[PIKIR] Menilik Realita Anak Jaman Sekarang
By: Date: August 21, 2018 Categories: Uncategorized

Sesuai judulnya, goresan pena ini mengajak kita mengamati situasi anak kita melalui perspektif waktu. Kalau kita ingin bicara tentang realita anak-anak kita jaman sekarang, tentunya kita perlu melongok bagaimana hal-hal yang sama terjadi di ketika-ketika yang kemudian? Setidaknya sewaktu kita mini dulu. Hari ini, kita ada pada pada situasi pada mana teknologi telah merasuk ke segala sisi kehidupan & pula menjangkau banyak sekali sisi kehidupan anak-anak kita. Tulisan pendek ini akan menyoroti apa dan bagaimana efek-impak yang timbul berdasarkan banyak sekali perubahan yang terdapat bagi proses tumbuh kembang anak-anak kita ketika ini.

Kita coba mulai berdasarkan jajak singkat situasi dulu & sekarang. Sewaktu aku duduk di bangku SD dulu, tidak banyak ditemui tempat tinggal yang memiliki pesawat telepon sendiri.

Hari ini di kota-kota mini bahkan pada pelosok, kita sudah melihat anak-anak memegang telepon genggamnya sendiri. Perangkat yg nir hanya bisa menelepon akan tetapi dengan layar sentuhnya telah bisa mengakses internet dan segala konten yg terhubung melaluinya.

Dulu hanya beberapa keluarga yang cukup mampu yang memiliki televisi di rumahnya, di mana di sore hari keluarga bisa asyik menyaksikan tayangan dari satu saja kanal siaran yang tersedia: TVRI, itupun dalam tayangan hitam dan putih. Saat ini, banyak rumah sudah bisa menyaksikan tayangan dari pilihan puluhan kanal TV kabel di layar datar pesawat TV lengkap dengan audio surround ibarat di ruang bioskop.

Dulu sewaktu kecil, aku begitu beruntung mampu bermain menjelajah sawah & tegalan, serta tidur-tiduran di saung milik pak Tani. Sekarang buat berkegiatan di luar rumah-pun menjadi sulit lantaran banyaknya motor lalu lalang, dan ruang ruang terbuka pada perkotaan yang berubah sebagai bangunan. Anak-anak kita sekarang mengisi ketika luangnya pada rumahnya, pada ruangan tertutup kamarnya sendiri atau di mal-mal sewaktu akhir pekan.

Situasi telah begitu berubah, hanya pada tempo kurang dari satu generasi. Sebuah rangkaian perubahan yg luar biasa cepat sebagai akibatnya kita pun manusia tergopoh-gopoh tahu dan memaknainya. Apakah hal-hal tersebut yang lazimnya kita pandang menjadi kemajuan kemudian berkembang menjadi sebagai kebaikan, tentunya sangat sebagai pertanyaan.

Dunia Bermain dan Belajar Anak-anak

              Anak-anak kita yg tinggal pada kota (kita bicara pada konteks kota Bandung) setidaknya kehilangan sangat poly hal. Ruang terbuka yang aman dan memadai merupakan galat satu pada antaranya. Padahal proses tumbuh kembang mereka membutuhkan ruang mobilitas & eksplorasi jasmaniah yg kaya. Anak-anak pada usia 0-7 tahun perlu mendapat kesempatan tahu tubuh dan lingkungan sekitarnya secara jasmani. Mereka perlu poly sekali berlari-lari, memanjat pohon, tersandung dan terjerembab. Mereka perlu mengalami bersentuhan pribadi dengan alam sekitarnya, bermain batu-batuan dan dedaunan, melangkah di atas tanah dan kerikil, menapak pada atas rumput & DOK : SEMI PALAR? ? ? ? ? ? ? ? ?Saat ini, anak-anak bahkan di usia dua-3 tahun telah poly kita lihat duduk tenang memangku gadget, memainkan permainan di atas layar datar menggunakan jari-jemarinya. Alih-alih bermain bola sepak pada lapangan, anak-anak kita duduk membisu pada pada ruangan. Jari-jarinya yg bermain ?Winning eleven? Pada atas layar tablet. Hilang telah pengalaman bermain yang begitu kaya. Pengalaman multisensori yg mereka dapatkan menurut menendang & mengoper bola, tersandung jatuh terdorong, berlari sekencang-kencangnya mengejar bola telah hilang. Begitu jua kesempatan untuk mengalami derasnya arus emosi yang meruap bersama sahabat satu tim waktu menang juga bagaimana berdamai menggunakan dirinya buat menerima kekalahan. Hal-hal seperti ini yg sekarang semakin menghilang menurut DOK : PRIBADI

KEGIATAN BERKEBUN DI SEMI PALAR | DOK : SEMI PALAR

                 Saat ini, anak-anak bahkan di usia 2-3 tahun sudah banyak kita lihat duduk tenang memangku gadget, memainkan permainan di atas layar datar menggunakan jari-jemarinya. Alih-alih bermain bola sepak di lapangan, anak-anak kita duduk diam di dalam ruangan. Jari-jarinya yang bermain ‘winning eleven’ di atas layar tablet. Hilang sudah pengalaman bermain yang begitu kaya. Pengalaman multisensori yang mereka dapatkan dari menendang dan mengoper bola, tersandung jatuh terdorong, berlari sekencang-kencangnya mengejar bola sudah hilang. Begitu juga kesempatan untuk mengalami derasnya arus emosi yang meruap bersama teman satu tim saat menang maupun bagaimana berdamai dengan dirinya untuk menerima kekalahan. Hal-hal seperti ini yang sekarang semakin menghilang dari alam belajar anak-anak kita.

Di sisi lain, anak-anak kita jua banyak kehilangan saat bersama orangtuanya. Saat ini telah terdapat layanan-layanan ?Pendidikan? Yang ditawarkan bagi anak mulai dari usia 6 bulan. Usia anak bersekolahpun semakin belia. Di usia dua tahun, orangtua sudah sibuk menemukan sekolah bagi anaknya. Jam sekolah-pun semakin usang semakin panjang. Kalaupun tidak, anak-anak pulang menurut satu belajar khusus ke les privat lainnya ? Dimulai menurut usia Taman Kanak-kanak. Di sisi lain tuntutan kehidupan terbaru, terutama secara ekonomi jua menciptakan orangtua serba sibuk buat memenuhi kebutuhan keluarga ? Belum lagi menanggapi kebutuhan gaya hidup yang tak habis-habisnya. Semakin tipis sudah kesempatan orangtua memberikan saat, kebersamaan dan perhatian bagi anak-anaknya.

Sementara itu tayangan TV dan filem-filem menggunakan beragam tema dan tampilan serba menarik sudah menjauhkan? Anak-anak kita menurut dongeng sebelum tidur dan bermain bersama orangtua. Perubahan-perubahan ini telah mengikis habis alam dongeng & imajinasi yg dulu poly dihantarkan oleh orangtua kita saat sebelum tidur ataupun pada kesempatan-kesempatan lain. Kakek dan nenek yang dulu senang sekali mendongeng & menyebarkan cerita kepada cucunya, waktu ini tergantikan oleh tokoh-tokoh lucu yg direkayasa industri hiburan lengkap menggunakan baju, boneka & tasnya sekaligus. Kita lupa bahwa banyak sekali nilai kehidupan dan hantaran estetika yg dibawakan oleh dongeng cerita warga dan sejenisnya. Tanpa disadari orangtua semakin terlena membiarkan anak-anak mereka hidup pada dalam ruangan di hadapan layar kaca dan banyak sekali perangka elektroniknya.

Saya akan coba ulas menurut satu sisi, bagaimana media belajar sangat memengaruhi terbangunnya pola pikir anak. Media digital memang memberikan poly kemudahan bagi penggunanya. Media ini mempunyai kemampuan buat mengindeks, mencari teks (search) dan lain sebagainya. Penggunanya dapat mencari kabar dengan cepat (instan). Perlu kita sadari benar bahwa hal ini bisa sangat memperlemah terbangunnya pola pikir anak. Padahal di era kini di mana anak-anak kita kebanjiran warta, mereka perlu punya kemampuan buat menyaring & memasak informasi. Hal lain yang acapkali nir disadari merupakan bahwa komputer dan perangkat sejenisnya beroperasi dalam mode multi tasking & multimedia. Saat bermain personal komputer , anak dengan gampang beralih pelaksanaan / atau mereset permainan saat mereka kalah atau menghadapi kesulitan. Hal ini jua sangat melemahkan kemampuan anak buat sanggup memusatkan perhatian dan menyelesaikan satu hal hingga tuntas.

Sementara itu tayangan TV dan filem-filem dengan beragam tema serta tampilan serba menarik telah menjauhkan  anak-anak kita dari dongeng sebelum tidur dan bermain bersama orangtua. Perubahan-perubahan ini sudah mengikis habis alam dongeng dan imajinasi yang dulu banyak dihantarkan oleh orangtua kita saat sebelum tidur ataupun di kesempatan-kesempatan lain. Kakek dan nenek yang dulu senang sekali mendongeng dan berbagi cerita kepada cucunya, saat ini tergantikan oleh tokoh-tokoh lucu yang direkayasa industri hiburan lengkap dengan baju, boneka dan tasnya sekaligus. Kita lupa bahwa banyak sekali nilai kehidupan dan hantaran keindahan yang dibawakan oleh dongeng cerita rakyat dan sejenisnya. Tanpa disadari orangtua semakin terlena membiarkan anak-anak mereka hidup di dalam ruangan di hadapan layar kaca dan berbagai perangka elektroniknya.

Saya akan coba ulas menurut satu sisi, bagaimana media belajar sangat memengaruhi terbangunnya pola pikir anak. Media digital memang memberikan poly kemudahan bagi penggunanya. Media ini mempunyai kemampuan buat mengindeks, mencari teks (search) dan lain sebagainya. Penggunanya dapat mencari kabar dengan cepat (instan). Perlu kita sadari benar bahwa hal ini bisa sangat memperlemah terbangunnya pola pikir anak. Padahal di era kini di mana anak-anak kita kebanjiran warta, mereka perlu punya kemampuan buat menyaring & memasak informasi. Hal lain yang acapkali nir disadari merupakan bahwa komputer dan perangkat sejenisnya beroperasi dalam mode multi tasking & multimedia. Saat bermain personal komputer , anak dengan gampang beralih pelaksanaan / atau mereset permainan saat mereka kalah atau menghadapi kesulitan. Hal ini jua sangat melemahkan kemampuan anak buat sanggup memusatkan perhatian dan menyelesaikan satu hal hingga tuntas.

Di sisi lain, kitab merupakan media paling tepat buat bisa membentuk pola pikir anak menggunakan baik. Melalui buku, anak dapat banyak berlatih buat penekanan, memusatkan perhatian & merangkai makna. Melalui kitab , anak wajib berkecimpung dari baris kalimat ke baris kalimat? Berikutnya, dari halaman ke page berikutnya. Berpikir secara runut dan terstruktur dan mengimajinasikan apa yang terekam dalam teks supaya bisa bermakna bagi dirinya. Walaupun tampak sederhana, buku adalah media pembelajaran yang DOK : SEMI PALAR

Ruang tulisan ini memang sangat terbatas buat membahas masalah ini secara memadai, mudah-mudahan apa yang tertuang pada atas ini memberikan citra tentang situasi kita, terutama anak-anak kita, pada dunia yang sedang berubah menggunakan cepatnya. Bagaimanapun pilihan buat merespon perubahan ini ada di diri kita masing-masing.

Di sisi lain, buku adalah media paling tepat untuk bisa membangun pola pikir anak dengan baik. Melalui buku, anak dapat banyak berlatih untuk fokus, memusatkan perhatian dan merangkai makna. Melalui buku, anak harus bergerak dari baris kalimat ke baris kalimat  berikutnya, dari halaman ke halaman berikutnya. Berpikir secara runut dan terstruktur dan mengimajinasikan apa yang terekam dalam teks agar dapat bermakna bagi dirinya. Walaupun tampak sederhana, buku adalah media pembelajaran yang sangat kaya bagi anak.

Proses perubahan yang sangat cepat memang membuat kita seluruh, juga sebagai orangtua, sebagai gamang menanggapi & merespon situasi menggunakan sempurna. Dalam hal pendidikan anak-anak kita, kita perlu sangat berhati-hati merespon perubahan.

Ruang tulisan ini memang sangat terbatas buat membahas masalah ini secara memadai, mudah-mudahan apa yang tertuang pada atas ini memberikan citra tentang situasi kita, terutama anak-anak kita, pada dunia yang sedang berubah menggunakan cepatnya. Bagaimanapun pilihan buat merespon perubahan ini ada di diri kita masing-masing.

Bandung, 9 September 2013

(Andy Sutioso)

Andy Sutioso, lahir dan tinggal di Bandung, bersama istri dan dua orang anak. Latar belakang pendidikan merupakan bidang arsitektur, semenjak 14 tahun yang kemudian menentukan bergiat pada komunitas dan memperdalam mengenai pendidikan, khususnya pendidikan keseluruhan. Memiliki poly minat termasuk di dalamnya seni budaya, lingkungan hayati, spiritualitas, sejarah & teknologi. Waktu luangnya diisi bersepeda, membaca, blogging dan potret memotret. Sejak 2004 merintis Rumah Belajar Semi Palar, (www.Semipalar.Sch.Id) sekolah formal menggunakan pendekatan pendidikan keseluruhan pada Bandung.

Bandung, 9 September 2013

(Andy Sutioso)

Andy Sutioso, lahir dan tinggal di Bandung, bersama istri dan dua orang anak. Latar belakang pendidikan adalah bidang arsitektur, sejak 14 tahun yang lalu memilih bergiat di komunitas dan memperdalam tentang pendidikan, khususnya pendidikan holistik. Memiliki banyak minat termasuk di dalamnya seni budaya, lingkungan hidup, spiritualitas, sejarah dan teknologi. Waktu luangnya diisi bersepeda, membaca, blogging dan potret memotret. Sejak 2004 merintis Rumah Belajar Semi Palar, (www.semipalar.sch.id) sekolah formal dengan pendekatan pendidikan holistik di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *