[RUMAH KAIL] PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP SELARAS ALAM DI RUMAH KAIL
By: Date: August 22, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Any Sulistyowati

Bumi ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Dari generasi ke generasi, manusia sudah memanfaatkan alam untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Peningkatan jumlah penduduk sudah menaikkan kebutuhan akan konsumsi sumberdaya alam. Ketersediaan sumberdaya alampun semakin berkurang. Selain itu, sumberdaya yg ada pun kualitasnya makin lama makin berkurang.

Untuk beberapa jenis sumberdaya, jumlahnya sampai pada batas yang sangat mengkhawatirkan. Seperti yang dapat kita lihat untuk sumberdaya yang dapat diperbarui, misalnya kayu-kayu hutan atau ikan-ikan di laut. Pemberian izin untuk pembukaan kawasan hutan alam untuk perkebunan, pertambangan dan pemukiman telah menyebabkan pengurangan luas hutan secara makin cepat. Kayu-kayu di hutan ditebang habis. Penebangan kayu ini tidak hanya mengurangi stok kayu di alam, tetapi juga merusak seluruh ekosistem yang terkait pohon-pohon kayu tersebut. Dengan hilangnya pohon-pohon tersebut, rusaklah habitat berbagai makhluk hidup yang tinggal di sana. Dengan rusaknya habitat, hilang pula keanekaragamaan hayati yang sangat kaya yang semula memenuhi hutan alam tersebut. Demikian juga penangkapan ikan telah menguras stok ikan di laut sekaligus merusak terumbu karang tempat berkembang biaknya ikan-ikan tersebut.

Kondisi serupa terjadi untuk sumberdaya yang tidak dapat diperbarui. Tambang-tambang telah mengambil begitu banyak mineral dari perut bumi. Kecepatan pengambilannya semakin cepat, sehingga menyebabkan pengurangan ketersediaan sumberdaya  secara besar-besaran serta berbagai kerusakan yang parah pada ekosistem di sekitarnya.

Di sisi lain, konsumsi sumberdaya jua membuat poly sekali limbah, baik menurut sisi jumlah dan ragamnya. Limbah-limbah tadi tidak bisa lagi diurai oleh alam serta mengakibatkan banyak sekali kasus misalnya keracunan dan penurunan kualitas sumberdaya alam. Limbah-limbah ini merupakan butir dari gaya hayati modern yg penuh kemasan, mencari kemudahan menggunakan produk sekali gunakan, serta nafsu berbelanja buat mengejar tren terkini.

Pola hayati pada atas sudah mengakibatkan eksploitasi alam yg masif serta kerusakan-kerusakan alam yg kian parah pada skala yg makin mengglobal. Krisis tadi juga menghasilkan efek-impak negatif yang mengurangi kualitas hayati insan. Diperlukan saat yg relatif usang buat memulihkan syarat alam supaya sehat pulang. Perbaikan situasi ini akan membutuhkan donasi aktif semua pihak pada berbagai strata, baik secara individu maupun secara kolektif.

Menanggapi duduk perkara di atas, kami pun ingin berkontribusi dalam upaya pemulihan kondisi alam tadi. Upaya tadi diantaranya dilakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip selaras alam sebesar mungkin pada pada perancangan Rumah Kail & pengelolaan aktivitas-kegiatan yg kami selenggarakan . Kami berharap inisiatif-inisiatif yang kami lakukan dapat memperlambat kerusakan alam sekaligus memperbaiki kualitas alam, minimal pada lingkungan di lebih kurang kami.

Dalam perancangan Rumah Kail, kami menetapkan buat tidak menggunakan kayu-kayu hutan yg baru. Kami lebih menentukan buat menggunakan kayu-kayu bekas yg kami dapatkan berdasarkan tukang loak. Kami jua menggunakan tempat tinggal bekas yang dijual pemiliknya lantaran hampir roboh. Kayu-kayu rumah itu kami pilih bagian yang masih cantik, dikerok lagi berdasarkan kotoran-kotoran yang menutupinya sehingga kelihatan rona & tekstur kayu aslinya.

Rumah KAIL, sebagian besar material pendukungnya dari berdasarkan bahan bekas (Dokumentasi KAIL)

Hampir semua bagian Rumah Kail menggunakan bahan bekas. Selain kayu bekas, kami juga menggunakan barang bekas seperti genteng, keramik untuk lantai, kloset sampai kaca untuk jendela dan pintu. Tantangan dalam penggunaan barang bekas untuk rumah adalah seringkali kami tidak bisa mendapatkan barang dengan corak, warna dan ukuran yang sama. Menjadi tantangan tersendiri untuk memadupadankannya sehingga tetap berfungsi baik dan cantik. Misalnya dalam kasus atap, karena gentengnya berbeda-beda ukurannya, kami perlu menghabiskan cukup banyak waktu untuk bongkar pasang agar tidak bocor. Demikian juga dengan keramik untuk lantai.

Untuk perabot, kami menggunakan kayu dari bekas bandela yang kami beli menggunakan harga murah sekali di sentra pembongkaran peti kemas. Peti-peti itu kemudian kami bongkar dan kami menerima papan-papan & balok-balok yang bisa digunakan buat membuat meja, kursi & lemari. Masalahnya kayu–kayu peti itu masih kasar, sebagai akibatnya perlu diserut dulu sebelum bisa dijadikan perabot. Untuk itu, beberapa tukang lokal kami undang buat menyerut dan membuat berbagai perabot pada Rumah Kail. Selain perabot, kayu-kayu bandela ini juga diolah menjadi panel dinding dan pintu Rumah Kail.

Kami jua menanam banyak pohon pada kebun Kail termasuk banyak sekali pohon kayu & bambu buat cadangan material apabila diperlukan perbaikan rumah atau perabot pada masa yang akan datang. Saat ini terdapat beberapa tiang teras & bangku-bangku taman memakai kayu-kayu yang kami panen dari kebun sendiri.

Pohon-pohon pada kebun Rumah KAIL

Untuk berhemat listrik, Rumah Kail dibuat dengan banyak bukaan. Lewat bukaan tadi, sinar matahari dapat masuk dan menerangi ruangan. Selain buat mendapatkan cahaya, bukaan ini jua memungkinkan udara segar masuk ke ruangan. Dengan rancangan tempat tinggal semacam ini, kami bisa menghemat listrik buat penerangan dan tidak memerlukan penyejuk udara.

Untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya di Rumah Kail, kami merancang pemenuhan berbagai kebutuhan rumah mengikuti siklus materi dan energi yang ada. Sebagai contoh, kami memasang biodigester di toilet, yang mendaur ulang tinja-tinja dan sampah makanan yang dihasilkan para pengunjung Rumah Kail menjadi pupuk untuk kebun dan gas yang kami gunakan memasak. Hanya saja, karena jumlah pengunjung yang menginap masih sedikit, maka gas yang dihasilkan pun masih sedikit. Jadi kami masih memperlukan bahan bakar cadangan dari gas LPG.

Kami juga memanfaatkan siklus air dan siklus hasil kebun. Semua air limbah di Rumah Kail disalurkan ke kebun. Kami membuat sistem penampungan air hujan untuk menyirami kebun. Kebun-kebun itu akan menghasilkan makanan dan minuman yang kami konsumsi selama kegiatan. Sisa-sisa makanan itu kemudian kami kembalikan ke kebun, lewat bak kompos, rumah cacing, atau diberikan sebagai pakan bebek dan marmut, yang kemudian menghasilkan kotoran untuk dijadikan pupuk untuk kebun.

Pemanfaatan siklus di dalam perancangan rumah adalah salah satu upaya mengganti limbah yang menyebabkan perkara sebagai sumberdaya yg memberikan manfaat buat alam dan manusia. Dengan memanfaatkan daur, dibutuhkan jumlah limbah yang mencemari alam dapat berkurang.

Selain lewat rancangan rumah, kami juga menerapkan prinsip yang sama untuk kegiatan-kegiatan Kail. Kami berusaha sedapat mungkin mengurangi jejak ekologis dari kegiatan kami, dengan cara:  (1) menyajikan sebanyak mungkin makanan lokal, terutama produk dari kebun Kail, (2) menghindari penggunaan makanan kemasan plastik, sebaliknya digunakan daun pisang, yang pada akhir kegiatan akan diletakkan di tempat pengomposan atau diberikan ke hewan peliharaan kami, yaitu untuk marmut dan bebek, (3) mempromosikan penggunaan transportasi umum dan penggunaan mobil bersama (nebeng) untuk semua peserta yang datang ke Rumah Kail; (4) mendaur ulang limbah dari acara Kail sebanyak mungkin seperti kertas dll; (6) menghemat penggunaan sumber daya, misalnya dengan mengurangi penggunaan kertas dengan menggunakan materi kegiatan versi elektronik, survei dan evaluasi online, serta sertifikat elektronik.

Kebun Kail merupakan salah satu sumber pangan langsung dari alam

Semua acara di Rumah Kail, (walaupun materinya bukan mengenai isu lingkungan) merupakan media untuk memperlihatkan pilihan-pilihan gaya hidup yang lebih selaras alam bagi para peserta. Kami berharap bahwa lewat Rumah Kail dan kegiatan-kegiatan Kail, kami dapat menunjukkan betapa mudah dan asyiknya hidup selaras alam.  Jadi ketika pulang dari Rumah Kail, semua akan berpikir, “Hidup selaras alam, mengapa tidak?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *