[PROFIL] MBAH PAIMAN, KISAH SEORANG PETANI BANDEL
By: Date: July 26, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Kukuh Samudra

Bumi kita saat ini dihuni sang lebih berdasarkan 7 milyar insan. Sejumlah manusia tadi seluruh butuh makan. Kita bisa permanen hayati tanpa membaca kitab , tanpa memegang ponsel, atau tanpa berkendaraan. Tapi tidak tanpa makan.

Maka tidak berlebihan sekiranya apabila kita sebut petani menjadi profesi yg paling fundamental di bumi ini. Meski demikian kita seringkali kurang apresiatif terhadap profesi tadi.

Saya dua kali bertemu dengan Mbah Paiman. Lelaki sepuh yg memproklamirkan diri sebagai petani kurang pandai. Pertama, dalam sebuah kegiatan diskusi. Waktu itu saya kagum menggunakan perawakan Mbah Paiman yg meski sudah berumur 80 tahun tetapi tetap sehat & energik. Topik diskusi tentang pertanian organis hingga masalah penanganan sampah yg kontemporer, dijawabnya secara fundamental.

Perjumpaan yang pertama mendorong saya buat kenal lebih pada kepada Mbah Paiman. Saya putuskan untuk sowan ke rumah Mbah Paiman di Dusun Dhani, Desa Pereng, Mojogedang. Sekitar 45 mnt mengendarai kendaraan dari pusat Kabupaten Karanganyar.

Waktu itu kami rombongan berempat datang ke rumah Mbah Paiman pukul 21.00. Tidak janjian dahulu. Namun, sepertinya beliau cukup terbiasa menerima tamu malam-malam. Kami diterima dengan sangat ramah. “Biasa, Mas. Kalau ke sini ada yang kadang baru datang jam 11 malam. Saya layani sampai subuh.”

Nama Mbah Paiman di Karanganyar dikenal terkait perjuangannya di bidang pertanian organik. Namun, namanya tidak hanya terkenal pada kalangan penggiat pertanian, dia juga dikenal di kalangan pegiat kesenian dan kebudayaan maupun politisi. Pilihan hidup dan tutur mengenai latar belakang hidupnya, menarik bagi siapapun yang ingin menimba ilmu.

Terdapat cerita di balik pengakuan Mbah Paiman sebagai petani kolot. Kolot yang dimaksud di sini bukan berarti tua seperti dalam bahasa Sunda, tapi lebih dimaksudkan sebagai sifat ngeyel atau memberontak.

Hal yg menciptakan Mbah Paiman memberontak tepatnya merupakan tata cara pertanian yang tidak ramah terhadap alam. Semua bermula dalam program revolusi hijau yang diterapkan saat pemerintahan Presiden Soeharto.

Program revolusi hijau dimaksudkan buat memacu produksi pangan menjadi langkah respon terhadap ledakan penduduk yang nir terbendung. Isi acara revolusi hijau diantaranya percepatan produksi menggunakan menggunakan pupuk kimia dan racun sintetis.

Seketika Mbah Paiman bingung. Ketika program itu dicanangkan, dia sedang di penjara pada Nusakambangan dampak sebuah kesalahan yang sampai kini dia nir tahu dengan jelas. ?Tidak ada pengadilan sampai waktu ini,? Begitu terangnya.

Dia menjelaskan, bagaimana saat itu, sambil sembunyi-sembunyi bersama tahanan yang lain membahas bahaya dari penerapan program revolusi hijau.Salah satu yang ganjil dari program tersebut adalah ketika tahun 1955, untuk mengatasi wabah malaria, pemerintah menggunakan racun DDT [1]. Namun, segera setelah mengetahui dampak bahaya yang ditimbulkan, pemerintah segere melarang. Mbah Paiman bertanya-tanya, “Tahun 1955, penggunaan racun sintetis sudah dilarang, mengapa pada tahun 1968 diterapkan kembali?”

Mbah Paiman paham benar , meski mungkin dapat memacu produksi pangan dalam jangka pendek, masih ada imbas jangka panjang yang sangat berbahaya bila acara tadi diterapkan. Ada empat simpulan Mbah Paiman jika acara revolusi hijau permanen dijalankan:

a.                   Degradasi lahan, tanah yang subur akan jadi tandus dan ketat

b.                  Banyak macam penyakit yang menyerang manusia karena mengonsumsi tanaman yang terkena residu racun

c.                   Usia manusia akan makin pendek.

d.                  Rusaknya ekosistem keseluruhan.

Rezim orde baru ingin program revolusi hijau diterapkan sang segenap petani yg terdapat di Indonesia. Bagi yg nir menjalankan acara tersebut, dipercaya membangkang. Apalagi melayangkan protes. Dan salah satu orang yang berani menentang program tersebut dan permanen konsisten sampai kini salah satunya merupakan Mbah Paiman.

Pilihan hidup menjadi petani telah dijalani Mbah Paiman seumur hidupnya. Hal ini tidak lepas dari perintah orangtuanya yang ingin Mbah Paiman menjadi petani. “Saya tidak boleh sekolah karena saya harus jadi petani. Bapak saya khawatir saya menjadi pegawai negeri, karena pegawai negeri itu pemalas,  tidak mau mencangkul.” tutur Mbah Paiman.

Meskipun tidak boleh bersekolah oleh ayahnya, bukan berarti Mbah Paiman tidak belajar. Dia bertekad untuk menjadikan alam sebagai tempatnya belajar. “Ketika melihat teman saya bersekolah, saya merasa kepingin. Kepingin sekali. Sambil nyangkul sendirian, lama-kelamaan saya menemukan jalan keluar. ‘Sekolah itu tidak hanya di bangku sekolahan, masa alam ini tidak bisa digunakan untuk belajar? Sejak dahulu (leluhur) kita tidak ada sekolahan juga pintar-pintar. Maka saya menempatkan diri bahwa alam semesta harus menjadi guru besar saya. Tanah ini harus menjadi guruku!”

Semangat bertani Mbah Paiman merupakan semangat seseorang warga yang menyadari bahwa beliau hidup di negara agraris. Adalah sebuah ironi berdasarkan Mbah Paiman, negeri yg mendeklarasikan diri menjadi negara agraris, justru mengimpor bahan pangan menurut negara lain. Dan sebuah bertentangan dengan harapan juga bagi sebuah negeri agraris, petaninya nir sejahtera.

Dalam ranah praktis, Mbah Paiman cukup prihatin dengan kondisi petani saat ini yang kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga sangat bergantung pada dunia industri.  Mulai dari benih hingga pupuk, petani sekarang harus membeli. Padahal, benih seharusnya dapat dikembangkan dan dihasilkan sendiri dari hasil panen. Sementara untuk mendapatkan pupuk, petani seharusnya dapat membuat sendiri dengan cara mengompos.

Sebagai seorang petani ndeso, Mbah Paiman sedih dan jengkel melihat kondisi alam saat ini rusak akibat praktek pertanian yg tidak memperhatikan ekosistem. Penyaluran kesedihan dan kejengkelan Mbah Paiman adalah menggunakan membuat geguritan (puisi jawa) juga menulis.

Salah satu tulisannya berjudul “Ratapan Tangis Burung dan Katak”. “Saat ini burung berkicau bukan menyanyi seperti dahulu. Tapi sekarang burung berkicau menangis. Kapan dia kena racun? Dulu kodok yang di sawah, ketika dulu menghibur petani yang mengurus air di sawah. Itu musik alami yang luar biasa. Tapi kalau sekarang dia berbunyi atau bernyanyi, itu sebetulnya menangis. Kapan mati kena racun?” tukasnya.

Mbah Paiman hingga saat ini masih terus bertani. Pagi hari dia ke sawah bersama rombongan petani yang lain. Kadang-kadang dia bertani menggarap ladang yang ada di belakang rumahnya. Dalam bertani dia konsisten menjalankan pertanian organik: tidak menggunakan pestisida kimia, pupuk sintetis, maupun benih GMO (genetically modified organism).

Bagi rekan-rekannya, laris tani yg dijalankan sang Mbah Paiman itu aneh. Mbah Paiman yang membuat pupuk organis sendiri dan menanam benih berdasarkan hasil panen dilihat sebelah mata lantaran mengikuti teknologi pertanian terbaru.

Sementara pada satu sisi Mbah Paiman prihatin dengan kebiasaan para kawannya, sesama petani yang tidak paham imbas berdasarkan perilaku pertanian mereka terhadap ekosistem alam. Mbah Paiman ingin menyebarkan ilmu & pemahamannya mengenai pertanian organis kepada mitra-kawannya. Tapi bisnis tadi ternyata tidak gampang. Mula-mula, hanya satu 2 orang yang ikut dan tertarik. Saat ini, meski nir poly jumlah orang yang ingin ikut belajar dari Mbah Paiman terus bertambah lebih kurang lima-10 orang.

Bersama kelompok tani yang diikutinya, Mbah Paiman menjual output panen beras yg didapatkan dengan label beras organis. Beras yang dijual ini telah lulus tunjangan profesi organis & dikemas tidak sama buat membedakan menggunakan beras lain yang bukan organis.Sementara menurut ladang, Mbah Paiman memperoleh output panen misalnya pisang & butir-buahan lain yg dia konsumsi sendiri.

Mbah Paiman sendiri membuka diri bagi siapapun yang ingin belajar bertani secara organis. Siapa saja dari mulai peneliti atau mahasiswa yang ingin bertanya sekilas mengenai pertanian organis, hingga yang ingin magang dan praktek. Mulai dari wawancara yang berdurasi satu jam, hingga yang live in untuk beberapa pekan.

Ada kala kita merasa jenuh, capai, atau bosan ketika sedang berusaha atau memperjuangkan sesuatu yang kita yakini. Di saat seperti itu, coba untuk pergi ke suatu tempat dan temukan orang yang membuat kita kembali bersemangat. Tidak selalu tempat yang jauh, tapi barangkali justru tempat yang dekat yang selama ini justru luput dari pengamatan. Mbah Paiman, 80 tahun, petani kolot.  Terus berjuang melakukan pertanian selaras alam.

[1] (diklorodifeniltrikloroetana/dichlorodiphenyltrichloroethane) merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan populasi serangga umumnya padaiklim panas. Bagaimanapun beberapa serangga mengembangkan sifat resistensi terhadap DDT dan dapat diwariskan pada keturunannya. (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/DDT).

Bahan racun DDT sangat persisten (tahan lama, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sampai 100 tahun atau lebih), bertahan dalam lingkungan hidup sambil meracuni ekosistem tanpa dapat didegradasi secara fisik maupun biologis (Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id/sib3popv25/POPs/DDT/ddt.htm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *