[TIPS] RUMAH DARI BAHAN BEKAS
By: Date: August 19, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati [1]

Masalah terbesar buat memperoleh rumah adalah biaya yg akbar. Salah satu taktik buat mengurangi porto pembuatan tempat tinggal adalah dengan menggunakan material bekas. Dengan penggunaan material bekas, porto pembelian bahan bangunan dapat ditekan. Meskipun ada banyak keterbatasan yang akan kita hadapi saat menggunakan material bekas, kita permanen bisa membangun rumah yg berkualitas. Untuk memastikannya, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut.

Salah satu keterbatasan ketika memakai material bekas merupakan berukuran. Hal ini misalnya terjadi buat kusen bekas, pintu, ventilasi bekas. Apabila ingin murah, kita perlu memanfaatkan yg ada sebanyak mungkin dalam bentuk aslinya. Kalaupun terpaksa dibongkar dan dibentuk ulang, maka akan ada sejumlah porto yang diperlukan untuk membongkar & mengolah ulang material tadi sebagai bentuk & ukuran sesuai impian kita.

Sebelum finishing

Setelah finishing

Gambar: Panel pintu Rumah KAIL ini terbuat menurut kayu rasamala bekas bongkaran rumah dan panel kayu pinus bekas peti kemas. Demikian juga dengan tiang-tiang dan kusen pintunya menggunakan kayu rasamala bekas. Kaca & keramik lantainya pun menggunakan material bekas.

Keterbatasan lain yg perlu diperhatikan ketika memakai material bekas merupakan keseragaman. Kadang-kadang cukup sulit untuk mendapatkan sejumlah material pada bentuk & berukuran yang sama. Untuk itu, kita perlu pintar-pintar memilih dan memadupadankan apa yg terdapat. Sebagai contoh, lantai keramik. Untuk keramik putih polos, mungkin stoknya agak banyak, namun untuk keramik bercorak, belum tentu tersedia sejumlah yang diperlukan. Apabila barang yg kita cari nir tersedia pada jumlah yang relatif, alternatifnya adalah membuat kombinasi berdasarkan apa yang terdapat. Apabila cukup kreatif maka desain komposisi yg baru bisa jadi malah lebih rupawan berdasarkan bila menggunakan jenis & warna keramik yang seragam saja.

Gambar: Perlu kreativitas buat memanfaatkan sisa keramik menggunakan corak dan warna tidak selaras sehingga menjadi pola yg unik.

Lokasi pengambilan foto: Rumah Pribadi, Bandung

Persoalan ukuran ini jua sebagai masalah dalam bahan bangunan yg membutuhkan berukuran seragam. Meskipun jenis barangnya sama atau bahkan dari dari pabrik yg sama, kadang-kadang material bekas yg kita beli tidak selaras ukurannya. Perbedaan ini sering kecil, tetapi apabila tidak diperhatikan akan mensugesti kualitas rumah kita.

Genteng merupakan salah satu contohnya. Apabila kita menggunakan genteng usahakan dipakai genteng menggunakan berukuran seragam. Ukuran genteng yg tidak seragam akan menyebabkan kuncian genteng pada reng menjadi kurang kedap & potensial menimbulkan kebocoran di demam isu penghujan. Apabila terpaksa digunakan genteng menggunakan ukuran majemuk, kelompokkan genteng yang berukuran & bentuknya sama buat digunakan di bagian eksklusif rumah. Sementara berukuran genteng yang lain dapat dipakai di sisi tempat tinggal yang lain. Hal ini akan meminimalisir kebocoran akibat pemasangan genteng yang kurang paripurna karena ukuran yang bhineka.

Gambar: Pemasangan genteng yg rapi & seragam akan mengurangi kemungkinan tampyas & bocor.

Lokasi  pengambilan foto: Rumah Kail (kiri) dan Rumah Pribadi (kanan), Bandung

Keterbatasan lain yg perlu diperhatikan waktu menggunakan material bekas adalah kebersihan atau bahkan stigma dalam material. Sebagai model merupakan geropel pada keramik bekas, adanya paku atau lubang bekas paku pada kayu, atau adanya sisa adukan semen yang masih melekat di keramik bekas.

Untuk mengatasi hal ini, ada teknik-teknik tertentu yang dapat diterapkan tergantung jenis materialnya. Sebagai contoh, paku yang menempel di kayu dapat dicabut, kemudian lubang bekas pakunya dapat diatasi dengan memberi dempul. Untuk menghaluskan dapat digunakan amplas. Geropel pada keramik biasanya terjadi pada tepiannya. Hal ini dapat diatasi dengan memperbesar ukuran nat, sehingga bekas geropel tidak terlalu terlihat. Sisa adukan semen dapat dibersihkan dengan menggunakan cetok atau sekap, kemudian dibersihkan dengan air dan lap. Jika adukan masih sulit dihilangkan, maka dapat dilakukan mengamplasan sebelum dilap. Untuk kayu bekas, kadang kadang warnanya menjadi hitam karena tertutup jamur. Jika hal ini terjadi, maka kayu dapat disikat dengan menggunakan sikat kawat untuk menghilangkan jamur dan lumut yang menempel, kemudian dilakukan pengecatan atau pemelituran ulang sesuai dengan kebutuhan.

Kayu bekas sebelum diolah

Kayu bekas yg sudah diolah

Gambar: Panel dinding bekas – sebelum dan setelah dibersihkan jamurnya kemudian dicoating ulang

Lokasi pengambilan foto: Rumah KAIL, Bandung

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan material bekas merupakan kekuatan. Adakalanya kekuatan bahan sebagai menurun sesudah digunakan. Untuk itu kita perlu pintar-pintar memilih agar diperoleh material yg masih kuat. Sebagai model merupakan besi. Perhatikan besi bekas yg dibeli, apakah masih utuh? Adakah bagian yang telah berkarat? Hal yg sama berlaku buat kayu. Perhatikan apakah ada kelapukan atau bubuk yg membuat kayu sebagai musnah? Seringkali material bekas dengan merek eksklusif lebih awet daripada material baru merek yang lain. Untuk itulah kita perlu pandai -pintar menentukan, material mana yg cocok buat kebutuhan & kantong kita.

Aspek lain yang perlu diperhatikan merupakan kelengkapan onderdil. Hal ini berlaku diantaranya buat kloset bekas serta kran air. Perhatikan apakah bautnya masih lengkap. Apabila sudah berkurang, periksalah apakah tersedia cara lain pengganti onderdil yg hilang tersebut? Kadang-kadang ketidaklengkapan satu komponen kecil dapat menghipnotis efektivitas pemakaian. Misalnya penggunaan keran bekas yang bautnya kendor sebagai akibatnya mengakibatkan kebocoran mini mungkin tampaknya sepele. Namun bila tidak diperbaiki, air yg menetes bocor sebetulnya akan sebagai banyak bila dikumpulkan atau ditampung pada ketika yg cukup lama . Ini berdampak pada pemborosan sumberdaya & porto tentunya.

Adakalanya kita memakai bahan bekas yang bukan bahan bangunan buat dijadikan bahan bangunan. Sebagai model, saya menggunakan panel dinding yang diolah menurut kotak kayu peti kemas. Agar dapat menjadi panel dinding yang manis, kayu bandela tadi perlu diserut halus, disusun dengan rapi dan diberi pelitur transparan agar serat kayunya kelihatan. Harga kotak bandela tersebut sangat murah, apalagi jika membelinya dalam jumlah banyak. Hanya saja diharapkan biaya tukang buat menyerut dan memasak kayu-kayu tersebut sebagai bahan bangunan yg siap gunakan.

Gambar: Panel dinding menurut kayu petikemas

Lokasi pengambilan foto: Rumah Pribadi, Bandung

Lepas dari segala keterbatasan di atas, berikut ini adalah beberapa keuntungan dalam menggunakan material bekas. Salah satu keunggulan menggunakan material bekas adalah harga yang lebih murah daripada material baru. Dengan harga yang lebih murah, kita dapat memperoleh material berkualitas sesuai kebutuhan pembangunan rumah kita.  Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati. Tidak semua material bekas harganya lebih murah dari material baru. Dalam kasus barang-barang kuno langka, seperti tegel bercorak, harganya bisa jadi jauh lebih mahal daripada harga keramik corak yang baru. Untuk itu kita perlu pintar-pintar menyesuaikan kebutuhan material dengan ketersediaan dana yang ada.

Keuntungan ke 2 merupakan memacu kreativitas dalam merancang tempat tinggal kita. Dengan keterbatasan material yg tersedia, kita sanggup mengeksplotasi kombinasi-kombinasi yg cantik dan sinkron menggunakan kesukaan kita. Rumah kita sebagai unik dan tidak selaras menggunakan tempat tinggal orang lain. Lewat merancang rumah, kita bisa mengekspresikan diri kita dan mencari pola-pola rancangan yg sesuai dengan kebutuhan kita.

Manfaat lain menurut penggunaan material bekas adalah kita memperpanjang umur gunakan material. Kita akan membantu mengurangi limbah yg mencemari bumi & mengurangi pemakaian material baru. Setiap penggunaan material baru tentu terdapat sejumlah sumberdaya dan tenaga yang diambil dari alam. Dengan menggunakan material bekas kita membantu mengurangi beban bumi buat membuat barang-barang kita. Kitapun dapat memperpanjang umur pakai material yg lama dan mengurangi sampah. Semoga dengan semakin banyak material bekas yang bisa dimanfaatkan, bumi kita makin terjaga.

***

[1]Any Sulistyowati adalah Koordinator KAIL, sebuah LSM yang memiliki misi untuk mendukung tumbuhnya agen-agen perubahan sosial di masyarakat yang berkedudukan di Bandung. Ia merupakan Fellow LEAD (Leadership for Environment and Development), Donella Meadows Institute dan Sustainability Leaders Network.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *