[MEDIA] GESANG DI LAHAN GERSANG : KEYAKINAN DAN PERJUANGAN YANG MEMBUAHKAN PERWUJUDAN IMPIAN
By: Date: July 21, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Navita Kristi Astuti

Judul : Gesang di Lahan Gersang

Penulis : Diah Widuretno

Penyunting : Aan Subhansyah

Pemeriksa Aksara : Imma Rachmawati

Perancang sampul : Luinambi Vesiano

Illustrasi : Luinambi Vesiano

Tata letak : Luinambi Vesiano

Jumlah laman : 432 halaman

Diterbitkan pertama kali : tahun 2017, pada Yogyakarta

Gesang di Lahan Gersang. Gesang adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti hidup atau kehidupan. Menjadi menarik ketika kata ini kemudian disandingkan dengan kata ‘gersang’ yang berarti suatu keadaan tanah yang kering, tidak subur. Kering, yang berarti sulit air, tidak subur, sehingga kecil kemungkinan terjadi pertumbuhan tanaman di tanah tersebut. Kondisi tersebut menyiratkan tiadanya kehidupan. Lalu, bagaimana sebuah kehidupan terjadi di lahan yang tidak menjanjikan kehidupan?

Itulah judul yang disematkan pada sebuah buku yang dituliskan dari pengalaman nyata hidup di lahan gersang. Ia bukan sekedar kiasan. Judul tersebut menghantar saya pada kisah-kisah penuh perjuangan pendampingan masyarakat dari seorang relawan berhati tulus bernama Diah Widuretno, yang merupakan penulis buku ini. Pemilihan kata ‘gersang’ dalam judul bukunya, selain karena ia beraktivitas di daerah Gunungkidul yang sudah terkenal kegersangannya, bentuk ‘kegersangan’ lain yang dialami adalah karena pada awalnya ia berjuang seorang diri. Menjadi relawan adalah bentuk pilihan hidup yang tidak biasa. Ia memilih berjalan di jalan hidup yang sunyi. Terlebih lagi, perjuangan yang ia lakukan bersama anak-anak dampingannya adalah perjuangan melawan sistem yang mainstream.

Secara garis besar, buku ini mengisahkan pengalaman Diah sebagai relawan yang mendampingi dan mengorganisir kegiatan anak-anak di Desa Panggang, Gunungkidul. Diah menulis pengalamannya bagaikan menulis buku harian, penuh dengan kisah-kisah jatuh dan bangun dalam upaya memandirikan serta memberdayakan masyarakat di sana. Membaca buku ini seolah-olah menonton tayangan sebuah film layar lebar karena detail peristiwa yang dituliskan oleh Diah, serta memuat pula torehan isi hati dan emosi yang ia alami, sehingga melalui buku ini pembaca dapat turut merasakan isi hati penulisnya.

Diah memulai kerelawanannya di awal 2009, awalnya bersama empat relawan di Sekolah Sumbu Panguripan (SSP). Satu persatu relawan mengundurkan diri di tahun kedua dan ketiga SSP. Akhirnya komunitas Relawan dan SSP bubar di tahun 2013. Selepas SSP, Diah berjalan sendiri, tetap mendampingi anak anak Dusun Wintaos, Panggang, dengan nama Sekolah Pagesangan

Pengalaman jatuh bangun membangun Sekolah Pagesangan sebagai media belajar yang kontekstual merupakan sebagian besar isi dari buku ini. Sebagian di antaranya adalah kisah pengamatan dan pengalaman Diah dengan anak-anak di Panggang yang kelak menjadi fasilitator di SP. Sebagian lainnya merupakan kisah kiprah Dian dan kader-kadernya dalam mengupayakan pendidikan yang memberdayakan masyarakat di wilayah Gunungkidul.

Pemberdayaan masyarakat yang dijalani oleh SP ditekankan sebagai pendidikan yang kontekstual dan mengakar pada kondisi sosial budaya masyarakat di Desa Panggang. Hal ini dijalani Diah dengan kunjungan-kunjungan non-formal dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Ia juga banyak berdiskusi dengan anak-anak yang telah dekat dengannya. Mereka memulai diskusi dengan harapan dan cita-cita masa depan anak-anak tersebut, yang rupanya kemudian diungkapkan sebagai harapan atas kehidupan yang sejahtera dan makmur, serta mandiri oleh karena usaha sendiri. Berangkat dari harapan-harapan itulah Diah dan anak-anak memulai kegiatan wirausaha berbasis potensi daerah.

Bagaimana sebuah kegiatan wirausaha dapat lahir berdasarkan sebuah daerah yang gersang? Inilah perwujudan dari frasa yg telah dijadikan judul kitab ini. Gesang di huma gersang. Diah dan anak-anak di SP berdiskusi beserta buat menentukan bentuk wirausaha apa yang bisa dijalankan, & sinkron menggunakan potensi desa mereka, berdasarkan aspek kesenian, kerajinan sampai pertanian. Semuanya dibawa pada diskusi beserta, untuk memilih bisnis yg bermodalkan keterampilan yang sudah dimiliki, bahan standar berdasarkan lingkungan lebih kurang yang gampang dijumpai & dengan kapital awal yang kecil. Bentuk bisnis yang disepakati akhirnya adalah bisnis pemanfaatan output pertanian, menggunakan dasar pemikiran bahwa sebagian akbar rakyat adalah petani, & pada saat panen, bahan baku yg dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis, misalnya singkong, gaplek (singkong yang dikeringkan), jagung, beras, kacang tanah, koro & lain-lain.

Dengan ciri tanah yg keras dan pola bercocok tanam yg hanya mengandalkan kehadiran ekspresi dominan hujan, maka masyarakat memiliki sistem manajemen penyimpanan kuliner agar cukup buat menghidupi mereka selama satu tahun. Singkong diolah menjadi gaplek kemarau yang bisa bertahan sampai satu tahun lamanya. Gaplek diolah lagi menjadi nasi thiwul. Konsumsi nasi thiwul di pada keluarga dilakukan bergiliran menggunakan nasi (padi) & jagung.

Hampir semua masyarakat di Panggang menanam singkong. Ketika panen singkong, mereka juga terbiasa mengeringkan singkong untuk dibuat gaplek. Persediaan gaplek selalu menggunung di kala musim panen tiba. Hampir semua orang menjual gaplek, sehingga terjadi persaingan harga gaplek. Hanya segelintir orang di Panggang yang menjual hasil olahan gaplek, yaitu nasi thiwul, karena pergeseran pola konsumsi di masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi nasi thiwul sebagai makanan pokok, menjadi nasi (beras) di masa kini. Padahal, jika dianalisis lebih lanjut, gaplek tidaklah seperti yang dicap masyarakat sebagai makanan orang miskin. Gaplek memiliki nilai indeks glikemik yang rendah dibanding beras. Kandungan serat dari gaplek juga tinggi.

Hal ini yg kemudian membersitkan wangsit di ketua Diah & anak-anak SP untuk menambah nilai jual dari gaplek, yaitu dengan menghasilkan tepung gaplek, thiwul matang dan thiwul instan. Dari pengalaman memroduksi, memasarkan dan menjual produk-produk tadi, Diah dan anak-anak SP menerima pengalaman berharga. Salah satunya, menaikkan nilai jual dari sebuah hasil panen.

Namun demikian, perjuangan untuk mandiri tidak berhenti sampai di pemasaran produk saja. Sadar bahwa jenis wirausaha yang dijalankan terkait dengan pola bercocok tanam masyarakat, Diah berupaya agar pola bercocok tanam yang dilakukan dapat selaras dengan alam. Telah diketahui sebelumnya, bahwa penggunaan pupuk kimia dan pestisida justru semakin menurunkan kualitas tanah yang ditanami. Maka, Diah dan anak-anak SP mengampanyekan pola bertani yang tidak merusak alam, dekat dengan budaya asli masyarakat dan tidak bergantung pada korporasi besar. Mereka bertekad menjadi petani-petani muda yang menyayangi alam dan lingkungan di sekitar.

Tak sedikit upaya yang sudah dilakukan. Untuk meningkatkan ilmu pertanian bagi anak-anak di SP, Diah mengajak anak-anak belajar bertani di Ath Thariq Garut dan Institut Bumi Langit, serta menjalin komunikasi dengan para petani organik di berbagai daerah. Terinspirasi dari kunjungan belajar mereka tersebut, anak-anak SP menginisiasi pembuatan kompos, bokashi (pupuk dari kotoran sapi), pupuk organik cair, membuat kebun belajar, hingga ngalas (bertani di lahan yang sebenarnya, bukan pekarangan). Tantangan demi tantangan pun dihadapi, mulai dari musim kemarau yang panjang, tiadanya air, hingga ketidaksuburan tanah. Namun, pada akhirnya, kegiatan ngalas tersebut membawa hasil. Beberapa tanaman akhirnya dapat tumbuh dengan subur, seperti : chantel, padi, jali, kacang tanah, koro, benguk, singkong, garut, dan ganyong.

Kegiatan anak-anak SP mulai dilirik oleh para orang tua mereka yang tertarik dengan proses pengolahan hasil panen hingga penjualannya. Mereka bahkan mendukung ketika anak-anak SP membutuhkan lahan garapan bagi mereka untuk berlatih bercocok tanam. Maka, dari kelompok anak-anak, kemudian berkembang lagi kelompok ibu-ibu yang melakukan usaha kecil olahan panen. Terdapat beberapa kelompok ibu yang mengolah dengan jenis olahan yang beragam, seperti mengolah panen menjadi ceriping pisang, singkong atau bayam. Kelompok lain membuat tepung gaplek dan mocaf, dan yang lain membuat thiwul instan. Sedangkan para bapak, tidak mau ketinggalan, mereka berkumpul dalam diskusi-diskusi kelompok yang membahas tentang perencanaan penanaman lahan, penggalian potensi desa, dan sebagainya. Akhirnya, proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Diah menampakkan hasilnya.

Tak terasa, usaha Diah beserta anak-anak pada Panggang sudah dijalani selama delapan tahun (2009 – 2017). Delapan tahun yg kaya dengan pengalaman berjuang buat hayati di lahan yang gersang. Perjuangan itu sekarang telah membawa output, meskipun bukanlah melulu merupakan materi. Salah satunya yg terpenting merupakan pelajaran kehidupan, bahwa buat hidup, insan memerlukan keyakinan yg bertenaga. Keyakinanlah yang akan menjadi penuntun bagi perjuangan mimpi setiap orang.

Bersama buku ini, Diah ingin memperlihatkan kepada para pembaca mengenai proses pendidikan kontekstual, pendidikan yg berbasis kondisi sosial budaya setempat, termasuk dilema-problem yg terjadi pada dalamnya. Proses tadi lebur pada proses belajar yang bukan saja diperuntukkan bagi anak-anak, melainkan siapapun menurut banyak sekali usia yang masih mempunyai harapan belajar. Proses belajar tidak memerlukan sekat-sekat ruang fisik maupun ruang sosial, beliau menjadi satu menggunakan lingkungan kurang lebih & pengalaman keseharian setiap orang. Akhir kata, semoga para pembelajar menurut proses pendidikan kontekstual ini menjadi bagian berdasarkan solusi permasalahan yang dihadapi, bukan menjadi bagian menurut kasus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *