[OPINI] REVOLUSI DIRI ADALAH REVOLUSI DUNIA
By: Date: July 27, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Anthony Dalimarta

Pada jaman modern ini, dunia sedang berubah dan berevolusi dengan semakin cepat. Di negara-negara tertentu, mayoritas orang telah dapat hidup bersama tanpa diskriminasi ras atau warna kulit. Kesetaraan gender semakin dapat terlihat pada berbagai aspek kehidupan. Senioritas dan bullying semakin dipandang sebagai sikap yang melanggar martabat luhur manusia. Hal-hal seperti ini jauh lebih sulit kita temukan bila kita menghitung mundur 50-100 tahun ke belakang.

Baik pada lapisan yg luas juga kecil, perubahan yang terjadi merupakan sebuah bagian alami dari proses evolusi makhluk-makhluk yang menghuninya. Dalam tataran hayati manusia, perubahan pencerahan mengakibatkan keluarnya pertanyaan-pertanyaan baru yg membuat kita semakin merenungkan batasan diri kita. Sebuah perenungan yang muncul semakin kuat & sebagai relevan dalam saat ini adalah tentang cara hayati kita yang menghipnotis kehidupan lain pada bumi, yg secara nir langsung juga memengaruhi keberlanjutan jangka panjang kehidupan insan. Pada sisi lain, kita juga sedang merenungkan mengenai orientasi seksual seorang, dimana kita diajak buat mendobrak kepercayaan usang bahwa jenis kelamin tertentu pasti mempunyai orientasi seksual tertentu.

Secara terus menerus, kita ditantang buat mengalami transformasi kesadaran secara komunal. Pada saat ini, perkembangan teknologi semakin menghubungkan semua pelosok global. Teknologi nir hanya menghubungkan orang, namun juga fakta. Segala macam hal yang disembunyikan menjadi jauh lebih gampang terungkap. Dan saat terungkap, penyebarannya terjadi secara cepat dan masif.

Keterhubungan ini sebagai wahana yg semakin efektif buat pihak-pihak yang hendak membawa pembaharuan kesadaran. Kita dapat melihat Greta Thunberg, seorang remaja yg dalam waktu singkat dikenal sang global ? Sampai mendapat nominasi penghargaan Nobel bidang perdamaian ? Hanya menggunakan membuat protes sederhana tentang pemanasan global menggunakan duduk membisu setiap harinya pada depan gedung parlemen Swedia. Dengan namanya yang sebagai besar , ia mengundang banyak sekali macam perhatian berdasarkan semua global. Ia sebagai tamu dalam saluran-saluran TV besar pada global, sebagai sampul majalah-majalah ternama, hingga berbicara dalam konferensi aksi iklim PBB. Semua publisitas ini secara tidak pribadi ikut mengembangkan pesannya tentang pemanasan dunia.

Greta Thunberg (16), aktivis lingkungan hidup, sedang berbicara pada pembukaan UN Climate Action Summit 2019 (Sumber: news.un.org)

Tidak hanya buat pihak yg hendak menciptakan transformasi, teknologi jua digunakan sang poly orang yang masih kurang pandai menggunakan kepercayaan dan cara hidup yg lama . Maka, tarik menarik antara orang-orang yg ingin membawa perubahan dengan orang-orang yang tidak menginginkan perubahan juga terjadi dengan semakin keras.

Beberapa contoh agresi yg dilancarkan oleh orang-orang pemegang posisi politik terhadap gerakan yang dilakukan sang Greta Thunberg (Sumber: people.Com, twitter.Com)

Untuk kita yang memperjuangkan perubahan-perubahan dalam aspek & tataran yg bhineka, bergesekan dengan orang-orang yg nir mau berubah juga merupakan sebuah keniscayaan. Di sisi lain, kita nir pernah sahih-benar tahu kapan perjuangan ini akan berbuah. Maka, terkadang kita mungkin merasa misalnya berjalan di tempat, tanpa hasil apapun. Perseteruan-pertarungan yang terjadi kadang membuat kita semakin lelah. Kolotnya orang-orang yang tidak ingin berubah menjadi kepahitan, menciptakan ketegangan sendiri di pada diri kita. Tanpa sadar, kita yang seharusnya memperlihatkan perubahan ke arah yg lebih baik malah ikut menjadi kaum yang ndeso. Perjuangan kita pula berubah sebagai bentuk pemaksaan lain terhadap orang-orang.

Katalis Perubahan yang Prematur

Tidak terdapat orang yang menyukai perubahan, terutama apabila perubahan tadi menuntut mereka buat meninggalkan kenyamanan mereka. Meninggalkan hayati lama yang disukai seakan menjadi sebuah kematian buat orang poly. Bukti yg gampang kita temukan merupakan betapa banyaknya orang (mungkin diri kita sendiri jua mengalaminya dalam titik tertentu) yang nir bisa mendisiplinkan pola makan dan olah raganya sebagaimanapun beliau memahami bahwa ia perlu menurunkan berat badan dan menyehatkan tubuhnya. Barangkali model misalnya ini terlihat sangat sederhana, tetapi ini melambangkan poly aspek kehidupan manusia.

Manusia berevolusi dengan hasrat mendasar berupa rasa aman. Berbagai macam habit tercipta sebagai bagian dari respon hasrat tersebut. Tubuh membiasakan dirinya dengan beradaptasi untuk merasa aman dan nyaman. Untuk melawannya, pikiran sadar yang membuat berbagai macam rasionalisasi memang berguna. Akan tetapi, karena dorongannya kurang kuat atau kurang konsisten, habit yang telah terbangun sulit untuk digoyahkan. Ditambah dengan sikap-sikap egosentris yang mempunyai berbagai macam agenda tersembunyi, sang ego akan merasa dirugikan pada berbagai tingkat. Maka dari itu, penolakan terhadap perubahan bisa menjadi semakin kuat tergantung pada orangnya.

Untuk kita yang hendak membawa perubahan yg lebih baik ke pada dunia, tentu gampang buat melihat ini pada diri orang-orang yg kaku dan kolot dalam pendirian lama mereka. Akan tetapi, apakah kita sudah mempertimbangkan bahwa hal-hal ini terjadi juga pada diri kita? Apakah kita sudah memastikan bahwa sembari kita berjuang menjadi agen perubahan, kita juga terus memperbaharui sistem-sistem lama pada diri kita yang bisa menghalangi kita melakukan pekerjaan yg efektif dan aporisma?

Setiap orang mempunyai preferensi dan selera masing-masing. Apa yang anda sukai belum tentu aku sukai, & kebalikannya. Untuk anda, mengganti diri pada aspek A barangkali gampang. Akan namun, hal yg sama belum tentu berlaku dalam diri aku . Sama halnya, aku dapat mengganti cara pandang dengan lebih ringan pada aspek B, sedangkan anda nir. Variasi ini tercipta dalam setiap orang dari cara hidupnya yg dibangun bertahun-tahun lewat pemikirannya, lingkungan famili, masyarakat, kepercayaan , dan lain-lain.

Tanpa memahami betapa sulitnya mengganti diri kita dalam aspek tertentu, kita nir sahih-benar memiliki kemampuan untuk mengganti orang dalam aspek yg mudah buat kita. Kita perlu tahu dengan jelas betapa nir enaknya waktu kita dipaksa buat berubah dalam titik yang tidak kita sukai. Kemudian, kita perlu melihat bahwa banyak orang tidak senang buat berubah pada sisi yang kita tawarkan. Kita hanya dapat memiliki kedewasaan buat menyikapi banyak sekali macam respon yg tiba ketika kita mempunyai kemampuan buat melihat dinamika ini dengan sangat kentara.

Kesadaran Diri Sebagai Sumber Kekuatan Utama

Walaupun penemuan tentang nilai-nilai yang lebih luhur terjadi secara pribadi, penemuan itu tidak melulu datang bersama kesadaran diri yang tinggi pula. Terjadinya pembaharuan pada cara pandang kita terhadap sebuah aspek kehidupan seringkali datang secara terpisah dengan pemahaman untuk menyikapinya dengan paling efektif. Ketika perjuangan ini dilakukan dengan ketidakmatangan diri, pada suatu titik kita akan merasa kelelahan apabila apa yang diperjuangkan tampak tidak berbuah. Fenomena yang diberi nama activism fatigue atau activism burnout ini sering terjadi pada berbagai jenis aktivis sosial yang saat ini sering dikenal dengan Social Justice Warrior (SJW).

Cuplikan artikel mengenai activism fatigue atau activism burnout, fenomena di mana para aktivis sosial mencapai titik jenuh ketika apa yang diperjuangkan tidak menunjukkan hasilnya (sumber: vice.com)

Walaupun activism fatigue ini ditemukan akibat banyaknya SJW yang mengalami hal tersebut, sebenarnya hal ini juga kita alami ketika berusaha mengubah bahkan orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman. Kita dapat mengingat sendiri seberapa banyak momen di mana kita merasa lelah dan heran ketika sahabat dan/atau keluarga kita tidak dapat memahami apa yang kita katakan. Inilah yang sangat penting untuk kita perhatikan; hal ini terjadi di berbagai lapisan, walau menjadi semakin terlihat pada skala yang lebih masif. Jika demikian, kita dapat mengatakan bahwa bibit penyakit ini dimiliki oleh jauh lebih banyak orang dari yang terlihat saat ini.

Segala rasa lelah, stres, & frustrasi ini nir pernah disebabkan oleh hasil yang tidak memuaskan. Selayaknya, sebelum mengusahakan perubahan, kita sudah tahu bahwa poly orang sulit berubah secara instan. Maka dari itu, menginvestasikan kepuasan & kebahagiaan kita dalam keberhasilan pekerjaan kita bukanlah sesuatu yang bijak. Ketika kita menempatkan kebahagiaan dalam keberhasilan usaha yang kita lakukan, secara otomatis kita pula sedang mempersiapkan diri untuk menderita ketika nir mencapai keberhasilan yang diimpikan.

Bukan adalah misteri bahwa insan yang senang secara otomatis menjadi lebih produktif. Maka, dengan mengamati betapa mudahnya kita meletakkan kebahagiaan kita pada hal-hal yg nir dapat kita kendalikan, kita perlu mencari jalan lain supaya segala macam pekerjaan kita sebagai lebih efektif. Tentunya, jalan terbaik yang bisa diambil merupakan supaya kita dapat permanen menghargai diri sendiri & apa yg kita perjuangkan tanpa terpengaruh tanggapan orang lain. Sumber penghargaan terhadap diri sendiri merupakan pemahaman diri, dan pemahaman diri timbul sebagai produk berdasarkan pencerahan diri yg tinggi.

Pemahaman diri dan pencerahan diri tidak sinkron dari kepribadian, kelebihan, kekurangan, & sebagainya yang kita miliki. Seperti tubuh yg terus berubah, aspek-aspek yang kita miliki ini jua terus berubah berdasarkan saat ke waktu. Jika terus berubah, kita tidak dapat benar-benar mengakibatkan mereka sebagai pegangan hidup. Ketika mereka berubah, kita menjadi kehilangan pegangan & menjadi goyah balik . Maka, walaupun termasuk, mereka hanya mengisi bagian yang sangat kecil dari diri kita yg sesungguhnya.

Menemukan Diri yang Sebenarnya

Diri yang sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam menyokong eksistensi diri kita. Jati diri kita penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas. Jati diri inilah yang menyadari perubahan segala macam hal, bahkan sampai perubahan sifat & kepribadian kita dari waktu ke saat. Diri yg sesungguhnya mengetahui segala kebenaran dan kenyataan, bahkan yang kita sembunyikan pada lubuk hati terdalam; namun permanen nir sama sekali oleh semuanya itu.

Penemuan akan diri yg sebenarnya sangatlah sederhana. Ini disebabkan lantaran diri yg sejati tidak pernah terpisah sama sekali dari diri kita. Akan tetapi, tantangan utama bagi orang-orang buat menyadari realitasnya adalah macam-macam label akan berbagai hal yang sering kita percayai.

Pikiran kita begitu terbiasa buat mengenali segala hal menggunakan pelukisan label yg sudah ditetapkan, baik oleh diri sendiri, orang tua, lingkungan, tradisi, & lain-lain. Akibatnya, kita hanya melihat segala hal secara satu dimensi. Walaupun label-label ini bermanfaat menjadi pengingat dan dalam berkomunikasi, ini menjadi penghalang akbar ketika kita mencoba melihat keseluruhannya. Oleh karena itu, diri yg sesungguhnya ? Yang nir oleh apapun ? Perlu ditemukan pada keheningan total.

Keheningan berarti bahwa kita terlepas dari banyak sekali macam kesibukan pikiran kita. Keheningan tidak sama menurut nir berpikir. Untuk menghilangkan pikiran, kita perlu menghentikan kerja otak, yang berarti sama menggunakan mematikan seluruh tubuh. Akan tetapi, keheningan merupakan kondisi pada mana kita tidak terlibat sama sekali menggunakan pikiran-pikiran yg lewat. Kita seakan berjarak berdasarkan pikiran dan tidak terpengaruh sama sekali olehnya. Kita bahkan nir perlu mengamati pikiran, melainkan hanya mengizinkan apapun lewat dengan sendirinya. Kita hanya berada dan menetap pada ?Kekosongan? Yg tersisa. Jika kita cukup memperhatikan, bahkan sejenak saja telah cukup buat kita menemukan realitas berdasarkan esensi diri yg jauh lebih luas berdasarkan yg kita bayangkan sebelumnya.

Ketika kita menemukan esensi sesungguhnya menurut diri kita, akan terjadi transformasi pada cara pandang, pemahaman, sampai cara menyikapi segala macam situasi. Hal ini dikarenakan sebuah empiris yg sebelumnya seakan tertutupi sebagai tersingkap menggunakan amat jelas. Maka menurut itu, apapun yg tidak melambangkan kesejatian diri kita jua akan menggunakan mudah kita kenali.

Cara pandang kita terhadap dunia menandakan cara pandang kita terhadap diri sendiri. Saat kita menemukan realitas yang sesungguhnya menurut keberadaan diri kita, seketika global pula terlihat tidak sama. Pada ketika yg sama, ada sebuah pencerahan baru. Setelah itu, nir ada satu pun hal pada global ini yang dapat merogoh kekuatan kita. Kita sudah menemukan asal kekuatan sejati.

Revolusi Diri merupakan Revolusi Dunia

Tentunya segala hal ini bukanlah dibuat buat menentang banyak sekali macam bentuk perjuangan untuk menaikkan kualitas kehidupan bersama. Saya secara langsung adalah orang yang mendukung banyak sekali gerakan humanisme di global. Dalam goresan pena ini, aku hanya ingin memberikan perhatian lebih pada betapa banyaknya orang yang gampang merasa kelelahan dan terhenti di tengah usaha mereka.

Artikel ini juga tidak ingin berkata bahwa kita tidak seharusnya melakukan aneka macam gerakan perubahan. Yang aku ingin katakan adalah jika kita mempunyai tingkat kesadaran yg tinggi, maka kita dapat melakukan gerakan perubahan yg sama tanpa beban yang besar . Dengan tidak membawa beban yg besar , poly menurut kekuatan kita dapat disalurkan buat memberikan efek yang lebih akbar lagi.

Bayangkan apa yg bisa terjadi apabila seluruh pejuang keadilan dan kehidupan mempunyai daya yg nir terbatas. Daya ini bukan hanya buat berkarya & bersuara, jua termasuk daya kreativitas dalam mengungkapkan pesan-pesan mereka. Bayangkan seberapa efektifnya usaha yang akan dilakukan & seberapa kuatnya efek yang akan dihasilkan dibandingkan apabila orang melakukannya dengan kelelahan.

Revolusi tertinggi pada dunia dimulai waktu terjadi revolusi diri. Dan revolusi diri tertinggi terjadi saat orang menemukan diri yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *