[PROFIL] KAIT NUSANTARA DAN SANDANG LESTARI
By: Date: August 16, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Nita Roshita

Pakaian adalah kebutuhan sehari-hari dan bagi banyak orang menjadi wujud dari ekspresi pribadi. Tetapi pakaian dan industri fesyen memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan juga hilangnya nilai ekonomi dari sampah tekstil yang terbuang. Ellen MacArthur Foundation dalam rilis laporannya A New Textile Economy: Redesigning Fashion’s Future, di London November 2017 menyebutkan, setiap detik di seluruh dunia, ada satu truk besar membuang sampah tekstil atau yang dibakar. Nilai ekonomis yang hilang setiap tahun dari pakaian yang jarang dipakai dan tidak didaur ulang adalah 500 milyar dollar Amerika atau setara dengan 700 trilyun rupiah. Jika kondisi ini tidak berubah, maka di tahun 2050 Ellen MacArthur Foundation memperkirakan industri fesyen akan menggunakan seperempat dari batas jumlah maksimum emisi karbon yang boleh dilepas manusia ke lapisan atmosfer atau carbon budget. Industri ini juga menyumbang polusi karena pakaian melepas setengah juta ton mikrofiber ke samudera setiap tahun, atau setara dengan 50 milyar botol plastik. Mikrofiber ini sulit untuk dibersihkan dan sangat mudah masuk dalam rantai makanan.

Di Indonesia, sektor fesyen menempati urutan ke 2 pada donasi terhadap produk domestik bruto (PDB) pada sektor ekonomi kreatif yg dalam 2014-2015 pertumbuhannya tercatat 7.12 persen. Ekonomi kreatif dari catatan Kementerian Perindustrian menyumbang tujuh % terhadap PDB, atau kurang lebih 600 trilyun rupiah. Industri batik Indonesia selanjutnya menurut Kementerian Perdagangan menyerap 1.3 juta orang, dari sisi konsumsi penjualan pada dalam negeri mencapai 5,9 trilyun rupiah dengan jumlah konsumen 110 juta orang.

Saat membuka Fashion Show “Beginning Ethical Fashion” pada Jakarta Fashion Week 2016, Menteri Perindustrian Saleh Husin mendorong diterapkannya konsep ramah lingkungan dalam industri fesyen di Indonesia. Saleh Husin bahkan mengatakan ethical fashion atau fashion beretika bukan lagi barang baru, karena secara budaya, fesyen tradisional sudah menggunakan bahan-bahan alami dan ini bisa menjadi keunggulan Indonesia. Produk fesyen yang memperhatikan dampak lingkungan lazimnya dibuat dengan ketelitian sejak pembuatan bahan baku, pemilihan motif, dan pewarnaan. Secara sosial, hubungan perancang dan pengrajin juga terjalin lebih personal dan bernuansa kekeluargaan. Secara ekonomis nilainya pun lebih tinggi karena memiliki unsur eksklusif. Para pembeli yang sadar akan lebih menghargai produk ini karena merasa memiliki dan ikut mendukung proses pelestarian budaya Indonesia.

Namun pada praktiknya, fesyen beretika, atau fesyen hijau, masih jauh berdasarkan harapan. Secara produksi juga konsumsi masih kalah akbar dengan produk fesyen massal atau dianggap jua fast fashion. Pewarna alami tergantikan dengan pewarna buatan, batik tulis berganti dengan batik cetak yg diproduksi grosiran bahkan yang tiba menurut Tiongkok. Pada periode Januari-April 2015, Kementerian Perdagangan mencatat impor produk impor batik mencapai 24,1 % atau senilai 34 juta dollar Amerika Serikat. Selanjutnya pemerintah memperketat impor Tekstil & Produk Tekstil (TPT) Batik dan motif batik yang tertuang pada Peraturan Menteri Perdagangan No. 53/M-DAG/PER/7/2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Batik dan Motif Batik.

Fesyen Hijau Dalam Keseharian

Namun pembatasan import tekstil bermotif batik saja tidak cukup tanpa dibarengi sang kampanye fesyen hijau yg masif baik oleh organisasi warga , individu, & tentu saja pemerintah. Karena fesyen beretika atau fesyen hijau memang tidak murah lantaran proses produksinya yg alami & memakan saat lama .

Saya bertemu dengan Ibu Zara dari Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur di acara Meet the Maker ke 13 yang diselenggarakan oleh NTFP-EP Indonesia di Jakarta, 20 Oktober 2018. Sambil mencontohkan proses pembuatan kain tenun dari Sabu, dia bercerita bahwa untuk membuat kain sarung berukuran kurang lebih tiga meter yang sedang dipakainya, dibutuhkan waktu satu tahun pengerjaan.  Proses pembuatannya mulai dari pemintalan kapas menjadi benang, pewarnaan alami menggunakan akar pohon atau dedaunan dan proses menenunnya. Maka tidak heran jika kemudian kain hasil tenunan para perempuan pengrajin dari Pulau Sabu ini dihargai rata-rata lebih mulai dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada ukuran, motif, kualitas bahan, dan lama pengerjaan.

Ibu Zara

Bagi aku sangat krusial buat mempelajari bagaimana sebuah produk kain yg saya pakai dihasilkan & darimana dia berasal. Kisah bagaimana tangan-tangan perempuan penenun bekerja sambil mengabadikan budaya & alam sekitarnya ke pada motif itu sangat penting, terbayar lunas pada harga kain. Ketika aku membeli selembar kain, itu bukan sekedar helaian kapas yang saling mengikat, akan tetapi aku membeli sebuah cerita budaya dan akan sangat berarti bila nilai rupiah itu ternyata bermanfaat bagi kehidupan mereka terutama buat penyelamatan budaya & alamnya. Seperti saat program pengumpulan dana buat Yayasan Mama Aleta ? Aleta Fund Agustus kemudian, yang diselenggarakan buat melestarikan Kain Tenun Adat pada Molo dan sekitarnya. Selembar kain dari Desa Nunkolo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang ditenun dari kapas & bermotif buaya, berhasil saya dapatkan pada lelang pada acara tersebut. Bangga betul cita rasanya menyelempangkan kain ini ketika menghadiri program-program resmi.

Nita & Tenun

Sementara pada pemilihan pakaian sehari-hari, saya membeli berdasarkan pembuat lokal. Lemari Lila menurut Yogyakarta adalah penyedia hampir 1/2 dari koleksi batik buat bekerja di lemari aku , sedangkan kaos saya utamakan membeli berdasarkan produsen lokal. Memang nir ada agunan jika produk pakaian harian ini diproduksi melalui proses alami & nir mencemari alam. Tapi setidaknya saya berusaha menghargai produk & mengenal si perancang lokal ini.

Kepedulian terhadap lingkungan melalui produk yg kita kenakan sehari-hari sebagai perhatian kami pada Kait Nusantara. Perkumpulan yg digawangi oleh 5 wanita aktif ini berusaha semaksimal mungkin untuk memperkenalkan produk sandang lokal lewat penampilan & perilaku kami sehari-hari. Pemilihan pakaian dan aksesoris yang memegang prinsip kelestarian adalah bagian yang secara melekat menyatu pada kami baik secara individual juga organisasi. Kami percaya kampanye mengajak orang peduli pada lingkungan wajib dimulai dan tercermin dalam penampilan kami sehari-hari. Sulit buat mengajak orang berubah dan peduli dalam pelestarian lingkungan tanpa memberikan model yang konkret.

Kait Nusantara & Pelestarian Lingkungan

KAIT Nusantara

Kait Nusantara adalah perkumpulan yang secara legal didirikan sang lima perempuan padaAgustus 2018. Sebelumnya empat anggota Kait Nusantara dipertemukan dalam sebuah proyek pembangunan pembangkit listrik dengan energi terbarukan berbasis masyarakat di tiga desa di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Keempat anggota Kait Nusantara berperan sebagai fasilitator buat pengembangan ekonomi warga dengan memanfaatkan energi terbarukan tersebut. Salah satu yang kemudian berpotensi buat berkembang lebih baik adalah anyaman rotan buat tas di Desa Teluk Sumbang yang mempunyai kekhasan dengan lapisan pada dari rotan yang membuatnya sebagai lebih bertenaga. Anyaman rotan ini yang kembali mempersatukan keempat fasilitator desa dalam Kait Nusantara buat meneruskan program sesudah proyek pembangkit listrik itu terselesaikan. Satu wanita terakhir bergabung & melengkapi gerombolan buat membangun rekanan dengan media & riset.

Kait Nusantara menggunakan para pengrajin tas rotan.

Kami memiliki latar belakang yg tidak sinkron tetapi justru saling melengkapi. Nita Roshita adalah spesialis gender & pengembangan rakyat dengan latar pendidikan komunikasi politik. Sarie Wahyuni adalah penggerak pendidikan lingkungan menggunakan latar pendidikan keuangan. Theophilia Aris Praptami fokus pada pengembangan & pengelolaan usaha sosial. Devita Triwibawa adalah penggiat seni dan terakhir, Dewi Ryanti merupakan jurnalis dan pembuat film dokumenter. Kait Nusantara berdiri buat mewujudkan ambisi kami berlima membuatkan tas anyaman rotan menurut Teluk Sumbang menjadi bentuk bisnis sosial yang sekaligus sebagai pintu masuk penyelamatan alam & budaya di desa tadi.

Tas Rotan & paduan kain tenun nusantara.

Rotan hanya mampu tumbuh bersanding menggunakan pohon akbar pada sekitarnya, lantaran itulah eksistensi hutan sangat perlu dijaga. Tak hanya buat memastikan bahan standar tersedia, lebih berdasarkan itu, hutan juga menjaga kehidupan pada desa yang selalu menjadi incaran perusahaan sawit & semen . Didukung pemerintahan desa & perkumpulan remaja di Teluk Sumbang, Kait bekerja untuk pertanda bahwa desa bisa mandiri dengan potensinya sendiri yg tidak hanya rotan, akan tetapi pula produk kelapa, pisang dan wisata alamnya yg kaya.

Salah satu yg sedang kami kembangkan merupakan memadupadankan tas rotan menggunakan kain tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Sedikit ciptaan menyatukan selendang tenun dengan pewarna alami dari Lombok Utara menjadi tali tas rotan, membuat tas rotan yang tadinya polos ini memiliki tampilan lebih manis dan bernilai tinggi. Beragam contoh sedang kami kembangkan di Kait Nusantara menggunakan memastikan bahan yang kami gunakan bisa dilacak penghasil dan cerita di dalamnya. Kami ingin sebagai bagian akbar dari gerakan fesyen hijau yang perlu terus dikampanyekan buat menyelamatkan bumi dan seisinya.

Tas Rotan & paduan kain tenun nusantara.

Pustaka:

Ellen MacArthur Foundation, A New Textiles Economy. Redesigning fashion’s future, November, 2017,https://www.ellenmacarthurfoundation.org/publications/a-new-textiles-economy-redesigning-fashions-future

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Industri Fesyen Ramah Lingkungan, 26 Oktober 2016, http://www.kemenperin.go.id/artikel/13395/Industri-Fesyen-Ramah-Lingkungan-Jadi-Unggulan

Mengantisipasi meningkatnya import tekstil motif batik, Antara Yogya, Senin, 3 Agustus 2015, https://jogja.antaranews.com/berita/333464/mengantisipasi-meningkatnya-impor-tekstil-motif-batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *