[Masalah Kita] Aktivis Ramah Lingkungan, Mungkinkah?
By: Date: August 17, 2018 Categories: Uncategorized

Aktivis, siapakah mereka?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aktivis adalah orang yang mampu menggerakkan orang lain buat bertindak. Aktivis memiliki kemampuan mengatur orang lain (organisatoris), dan dianggap sebagai tokoh & pelopor di bidangnya. Salah akbar bila selama ini aktivis hanya terdapat pada lingkup dunia mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa saja yang sanggup berperan menjadi aktivis. Seorang ibu rumah tangga pun bisa menjadi seseorang aktivis, saat kriteria yg diklaim pada atas telah dilakoni oleh bunda rumah tangga tersebut.

Menjadi seorang aktivis adalah sebuah pilihan. Seseorang tergerak untuk menjadi aktivis, karena ada sentuhan di dalam sanubarinya untuk melakukan sesuatu. Pun untuk menjadi aktivis, sesungguhnya tak perlu berpatokan seperti para tokoh-tokoh aktivis yang karismatik, sering tampil berorasi di hadapan massa atau piawai dalam mengatur strategi sebuah gerakan massa. Dengan langkah-langkah kecil yang  dilakukan demi perubahan ke arah yang lebih baik, Anda sudah menjadi seorang aktivis.

Esensi seseorang aktivis terletak pada komitmennya buat mengabdi kepada rakyat dan lingkungan. Seseorang sebagai aktivis karena ia tergerak saat melihat ketidakadilan pada sebuah sistem. Seorang aktivis senantiasa tergerak buat memperjuangkan hak-hak para korban yang mengalami ketidakadilan. Korban dapat asal menurut apa saja, contohnya : pengungsi korban perang atau bala alam, lingkungan hayati, atau warga miskin kota.

Seorang aktivis memandang bahwa hidup ini bukanlah semata-mata lahir-bersekolah-bekerja-menikah-punya anak-kemudian mangkat , namun beliau melihat bahwa hayati itu hendaknya memiliki makna. Dan dia memaknai hidupnya dengan cara berbuat sesuatu bagi orang lain. Seorang aktivis memandang bahwa segala ilmu & kekayaan yang dia miliki tidak akan berarti apa-apa apabila tidak disumbangkan pada pihak-pihak yg membutuhkan.

Oleh karena itu, sebagai seseorang aktivis hendaknya dimulai menurut kehendak diri yg terdalam. Menjadi aktivis bukanlah sekedar latah karena melihat teman-teman sekelas aktif pada organisasi tertentu. Menjadi aktivis bukan karena terlihat keren berorasi pada hadapan massa. Menjadi aktivis adalah lantaran kita ingin memaknai hidup ini dengan melakukan sesuatu bagi sesama, terutama mereka yang mengalami ketidakadilan & ketertindasan.

Awal sebuah aktivisme

Apakah aktivis itu hanya melulu mahasiswa? Tentu nir. Meski sesungguhnya, dunia aktivisme dimulai pada pada lingkungan kemahasiswaan. Lingkungan pada mana seorang mengalami gemblengan sebuah kaldera candradimuka buat terjun berkarya pada dalam rakyat. Dunia kampus menyiapkan para mahasiswa buat berlaga & bersaing di dalam masyarakat. Dunia yg terdiri berdasarkan lingkungan pekerjaan, lingkungan hidup (alam) dan rakyat.

Pendidikan pada kampus, hendaknya tidak sekedar menanamkan ilmu dari segi intelektual kepada para mahasiswa. Namun, lebih berdasarkan itu, kampus hendaknya menanamkan sikap darma bagi masyarakat. Bahwa ilmu yang mereka dapatkan pada universitas, bukan semata-mata buat memenuhi kepentingan dirinya sendiri pada masa depan. Ilmu adalah sesuatu yg bisa dikembangkan, disumbangkan demi kebaikan beserta.

Pengabdian rakyat, itulah hakikat aktivis. Aktivis merupakan mereka yang secara sukarela membagi ilmu & keterampilan mereka demi kemajuan masyarakat. Berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yg mereka miliki, aktivis menyuarakan hak-hak warga . Para aktivis mendorong perubahan ke arah kebijakan yang menguntungkan seluruh pihak. Para aktivis menentang ketidakadilan, ketertindasan dan keterbelakangan kaum eksklusif.

A ktivis Ramah Lingkungan

Di dunia ini terdapat banyak sekali jenis aktivis, mulai menurut aktivis pendidikan, wanita, anak jalanan, hingga aktivis yg menyuarakan isu-berita lingkungan hayati. Pembagian jenis aktivisme itu galat satunya menurut minat, latar belakang dan keahlian seorang. Seorang aktivis lingkungan hayati contohnya, mempunyai pengetahuan lebih banyak tentang info pencemaran dan pelestarian lingkungan hayati daripada pengetahuan mengenai mediasi pertarungan. Sebaliknya, aktivis hak asasi manusia merupakan orang yang memiliki keprihatinan & pengetahuan lebih banyak mengenai gosip ketidakadilan, kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia dibanding pengetahuan mengenai lingkungan hidup.

Seyogianya, global aktivisme mempunyai hubungan satu menggunakan yang lainnya. Seorang aktivis lingkungan hayati hendaknya menjalin kolaborasi menggunakan aktivis yang memiliki keprihatinan tidak sama. Meski tidak sinkron, terkadang terdapat info-gosip yang saling bertindihan, seperti model berikut adalah :

Sudah sering kita menyaksikan, para aktivis pendorong perubahan kebijakan dewan masyarakat berdemonstrasi pada depan gedung perwakilan rakyat yang megah pada satu pojok mak kota. Ketika demonstrasi selesai, kondisi pada depan gedung perwakilan masyarakat kotor dan berantakan. Puntung rokok di mana-mana, sampah bungkus minuman juga kertas pembungkus nasi terserak pada mana-mana. Tidakkah para aktivis tersebut menyadari, bahwa ada pengaruh lain menurut kegiatan mereka yg mungkin akan menindas pihak-pihak eksklusif? Ironi, bahwa grup aktivis yg justru berupaya menghilangkan ketertindasan sosial justru membangun ketertindasan bagi lingkungan hayati menggunakan membuang sampah begitu saja.

Para aktivis berdemo pada gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat

Sumber foto : http://sakajogja.multiply.com/journal/item/39

Contoh lain yg pernah disaksikan sang penulis sendiri merupakan saat para pengungsi Aceh korban kekerasan aparat pada fase DOM (Daerah Operasi Militer) juga pasca tsunami. Beberapa pengungsi mencari proteksi sementara di sebuah area taman nasional. Para aktivis pembela hak asasi pengungsi sibuk beraktivitas mendampingi para pengungsi, tanpa menyadari bahwa tempat yang dipakai pengungsi menjadi rumah ad interim mereka merupakan sebuah taman nasional. Mereka mendampingi pengungsi pada hal kesehatan sampai pendidikan. Dalam bayangan para aktivis pembela hak asasi pengungsi, momen evakuasi merupakan suatu peristiwa yang hanya sementara sifatnya.

Akan namun berita berbicara lain. Pengungsi seperti menemukan tempat tinggal & tanah yg baru. Dari tenda terpal, mereka membarui naungan menggunakan kayu-kayu yang ditebangi dari pohon-pohon di taman nasional. Mereka membuahkan kayu-kayu berdasarkan pohon-pohon tadi menjadi bahan bakar buat mengasapi dapur & menghangatkan diri pada malam hari. Padahal, huma taman nasional sesungguhnya tak sanggup dihuni oleh manusia, lantaran beliau adalah habitat satwa-satwa liar yg mungkin membahayakan kehidupan para pengungsi itu sendiri.

Baik pengungsi maupun aktivis pembela hak asasi pengungsi kurang mempedulikan fakta bahwa menebangi pohon pada daerah taman nasional adalah kegiatan terlarang. Aktivis pembela pengungsi lebih peduli dalam penyembuhan trauma mental pengungsi dampak kekerasan atau lebih peduli buat mengejar ketinggalan pendidikan anak-anak pengungsi dibanding anak-anak sekolah lainnya.

Berdasarkan dua gambaran tentang dunia aktivis di atas, muncul istilah ‘aktivis ramah lingkungan’. Aktivis ramah lingkungan, adalah aktivis manapun yang mempertimbangkan isu lingkungan sebagai dasar aktivitasnya. Ia bisa saja mengambil peran aktivis pendorong perubahan kebijakan pemerintah, namun ia juga mempertimbangkan isu-isu lingkungan sebagai dasar baginya untuk mengambil sikap dan berpihak. Seorang aktivis ramah lingkungan tak hanya berpatokan pada satu isu yang dibelanya. Ia mempertimbangkan dampak dari isu yang dibelanya terhadap isu lain, seperti isu lingkungan hidup, yang akan menjadi terpinggirkan atau tertekan.

Dalam prakteknya, masih sangat jarang terlihat para aktivis memerhatikan info lingkungan hidup pada segala aktivitasnya, demikian papar Ari Ujianto, direktur Yayasan Desantara & mantan staff Urban Poor Consortium (UPC). Jangankan turut memerhatikan info lingkungan hidup pada lapangan, bahkan pada kantor para aktivis tersebut, aspek-aspek pelestarian terhadap lingkungan pun masih diabaikan. Misalnya, penggunaan kertas secara hiperbola atau menggunakan air minum kemasan pada gelas.

Hal di atas mampu jadi memperlihatkan kecenderungan ketidakpedulian terhadap informasi lingkungan hayati. Akan namun, menurut Ari Ujianto, faktor pada atas bisa jadi ditimbulkan sang ketidaktahuan. Para aktivis belum paham benar apa dan bagaimana bertindak terhadap gosip lingkungan. Hal ini juga dikuatkan oleh David Ardes Setiady, aktivis KAIL yang bergerak pada bidang pengembangan para aktivis & pernah beranjak di advokasi para buruh. Ia baru mengenal info lingkungan hidup dalam ketika kuliah, dan setelah mengenalpun, kesadaran buat berperilaku sinkron aspek lingkungan hayati pun masih rendah.

Kalau bilang peduli dengan lingkungan, saya akan bilang peduli. Sering kali saya jadi merasa bersalah ketika mengetahui dampak lingkungan dari apa yang saya lakukan. Kalau kepedulian keluar, baru sebatas berbagi informasi dengan lingkaran terdekat tentang isu lingkungan. Terus terang, saya merasa kesulitan dalam membagikan informasi tersebut karena belum sepenuhnya paham.” papar David Ardes. Ari Ujianto merasakan hal yang sama. Beliau merasa kesulitan dalam menyebarkan prinsip ramah lingkungan di komunitas kantornya, karena masalah kebiasaan yang sulit diubah.

Namun demikian, beberapa organisasi kemasyarakatan non-lingkungan hayati, misalnya UPC yang diketuai oleh Wardah Hafidz dan KAIL yg dikoordinir oleh Any Sulistyowati, sudah menjalankan aspek-aspek keberlanjutan lingkungan, dengan meminimalkan penggunaan kertas, tidak memakai minuman kemasan plastik hingga mengonsumsi penganan lokal yg dikemas tanpa plastik sebagai konsumsi pada setiap aktivitas.

Contoh lain, misalnya yang dilakukan sang Eka Prahadian Abdurahman, kepala divisi kesehatan tempat kerja Caritas Medan, Sumatera Utara. Beliau mengatakan,

Bagi kami, isu lingkungan hidup penting untuk diintegrasikan dengan isu-isu lain, seperti isu Drugs & HIV. Untuk isu pengurangan dampak buruk narkoba (Harm Reduction) dan HIV, kami mengalami benturan antara isu lingkungan dengan program layanan jarum suntik steril, karena banyak meninggalkan limbah jarum bekas penggunaan narkoba, tanpa ada sistem pengelolaan limbah yang baik di lapangan. Solusi yang dicari untuk program ini adalah melakukan pertukaran jarum suntik steril (Needle Exchange Program) artinya setiap pengguna jarum suntik yang ingin memperoleh jarum suntik baru diwajibkan membawa limbah bekasnya untuk mengurangi limbah di lapangan, lalu limbah yang sudah dikumpulkan diserahkan ke rumah sakit untuk dimusnahkan di insinerator. Hanya kita tidak tahu persis apakah proses ini juga berdampak pada kerusakan lingkungan.

Memang sudah ada beberapa aktivis dan organisasi-organisasi yang menjalankan prinsip ramah lingkungan seperti UPC dan Kail, itu karena penggerak di dalamnya sadar sungguh tentang aspek keberlanjutan lingkungan hidup atau dekat dengan organisasi lingkungan hidup yang ada dan pernah berjejaring dan bekerjasama dalam satu kegiatan. Prinsip ramah lingkungan ditularkan melalui kebiasaan, perilaku dan dalam jejaring kerjasama.

Meski tersendat, tetapi langkah-langkah kecil telah dilakukan. Yayasan Desantara misalnya, tak lagi membeli air minum kemasan melainkan memasak sendiri air minum mereka. Bahkan UPC yang tidak lagi memiliki kantor yang berwujud bangunan, secara implisit telah menyatakan sikap ramah lingkungan. Dengan tidak memiliki bangunan kantor, berarti meminimalkan aktivitas menghasilkan sampah. Langkah-langkah kecil berbasis ramah lingkungan ini dimulai dan ditularkan perlahan-lahan dari satu orang yang peduli ke semakin banyak orang.

Aktivis Lingkungan

‘Aktivis lingkungan’ sedikit berbeda dengan aktivis ramah lingkungan. Orang yang menjadi aktivis lingkungan adalah mereka yang mendedikasikan waktunya untuk memperjuangkan isu lingkungan. Ada beragam cara dipilih dalam menjadi aktivis lingkungan, antara lain melalui pendidikan, pengelolaan komunitas yang ramah lingkungan, advokasi kebijakan terkait isu lingkungan, dan sebagainya.

Sumber foto : Tim YPBB / Anilawati N.

Menurut Anilawati Nurwakhidin, seorang aktivis lingkungan dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para aktivis lingkungan hidup, yang terdiri dari kendala dari dalam dan dari luar diri sang aktivis. Kendala yang berasal dari dalam diri adalah tiadanya visi jangka panjang dalam memperjuangkan isu lingkungan hidup. Beberapa aktivitas dijalankan secara reaktif dan sporadis, tanpa diakhiri refleksi dan dokumentasi untuk pembelajaran di masa depan. Dan mungkin, karena sifatnya yang masih reaktif dan sporadis inilah perjuangan aktivis lingkungan sering mengalami pasang dan surut, gaung perjuangan lingkungan hidup terdengar di setiap penjuru daerah, tetapi sifatnya hanya sekedar seremonial belaka hingga terlihat mirip dengan situasi sebuah pesta, heboh di saat acara berlangsung, namun adem ayem setelahnya.

Kendala dari luar diri aktivis lingkungan antara lain adalah beberapa orang menganggap bahwa kegiatan aktivis lingkungan tidak cukup layak untuk ditekuni dalam jangka panjang. Salah satu alasannya adalah, karena masih ada orang menganggap aktivis lingkungan tidak memiliki pendapatan yang cukup baik dibanding orang-orang yang bekerja secara kantoran. Selain itu, organisasi yang mewadahi para aktivis lingkungan juga belum terlihat memiliki visi jangka panjang bagi internal organisasinya, sehingga hal itu dapat menimbulkan rasa ketidakpastian dari para anggotanya.

Penutup

Dari uraian di atas, tampak kerucut masalah terletak pada dua hal. Pertama, perlunya koordinasi lintas bidang di dalam dunia aktivis. Melalui komunikasi dan koordinasi, tiap-tiap aktivis akan memiliki gambaran yang menyeluruh tentang fenomena sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup daripada sekedar mengetahui gambaran sempit tentang isu yang ia bela. Dengan komunikasi antara para aktivis lingkungan hidup dengan aktivis non-lingkungan hidup, hambatan berupa ketidaktahuan dan ketidakpedulian untuk menjadi aktivis ramah lingkungan dapat diatasi.

Kedua, perlunya visi jangka panjang bagi aktivis lingkungan hidup untuk terus menggulirkan perjuangan mereka membela lingkungan hidup. Jika visi jangka panjang tentang keberpihakan terhadap lingkungan hidup telah terbentuk, ia tentu dapat diintegrasikan, dikomunikasikan dan diselaraskan dalam forum-forum komunikasi antar aktivis lintas bidang. Sehingga, isu-isu ramah lingkungan dapat pula diintegrasikan bersama isu-isu lain bagi tercapainya perubahan kehidupan seluruh umat manusia tanpa terkecuali, ke arah yang lebih baik. Semoga.

(Navita Kristi Astuti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *