[PIKIR] BELAJAR DARI WEELEWO, SUMBA
By: Date: September 15, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Umbu Justin

A querencia is a place the bull naturally wants to go to in the ring, a preferred locality… It is a place which develops in the course of the fight where the bull makes his home. It does not usually show at once, but develops in his brain as the fight goes on. In this place he feels that he has his back against the wall and in his querencia he is inestimably more dangerous and almost impossible to kill.”

-Ernest Hemingway, Death in the Afternoon

Umbu Robaka

Ketika para arsitek muda dari Construye Identidad Peru, melakukan survei arsitektur di kampung adat Weelewo, Sumba, mereka mengajukan pertanyaan biasa kepada wali adat Marapu,  Rato Umbu Robaka: “Apakah dianggap penting anak-anak diajarkan kecakapan membangun rumah?” Rato tersebut menujuk ke langit, pada bintang-bintang yang menaungi Weelewo, “Jalan terdekat!”serunya.

Construye Identidad adalah kelompok aktivis-arsitektur yang pergi ke sejumlah negara sepanjang lintasan lintang khatulistiwa untuk membawa pesan keberlanjutan kepada dunia. Mereka belajar kebijaksanaan berkelanjutan yang dijalankan oleh masyarakat lokal tradisional.  Di Weelewo mereka tinggal dan belajar hidup bersama warga kampung tersebut sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan hidup dan seni membangun rumah.

Para arsitek tadi menangkap beberapa hal yang sukar dipahami terutama masalah gender, porto pernikahan yang sangat mahal, paham ketuhanan yang tidak menunjuk pada entitas personal & jua hubungan korelasi dalam kampung yg ternyata bersumber pada satu garis keturunan bersama. Namun yang paling sulit dipahami pada waktu pertama kali diungkapkan merupakan jawaban Rato Umbu Robaka mengenai pewarisan keahlian menciptakan kepada generasi muda.

Membangun Rumah sebagai Jalan Terdekat

Umbu Robaka merupakan penjaga warisan Marapu, keyakinan suci setiap orang Sumba tentang alam semesta, hayati, & aplikasi diri insan serta ‘Tuhan’ pemilik segala sesuatu. Marapu bukan kepercayaan . Itu lebih mirip sebuah visi kosmologis yang bersifat mistis, dimana inspirasi ketuhanan bukan merupakan faktor sentral meskipun pada sana-sini ada relatif tanda spiritual tentang pengakuan adanya relasi transenden antara insan dan roh yg sangat kudus darinya segala sesuatu memancar menjadi kehidupan.

Jawaban Umbu Robaka pada Construye Identidad tentang kecakapan membangun berasal dari visi kosmologis Marapu tersebut. Umbu itu ‘master builder’ ahli membangun rumah sumba.

Membangun rumah Sumba dimulai dengan menemukan empat tiang utama. Para Rato, pemuka adat,  masuk ke dalam hutan larangan dan meminta kesediaan pohon-pohon tua untuk menginisiasi kehidupan di kampung. Pohon-pohon tua yang telah memikul tugas mengikat air dari langit, memberi rumah pada burung-burung, binatang-binatang kecil, keteduhan bagi tetumbuhan muda di dasar hutan. Dengan tarian dan lantunan syair, batang pohon ditarik menuju kampung untuk menjadi peneduh kehidupan baru. Master builder,  Umbu Robaka akan memilih sejumlah tukang untuk mengukir keempat tiang utama tersebut dan sesudah itu dengan upacara meriah seisi kampung dan anggota suku dari rumah tersebut akan mendirikanmya dan melanjutkan penyelesaian rumah tersebut.

Rumah Sumba melambangkan roh Marapu, berupa orangtua penuh kebaikan yang memangku anak-anaknya. Figur anthropomorphicdari rumah Sumba tergambar dari kesepadanan antara bagian-bagian bangunan dengan wujud tubuh manusia. Atap teduh dengan menara menjulang mengambarkan tubuh yang dihiasi dengan kepala berikat kain destar yang sekaligus mewakili daya feminin dan maskulin. Rangka atap melambangkan rusuk dan tali-tali hutan yang mengikatnya melambangkan otot. Tiang-tiang utama melambangkan tumpuan ke atas tanah, kaki yang kokoh, sekaligus membawakan pesan kehadiran penghuni rumah, anak lelaki dan menantu perempuan di depan, serta ayah dan ibu di belakang mereka. Di ruang tengah antara keempat tiang utama terdapat perapian yang senantiasa bernyala, menyebarkan kehangatan dan membumbungkan asap untuk memuliakan peti suci di atasnya. Peti suci itu berisi hasil panenan serta ari-ari dari setiap keturunan keluarga suku tersebut.

Daya simbolik yg dinyatakan sang tempat tinggal Sumba sebagai lengkap saat keluarga berkumpul di lebih kurang perapian dan makan bersama. Di sinilah Marapu, yakni daya kehidupan berlangsung dalam keseharian yg sahaja.

Membangun rumah dengan demikian merupakan tindakan hakiki manusia yang melekat pada semesta raya. Manusia tidak berdiri mengambang pada lanskap lingkungannya melainkan melekat dan hidup darinya. Marapu adalah ikatan yang dihayati sedemikian itu. Rumah adalah pernyataan paling kuat dari hakikat manusia, berdiri ditopang oleh alam, oleh kehidupan yang maha luas yang melingkupi sebuah keluarga dan setiap individu. Dengan membangun rumah, manusia percaya pada daya topang kehidupan dari lanskap tersebut, bahwa di tanah tersebut ia akan hidup dan bertahan dan tidak terkalahkan. Membangun rumah adalah tindakan penuh keyakinan, menjadi penerus daya hidup, energi manusia, daya tumbuh batang-batang pohon di hutan, api upacara dan api rejeki makanan sehari-hari, peti suci yang bergantung di tengah di antara keempat tiang utama. Semuanya adalah satu kehidupan yang disebut Marapu. Itulah pernyataan kepercayaan pada sebidang tanah, ketika manusia yang berjuang keras mau menaruh hidupnya serta keberlanjutannya pada sebidang tanah pilihan. Persis seperti seekor banteng di tengah arena menemukan querencia-nya dan di situ ia akan bertahan dan tak terkalahkan.

Rumah Sumba dengan demikian adalah sebuah cerita tentang manusia yang mempercayakan hidupnya pada Marapu, daya hidup semesta. Kecakapan membangun, pengetahuan, penghayatan relasi eksistensial antara manusia dengan lanskapnya, dengan alam mahaluas, tindakan berumah itu sendiri, semuanya  menjawab pertanyaan kita tentang Jalan Terdekat dari Umbu Robaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *