[OPINI] KONSEKUENSI KEMANDIRIAN
By: Date: September 11, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Menjadi berdikari berarti mengambil tanggung jawab penuh terhadap hayati kita. Mengambil tanggung jawab berarti termasuk kesediaan untuk menanggung konsekuensi yg inheren padanya.

Syarat-kondisi kemandirian

Anak bungsu saya, Chikara, 4 tahun, sering berkata seperti ini, “Saya sudah besar, jadi mau main game”.  Tapi di lain waktu, ia berkata, “Saya masih kecil, jadi perlu digendong”. “Saya masih kecil, jadi mau ditemani mama”. Kalau saya bertanya, “Loh… kemarin kamu bilangnya sudah besar, kok sekarang kecil lagi?”. Maka ia akan berkata, “Saya besarnya baru sedikit”. Begitulah Chikara.

Sebetulnya pada hati saya berpikir, aku pun hingga saat ini terkadang seperti Chikara. Ada tarikan ingin menjadi kecil (kurang mandiri) & menjadi besar (lebih berdikari). Tergantung situasi. Tapi saya sadar bahwa menjadi mandiri atau kurang berdikari adalah pilihan. Di dalam setiap pilihan ada konsekuensi yg melekat kepadanya. Tidak sanggup ditawar, nir sanggup ditolak. Konsekuensi datang satu paket menggunakan pilihannya. Seperti hukum alam. Berjalan otomatis.

Apa sih sebetulnya kemandirian? Apakah kemandirian berarti melakukan segala sesuatunya sendiri? Apakah kemandirian berarti tidak membutuhkan orang lain? Apakah kemandirian berarti tidak boleh lagi merasa mini , sendirian, ingin ditemani, ingin didukung dan dibantu?

Menurut aku , problem utamanya bukan itu. Kemandirian pertama-tama membutuhkan keputusan buat mandiri secara berdikari. Maksudnya, saya memutuskan sendiri buat menjadi mandiri. Bukan karena suruhan orang tua, bukan lantaran tekanan sosial, bukan lantaran tuntutan keadaan. Saya sebagai berdikari karena saya menginginkannya. Yang ke 2, kemandirian termasuk kesediaan buat menanggung konsekuensi menurut kemandirian tadi secara berdikari. Maksudnya, aku yg memutuskan, saya mengambil tindakan & saya menanggung semua konsekuensinya sendiri. Bukannya, aku mengambil keputusan, lalu seseorang wajib menanggung konsekuensi tersebut. Entah itu orang tua, sahabat, anak, atau pun pihak lainnya.

Apabila demikian makna kemandirian, apakah yg kita butuhkan supaya bisa berdikari?

Stephen Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People menyatakan bahwa setiap manusia memiliki empat anugerah kodrati, yaitu imajinasi, suara hati, kesadaran diri dan kehendak bebas. Untuk menjadi mandiri, kita perlu menggunakan keempat anugerah tersebut.

Pertama-tama, menjadi berdikari membutuhkan kita buat mengimajinasikan apa yang dimaksud dengan berdikari. Mandiri seperti apakah yang kita bayangkan? Bagaimana kondisi diri kita & sekeliling kita waktu kita menjadi berdikari? Kedua, kita perlu mendengarkan suara hati kita. Syarat supaya bisa mendengarkan suara hati secara efektif merupakan kejujuran terhadap diri sendiri. Termasuk pada pada kejujuran pada sini merupakan mengakui apa yang kita rasakan, butuhkan dan inginkan. Jika kita bisa mendengarkan bunyi hati menggunakan amanah dan mengikutinya, maka kita akan mempunyai hal ketiga, yaitu pencerahan diri. Kesadaran diri meliputi semua penerimaan terhadap diri sendiri, kekuatan & kelemahan. Mengetahui apa yang mampu & tidak, yang perlu & nir perlu buat diri kita. Hal keempat yg diharapkan adalah sepenuhnya memakai kehendak bebas kita untuk merogoh tindakan yang akan kita lakukan. Bukan karena suruhan, bukan karena paksaan.

Apabila kita sudah sepenuhnya menggunakan keempat anugerah tadi dan secara konsisten melaksanakan kehendak bebas & menanggung konsekuensinya, maka kita sudah melakukan yg diklaim Covey sebagai proaktivitas. Proaktivitas adalah kapital awal dari kemandirian.

Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membedakan kebutuhan Chikara untuk bersama saya dengan kebutuhan saya sendiri.  Saya paham bahwa Chikara masih berada dalam tingkatan tergantung pada saya. Jelas, saya ibunya. Saya perlu mendampinginya sampai otak sadarnya cukup berkembang dan bisa mengambil keputusan untuk menjadi mandiri. Tapi apakah saya mandiri?

Saya sadari, aku pun memiliki problem. Persoalan yang lebih besar , bahkan. Apakah keputusan saya mendampingi Chikara benar -benar keputusan yang berdikari? Apakah saya benar-benar agresif di dalam menjalankan kiprah saya sebagai bunda? Apakah aku menjalani kiprah aku waktu ini karena begitulah memang tugas dan kiprah seorang mak buat anaknya yg masih mini ? Apakah saya menjalani kiprah ini karena takut gunjingan tetangga yang mempunyai baku eksklusif tentang pengasuhan anak? Apakah saya menjalani kiprah ini karena mengharapkan dukungan Chikara di masa tua nanti? Apakah saya takut kehilangan Chikara? Semua itu adalah pertanyaan-pertanyaan yg perlu dijawab buat mengetahui apakah saya mendiri.

Ternyata sebagai mandiri bukanlah hal yg gampang. Saya bahagia mendapatkan Chikara menjadi anak aku , namun aku juga tak jarang kewalahan menanggung konsekuensi menjadi ibunya. Konsekuensi-konsekuensi tersebut biasanya terkait menggunakan keterbatasan asal daya. Salah satunya merupakan waktu.

Chikara membutuhkan saat terfokus dari saya untuk menemaninya. Dia tidak senang disambi. Saya punya poly kesulitan merampungkan pekerjaan selama mengasuh Chikara. Dia bukan anak yang akan diam & menunggu. Dia aktif mempertanyakan poly hal & menuntut jawaban waktu itu juga. Dia menyatakan alasan-alasan secara terbuka & menuntut penjelasan yang wajar buat otaknya. Ia akan bahagia jika tahu sesuatu dan mencapai sesuatu. Di tengah situasi yang demikian, saya punya beberapa pilihan: 1) cari pengasuh, 2) memaksanya membisu menunggu aku menyelesaikan sesuatu, 3) membuatnya sibuk melakukan hal yg lain, 4) membuatnya terlibat di dalam aktivitas saya.

Menyusun balok: galat satu kegiatan yg menciptakan anak sibuk. Sumber foto: koleksi pribadi.

Pekerjaan saya bervariasi dari memasak, mencuci, membereskan rumah, mengurus kebun, mengajar dan mengetik dengan menggunakan komputer. Untuk empat yang pertama, Chikara dapat saya libatkan secara aktif, asalkan ada waktu yang cukup. Asalkan standar saya mengenai kecepatan dan kualitas hasilnya bisa dibuat lebih rendah. Sebagai contoh, ketika memasak kue dilakukan  bersama-sama dengan Chikara, saya perlu merelakan bahwa akan ada hasil cetakan kuenya yang kurang rapi, belepotan atau komposisi bahannya yang tidak presisi. Waktu memasak kue pun bisa jadi lebih lama daripada kalau saya membuatnya sendiri. Tapi pembelajaran untuk Chikara dan waktu yang kami lalui bersama jauh lebih penting daripada rasa dan bentuk kuenya. Di sini, proses lebih penting daripada hasilnya.

Melibatkan anak pada aktivitas kita – penting buat perkembangan anak.

Sumber foto: koleksi pribadi.

Untuk dua yang terakhir, mungkin cukup sulit. Di sini, tuntutan hasil mungkin lebih kuat daripada proses bersama anak. Dalam situasi seperti ini, pilihan nomor satu mungkin adalah cara yang paling mudah. Saya akan punya waktu terfokus untuk saya sendiri, dan Chikara akan main dengan terfokus bersama pengasuh. Namun, jika saya terlalu banyak mengambil pilihan nomor satu ini, Chikara lalu protes, “Tapi aku sukanya  main sama kamu”. Hiks…. Menyenangkan dalam situasi normal, tetapi petaka dalam kondisi deadline seabreg kegiatan.

Pilihan angka 2 kadang-kadang terjadi dalam keadaan darurat, tapi Chikara akan cepat bosan dan kemudian melakukan hal-hal yang akhirnya menambah pekerjaan aku tanpa beliau & aku sadari pada awal . Misalnya mengacak-acak sesuatu yg wajib saya bereskan lalu. Istilah mengacak-acakpun sebetulnya perlu dipertanyakan. Mungkin istilah tadi sempurna berdasarkan sudut pandang aku . Dari sudut pandang Chikara, mungkin lebih tepat dikatakan menjadi mengeksplorasi benda-benda baru yang menarik perhatiannya. Yang tanpa ia sadari benda-benda itu sebetulnya merupakan bagian berdasarkan pekerjaan saya, bukan mainannya.

Nomor 3 sanggup berjalan baik, namun akan membutuhkan ketika buat mempersiapkannya. Pertama-tama, perlu dipilih apa kegiatan yg akan dilakukan Chikara. Kedua, perlu dibayangkan berapa usang beliau akan tahan melakukan aktivitas tadi sendiri. Ketiga, apakah kegiatan tersebut membutuhkan pendamping? Keempat, bahan apa saja yg diharapkan? Kapan dan berapa lama menyiapkannya? Kelima, apakah terdapat dampak yg perlu aku tanggung selesainya kegiatan terselesaikan? Misalnya beres-beres. Beres-beres merupakan pekerjaan. Pekerjaan perlu waktu buat mengerjakannya.

Bermain: membuat anak sibuk tetapi jangan lupa ajari ia untuk membereskannya kembali

Sumber foto: koleksi pribadi.

Itu adalah contoh-contoh konsekuensi dari pilihan tindakan saya angka satu hingga empat. Namun seluruh itu merupakan konsekuensi menurut pilihan saya sebagai ibunya. Kalau aku sungguh mandiri, berarti saya dengan bahagia menanggung konsekuensi tadi. Menjadikannya bagian berdasarkan hayati saya.

Kesalingtergantungan ? Tingkatan lebih lanjut berdasarkan kemandirian

Apabila kita telah mencapai kemandirian, maka kita dapat melanjutkan perjalanan hidup kita menuju kesalingtergantungan. Kesalingtergantungan hanya dapat terjadi dalam relasi dua orang yang mandiri.  Apabila salah satu tergantung dari yang lain, maka relasi tersebut disebut sebagai ketergantungan. Kesalingtergantungan adalah kunci menuju sinergi. Sinergi adalah kondisi di mana kerjasama antara sejumlah orang menghasilkan kinerja yang lebih besar dari apabila kinerja seluruh anggota tersebut dijumlahkan. Dalam sinergi terjadi apa yang tidak mungkin dilakukan apabila setiap orang yang berelasi berdiri sendiri.

Di dalam kesalingtergantungan, setiap orang sebetulnya bisa hidup secara mandiri. Masing-masing akan baik-baik saja pada pada hidupnya. Namun, mereka masing-masing merasa nir cukup menggunakan sekedar baik-baik saja. Mereka haus akan capaian yg lebih besar di pada hayati mereka dan secara kreatif ingin mewujudkan impian tersebut. Mereka lalu bersepakat buat berhubungan buat mencapai virtual beserta secara bersama-sama. Mereka memutuskan buat saling membantu satu sama lain untuk mencapai virtual beserta. Mereka ada satu buat yang lain, tetapi permanen oke jika suatu waktu yg satu meninggalkan yang lain.

Saat ini saya dan Chikara berada dalam interaksi pada mana Chikara tergantung dalam aku . Namun saya tahu, itu hanya sementara. Dari waktu ke waktu, dia akan berkembang dan sebagai lebih mandiri dalam segala hal. Dari saat ke waktu, kebutuhannya akan aku akan berkurang dan dia akan menjadi lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Secara sedikit demi sedikit kami akan mentransformasi relasi kami menurut ketergantungan menjadi kesalingtergantungan. Saya membayangkan sekitar dua puluh tahun lagi, aku dan Chikara akan melakukan sesuatu beserta-sama menjadi dua pribadi yg berdikari. Kami akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa beserta-sama.

Panen wortel bersama – salah satu kegiatan yang disukai anak,

sekaligus memberikan pengalaman tentang kemandirian dalam menghasilkan pangan.

Sumber foto: koleksi pribadi.

Bagaimana menggunakan empat puluh tahun lagi? Saya akan berusia delapan puluh enam tahun, dan Chikara empat puluh empat tahun. Apakah saya permanen bisa berdikari? Saya berharap, ya, saya ingin permanen sebagai orang yang berdikari. Saya ingin permanen bisa menetapkan hidup saya sendiri di usia itu. Saya masih permanen ingin dapat menghasilkan karya dan mewujudkan virtual-impian aku . Nah, keputusan inipun terdapat konsekuensinya. Dan konsekuensi ini, terkait menggunakan hidup aku yg kini . Kalau saya masih ingin berkarya pada usia delapan puluh enam tahun, maka aku perlu relatif sehat pada ketika itu. Kalau saya mau sehat pada usia tadi, maka aku perlu menjaga kesehatan semenjak kini !

Apabila aku ingin relasi saya menggunakan Chikara merupakan kesalingtergantungan pada usia delapan puluh enam, maka aku punya PR akbar yg perlu aku lakukan semenjak kini . Salah satu ciri berdasarkan kesalingtergantungan merupakan tidak terdapat rasa bersalah, tidak terdapat takut, tidak terdapat kuatir. Konsekuensi berdasarkan kesalingtergantungan adalah Chikara dan saya perlu bebas menurut rasa takut, kuatir dan bersalah, jika ia memilih hidupnya sendiri dan tidak ?Mengurus saya? Di usia delapan puluh enam sesuai menggunakan baku yg berlaku di rakyat ketika itu. Chikara perlu bebas dari semua rasa itu & percaya bahwa aku mendukung pilihan hidupnya dan saya akan baik-baik saja.

Nah, aku rasa ini lebih kompleks daripada konsekuensi sebagai sehat yg aku ceritakan tadi. Untuk sebagai sehat, aku relatif berurusan dengan diri aku sendiri. Menetapkan pilihan & konsisten melaksanakannya. Mentransformasi interaksi ketergantungan menjadi salingtergantung & mempertahankannya selama empat puluh tahun adalah sesuatu yang luar biasa. Komitmen ini bukan hanya menyangkut saya, namun jua Chikara dan hubungan aku dengannya. Ini akan menyangkut keputusan dan pencerahan akan nilai-nilai yang perlu ditanamkan, norma-kebiasaan yang perlu dibangun, pengalaman-pengalaman beserta yg menunjukan kesungguhan rekanan dan poly lagi. Pastilah terdapat jatuh bangun yg perlu dilewati. Konsekuensi yang harus diterima dengan ikhlas dan dijalani menggunakan bahagia.

Latihan kemandirian

Yang saya ceritakan pada atas merupakan hanyalah satu contoh sederhana berdasarkan keputusan yang kita ambil secara berdikari. Kita dapat membentuk kemandirian mulai menurut banyak hal lain. Keputusan akan makanan yg ingin kita makan, udara yg ingin kita hirup, karya yg ingin kita hasilkan, pasangan hidup yg hendak kita pilih, tempat tinggal yg hendak kita tinggali, kebun yang hendak kita lihat & banyak lagi, dan berbagai aspek kehidupan yg hendak kita jalani. Apapun pilihannya, semoga betul-benar diputuskan secara berdikari dan dijalani dengan penuh tanggung jawab dan sukacita.

Mulai berdasarkan satu aspek kemandirian yang kita jalani, kemudian kita dapat memperluasnya ke aspek-aspek yang lain. Dalam jangka panjang, akan terdapat lebih poly aspek kemandirian yang bisa kita pilih & akhirnya, secara sedikit demi sedikit, kemandirian akan sebagai bagian krusial menurut kehidupan kita.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *