[PIKIR] MENJADI MANUSIA
By: Date: July 31, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Umbu Justin

Homo Sapiens atau Homo Appendictis

"I can’t go back to yesterday because I was a different person then"

Alice in the Wonderland

Pertanyaan tentang makna manusia belum lama ada, dibandingkan dengan 2 juta tahun kehadiran spesies kita Homo Sapiens, pertanyaan itu baru muncul sekitar 2500 tahun lampau di Yunani, kemudian menghilang dan munculkembali pada masa renaisans (tahun 1300-1600 masehi).

Pada permulaan lahirnya bahasa, ketika alam masih sedemikian lekat dengan kita, tidak ada jarak yang cukup untuk menyadari eksistensi kita di tengah dunia. Bahasa belum terbangun untuk mengajukan pertanyaan, yang ada hanya bunyi penanda kehadiran, yang kita suarakan secara spontan untuk menjadi awas atau sekadar memberitahu kejadian-kejadian yang harus kita waspadai demi kelangsungan hidup. Relasi kita dengan alam, dengan persekitaran kita, dengan sesama, selalu bilateral, aku dan engkau[1], relasi komplementer, langsung, mengikat dan saling menjamin keberadaan.

Kesadaran kita tentang hayati belum terbangun sebagai sebuah pengetahuan tak berbentuk, segala sesuatu mengikat kita secara sangat kongkrit dan sensasionik, kita merasa dengan peka, meraba dan menyentuh semuanya secara langsung. Kita terapung pada sebuah keserbaadaan yg magis, sebuah global gaib yang dengannya kita melebur dan mengalir & hidup sedemikian lekat.

1. Manusia magis, para shaman pemandu kehidupan, penutur kejadian:

Ketika kita semakin berkembang, menyadari ikatan-ikatan vital antara sesama, membangun hayati berkelompok, muncullah representasi pengalaman hayati sehari-hari dalam diri para shaman, dukun, para penutur cerita. Mereka merupakan penyentara mistik yang bisa menafsir serta mengikat semua ingatan & memberitahu bagaimana harusnya kita hayati. Mereka memberitahu berasal usul segala sesuatu, menafsir insiden-insiden, & meramal masa depan. Mereka adalah para penafsir, penyimpan rahasia, penyembuh pelihat, visionaris handal & penjamin kelangsungan hayati.

Perlahan-lahan dengan peran para shaman ini bahasa menjadi abstrak, mereka mampu menyimpan pengalaman dalam kata-kata, memberi nama dan memanggil subyek atau bahkan peristiwa-peristiwa yang kita inginkan terjadi. Kita mulai membangun kesadaran bahwa kita berada secara khas, mampu membuat jarak dengan alam, menyadari pelintasan waktu, menamai musim-musim, membuat peta tempat-tempat yang kita kenal, dan membangun ritual-ritual, membahasakan mantra-mantra penjinak hidup untuk mengelola dan mempengaruhi berlangsungnya alam dan kehidupan. Dunia tidak lagi terlebur bersama kita, tidak lagi mistik, ia sudah punya nama yang bisa dipanggil dan dimantrai. Kita percaya pada daya-daya magis yang dimiliki para shaman, mereka mewakili hubungan kita dengan alam, dengan kejadian-kejadian. Melalui mereka kita memandang hidup, menggunakan kata-kata magis dengan cermat dan penuh rahasia, dan menuturkan hadirnya bentuk kehidupan yang kita inginkan.

Dua. Manusia Mitos, kepercayaan pelantun mantra-mantra penakluk semesta

Kebiasaan untuk menuturkan hadirnya kehidupan yg diinginkan, memanipulasi peristiwa menggunakan mantra & bahasa misteri, ‘melembaga’ secara sporadik, melahirkan mitologi-mitologi lokal yg dituturkan oleh para shaman. Kekuasaan memanipulasi peristiwa alam, menghadirkan peristiwa, sebagai kultus, memisahkan daya tafsir, daya magis sebagai kekuasaan istimewa yg terpisah dari keseharian. Bahasa terbagi 2 sebagai kata lokal yg pragmatik buat komunikasi sehari-hari di satu pihak, & pada lain pihak ada bahasa rahasia yg hanya digunakan sang para shaman pada doa-doa pengelolaan kehidupan. Bahasa sehari-hari berkembang menggunakan pengayaan yang impulsif & ringan sedang bahasa-bahasa mantra sebagai langka dan semakin tersembunyi, tidak sembarang dituturkan, dikhususkan pada insiden tertentu dengan tata upacara yang pantas.

Inilah suatu situasi baru di mana manusia telah melepas diri dari alam, tetapi terikat dalam rapikan upacara yg dibangun oleh para kelembagaan shamanik. Manusia diikat oleh mitos-mitos lokal mengenai dari-usul dan masa depan nasib insan. Di mana-mana secara sporadik kelompok-grup warga melembagakan tata cara agama, agama-kepercayaan orisinil yang menyimpan khazanah bahasa kudus, mantra-mantra, doa-doa khas untuk memanipulasi alam & insiden kehidupan.

Mantra-mantra lokal lalu melembaga ke dalam nama-nama khas yang misteri, nama-nama figuratif, lalu mewujud dalam ilahi-dewi lokal, ilahi akbar dan kecil, penguasa daya-daya alam khas, pengendali laut, panen, pohon besar , binatang, animo, mentari , rembulan, penghalau bahaya, penyembuh, nama-nama terlarang, hanya sanggup dituturkan dan dipanggil melalui rapikan ritual yg sepantasnya. Pada para shaman dan bahasa ilahiah inilah manusia bergantung & bercermin buat menerima makna dan tugas hidupnya. Dunia segera menjadi kentara bagi benak insan, terstruktur & berkaidah lewat tatanan bahasa. Bahasa suci lewat orakel dan rapikan upacara para shaman, para tetua kepercayaan , menafsir dan mendoktrin jalannya bintang-bintang dan letusan gunung api, mengatur makna kelahiran dan kematian, tetapkan dan merestui pemimpin-pemimpin, dan meramal keberuntungan dan memetakan jalan hidup setiap orang.

Nasib insan lantas diikat sang bahasa kudus, bahasa mantra & bahasa kekuasaan. Bahasa suci ini menata alam semesta dan menjajah hati insan, mengikat insan ke dalam mantra penaklukan yg menghentikan kemampuannya bertanya menurut pada relung kegelisahannya sendiri. Dan selama beratus ribu tahun manusia nir mampu bertanya, nir mampu merespon kekuatiran hatinya, sebagai gagu dalam rasa takut yg dibangun sang ancaman shamanik, karena merekalah yg empunya bahasa suci penjinak semesta.

Rasa takut dan penaklukan oleh bahasa kudus ini ini menjadi pola-pola yg efekif buat mengelola publik. Lantas parallel menggunakan kekuasaan kaum agama, para penguasa memanfaatkan bahasa suci menjadi bahasa mereka buat mengesahkan ideologi kekuasaan politik. Mereka bahkan dengan restu shamanik menyatakan diri yang kuasa, putra-putri dewata, pemangku & pengendali aksis semesta & penguasa global nan terberkati melalui bahasa kudus bertuah, penakluk segala sesuatu. Bahasa suci lantas menjadi ideologi yang berbanding lurus dengan ketakutan publik manusia biasa penutur bahasa-bahasa pragmatis, bahasa-bahasa pergaulan yg nir punya tuah apa pun.

Tiga. Fajar Manusia Filsuf, perenung permata eksistensi, masa Yunani klasik

Rupanya manusia biasa tidak sedemikian takluk, sebab bahasa keseharian yang nir bertuah, ternyata menjadi stimulan perasaan. Bahasa biasa menggali jauh ke pada kalbu insan, menemukan ‘permata’ di sentra keberadaan, dan terutarakan pada alun syair, puisi, sajak-sajak kegelisahan yg bertanya dari dalam hati insan. Socrates, pionir filsafat, lebih dari dua milenia yang lampau pada pelataran kuil Athena Yunani, mulai mempertanyakan semuanya. Ia membentuk metode berpengetahuan menggunakan bertanya, terutama dalam kebenaran-kebenaran ideologis yg mapan selama ribuan tahun. Untuk pertama kalinya, bahasa jalanan, bahasa urban, mengusik tatanan bahasa keramat, dan mengurai tali ikatan penakluk manusia. Socrates-lah yg menyatakan bahwa dengan mengurai segala sesuatu melalui bertanya, melakukan dialektika, kita bisa menemukan kebenaran keberadaan kita, permata di sentra kehadiran kita. Kebenaran bukanlah doktrin, ketetapan, dogma atau orakel, bukan jua konvensi atau kontrak perjanjian perbudakan manusia di altar para agamawan atau di kaki para ilahi. Manusia bisa melepas kungkungan rasa takut dalam kekuasaan semu bahasa keramat & menyadari pulang keberadaannya.

Tentu saja Socrates dieksekusi mati sebagai penanda berfokus atas kecerobohan berbahasa. Efektivitas hukuman ada pada sugesti yg diciptakannya, mengingatkan insan dalam ketakutannya, pada tali perbudakan mutlak yang melilit kehadirannya. Murid-murid Socrates terutama Plato & kemudian Aristoteles melanjutkan ikhtiar filsafat buat menemukan esensi berdasarkan permata eksistensi tadi. Plato menggunakan bahasa suci, memilih dalam dunia inspirasi, sedangkan Aristoteles mencarinya menggunakan bahasa praksis, menunjuk dalam global empirik. Metode Socrates, mempertanyakan kemapanan secara dialektik, sama-sama berlaku pada cara berbahasa filosofis pada Plato & Aristoteles. Plato berbicara tentang idealism tatanan manusia, tentang politik dan kepentingan beserta, merintis humaniora, dan Aristoteles berbicara tentang realism pencarian hakekat, tentang alam & merintis ilmu pengetahuan empirik; keduanya mengurai ikatan perbudakan intelek insan dari mitos & dogma kepercayaan .

****

Namun kepercayaan tidak tidur, bahkan memakai filsafat buat melayani tatanan dunia baru, di mana Tuhan diletakkan dalam hierarki tertinggi, manusia luhur antara Tuhan & malaikat kemudian pada tengah, di bumi sedangkan insan pendosa di bawah bumi, di neraka. Melalui institusi pengikat kosmik (Gereja Katolik Roma), dibangunlah tatanan semesta (Great Chain of Being), di mana Tuhan menjadi wangsit tertinggi & alam semesta menjadi manifestasinya dari taraf keluhurannya sendiri-sendiri. Manusia sekali lagi tidak memiliki independensi eksistensial, terikat dalam aturan kosmik yg tertulis dalam doktrin Gereja.

4. Thomas Aquinas dan prestise manusia melalui intelek

Setelah lebih menurut 1300 tahun kekuasaan dogmatik Gereja, berdasarkan pemikir dan teolog terbesar abad pertengahan, kesadaran filsafat Yunani klasik lahir balik . Thomas Aquinas menyakini intelek insan dalam kemandiriannya bisa menjangkau Tuhan. Bukan Tuhan perwahyuan yg dikumandangkan agama-agama, melainkan Tuhan mutlak, yakni kebajikankebajikan

luhur kehidupan: Kebenaran, Keindahan, Kebaikan dan Keutuhan. Thomas Aquinas lah yg menafsirkan ulang defenisi esensi manusia oleh Aristoteles menjadi Homo Sapiens, mahluk

intelektual. Penghargaan dalam kontemplasi intelektual ini membuka jalan dalam sebuah pemerdekaan yg mengganti paras dunia selama-lamanya: Renaisans; suatu pancaran martabat kemandirian humanitas yang merdeka, yang mengubah tatanan kosmikal Gereja sebagai medan kesadaran baru terhadap global yang mesti dieksplorasi.

Lima. Manusia Renaisans, terapung dan tanpa tujuan tetapi konfiden

Masa Renaisans menandai pembalikan kesadaran dari yang serba ilahi menjadi serba menggairahkan. Ketika Gereja klasik sebelumnya membekukan kesadaran manusia, Filsafat Yunani klasik lahir kembali, membuat dunia menjadi tak bernama dan menunggu untuk ditandai oleh ilmu pengetahuan yang bebas dari dogma. Filsafat Plato memberi jalan pada para pemikir seperti Descartes yang menentukan keberadaan manusia sejauh aktifitas inteleknya (cogito ergo sum: saya berpikir maka saya ada) dan Immanuel Kant yang meletakkan kebenaran etis pada adanya manusia itu sendiri, bukannya pada hukum Tuhan.

Pada masa ini ilmu pengetahuan berkembang dan manusia menjadi sedemikian realistis, terikat dan terpesona pada hal-hal yang teraba oleh indera. Bumi kehilangan tempatnya sebagai poros dunia, dan di antara hal-hal yang terlihat tersembunyi penglihatan-penglihatan baru (penemuan mikroskop dan teropong) dan berkembangnya fenomenologi yang menyadari kekhasan cara memahami pengalaman serta psikologi sebagai jalan melihat ke dalam psyche manusia.

Alam semesta terurai ulang dan lalu tertata & terikat pada hukum-hukum keniscayaan intelek (gravitasi dan mekanika konvoi benda-benda langit) dan kehilangan kualitas mistisnya yg pernah diyakini berpuluh ribu tahun.

Hubungan komplementer (aku dan kamu) berubah menjadi subyek dan obyek. Kita sebagai eksplorer menjelajar dunia tak bernama dengan rasa ingin tahu yang melampaui daya jawab keilmuan itu sendiri.

Pertanyaan tentang makna dan tugas insan tidak lagi relevan, meski terdapat optimisme terhadap daya eksplorasi insan & kecakapan inteleknya, loka insan sendiri nir lagi terpijak pada global, manusia terapung & tersihir oleh inovasi-penemuannya sendiri. Humanisme renaisans memang benar-benar memerdekakan manusia tetapi sekaligus menghanyutkannya dalam keasyikannya menjalankan daya inteleknya sejauh mungkin.

6. Manusia Post Intelectual, terintegrasi ke dalam sistem data, tanpa keyakinan & tidak bernama:

Kita kini tidak mempunyai apa pun buat diperjuangkan. Intelek kita telah sanggup diserahkan dalam mekanisasi robotic (Artificial Intelligence). Kita adalah konsumen dari sebuah sistem provider yang mendunia yg menyediakan semua kemudahan hidup. Kita merupakan mahluk penjalan kehidupan, melakukan pola-pola rutin yang semakin hari semakin terpetakan & terdata secara lebih jelasnya. Dan bila sistem ini paripurna, kita sudah bukan manusia lagi tetapi semacam ‘usus buntu’ dari sebuah organisme algoritmik pengolah data yg mendikte segala sesuatu. Kita adalah relik, sisa-sisa pemeran kehidupan yg kehilangan tugas vitalnya. Hidup yg kita kenal membuntu dan selesai pada sini, kini . Kita puas duduk di cafe-cafe menjalankan pola-pola rutin, menunggu para provider menyempurnakan data & mempertajam algoritme mereka dengan komputer quantum. Kita menonton, menyebarkan tontonan pada antara kita, menggairahkan gambar-gambar yang itu-itu pula dan ide-inspirasi statik agar selalu tersaji menggunakan topeng baru yg mengejutkan.

Dunia algoritmik masa sekarang merupakan pembakuan universal & absolut berdasarkan rekaman data kehadiran kita pada bumi. Para provider atau pengelola industri 4.0 memetakan ke-siapa-an kita. Kita merupakan rekap data eksklusif dari pola penghayatan empiris yg terbaca setiap saat. Kita adalah fakta, dan dalam kelumpuhan kita mencari makna, para provider memakai artificial intelligence buat memelihara kita bagai ternak, menggembalakan kita ke padang rumput, memberi makan dan menyatakan dogma ketidak-bergunaan daya pikir kita. Esensi intelektualitas kita pada defenisi Homo sapiens, menjadi hampa & kehilangan fungsi, kita menjadi Homo appendictis (serupa usus buntu, terdapat tapi menggelantung tak berguna lagi)

Pesan dari Wonderland:

Lewis Carroll (1832-1889) novelist, lewat tokoh kanak-kanak Alice, bertanya mengenai makna diri & identitas: ‘Who in the world am I? Ah, that’s the great puzzle! Lalu dia menggumamkan kebingungannya: "How puzzling these changes are! I’m never sure who I am going to be from one minute to another."

Ini adalah sebuah kisah mengenai Alice yg terperosok ke pada lubang kelinci, sebuah dunia menggunakan tatanan janggal pada mana seluruh pemahamannya mengenai global konkret dijungkirbalikkan. Sama seperti para filsuf Yunani Klasik, dia merenungkan arti dirinya, namun dalam sebuah dunia yang serba jungkirbalik itu, esensi dan defenisi nir bisa jadi pegangan.

Alice memberi inspirasi bahwa defenisi apa pun itu tidak bermanfaat bagi kita. Jika kita sekali lagi mau terpesona dalam misteri kehidupan, menyadari kesementaraan kita, & meninggalkan ketergantungan kita pada kekakuan esensi, melepas mantra-mantra algoritmik, sebagai merdeka, menjalin pulang interaksi bilateral dengan kehidupan, rekanan aku -engkau , komplementer & interdependen, maka sebuah global imajinatif akan menciptakan kita memandang empiris dengan ikut merasakan, yakni dengan rasa terlibat yg menyambung kita dalam kehidupan. Dunia mengubah kita. Kita bukan tuan atas semesta, kita adalah denyutan semesta, perenung, artisan, penyair, pelakon hidup & filsufnya.

Di salah satu bagian lain Alice merasa yakin: “Imagination is the only weapon in the war against reality”. Realitas adalah kesimpulan, data, rekap algoritmik, tak terubahkan, baku dan terbukti. Realitas sepanjang sejarah manusia telah menjadi mata uang pembeli kesadaran manusia. Realitas adalah tenung kekuasaan baik oleh agama, mitos, sains mau pun algoritmic intelligence. Realitas selalu ada sebagai topeng kekuasaan, seakan sebuah tembok tak tertembus. Realitas mewujud setiap kali imajinasi berhenti berlangsung. Imajinasi adalah peruntuh realitas, pencair dogma dan pelantun kata-kata penciptaan baru setiap kali dunia membeku pada nasibnya.

Imajinasi merupakan senjata, sebab dengannya kita mampu mengubah realitas, menguraikannya pada rekanan yang otentik dengan kehidupan. Menjadi manusia merupakan tugas, namun bukan pelaksanaan doktrin, bukan pesan Tuhan para agamawan yang menggantung kita dalam ayunan bandul nasib antara kesucian & dosa, mengayun ke surga atau neraka, pula bukan data-data algoritmik global digital yg tercirikan lewat pola-pola dan data-data seksama.

Manusia adalah pesan mengenai hidup, nafas rohani semesta, istilah kerja, gairah berdasarkan dalam dunia. Kita bukan elemen mekanis pada semesta, kita adalah jiwa & roh, energi dan ilham yg mengganti realitas, kita senantiasa adalah gerakan, daya empati yg menyeberangi kutukan nasib sedemikian sebagai akibatnya kehidupanlah yang menang.

[1] Before Philosophy: The Intellectual Adventure of Ancient Man, Henri and H. A. Groenewegen Frankfort, John Wilson, and Thorkild Jacobsen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *