[MASALAH KITA] MASALAH SEPUTAR KONSUMSI PAKAIAN ZAMAN SEKARANG DAN KIAT-KIAT PENYELESAIANNYA
By: Date: September 14, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Kita beruntung hidup pada zaman yang memberikan begitu poly kemudahan di pada hayati kita. Kurang dari seratus tahun yang kemudian, generasi kakek nenek kita mungkin masih mengganggap bahwa pakaian merupakan harta yg sangat berharga. Pada waktu itu pakaian yang mereka miliki mungkin nir lebih berdasarkan hitungan jari. Beberapa dari mereka bahkan memakai bahan yg dalam masa kini ini dipercaya nir layak dianggap sebagai sandang.

Saat ini, hampir semua orang sudah memiliki pakaian. Kebanyakan orang kemungkinan memiliki pakaian sejumlah yang lebih dari yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.  Sebagian lagi mungkin memiliki sejumlah pakaian baru setiap hari raya, setiap musim atau setiap model baru keluar. Sebagian lagi membeli pakaian yang mengisi lemari mereka, tetapi kemudian tidak pernah mereka gunakan.

Pakaian zaman sekarang: begitu beragam corak, rona, tekstur dan modelnya.

Hal ini bisa terjadi dengan kemajuan teknologi. Teknologi memungkinkan kita mengambil sumber-sumber bahan standar pakaian secara massif, baik eksklusif dari alam maupun melalui proses budidaya. Teknologi jua memungkinkan percampuran serat alam dan serat sintetis sehingga lebih poly pakaian dapat dihasilkan dalam ketika yg sama. Lebih banyak sandang didapatkan berarti ketersediaan pakaian makin melimpah. Sayangnya, kelimpahan pakaian ini jua membawa sejumlah konsekuensi.

Di satu sisi, ketersediaan pakaian yang melimpah adalah sesuatu yg cantik dan patut disyukuri. Di sisi lain, ada problem distribusi. Penggunaan sandang tadi belum merata dinikmati seluruh orang di seluruh global. Saat ini, terdapat sekelompok mini orang mungkin mempunyai sandang jauh lebih menurut cukup berdasarkan yang beliau butuhkan. Sementara sisanya ada yg belum memiliki sandang yang layak. Sementara sebagian dari kita dapat membeli pakaian menggunakan harga yg nisbi murah, sebagian lainnya harus membelinya menggunakan harga yg jauh lebih mahal.

Koleksi sandang: cita-cita atau kebutuhan?

Implikasi lain menurut produksi pakaian yang melimpah adalah pendayagunaan asal daya yang semakin massif buat mencari & atau membudidayakan bahan sandang tadi. Untuk beberapa jenis sumberdaya yg dapat diperbarui, keberlanjutan eksploitasi sumberdaya dibatasi oleh batas daya dukungnya. Eksploitasi sumberdaya yg berlebihan mengakibatkan ambang batas daya dukung semakin lama semakin menurun. Ini berarti ketersediaan sumber daya bahan standar pakaian semakin berkurang dari hari ke hari. Kemampuan alam buat menyediakan bahan baku penghasil sandang pun semakin menurun.

Konsekuensi lain berdasarkan konsumsi pakaian yg berlebih merupakan adanya limbah sandang. Limbah sandang yg ada perlu diolah sedemikian rupa sehingga nir mencemari bumi. Sayangnya hal ini belum terjadi secara maksimal . Banyak sekali limbah pakaian yang belum dapat terolah di loka sampah. Bahkan sebagian limbah sandang yg dibuang sebetulnya merupakan sandang yg masih layak gunakan. Belum lagi limbah kemasan yg digunakan buat membungkus sandang-pakaian tadi. Berapa banyak kantong plastik, kertas, perekat yg akhirnya dibuang sesudah produk yang kita beli kita buka kemasannya.

KAIL mengadakan bazaar barang bekas setiap tahunnya. Salah satu barangnya adalah pakaian bekas layak gunakan yang kami peroleh menurut sumbangan dari banyak sekali pihak. Selama empat kali menyelenggarakan bazaar, kami kerap menemukan bahwa pemiliknya pun belum sempat menggunakannya. Jadi labelnya masih tergantung misalnya baru, meskipun statusnya barang bekas.

Suasana stand sandang bekas pada bazaar Kail: kesempatan menerima sandang layak gunakan menggunakan harga super murah.

Saat ini, kecukupan pakaian ternyata baru dapat dinikmati oleh segelintir orang. Lalu bagaimana menggunakan mereka yang biasa saja? Yang penghasilannya pas-pasan. Yang hanya sanggup membeli sandang baru hanya apabila baju yang sudah terdapat sebelumnya sudah rusak/sobek? Atau kalaupun telah sobek masih diupayakan buat ditambal-tambal juga. Adakah hal-hal yang Mengganggu kita mengambil keputusan yang lebih berkelanjutan terkait pakaian? Jika ada, apa sajakah itu?

Berikut ini adalah sejumlah masalah yg mungkin merusak kita buat menentukan konsumsi sandang lebih berkelanjutan:

1. Pengaruh iklan

2. Terdorong membeli baju baru karena bonus.

3. Memperbanyak kombinasi sandang.

4. Hadiah berdasarkan teman atau saudara.

5. Sayang kalau tidak dibeli lantaran modelnya rupawan.

6. Memperbanyak koleksi.

7. Adanya asumsi bahwa hidup yg lebih keren adalah yg acapkali gonta ganti rona dan contoh pakaian.

Keseluruhannya menyebabkan jumlah produksi & konsumsi sandang semakin tinggi dari waktu ke saat. Persoalan-persoalan tersebut sulit diselesaikan karena kultur yg terdapat saat ini mendorong semakin poly konsumsi sumberdaya. Nilai yg diajarkan adalah: semakin poly konsumsi sumberdaya berarti semakin keren. Padahal sebaliknyalah yg terjadi, semakin boros sumberdaya, semakin poly masalah misalnya yg dijabarkan di atas.

Bagaimana caranya membarui situasi tadi?

  1. Menghidupi nilai “keren” adalah hidup yang berkecukupan, bukan berlebihan.
  2. Tidak mudah terpengaruh dengan tawaran-tawaran dari luar untuk mengkonsumsi pakaian yang tidak dibutuhkan.
  3. Memiliki kemampuan untuk secara tajam melihat apakah hal itu merupakan kebutuhan atau keinginan.
  4. Mengabaikan konsumsi yang didasarkan pada keinginan semata, dan bukan kebutuhan.
  5. Mengajak kawan menyadari persoalan-persoalan di atas dan menyelesaikannya mulai dari diri sendiri.

Baju bonus: peluang atau godaan?

Untuk dapat melakukan keempat hal di atas, kita perlu dapat bertahan hayati dan merasa oke meskipun menggunakan jumlah pakaian yang lebih sedikit. Berikut ini adalah beberapa saran supaya permanen ?Keren? Meskipun dengan sandang yang lebih sedikit.

  1. Mampu memilih jenis, corak dan tekstur pakaian yang dapat digunakan dalam waktu lama.
  2. Mampu membuat kombinasi baru dari beberapa komponen pakaian yang ada (kemampuan untuk memadupadankan pakaian-pakaian yang ada).
  3. Menguasai teknik pemeliharaan pakaian sehingga awet digunakan dalam waktu yang lama.
  4. Mampu mengolah limbah pakaian menjadi sesuatu yang berguna.
  5. Mampu memperbaiki pakaian yang rusak sedikit sehingga tetap masih dapat digunakan.
  6. Menggunakan pakaian bekas yang layak pakai, ketimbang membeli baju yang baru.
  7. Tetap percaya diri meskipun menggunakan baju yang itu-itu saja atau pun menggunakan baju bekas.

Bagaimana kalau kita sudah terlanjur punya pakaian super banyak tetapi sebetulnya tidak pernah kita gunakan secara maksimal?

1. Menyumbangkan sebagian sandang yang kita miliki, terutama buat sandang-pakaian yg sebetulnya jarang atau bahkan nir pernah kita gunakan.

Dua. Buat batasan buat mengurangi & bahkan berhenti membeli sandang baru. Misalnya dengan menetapkan kondisi pembelian sandang baru. Misalnya, nir membeli pakaian baru sebelum ada pakaian lama yang rusak.

Tiga. Memberitahukan kawan dan sahabat yg tak jarang memberi hadiah agar tidak menaruh hibah pada bentuk sandang. Apalagi pakaian baru yg berkemasan, yang akhirnya menimbulkan sampah.

4. Mengorganisir penggunaan sandang beserta supaya pemanfaatan & umur pakainya lebih lama . Misalnya buat jenis pakaian yang durasi pemakaiannya pendek, misalnya sandang bayi atau anak-anak balita. Setelah digunakan oleh anak yang satu, sandang tersebut dapat diwariskan pada anak yang lain dan seterusnya. Jadi pakaian beredar secara bergantian buat mereka yang membutuhkan.

Misalnya buat jenis pakaian yg durasi pemakaiannya pendek, misalnya pakaian bayi atau anak-anak balita. Setelah digunakan oleh anak yang satu, sandang tadi dapat diwariskan kepada anak yang lain & seterusnya. Jadi pakaian tersebar secara bergantian buat mereka yang membutuhkan.

Demikianlah beberapa persoalan seputar konsumsi sandang zaman kini & beberapa cara lain penyelesaiannya. Semoga bermanfaat!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *