[Masalah Kita] Sebuah Cinta Kasih: Ikatan Suci Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa
By: Date: July 18, 2018 Categories: Uncategorized

Saya tidak pernah merencanakan buat jatuh cinta pada orang dari etnis lain

Saya tidak pernah punya virtual buat sebagai anak nir berbakti, hanya lantaran aku mencintai orang menurut etnis lain.

Saya seseorang anak Tionghoa berusia 27 tahun, yang telah hampir 7 tahun ini berpacaran dengan seseorang anak berdasarkan etnis Jawa. Kami satu almamater, tetapi uniknya kami baru berkenalan dengan relatif dekat justru pada saat-ketika di mana keliru satu menurut kami telah hampir lulus kuliah S1nya.

Seperti mungkin Anda para pembaca sudah menduganya, interaksi kami menerima tentangan yg cukup keras yakni berdasarkan famili aku , famili Tionghoa. Lewat beberapa kesempatan, saya (dan kami terkadang) mencoba buat membuka ruang dialog. Tetapi hanya penolakan, penolakan, dan penolakan yang kami terima. Alasan-alasan yg dikemukakan sang orang tua aku , dari saya mengalami titik buntu buat diperdebatkan -Seperti apa nanti istilah orang jikalau anakku menikah menggunakan orang Jawa? Apa nanti kata sahabat-sahabat & kolegaku jika melihat diriku punya menantu orang Jawa? & poly lagi alasan-alasan homogen-.

Sungguh pertanyaan-pertanyaan yg sangat ironis bagi saya, yang masih terucap di jaman terkini misalnya ini. Bahkan predikat menjadi anak yg tidak berbakti itupun saya peroleh. Yang lebih menyedihkan lagi merupakan kerelaan orang tua buat kehilangan anaknya yang berpacaran dengan orang Jawa ini, demi mempertahankan gengsi, evaluasi atau pun omongan orang lain. Singkatnya mempertahankan status sosial, yang tentunya tidak abadi sifatnya dibandingkan dengan hubungan darah yg sudah mengalir pada diri anak dan orang tua.

Pada satu sisi eksklusif saya bisa memahami mengapa orang tua saya berperilaku demikian? Latar belakang pendidikan orang tua aku merupakan pendidikan Belanda. Saya sendiri nir begitu tahu apa yg terjadi dalam zaman Belanda tersebut. Namun yang niscaya saya ketahui adalah rata-rata para orang tua yg mengenyam pendidikan Belanda, mempunyai kecenderungan buat hayati berkelompok dengan etnisnya & cenderung mengeklusifkan diri. Orang tua yang pernah mengalami zaman itu cenderung menilai etnis Tionghoa adalah etnis yang paling baik, paling berderajat, & paling-paling yg lain. Sementara etnis Jawa adalah tidak lebih berdasarkan sekumpulan orang yg mempunyai derajat pada bawah etnis Tionghoa dan hanya bisa meminta-minta tanpa mau berusaha keras layaknya orang-orang etnis Tionghoa.

Ditambah lagi susunan famili, di mana aku anak paling kecil dan wanita satu-satunya. Itu seluruh tentunya membuahkan hal yang wajar bila orang tua aku berperilaku demikian. Namun masalah lebih lanjut merupakan aku hidup pada zaman ini (& bukan di jaman Belanda), pada mana dalam masa ini setiap insan dewasa baik laki-laki juga wanita mempunyai hak bunyi yang sama besarnya buat mengkomunikasikan apapun (termasuk perasaan cintanya) secara terbuka, dewasa, & logis.

Mungkin memang cinta itu bukan sesuatu yg perlu diperdebatkan, karena ini menyangkut hati. Mungkin ini pula yang dianggap bahwa cinta itu butuh pengorbanan. Namun pertanyaan reflektif berikutnya adalah bila cinta di antara dua etnis yg berbeda ini sebagai sebuah bentuk pelanggaran seorang anak dalam orang tua, dapatkah lalu masyarakat sebagai kelompok yang lebih besar daripada famili mewujudkan cinta dalam negara yg dipenuhi sang insan menurut majemuk etnis ini? Apabila nir sampai kapankah topeng keharmonisan, keguyuban, kerukunan antar etnis akan terus digunakan sang orang-orang Indonesia yg ucapnya negara majemuk??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *