[Pikir] Menikah atau Melajang? Sebuah Refleksi Atas Pilihan Hidup Dalam Mengekspresikan CINTA
By: Date: July 24, 2018 Categories: Uncategorized

"?.Ternyata sepatu kaca itu sangat cocok menggunakan kaki Cinderella. Maka, dibawalah Cinderella ke Istana sang Pangeran. Akhirnya, Sang Pangeran dan Cinderella menikah, & mereka hidup bahagia selama-lamanya."

Tentunya cerita pada atas telah nir asing lagi di pendengaran kita, apalagi para gadis & remaja putri. Ada poly cerita dan dongeng lainnya yg seperti menggunakan dongeng Cinderella ini, pada mana seorang gadis manis akan tetapi miskin dan malang, atau gadis dari kalangan warga biasa, yg seumur hidupnya menderita (karena ibu tiri & saudara tiri wanita yang jahat dan kejam), akhirnya menikah dengan seorang Pangeran yang akan tiba padanya. Pada akhir cerita selalu digambarkan sang gadis menikah dengan Pangeran dan mereka hayati bahagia selamanya.

Dongeng yang dikenal sejak mini ini sebagai begitu melegenda & menginternalisasi dalam diri anak-anak wanita. Terutama mereka yg merasa menderita, miskin dan nir bahagia, selalu punya asa bahwa suatu waktu akan tiba sang Pangeran bagi mereka, & akan membawa mereka ke pernikahan yang membahagiakan, mengakhiri segala penantian dan penderitaan mereka.

Gejala atau sindrom seperti ini pada akhirnya tidak hanya melanda para perempuan yang miskin dan tertindas oleh ibu tiri dan saudara tirinya, tetapi telah melanda seluruh lapisan perempuan (dan seluruh sistem masyarakat yang bukan perempuan). Sindrom yang dikenal sebagai Cinderella Complex [1] ini secara tidak sadar telah melegitimasi konstruksi sosial yang terlanjur dianggap kodrat dan alamiah : bahwa panggilan dan kodrat setiap manusia adalah menikah. Di situlah puncak kebahagiaan bisa dicapai.

Lalu Mengapa Dengan Pernikahan?

Di luar makna persetubuhan itu sendiri, pernikahan sebenarnya bukan suatu yang semata-mata alamiah saja. Ia juga bukan merupakan sebuah kewajiban sosial yang menafikan kehendak bebas setiap individunya. Seringkali memang pernikahan hanya dipandang sebagai sebuah kontrak sosial yang harus dipatuhi, yang akan mendapatkan sanksi bila tidak dilaksanakan. Pernikahan dalam konteks sosio-kultural pada akhrinya hampir selalu berarti konstruksi. Telah terjadi proses rasionalisasi pelegitimasian dalam pernikahan, yang berarti pula institusionalisasi pernikahan. Dengan demikian ada berbagai kepentingan masuk dan mewarnai pernikahan. Termasuk dalam kepentingan itu adalah komersialisasi pernikahan, penghegemonian kuasa negara dan agama serta adat, dan di atas itu, ada kepentingan patriarkhisme di sana.

Di Indonesia, secara eksplisit & diakomodir sang aturan, dan ditunjang oleh institusi agama, negara sudah ikut campur tangan pada pilihan perkawinan. Perkawinan antar kepercayaan nir diperbolehkan, atau minimal dipersulit dengan prosedur birokrasi & uang yang tidak sedikit. Dalam perkara perkawinan antar bangsa, pihak wanita mampu kehilangan hak kewarganegaraannya hanya lantaran pernikahan.

Selain demi pemurnian keturunan & ras, rekayasa kultur telah menggiring pernikahan menjadi lembaga pewaris & pelindungan hak kepemilikan. Mulai dari pewaris tradisi, nilai-nilai hingga kekayaan material, yang ujung-ujungnya merupakan pewarisan kekuasan, dijaga terus menggunakan alasan pernikahan. Kelangsungan warisan dapat diukur dari jelas-tidaknya perkawinan & dalam lingkup tradisi apa perkawinan itu disahkan.

Perkawinan atau pernikahan juga bisa menjadi lembaga penjamin stabilitas perekonomian dan tenaga kerja. Bagi kalangan marjinal, institusionalisasi perkawinan yang meriah, birokratis dan glamour sangat jauh dari realita mereka. Alasan material atau ekonomi dan penyediaan tenaga kerja seringkali menjadi faktor dominan bagi keberlangsungan sebuah perkawinan. Bagi keluarga menengah ke atas, perkawinan menjadi sebuah ajang prestise dan memamerkan kemampuan ekonomi serta kekuasaan mereka. Dalam masyarakat modern, pengesahan perkawinan bukan merupakan ritual yang murah dan mudah. Ada banyak sumber daya dan energi serta pengorbanan yang dibutuhkan bagi pengatualisasian hegemoni kekuasaan melalui lembaga perkawinan ini. Akhirnya, lembaga perkawinan sangat berpotensi jatuh menjadi lembaga borjuis dan menjadi ajang obyektifikasi manusia.

Lewat pernikahan yang dilembagakan inilah, negara (dan juga agama serta budaya) mengontrol dan mengatur warganya. Kontrol lewat lembaga perkawinan yang menghasilkan keluarga ini terbukti cukup efektif di Indonesia selama ini. Mulai dari sosialisasi konsep Ibuisme[2], kontrol atas Pegawai Negeri dan ABRI, sampai pada kontrol atas reproduksi perempuan lewat program KB. Lewat Undang-Undang Perkawinan dan PP 10, negara mendapat legitimasi untuk mengatur kehidupan perkawinan dan seksual warganya.

Dengan demikian, perkawinan menjadi sebuah institusi yg sarat dengan kekuasaan yang hegemonis, dan cenderung merepresi orang-orang yang terdapat di dalamnya, apalagi yang tidak termasuk di dalamnya.

Lantas, Apakah Melajang Menjadi Sebuah Pilihan Alternatif?

Walaupun selama ini posisi pelajang berada pada batas ada & tiada, namun justru menggunakan kehadiran para pelajang, pernikahan dapat dikembalikan pada posisi alamiahnya yang lebih adil & setara. Lantaran pelajang memiliki kiprah krusial pada pendefinisian sebuah makna maupun dalam pemaknaan sebuah bukti diri (baik dalam lingkup langsung, sosio kultural, politis, maupun ideologis).

Masing-masing insan lengkap & utuh dalam dirinya, bukan setengah insan. Maka, tidak wajib melalui lembaga perkawinan, seseorang insan baru bisa menjadi sepenuhnya insan, & buat saling melengkapi. Dalam diri setiap manusia (perempuan , laki-laki , & yg tidak dikategorikan keduanya) masing-masing mengandung unsur feminitas dan maskulinitas dalam dirinya sendiri. Tidak dikotomis & dualistis, nir terpisah dan nir rimpang. Pilihan buat tidak menikah atau melajang justru ingin menguak kapasitas diri buat menyeimbangkan diri dan menuju pada keutuhan diri, justru dengan menempatkan diri pada posisi ?Bebas buat?.

Melajang atau tidak menikah memang bukan pilihan satu-satunya dan mutlak. Ia adalah pengalaman konkret. Ia bukan pula karena “jomblo sepanjang hidup”, “tidak laku”, atau “tidak normal”. Ia merupakan pilihan karena pengalaman interseksualitas sendiri menyiratkan berbagai peluang berelasi.

Kesadaran untuk menentukan melajang bisa jadi adalah suatu bentuk penghargaan terhadap tubuh dan seksualitas yang nir tunggal/seragam. Kesadaran akan reaksi-reaksi kimia yang menyebabkan aneka macam gejolak emosi yang umumnya diklaim CINTA itulah yg membawa orang semakin mendalami ekspresi-aktualisasi diri rekanan interseksualitasnya.

Mengutip terminologi yg dipakai sang Victor Turner, para pelajang ini sanggup sebagai komunitas liminal, pada mana distingsi seksualitas sebagai tidak konkret. Sebagai komunitas liminal, mereka punya potensi besar sebagai agen transformasi sosial, yang membawa pemaknaan baru bagi kebudayaan insan.

Pada Akhirnya?

Melajang, menikah atau hidup beserta menggunakan pasangannya merupakan majemuk bentuk pilihan hayati masing-masing orang. Pilihan bentuk rekanan ini nir akan pernah dilepaskan berdasarkan relasi sosial yg lebih luas, antar rakyat dalam institusi-institusinya. Tetapi setidaknya, biarlah masing-masing pribadi bisa memperoleh ruangnya buat bertanggungjawab bagi hidupnya menggunakan memberi ruang bagi kehendak bebasnya buat membuat pilihan yg diyakininya membahagiakan! Kekuasaan pada bentuknya yg paling romantis sekalipun tetaplah punya potensi buat menghegemoni dan menyebabkan keterkungkungan, ketidakadilan, & jua ketidakbahagiaan.

Biarkan setiap manusia yang kebetulan terlahir sebagai wanita, pria ataupun yang tidak dipercaya kedua-duanya?.

Memiliki kuas dan kanvasnya sendiri,

Menorehkan sapuan warna-warninya sendiri,

Di atas cakrawala, di antara bentangan langit, & pada atas bumi yang berputar & terus berputar?.

Karna setiap orang merupakan pelukis,

Karna setiap orang merupakan penari,

Yang mungkin melakukannya tunggal,

Duet, trio, atau kuartet?

Biarkan setiap manusia yg kebetulan terlahir menjadi perempuan , pria juga yg nir dipercaya kedua-duanya?

Melukis dan menari lukisan dan tariannya masing-masing?.

Melukis dan menari bersama kosmis, mengikuti hati dan insting, beserta kehendak bebas yg melayang?.

(Intan)

[1] Istilah ini diperkenalkan oleh Collete Dowling untuk mendefinisikan peristiwa psikologis perempuan dalam perkawinan.

[2] Istilah ini diperkenalkan oleh Julia I. Suryakusuma; yang mengacu pada konsep perempuan yang dikonstruksi oleh pemerintah Orde Baru; dimana perempuan hanya dilihat sebagai istri yang keberadaannya tergantung pada suami, keluarga dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *