ke seluruh global melalui kolonialisme.

Berkembangnya Perdagangan & kaum bangsawan

Titik balik krusial pertama dalam pemaknaan akan uang adalah berkembangnya perdagangan dan kaum pedagang, terutama setelah emas dan logam mulia lainnya semakin luas diterima sebagai alat tukar. Kaum pedagang menemukan bahwa mereka dapat menumpuk banyak emas dengan kemampuan mereka mempermainkan nilai tukar barang (bahasa awamnya –> tawar menawar).

Meluasnya penggunaan alat tukar memberikan kebebasan lebih besar bagi para pedagang buat memainkan nilai tukar. Berbeda menggunakan barter, transaksi melalui uang nir melibatkan suatu barang secara fisik. Nilai suatu barang tidak dicermati lagi nisbi terhadap benda lain (yg dipertukarkan), namun dalam dasarnya berdasarkan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Artinya si pembeli atau penjual dapat memanfaatkan permainan psikologis atau permainan apapun untuk merekayasa nilai suatu barang. Emas telah mulai membuka jalan kebebasan bertransaksi (baca : rekayasa nilai), secara luar biasa.

Selain itu dengan semakin meluasnya penggunaan emas menjadi alat tukar, para pedagang menemukan bahwa, menggunakan emas/perak mereka bisa memperoleh hampir apa saja yang mereka mau, berdagang dengan siapa saja, kapan saja & pada mana saja. Kesempatan bagi mereka buat menaikkan kekayaan semakin terbuka. Ini tentu terkait pula menggunakan kemampuan mereka dalam tawar menawar.

Tahun 1600-1700 adalah puncak kejayaan kaum saudagar pada Eropa. Kaum saudagar menemukan bahwa melalui emas-perak mereka bisa menumpuk kekayaan material & kekuasaan dengan jauh lebih cepat dan efisien daripada para tuan tanah. Ini membuat kelas pedagang menerima posisi politik & ekonomi yg sangat kuat.

Inilah yang kemudian ini memicu diadopsinya budaya perdagangan oleh para penguasa politik waktu itu (raja-raja). Muncullah ajaran bullionisme, bahwa kemakmuran suatu negara ditentukan oleh jumlah emas dan perak yang dimilikinya. Inilah pandangan sentral dari Merkantilisme, yang didefinisikan sebagai “suatu sistem intervensi pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran nasional dan menambah kekuasaan negara … Untuk mendatangkan lebih banyak uang ke dalam pundi-pundi raja, yang memungkinkannya membangun armada laut, mempersenjatai tentara dan menjadikan pemerintahannya ditakuti dan dihormati di seluruh dunia.”

Munculnya konvensi yg semakin meluas akan logam-logam mulia menjadi alat tukar, memang sangat memungkinkan penumpukan uang menjadi wahana buat memperluas kekuasaan. Dengan mempunyai poly emas, anda bisa memperoleh apapun, berdasarkan manapun. Tentu saja termasuk buat membeli senjata.

Sinergi filsafat materialisme hedonis dan uang

Berkembang pesatnya kegiatan perdagangan dan kaum bangsawan, didorong oleh berkembangnya pandangan materialisme, prosedur dan hura-hura yg dikembangkan sang Thomas Hobbes. Di mana Hobbes memperoleh argumentasinya berdasarkan pandangan materialistik dan mekanistik menurut revolusi ilmu pengetahuan yg terkait dengan nama-nama terkenal misalnya Copernicus & Newton.

Berdasarkan pandangan materlialistik & mekanistik, Hobbes menyatakan bahwa manusia adalah mesin yg digerakkan rasa senang dan rasa nir suka individual. Dan itu seluruh merupakan realitas objektif yg netral, tidak baik dan nir tidak baik, sebagaimana konvoi bintang-bintang pada langit atau benda yg jatuh ke bawah. Lantaran itu, merupakan sah-absah saja & alami apabila seorang mengejar kesenangan eksklusif. Inilah dasar dari padangan hedonisme Hobbes.

Pandangan Hedonisme Materialistik ini membuka jalan pembenaran bagi usaha penumpukan kekayaan. Menumpuk kekayaan merupakan absah lantaran tujuannya merupakan mencari kesenangan pribadi. Tanggung jawab moral menjadi tidak relevan lagi, karena nir mempunyai dasar objektif nyata. Tindakan mencari kesenangan itu sesuai menggunakan mobilitas alam, yg buruk dan tidak jelek. Rasa bersalah itu nir konkret & hanya delusi.

Selanjutnya, alat tukar, misalnya emas dan bentuk uang lainnya, membuka jalan bagi penumpukan kekayaan yg paling efisien. Selain mempermudah proses rekayasa nilai, emas juga membebaskan upaya penumpukan kekayaan berdasarkan batas-batas fisik. Kekayaan nir lagi terlihat sebagai tanah berhektar-hektar, yg semakin luas semakin, sulit jua dikontrol. Namun relatif menggunakan mempunyai gudang-gudang yang lebih gampang diawasi karena memakan loka jauh lebih kecil. Jadi, daripada menumpuk kekayaan yang riil, kenapa kita tidak menumpuk alat tukarnya saja ?

Ini secara revolusioner membuka perspektif baru dalam nafsu penumpukan kekayaan yg tidak terhingga. Semakin akbar uang yang dimiliki, semakin besar jua kebebasan buat menerima apapun pada global ini. Terciptalah jalan yang lebar dan tak berujung bagi pelampiasan nafsu hedonisme materialistik. Sebagian ahli beranggapan bahwa pada prakteknya filsafat Hedonisme Hobbes lah yg berpengaruh paling akbar dalam ekonomi terbaru daripada teori Adam Smith atau Marx.

Materalisme, mekanisme dan Hedonisme

Pandangan materialisme adalah salah satu pandangan penting yang mendorong terjadinya jaman pencerahan, di dunia barat. Yaitu jaman yang ditandai dengan bebasnya masyarakat dari dominasi agama dalam kehidupan[2].

Padangan materialisme ini dimulai menggunakan revolusi di dunia ilmiah, sang para filsuf terkenal seperti Copernicus & Newton. Mereka menyusun teori, yg lalu mendapatkan bukti empiris, bahwa gerakan benda langit & poly kenyataan lain pada bumi bisa diramalkan melalui perhitungan matematis. Ini kemudian memunculkan pandangan bahwa semua kenyataan alam di bumi ini diatur sang hukum-aturan alam dan bukannya oleh ?Kehendak Allah?. Kalaupun terdapat Allah, beliau hanya berperan dalam membentuk hukum-aturan alam itu saja. Inilah dasar dari pandangan mekanisme.

Pandangan ini kemudian diambil sang para filsuf lainnya seperti John Locke, yg galat satunya menyatakan bahwa hanya rasio manusialah asal kebenaran. Kebenaran wajib dapat ditinjau pribadi secara fisik, yang lain adalah ilusi, nir nyata. Inilah dasar menurut materialisme.

Pandangan ini secara revolusioner melucuti peran wahyu Allah menjadi acuan kebenaran. Ungkapan di buku suci yang menyatakan bahwa Allah menciptakan bumi ini semua itu baik adanya, diganti sebagai pandangan bahwa alam diatur oleh aturan-aturan tak pernah mati yang netral, buruk dan nir tidak baik.

Lalu, bila begitu bagaimana menggunakan manusia ? Manusiapun dianggap sebagai mesin yang diatur oleh aturan-hukum alam, yg terjadi begitu saja serta tidak baik atau nir tidak baik.

Lalu di mana posisi kehendak, kesadaran atau moralitas ? Jawabannya adalah semua itu tidak ada lagi. Yang ada adalah gerakan otak yang berjalan secara spontan. Hukum alam yang dianggap mengatur jalannya mesin manusia ini, sebagaimana diungkapkan Thomas Hobbes[3], adalah rasa senang dan tidak senang pribadi. Tidak ada ukuran tentang baik dan buruk. Yang baik hanyalah apa yang memberikan kesenangan dan yang buruk adalah yang menimbulkan penderitaan. Inilah dasar dari filsafat hedonisme yang mendapatkan pembenaran baru dari materialisme dan mekanisme[4].

Kolonialisme dan Ekspansi Penggunaan Uang

Lepasnya batas-batas fisik terhadap nafsu menumpuk kekayaan yg bertransformasi menjadi nafsu menumpuk uang, mendorong terjadinya kolonialisme. Mula-mula sekali, para pedaganglah yang bertualang ke berbagai penjuru dunia mencari barang yang bisa diperdagangkan. Misalnya, yang datang pertama kali ke Indonesia, bukanlah pemerintah Belanda namun VOC.

Mereka tidak terlalu pusing dengan memperluas daerah kekuasaan. Kepentingan utama para pedagang adalah mencari barang dagangan baru, yang bisa diperdagangkan. Atau, tepatnya barang yg dapat dikonversi sebagai uang (emas) buat terus mengisi pundi-pundinya. Dan, semakin langka atau sukar diperoleh suatu barang semakin mahal harganya.

Tetapi, kemudian timbul kesulitan teknis. Bagaimana mendapatkan barang-barang pada wilayah-daerah yang telah dikuasai oleh penduduk orisinil itu ?

Mula-mula, mereka mencoba melakukan barter menggunakan membawa barang-barang menurut Eropa. Tetapi, tidak poly barang dari Eropa yang dibutuhkan penduduk orisinil. Misalnya, mereka nir membutuhkan perhiasan dan memiliki persepsi nilai yg tidak selaras pula. Lagipula, karena ekonomi penduduk asli lebih mementingkan nilai kesukuan dan hubungan, mereka tidak punya motivasi besar buat bertransaksi dengan orang asing.

Singkat cerita, sehabis menerapkan banyak taktik, termasuk menjual minuman keras, para pedagang mulai bermain ?Kasar?. Mereka berkolaborasi menggunakan negara untuk memanfaatkan kekuatan militernya. Ini adalah salah satu awal permainan politik para pedagang, yang masih berlaku sampai sekarang.

Sekali lagi, memperluas daerah kekuasaan, bukanlah hal yang penting bagi para pedagang. Tujuan mereka sebenarnya adalah : Dengan menciptakan suatu daerah sebagai wilayah jajahan suatu negara, maka mereka dapat memaksakan penduduk orisinil buat menggunakan alat tukar mereka. Caranya, dengan mewajibkan penduduk orisinil membayar pajak dalam bentuk mata uang yang mereka keluarkan & kendalikan.

Ini adalah cara yang sangat jitu. Posisi ketua desa sebagai turun tingkatannya menurut sebagai pemimpin warga , sebagai sekedar pengumpul pajak rakyat. Orang desa wajib melakukan berbagai cara buat menerima uang. Mereka keluar kampung bekerja pada perkebunan-perkebunan penjajah. Dengan demikian, hubungan kekerabatan hancur & perlahan diganti menggunakan hubungan pasar & kebergantungan dalam pemilik uang.

Inilah kisah yg jarang terungkap tentang kolonialisme. Namun sangat krusial peranannya bagi berkembangnya penggunaan uang & kebergantungan dalam uang, yg kita rasakan dalam global sekarang ini.

Ekonomi uang pada jaman terkini

Kolonialisme dan meluasnya penggunaan uang telah membentuk dunia yang sekarang kita hidupi. Kebergantungan kita pada uang bukanlah hasil dari proses alami, tetapi hasil dari move politik kaum pedagang yang mengeksploitasi sifat uang demi kepentingan mereka. Dan, sejak jaman kolonialisme negara sudah di dalam genggaman mereka, baik itu negara penjajah maupun negera yang terjajah.

Yang terjadi selanjutnya adalah semakin intensifnya proses integrasi uang pada berbagai aspek kehidupan. Dan tentu saja, posisi politik para pedagang semakin kuat dan permainan politik mereka semakin intensif & sophisticated. Pandangan neoliberal adalah pandangan politik ekonomi yg dikembangkan buat semakin menginternalisasikan uang dan kegiatan perdagangan dalam kehidupan politik. Yang tentu saja, akan semakin memperkuat posisi para pedagang.

Revolusi Industri dan Munculnya kelas investor : Tuan Uang

Keberhasilan kaum pedagang pada memanfaatkan meluasnya penggunaan uang dan kemampuan khusus mereka dalam merekayasa nilai barang, memungkinkan mereka mengakumulasi uang pada jumlah melimpah. Menjadi pertanyaan kini , bagaimana cara yang paling efektif buat mempertinggi kekayaan dengan memanfaatkan aset uang mereka yg melimpah itu. Adakah alternatif yang lebih ?Menyenangkan? Selain menurut menjadi pedagang ?

Berkembangnya revolusi Industri menaruh peluang kegiatan ekonomi baru. Namun sebenarnya para pedagang tidak mempunyai minat tinggi buat membuat & mengelola suatu pabrik. Kegiatan ini terlalu dikotori oleh oli mesin & para buruh yang bau & jorok.

Nah, kalau tuan tanah dulu menyewakan tanah mereka, kemudian tinggal ongkang-ongkang kaki hidup mewah berdasarkan hasil bumi, kenapa kita tidak bisa menyewakan uang & selanjutnya tinggal ongkang-ongkang kaki juga?

Mulailah para pemilik uang meminjamkan uang pada para wirausaha, suatu kegiatan yg lalu kita sebut menggunakan investasi. Meminjam & membungakan uang bukanlah aktivitas yang baru pada sejarah insan. Tetapi, investasi melalui industri menjanjikan laba yang lebih akbar tanpa kegiatan berdagang yg melelahkan. Cukup menggunakan memanfaatkan kekuatan uang yang mereka miliki, mereka bisa menguasai dalam pengusaha, yang selanjutnya akan membentuk uang banyak bagi mereka, tanpa wajib berpeluh dan berkonflik menggunakan para buruh.

Dengan demikian, muncullah kelas baru pada masyarakat yaitu para investor, yang bisa saja kita sebut sebagai Tuan Uang lantaran mereka hayati menurut menyewakan uang.

Lembaga-forum uang : Money Inc.

Akhir abad 19 & abad 20, ditandai dengan berkembangnya berbagai bentuk forum keuangan.

Pemerintah, perlahan-perlahan bertransformasi menjadi lembaga pengelola uang. Persoalan moneter semakin menjadi pekerjaan yg menghabiskan saat pemerintah. Sampai-sampai saat ini posisi menteri keuangan dan Bank Sentral sanggup menjadi lebih bertenaga dibandingkan presiden. Apalagi bila dibandingkan menggunakan menteri-menteri lain seperti menteri kesehatan, lingkungan, pendidikan, kebudayaan. Lihat saja impak Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika.

Aktivitas investasi memunculkan Bank menjadi forum yg khusus mengurus peminjaman uang buat investasi. Lembaga ini membuka jalan petualangan yang baru bagi para pedagang, yaitu menumpuk lebih poly uang menggunakan memperjualbelikan uang yang sudah mereka miliki.

Di atas semua itu, timbul jua lembaga baru yg menciptakan ekonomi berbasis uang menjadi semakin dominan & semakin militan, yaitu perusahaan terbuka. Perusahaan terbuka dimiliki sang para investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Ini adalah perkembangan lebih lanjut berdasarkan apa yg telah terjadi dari masa revolusi industri.

Saat ini seluruh perusahaan mempunyai struktur dasar yg sama, yaitu terdiri dari pemilik dan manajemen. Namun, tidak sinkron menggunakan perusahaan perorangan juga keluarga, interaksi antara manajemen dengan menggunakan investor hanyalah terkait dengan penumpukan modal. Tidak ada keterkaitan personal.

Nihilnya keterkaitan personal antara pemilik & perusahaan semakin diperkuat dengan berkembangnya pasar modal. Melalui pasar modal, kepemilikan seorang terhadap perusahaan bersifat ad interim. Tepatnya, selama penanam modal masih mendapatkan laba. Bila sebuah perusahaan nir lagi menguntungkan, modal akan ditarik segera.

Bangkrutnya sebuah perusahaan tidak dipedulikan investor, yang penting uangnya selamat. Investor juga biasanya tidak peduli bagaimana cara perusahaan mencari uang, yang penting untung. Sekali lagi, ini merupakan perwujudan dari filsafat materialisme Hobbes. Don’t take it personally man ! Welcome to the money world !

Terciptalah sebuah lembaga menggunakan satu tujuan, membuat keuntungan. Manajemen perusahaan selalu menghadapi tekanan buat nir saja mencegah kerugian, namun menaikkan laba dari tahun ke tahun. Kalau nir, mereka akan kehilangan pekerjaan. Begitulah, para pengusaha dan manajer perusahaan, orang-orang yg wajib berpeluh mengoperasikan & mengelola kegiatan produksi, dipaksa semakin tunduk pada kekuatan uang para investor.

Diabaikannya moralitas kini bukan saja ditopang oleh filsafat hedonisme materialistik-mekanistik, tetapi juga oleh keterpaksaan struktural. Bila sebuah perusahaan merusak lingkungan atau menyogok birokrat, pengelolanya akan mengatakan, ?Harus bagaimana lagi, kita dituntut buat mencari laba?. Sedangkan, para penanam kapital menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan perusahaan. Dan, memang secara hukumpun demikian, para investor nir mempunyai tanggung jawab terhadap kemana kapital ditanamkan.

Perusahaan terbuka (Korporasi) bisa dikatakan sebagai the institution of the century. Pengaruhnya lebih besar dari institusi apapun, termasuk negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Semua tunduk pada hukum korporasi. Kenyataannya, sehari-hari kita semakin terbiasa mendengar bahwa tugas utama pemerintah adalah menarik investor dan mencegah investor melarikan modalnya. Dan untuk itu, buruh, petani dan alam telah dikorbankan.

Konsumerisme : hura-hura kontemporer

Pandangan hedonisme materialistik mekanistik membuka area baru pada cara menumpuk kekayaan. Keterbatasan aktivitas perdagangan merupakan kebutuhan seseorang. Jika kebutuhan seorang terpenuhi kegiatan perdagangan terhenti. Akibatnya, terhambatlah peluang pedagang menaikkan aset uangnya.

Filsafat hedonisme kembali dimanfaatkan oleh para pedagang. Kesenangan seseorang tidak ada batasnya. Bila semangat mencari kesenangan membara, peluang memperdagangkan barang terbuka lebar. Barang-barang yang tidak terlalu bermanfaat seperti, perhiasan, kosmetik, junk food dan segala bentuk barang mewah, menjadi barang dagangan dengan nilai tinggi. Inilah dasar dari berkembangnya semangat konsumerisme. Konsumerisme sangat dibutuhkan untuk memungkinkan terjadinya perdagangan[5]. Terlebih lagi di jaman modern ini, di mana kolonialisme fisik sudah diharamkan.

Karena itulah, para pedagang bekerja keras membuatkan gaya hidup hedonis ke semua pelosok dunia. Melalui iklan, contoh-contoh anggun dan gambaran hayati gemerlap, dipromosikan secara gencar. Dengan demikian pedagang telah memperluas kegiatannya menurut merekayasa nilai barang kepada merekayasa kebutuhan hayati manusia. Tentu, ini demi memperluas aktivitas perdagangan itu sendiri. Saat ini pengeluaran dunia buat iklan semakin mendekati pengeluaran buat militer.

[1] yang dimaksud di sini secara spesifik memang yang disebut dengan kaum Cina Perantauan, yaitu kelompok orang Cina yang mengadopsi budaya perdagangan, yang kontras dengan orang Cina pedalaman yang mengadopsi budaya agraris feodal, sehingga lebih mirip dengan budaya Jawa.

[2] Masa-masa di mana orang Eropa berada dalam kekuasaan agama biasa disebut abad pertengahan atau abad kegelapan (Dark Age)

[3] seorang filsuf (1588-1679)

[4] Dengan demikian, pandangan Kristiani untuk “menderita bagi orang lain dan kebenaran”, atau pandangan Jihad untuk “mengorbakan jiwa bagi keyakinan”, menjadi absurd dalam pandangan Hedonisme.

[5] Dan di dalam perdagangan ada peluang besar untuk memainkan nilai barang, yang menjadi sarana utama untuk memanfaatkan uang untuk menumpuk kekayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *