[PIKIR] SANDANG YANG MENELANJANGI
By: Date: September 13, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

Duhsasana had to subdue Draupadi by force. He dragged her out of the women?S quarters and into the assembly hall by her hair. And there, in front of all the kings and the defeated Pandavas, he mocked her, called her whore for having five husbands, and vowed to have his way with her. Then, as Draupadi stood helpless, clad only in a nightgown, weeping with shame and rage, Duhsasana ripped her gown from her to expose her nakedness.

But she was not naked. She was still clad in her simple shift. Cursing, Duhsasana reached out again and ripped it off.

And Draupadi was still not naked.

Again and again Duhsasana ripped Draupadi?S clothes away, until the floor of the assembly hall was littered in a rainbow of gowns. And she was still not naked.

Absolute silence descended on the assembly hall. There were only two people in the whole world. There was Draupadi, clothed in the lawfulness of her rage. There was Duhsasana, exhausted and suddenly afraid.

Sabha Parva LXVII, Mahabharata

Di antara banyak sekali atribut yang menaruh kita predikat sebagai mahluk berkebudayaan, pakaian-lah yg paling gampang ditanggalkan. Berbagai atribut lain yang memberi kita karakteristik kebudayaan misalnya ungkap bahasa, dialek, tata cara makan, ritual adat, hubungan relasi, pemahaman akan nilai-nilai, jauh lebih inheren erat pada kita dibanding pakaian. Kita dengan gampang berganti sandang dan mengubah peran atau bukti diri, seperti seorang murid yg mencopot seragamnya begitu sampai ke rumah; tetapi betapa sulitnya murid tadi membarui dialeknya, apalagi membarui hubungan kekerabatannya.

Terhadap identitas kita sandang itu memang rapuh, tetapi di situ juga terletak kekuatannya. Sandang menyandang daya terpenting dalam kemanusiaan kita, yakni  kecenderungan beradaptasi. Dengan sandang manusia dapat mengatasi keterbatasannya, memasuki laut dalam, menjelajah antariksa, atau pun melindungi diri pada kondisi ekstrim. Sandang itu membungkus tubuh untuk memperluas horizon keberadaannya, mendukung manusia untuk bereksplorasi dan melakukan kolonisasi atas dunia.

Sandang berdaya mengganti insan karena itu ia lalu dikapitalisasi sebagai wahana penjabaran insan baik menurut segi strata kultural mau pun sosial, penanda kiprah pada sistem kemasyarakatan, atau pun menjadi pertanda pengkhususan kultural mau pun religi. Pakaian yg disandang memilih derajad dan kasta, mengenalkan kiprah pada sistem fungsional kemasyarakatan seperti dokter, tentara, polisi, guru atau anak sekolah. Para penganut agama menandai kaumnya lewat pakaian yg khas,misalnya dalam biarawan, kiai, pandita, & seterusnya. Bahkan pakaian pun bisa memberikan karakteristik pada momentum tertentu seperti gaun pengantin, pakaian upacara kepercayaan atau pun pakaian istiadat pada aneka macam ritual.

Sandang menggunakan demikian secara kontras melampaui insan penyandangnya. Tanpa pakaian, insan sebagai telanjang dan terbatas. Ia kehilangan atributnya, ketiadaan predikat dan lumpuh dalam sistem sosialnya. Sandang dengan demikian menelanjangi manusia. Nilai-nilai sosial kemasyarakatan insan jadi inheren dalam sandang yang dikenakan, bukan tertanam dalam insan itu sendiri.

Di satu pihak manusia itu takut dalam ketelanjangannya. Maka dia berusaha menegaskan keberadaannya secara spesifik pada tengah dunia dengan menyandang pakaian yang bisa mengusung identitas peran yg dia anggap sinkron. Tetapi acapkali ketelanjangan itu sebagai paranoia yg mengganti manusia sebagai konsumen terus menerus. Sandang menjanjikan pemenuhan bukti diri yang tak pernah tuntas. Manusia berusaha memperkaya atribut, mempertahankan & menaikkan predikatnya, mengejar pakaian yang semakin menaikkan nilainya pada warga .

Di lain pihak, karena sandang menjadi penyandang martabat, nafsu kolonisasi, kesamaan menguasai dan menindas insan menyasar pada penelanjangan insan lain. Dalam epos Mahabharata, Kurawa berusaha mempermalukan Pandawa yang kalah bermain dadu menggunakan merenggut sandang Drupadi. Dalam aula raja-raja di Hastinapura keserakahan akan kekuasaan politik mengarahkan kekuatannya dalam kain sari seseorang perempuan .

Epos Mahabharata menjanjikan optimisme yang mendasar bagi kemanusiaan yang tidak dapat ditelanjangi. Sandang itu memang bernilai, meskipun ia tipis dan bersahaja seperti selembar sari atau kain batik, ia memuat keyakinan manusia bahwa dirinya bermartabat. Sandang bukanlah pemilik nilai tersebut, ia adalah penanda citra kultural manusia, pembawa pesan tentang harkat manusia, dan bukan harkat itu sendiri.  Seperti keajaiban dalam cerita Mahabharata di ruang permainan dadu, martabat manusia tak bisa digerus meski keserakahan berusaha menanggalkan semua atribut kemanusiaan.

Drupadi yang bersimpuh pada lantai aula para raja, tetap terjaga pada keutuhan kemanusiaannya & dalam gilirannya keserakahan dan nafsu menguasai politik Sengkuni & Kurawa akan tergerus sang ketakutannya sendiri sebab humanisme tak bisa ditelanjangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *