[Jalan-jalan] BALAI WARGA MARLINA
By: Date: July 22, 2018 Categories: Uncategorized

Kalau anda mendengar kata Balai Warga jangan membayangkan sebuah bangunan yg kokoh, luas & lengkap fasilitas. Tempatnya sederhana dengan desain rumah anjung dari bambu, ada papan triplek untuk menulis & papan fakta, duduk lesehan dan angin segar yg dibiarkan masuk. Balai Warga Marlina adalah salah satu balai yang didirikan oleh warga kampung Muara Baru & Urban Poor Consorsium (UPC-LSM pendampingan masyarakat miskin kota), terletak di galat satu pinggiran kota Jakarta, tepatnya di kampong Muara baru, kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Untuk menuju kesana sangatlah gampang, menurut stasiun Kota sanggup naik Angkutan Umum jurusan Muara Baru atau kalau nir mau repot mampu eksklusif naik bajaj. Memasuki jalan Marlina, kita akan melihat sederetan rumah penduduk yg padat dan lalu lalang orang pada gang sempit menggunakan berbagai aktivitasnya. Tanya saja Balai Warga Marlina pasti semua orang memahami dan akan berbaik hati menampakan arahnya.

Mengapa terdapat Balai Warga Marlina? Kampung Marlina merupakan galat satu gerombolan dampingan rakyat UPC dan galat satu aktivitas rakyat yang dilakukan disana adalah Kelompok Belajar Anak (KBA). Awal aktivitas KBA dilaksanakan pada salah satu rumah warga menggunakan jumlah anak sekitar 20 orang. Semakin berkembang berita & kebutuhan akan ilmu, akhirnya terdaftar 70 anak yang ingin mengikuti aktivitas KBA. Kondisi ini menciptakan CL Anak dan UPC mengumpulkan orangtua murid buat menyampaikan kasus aktivitas grup belajar ini, mulai menurut tempat yang sudah tidak dapat menampung siswa lagi, kenyamanan proses belajar mengajar & fasilitas yg tersedia. Didapat satu konvensi bahwa masyarakat dan UPC akan menciptakan suatu balai sebagai wahana belajar. Tanah milik PT Gajah Tunggal yang diklaim menjadi milik Ibu Yayah sebagai pertimbangan lokasi pembangunan balai. Perhitungan biaya diperkirakan 5 juta, dan dana didapat dari swadaya/urunan orang tua murid & UPC. Urunan rakyat per anak didik 10.000 rupiah dan terkumpul lebih kurang 400.000 rupiah??? Cek lagi. Selama proses pembangunan ternyata biaya yang dimuntahkan membengkak lantaran Harga bangunan sudah naik (cat, semen, ll) & perubahan pemakaian asbes menjadi atap buat faktor keamanan.

Belum lagi masyarakat wajib membayar uang keamanan sebanyak 400.00 rupiah ke PT.

Pembangunan balai memakan waktu cukup singkat hanya satu minggu menggunakan 3 orang pekerja. Nah dalam tanggal 26 Maret 2006 hari Minggu sore Balai Warga Marlina diresmikan dengan kondisi apa adanya & dinding yg belum dicat karena biayanya kurang. Hal ini tidak menyurutkan semangat rakyat mulai dari anak-anak, remaja & orangtua buat ikut andil mempersiapkan program peresmian. Ada pentas musik, pemutaran film dan permainan. Warga kemudian berinisiatif meminta saweran ke penonton buat membeli kekurangan cat dan bahan lainnya, akhirnya terkumpul dana sebanyak 195.000 rupiah.

Sampai ketika ini kelompok belajar yang jumlah muridnya hampir 70 orang dengan dua CL Anak menjadi guru ini sudah berjalan selama hampir satu tahun. Kelas dibagi menjadi 2 gerombolan , yaitu kelas sore (pukul 17.00 ? 18.00 WIB) & malam (pukul 19.00 ? 20.00 WIB). Peralatan seadanya misalnya papan tulis difasilitasi sang UPC, sedang kapur tulis & buku swadaya orangtua siswa. Dari sinilah muncul rasa mempunyai dan tanggung jawab orangtua anak didik/warga terhadap grup belajar dan balai. Ternyata kehidupan anak-anak dikampung Marlina sama menggunakan anak-anak miskin lainnya, yg terbatas dengan akses pendidikan & masih haus menggunakan ilmu & pengetahuan. Dalam gerombolan belajar anak-anak juga dibiasakan buat menabung lewat kitab tabungan.

Selain buat gerombolan belajar, Balai Warga Marlina juga digunakan buat pelayanan kesehatan alternatif dan sosialisasi flora obat. Bukan hanya itu, balai masyarakat jua dapat dipakai buat kepentingan masyarakat lainnya misalnya rendezvous masyarakat, kedap RT/RW, arisan bahkan sunatan atau program perkawinan sekalipun. Kalau anda ingin mencoba, bisa menghubungi Ibu Yayah sebagai penanggung jawab disana. Sstt, mungkin terdapat diantara pembaca yang bertanya-tanya kenapa nama kampung itu kampung Marlina ya? Apakah ini dulunya nama seorang perempuan kembang desa disana atau?.Jangan berasumsi macam-macam, ternyata Marlina itu adalah nama salah satu pabrik di wilayah Muara Baru. Loohhh! (Mels)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *