[OPINI] EKONOMI ITU DARI, OLEH, DAN UNTUK SEGELINTIR SAJA, ATAU UNTUK SEMUA?
By: Date: September 12, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: M. Sena Luphdika

-Demokrasi ekonomi sebagai prasyarat kesejahteraan yang lebih adil dan merata-

Menurut Anda, ekonomi yang ada ketika ini berpihak pada siapa? Hanya segelintir orang atau seluruh masyarakat Indonesia?

Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan di atas, mangga cek film dokumenter SEXY KILLERS dari WatchDoc berikut ini:

Kira-kira apa jawabannya? Coba renungkan jawaban Anda sambil iseng mengetik kata-kata berikut di mbah Google:

  • Kesenjangan ekonomi, rasio Gini
  • Konflik agraria, konflik tambang, konflik sawit
  • Kesejahteraan petani, regenerasi petani
  • Sosialita mewah, garis kemiskinan

Rasa-cita rasanya condong ke segelintir ya.

Kenapa seperti itu? Apa penyebabnya? Mari kita coba telaah dengan sudut pandang kata-kata pamungkas, Demokrasi.

Segelintir vs Seluruh

Sistem ekonomi Indonesia seharusnya bukan kapitalisme seperti yang ada saat ini. Kalau tidak percaya, mangga cek saja UUD 1945 Pasal 33 ayat yang mana pun.

Sesuai namanya, kapitalisme, modal sebagai hal yang primer & pertama. Manusia tunduk dalam kepentingan dan kemauan dari manusia lain yang punya kapital (terutama uang) lebih akbar.

Dengan begitu tingginya posisi uang pada kapitalisme, maka tak heran bahwa pihak yg menikmati keuntungan & manfaat terbesar berdasarkan sistem ini adalah segelintir orang. Mereka adalah orang-orang yg ?Terlanjur? Punya uang, kemudian melahirkan uang baru lagi menggunakan cara-cara yang didukung penuh oleh sistem yang terdapat.

sumber: OXFAM America

Salah satu dasar primer kapitalisme adalah 1 saham = 1 suara. Siapa yang punya kapital besar maka dia yang paling bertenaga. Kalau nir punya kapital bagaimana? Ya maaf-maaf saja, cuma bisa jadi pekerja yg digaji rutin, dengan nilai yang pas-pasan sekadar buat bertahan hidup.

Dengan 1 saham = 1 suara tersebut, segelintir orang memiliki hak dan kuasa yg lebih akbar berdasarkan mayoritas orang. Kekayaan dan keuntungan berkumpul kepada mereka-mereka saja, terpusat dan semakin menggunung.

Tidakkah kita merasa aneh kenapa segelintir orang memiliki kekuatan & kekuasaan yang begitu besar buat menentukan hidup orang poly?

Padahal yang memiliki kepentingan dalam suatu perusahaan bukan hanya pemegang sahamnya saja. Para pegawainya tentu juga punya kepentingan. Tanpa para pegawai oleh pemegang saham jua nir akan bisa apa-apa.

?Lucunya, pegawai baru dipercaya penting saat mereka mogok kerja.?

Tentu nir mengherankan bila sistem semacam ini melahirkan konduite insan yang individualis, serakah, kompetitif ekstrim, dan egois. Demi profit & laba segalanya sebagai halal.

Lingkungan? Peduli amat.

Kesejahteraan pegawai? Seminimal mungkin yang penting bisa hidup. Kepentingan bersama? Di bawah kepentingan pribadiku dong.

?Tidak percaya? Coba cek lagi film SEXY KILLERS yang telah ditonton sebelumnya. Tonton pula ASIMETRIS, mengenai kelapa sawit.?

Inikah sistem ekonomi terbaik yang manusia mampu lahirkan?

Demokrasi Politik vs Demokrasi Ekonomi

Bulan April ini kita melaksanakan “pesta demokrasi”. Kita memilih pemimpin tertinggi Indonesia dan anggota-anggota legislatifnya. Tapi perlu diingat bahwa “pesta” ini baru demokrasi dalam ranah politik.

TahukahAnda bahwa demokrasi tidak hanya berlaku dalam politik, tetapi juga ekonomi? Tahukah Anda bahwa kata-kata demokrasi ekonomi tersebut ada di konstitusi kita secara gamblang?

“Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional — UUD 1945 Pasal 33 Ayat 4”

Demokrasi politik yang kita miliki berdasarkan saya sangat kurang, lantaran heboh hanya 5 tahun sekali dan waktu demo-demo ke jalanan. Seakan-akan dalam kehidupan kita sehari-hari tidak ada urusannya menggunakan demokrasi.

Sehari-hari kita mengonsumsi bermacam barang buat memenuhi kebutuhan hayati. Ekonomi lebih dekat menggunakan hidup kita, kenapa nir kita coba implementasi demokrasi di dalamnya?

Demokrasi Politik sudah berjalan, kalau Demokrasi Ekonomi kapan?

Https://medium.Com/@msenaluphdika/demokrasi-politik-sudah-berjalan-bila-demokrasi-ekonomi-kapan-22cdeb473fb

Apalagi pada dasarnya demokrasi politik nir akan berpengaruh banyak bila ekonominya tidak demokratis. Ia hanya akan melahirkan oligarki (sekelompok penguasa) yang rakus & egois. Mengedepankan keinginan & kepentingan kelompok mereka tanpa memikirkan kepentingan orang poly.

Adakah contoh jahatnya? Banyak sebenarnya, tapi kita coba saja dari hal yang paling mendasar bagi kehidupan kita sehari-hari, sembako. Sembako itu banyak lintah-nya.

Merekalah yang mengakibatkan sebuah realita yang kontradiktif, yaitu:

Harga pada rakyat begitu tinggi, sedangkan harga pada petani sangat murah.

?Masyarakat ingin harga murah, akan tetapi petani tentu ingin harga tinggi agar mereka sejahtera. Apa penyelesaiannya??

Sembako dalam Demokrasi Ekonomi

Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, maka hal ini diurus oleh negara melalui Bulog. Tetapi kalau boleh jujur, Bulog ini dampaknya tidak besar. Malah internal Bulog-nya sendiri seringkali korup.

Hasil search Google dengan kata kunci “Korupsi Bulog”

Tapi apakah kita hanya bisa berpangkutangan atas ketidakbecusan Bulog? Kenapa tidak kita coba koordinir kebutuhan kita secara bersama-sama? Demi kepentingan kita bersama kok, urusan sembako,gitu.

Kembali pada kontradiksi dagelandi atas, bagaimana supaya harga sembako murah tapi petani juga sejahtera? Jawabannya ada pada rantai pasok. Di petani harga mungkin murah, tapi di pembeli harga sudah naik dengan margin yang tidak sedikit.

Tak heran bila petani tidak sejahtera & orang dalam malas jadi petani, karena orang yang menerima laba utama dalam rantai pasok sembako merupakan distributornya. Tengkulak & kawan-mitra yang terdapat di tengah-tengah justru kaya raya, sedangkan petaninya miskin.

Solusi paling sederhana ya potong rantai pasok. Hubungkan langsung antara pembeli dengan petani. Tetapi ini sulit kalau dilakukan sendiri-sendiri, karena yang namanya panen itu jumlahnya besar. Kalau kita beli secara individu, ya ga bakal mau petaninya. Panen 500 kg masak dibeli cuma 5 ons per orang kan ya capek.

Tetap perlu terdapat pihak penengah yg mengoordinir hubungan antara pembeli dengan petani, agar kebutuhan pembeli mampu diagregat sehingga jumlahnya akbar & harganya sanggup lebih murah per kilonya. Sedangkan di sisi petani mereka nir sibuk mencari dan melayani ratusan pembeli, cukup satu saja.

?Apa bedanya penengah ini dengan tengkulak yg ada??

Sederhana, penengah ini harus dimiliki bersama oleh pembeli dan petaninya, sehingga penengah ini tidak akan mengambil margin yang terlalu besar. Kalau pembeli dan petani adalah pemilik, artinya si penengah bertanggungjawab kepada mereka, bukan pada investor atau pemilik individu dari usaha penengah/distributor ini.

Lantaran pembeli & petani merupakan pemilik yang setara, mereka bisa duduk bersama & buka-bukaan data.

Petani: ?Segini lho hargaku, lantaran poin a, b, c.?

Pembeli: “Ah tapi segitu kemahalan, kan ada poin x, y, z.”

Dengan obrolan, bisa dihasilkan konvensi yg memberikan hasil terbaik bagi pihak-pihak yang terlibat, tanpa perlu campur tangan pihak luar.

Apa bentuk yang tepat dari penengah ini? Tidak lain dan tidak bukan ya koperasi. Kalau bentuknya selain koperasi, bisa terjadi tarik-ulur kepentingan dari pemilik usaha distribusi yang nilai suaranya berbeda-beda sesuai besaran saham. Dalam koperasi, satu anggota satu suara, sehingga tidak akan ada orang yang menguasai usaha distribusi ini melalui saham yang paling besar.

Dengan format koperasi, kepentingan setiap individu insan memiliki bobot yg sama, sebagai akibatnya mau tidak mau semua anggota tentu memikirkan kepentingan bersama. Pada dasarnya sulit untuk egois dalam bentuk koperasi, kecuali kita bisa meyakinkan kawan kita yg lain.

Hajat Hidup orang Banyak

Utopis sekali ya, apakah hal ini bisa dilakukan? Sudah ada contohnya kok di Jepang, namanya Seikatsu Club. Di Korea juga ada, namanya ICOOP.

Apakah hanya sembako yang bisa diatur dalam format koperasi multipihak milik bersama ini? Oh tidak, tentu semuanya bisa. Sebaiknya, ketika suatu hal terkait dengan hajat hidup orang banyak, dia dikelola dalam format koperasi multipihak (Multi-Stakeholder Cooperative).

(Tautan artikel https://ccednet-rcdec.ca/en/toolbox/solidarity-business-model-multi-stakeholder-cooperatives )

Hajat hidup orang banyak itu misalnya air, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lain-lain. Kita bisa bangun koperasi buat masing-masing bidang tersebut yang isinya lengkap secara rantai nilai berdasarkan awal hingga akhir. Dengan begitu, semua pihak yang terlibat di dalamnya sanggup memilih keputusan & kebijakan ekonomi secara bersama-sama.

Kesehatan

Kita perlu menciptakan jaringan fasilitas kesehatan (faskes) yg akan menaruh pelayanan terbaik meski pasien menggunakan premi BPJS. Jaringan ini juga wajib menaruh penghidupan yang layak pada para dokter, perawat, & energi medis yang bekerja di dalamnya. Apabila perlu juga kita buat asuransi kesehatan milik kita bersama.

Pendidikan

Kita tentu paham seberapa bobroknya pendidikan di Indonesia. Rendahnya gaji pengajar, rendahnya taraf kelulusan, buruknya kualitas lulusan, tingginya angka pengangguran, mereka adalah segelintir menurut penanda bahwa sistem pendidikan kita remuk-redam.

Kalau memang kita setuju bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kepentingan bersama, yuk kita buat koperasi terkait pendidikan yang dimiliki bersama-sama. Murid, orang tua, guru, & profesi pendukung lain yg terkait erat dengan sekolah dan universitas merupakan pemiliknya. Kita duduk bareng dan buat sedemikian rupa sehingga pendidikan yg terbaik sanggup dinikmati sang seluruh kalangan rakyat sebagai hak asasi.

Lantaran sekali lagi, ekonomi itu buat segelintir saja atau buat semua? Kalau kita seluruh ingin maju sebagai sebuah bangsa, ya kita berkecimpung beserta untuk itu. Jangan menunggu & menyerahkan takdir kita dalam sekelompok orang yang terlanjur menguasai kehidupan kita.

Ambil & kelola bersama-sama.

Kesenjangan ekonomi merupakan masalah yang buat saya paling pelik saat ini. Kemiskinan saja itu sudah perkara, apalagi kemiskinan yang bersamaan menggunakan kekayaan yg begitu jauhnya. Kemiskinan tadi akan menekan mental, tidak hanya masalah material.

?Bayangkan saja bagaimana cita rasanya waktu makan sehari-hari saja susah, tetapi di sisi lain kita tahu ada orang yang sanggup dan mau membeli baju glamor seharga biaya hidup kita selama 5 tahun??

Solusinya jelas bukan donasi-bantuan langsung yang tidak bermartabat dan membuat warga ketergantungan itu.

Ekonomi seluruh lapisan warga wajib mandiri. Mandiri bukan berarti sendiri-sendiri, akan tetapi tidak bergantung dalam pihak-pihak lain yang tidak mampu dikendalikan dan hanya memikirkan laba mereka sendiri.

Koperasi sudah diletakkan sebagai dasar demokrasi ekonomi di Indonesia berdasarkan zaman dahulu kala. Mari kita bangkitkan kodratnya sebagai sistem ekonomi utama pada tanah air kita ini.

Sudah saatnya kita beranjak secara gotong-royong, kolektif, bersama-sama. Supaya kemajuan dan keuntungan ekonomi bisa dinikmati sang semua, nir hanya mereka yg pada atas sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *