[Masalah Kita] Arti Kebahagiaan Untuk Aktivis
By: Date: August 15, 2018 Categories: Uncategorized

Kebahagiaan adalah makna dan tujuan hidup, tujuan keseluruhan dan akhir dari eksistensi manusia.” – Aristoteles (Filsuf Yunani, 384 – 322 SM)

Begitu pentingnyakebahagiaan sehingga gerak hidup manusia didasari oleh upaya mencari kebahagiaan sebagai suatu tujuan, seperti yang diungkapkan  Aristoteles di atas. Kebahagiaan tidak sekedar tujuan yang kita tentukan, akan tetapi juga bagaimana kita memaknainya sebagai langkah awal sebelum kita sampai kepadanya.

Kita lihat misalnya dihari Kasih Sayang atau biasa juga disebut Valentine Day yang dimana-mana dirayakan dengan pelbagaicara. Mulai dari  memberikan coklat pada seseorang, sampai dengan kencan spesial dengan orang tersayang. Tindakan-tindakan kita dalam mengekspresikan kasih sayang pada hari itu apakah memiliki suatu arti? Rasanya iya.Kita melakukan kesemua itu demi membahagiakan orang-orang tertentu dalam hidup ini. Harapannya dengan melihat orang tersebut berbahagia, kita pun ikut bahagia.

Setiap orang memiliki makna kebahagiaannya masing-masing dan hal-hal yang membantu mereka mencapai kebahagiaan dalam hayati. Beberapa saat ini KAIL mencoba buat melihat arti kebahagiaan di antara para aktivis menggunakan cara menanyakan beberapa pertanyaan terkait kebahagiaan ini. Kami melakukan wawancara tertulis kepada 9 narasumber berdasarkan berbagai komunitas.Hasil dari wawancara ini dimaksudkan buat melihat gambaran sekilas bukan gambaran akbar, yang dibutuhkan bisa menaruh pandangan baru bagi rekan-rekan aktivis yang lain pada meraih kebahagiaan.

Kami menciptakan lima item pertanyaan buat dijawab sang responden :

  1. Dalam hidupmu, kapankah saat-saat paling membahagiakan dalam hidup kamu?
  2. Mengapa kamu menganggap jawaban no.1 adalah momen paling membahagiakan dalam hidup?
  3. Menurut kamu, berbahagia itu seperti apa?
  4. Apakah menurutmu masyarakat di dunia ini berbahagia atau tidak? Mengapa?
  5. Menurutmu, bagaimana cara lebih baik, cepat dan mudah untuk berbahagia?

Pertanyaan-pertanyaan tadi diharapkan sanggup menggambarkan pemaknaan seseorang mengenai kebahagiaan dan faktor-faktor apa sajakah yang menciptakan mereka berbahagia. Pandangan mereka terhadap kebahagiaan yg muncul menurut dalam diri tergambar berdasarkan 3 pertanyaan pertama mengenai momen kebahagiaan beserta karena dan pelukisan berbahagia misalnya apa. Sedangkan faktor berdasarkan luar akan tergambar dalam jawaban terhadap pertanyaan nomor 4 yang merupakan proyeksi kebahagiaannya yg terdapat di lingkungannya. Kemudian, kita akan mengembangkan ilham berdasarkan rekan-rekan aktivis ini mengenai tips yang cepat dan gampang untuk berbahagia.

Dari tiga pertanyaan pertama, kebanyakan narasumber mendapatkan kebahagiaan terkait menggunakan keberadaan orang lain. Kebahagiaan yg terkait menggunakan orang lain mampu dikatakan menjadi kepuasan pada mana apa yg kita kerjakan terkait dengan orang lain dan reaksi orang lain atas apa yang kita kerjakan itulah yg memberikan perasaan senang . Atau kebahagiaan itu terkait menggunakan sebuah momentum pada mana kebersamaan menggunakan orang lain menghadirkan rasa nyaman.

Kita coba bandingkan jawaban berdasarkan dua narasumber berikut :

  1. “Saat paling membahagiakan adalah saat bisa berkumpul dengan suami, anak, mama dan keluarga” – Dydie Prameswari.
  2. “Apabila dikaitkan dengan aktivitas saya sebagai trainer, maka saat yang paling membahagiakan adalah ketika saya menemukan ada partisipan training yang saya berikan bisa membuktikan dalam hidupnya bahwa materi yang saya berikan berguna untuk kehidupannya” – Elisabeth Dewi.

Kedua jawaban di atas menggambarkan soal kebahagiaan yang didapat karena faktor keberadaan orang lain, tetapi tidak berarti kebahagiaan kita menjadi bergantung kepada orang lain. Kehadiran orang lain bisa membantu menguatkan perasaan bahagia kita seperti yang tertuang dalam jawaban narasumber yang bernama Monica Anggen : “Saya merasa hidup saya menjadi lebih berguna baik bagi diri saya sendiri dan yang paling utama saya berguna bagi orang lain.” Merasakan bahwa diri kita memiliki fungsi bagi orang lain menjadi kunci pembuka menuju kepada kebahagiaan, ketika kita membuat sesuatu dan bukan hanya diri kita yang menikmati, namun orang lain juga turut merasakannya.

Mungkin bukan kebetulan jika para narasumber yg merupakan aktivis di bidangnya masing-masing, merasa senang waktu bisa berbuat bagi orang lain. Apakah ini mengartikan bahwa para aktivis merupakan orang-orang yang berbahagia dengan berbuat bagi orang lain? Rasanya bukan hanya para aktivis, akan tetapi sifat alami setiap manusia buat hayati saling berbagi. Pernahkah mendengar kata-kata ?Makanan sepiring buat empat orang mungkin nir cukup mengenyangkan perut, namun lebih dari relatif untuk memuaskan batin? Atau ?Makan tak makan dari ngumpul? Perkataan itu hendak menyampaikan bahwa bukan kebutuhan fisik yg mampu menaruh kebahagiaan sejati, melainkan berkumpul beserta menggunakan orang-orang yg kita sayangi.

Kebahagiaan memang tidak tergantung dari luar diri kita. Para narasumber menyadari hal tersebut, bahwa menjadi bahagia itu dimulai dari dalam. Semua itu dapat dilakukan dari hal-hal yang sederhana, misalnya tidur cukup, makan cukup. Seperti yang diungkapkan oleh Anilawati : “Sederhana aja, bisa makan cukup, tidur tenang, bisa kumpul-kumpul dan bisa “memberi” kepada orang lain. (“memberi” = tidak selalu berupa materi)”.  Dari pernyataan itu, bisa dilihat bahwa terdapat unsur orang lain yang menambah lengkap kebahagiaan.

Namun ada jua narasumber yg memaknai kebahagiaan karena hadirnya orang yg dicintai. Rahmi Fajri merasa bahwa bahagia adalah saat orang yg dicintai bersama menggunakan kita, dengan adanya mereka kita bisa meminta apa yang kita inginkan. Yang menarik di sini merupakan apakah yg sebenarnya kita perlukan menurut orang lain buat senang ? Mungkin ini jawabannya tidak tunggal.

Bagaimanakah kita melihat global di lebih kurang waktu ini? Apakah global sedang berbahagia atau sedang dirundung sedih? Pertanyaan ini mungkin akan mengarahkan kita dalam apa yg sanggup kita lakukan atas hayati ini atau mungkin hanya sekedar bertanya buat mengamankan kebahagiaan kita sendiri, tapi apakah kebahagiaan merupakan tentang diri sendiri? Narasumber merasakan bahwa sepertinya dunia ini sedang tidak berbahagia, berbagai media pada tanah air lebih poly diisi dengan berita-warta buruk yg tidak mengangkat syarat negeri ini menjadi lebih baik. Mereka pula melihat bahwa kebanyakan orang terjebak melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak berkenan di pada hati mereka, terpaksa melakukannya lantaran keterbatasan. Oleh sebab yg sama, insan mengejar materi sebesar-banyaknya sebagai akibatnya terdapat yg tega mengorbankan orang lain demi kepentingan sendiri.

Di sisi lain, terdapat yg tetap optimis terhadap dunia waktu ini, seberat apa pun bencana yang menimpa global ini, akan selalu terdapat orang yg sanggup melihat sisi positif menurut insiden-peristiwa buruk itu & mengupayakan suatu tindakan untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Memang nir gampang buat melihat yg positif menurut suatu bala, sebagai akibatnya ada yg bisa mengoptimalkannya sebagai kebahagiaan dan terdapat yg tidak. Semuanya tergantung dalam kapasitas masing-masing eksklusif.

Persepsi seseorang terhadap dunia di sekitarnya, mungkin nir sanggup sepenuhnya objektif, apalagi terkait menggunakan menyimpulkan apakah mereka berbahagia atau tidak. Tetapi setiap orang diberkahi hadiah yg sama buat mengetahui apakah suatu keadaan sedang melenceng berdasarkan yang seharusnya, yang menaruh peringatan untuk berbuat sesuatu demi perubahan. Para narasumber mencoba mendengar menggunakan baik perasaan dunia ini dan berbuat seturut panggilan nurani sebagai aktivis. Merengkuh kebahagiaan menggunakan pilihan-pilihan yang dibentuk, menemukan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yg ada di setiap diri pribadi. Bertemu menggunakan orang-orang, membantu mereka dalam proses pembelajaran, mendapati bahwa mereka akhirnya berhasil & menciptakan perubahan, menjadi nilai kebahagiaan tersendiri bagi rekan-rekan aktivis yang menjadi narasumber kali ini. Bagaimana dengan Anda?

(David Ardes Setiady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *