[PIKIR] MAKNA FILOSOFIS RUMAH ADAT PANGGUNG DI BESIKAMA
By: Date: September 16, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Eventus Ombri Kaho

Desain tempat tinggal pada era terbaru mengalami suatu perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu terjadi karena banyak sekali macam alasan atas situasi yang terjadi pada warga atau syarat. Kondisi rakyat tadi meliputi syarat geografis, historisitas & juga syarat sosial. Sang arsitek waktu ingin mendesain sebuah bangunan yg layak dianggap menjadi tempat tinggal, tentu perlu pertimbangan yang matang di pada proses perencanaannya. Arsitektur sebuah bangunan tentu menerima perhatian yang sangat lebih. Sebab setiap bentukan arsitektur selalu diawali dengan adanya aktivitas insan yg menjadi penggerak lahirnya wadah aktivitas tadi. Hubungan antara satu kegiatan menggunakan aktivitas lainnya, atau antara satu kelompok aktivitas menggunakan kelompok aktivitas lainnya terstruktur dalam satu organisasi ruang atau tatanan ruang.

Dalam kajian teori arsitektur, terdapat tiga aspek utama yang selalu ada dalam komposisi arsitektur yakni bentuk, fungsi dan makna. Pengertian makna (meaning) dalam Merriam-Webster (1999) menunjukkan bahwa makna selalu terkait dengan perasaan/emosi manusia dan pertumbuhan pengalaman manusia. Meaning –The layers of emotional feelings that one has experienced and the significance they attach to it. Implication of a hidden or special significance.” Ketika berbicara mengenai makna, maka manusia tidak pernah mendapatkan dalam kesadarannya sesuatu yang tidak bermakna dan dirujuk di luar dirinya. Pikiran manusia selalu membubuhkan makna pada apapun yang diberikan kepadanya; menjadikan makna sebagai kebutuhannya, sehingga makna menjadi bagian fundamental dan imanen bagi perkembangan kemanusiaannya.

Dalam arsitektur, makna diekspresikan melalui media spasial, temporal & fisikal. Makna berhubungan dengan interpretasi terhadap fungsi dan bentuk arsitektur, tetapi hubungan makna dan bentuk arsitektur juga dipengaruhi oleh berbagai aspek yg berada di luar arsitektur. Meskipun manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan adaptasi sangat tinggi, namun persepsinya tentang lingkungan fisik juga ditentukan oleh hal-hal yg telah dikenalnya termasuk nilai-nilai agama yg diyakininya. Makna pada arsitektur seakan merupakan segenap pesan yg terkandung pada dalam tatanannya. Dalam tatanan arsitektur tadi terdapat sejumlah makna yg dapat diklasifkasikan ke pada dua gerombolan . Pertama, adalah makna yg inheren pada bentuk arsitekturnya tanpa perlu interpretasi menurut insan pengamat atau penggunanya (makna konkrit). Kelompok kedua merupakan sejumlah makna yg terkait erat menggunakan pemikiran manusia, baik yang dibubuhkan dalam tatanan arsitektur oleh perancangnya juga makna yang lahir berdasarkan pengalaman penggunanya.

Pentingnya peran kekuatan lokal di tengah perkembangan global, seperti dikemukakan Naisbitt dalam bukunya ‘Global paradox’ (1994), juga menjadi perhatian pengamat di bidang arsitektur. Sebagai sebuah artefak, arsitektur adalah produk budaya yang berkembang melalui proses dalam waktu panjang, sesuai dengan konteks dan nilai-nilai lokal yang dianut masyarakat setempat. Hal ini juga berlaku bagi orang-orang Besikama (salah satu suku di Timor, terutama di kabupaten Malaka). Bangunan yang dirancang oleh orang-orang suku di Besikama tersebut memiliki suatu keunikan tersendiri. Uniknya rumah-rumah tersebut karena sangat kaya akan simbol. Simbol-simbol tersebut tentu memiliki nilai dan maknanya tersendiri. Bahkan bagi mereka, rumah tidak sekedar sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai pusat aktivitas spiritual dan rutinitas kemanusiaan. Sebab rumah itu dibangun dengan ritual dan berharap menjadi tempat berdiamnya para leluhur dan Allah yang dalam bahasa Tetun, disebut Maromak.

Orang Timor pada umumnya menyebut rumah sebagai Uma, baik itu yang mencakup rumah dalam artian sebagai tempat tinggal atau juga merujuk pada tempat mempersembahkan bahan persembahan kepada para leluhur. Istilah Uma berasal dari bahasa Tetun (bahasa yang digunakan oleh orang Timor pada umumnya) dan istilah ini merupakan istilah umum untuk menyebut rumah. Istilah ini pun mengacu kepada bentuk fisik bangunan sebagai tempat tinggal manusia agar mereka dapat terlindungi dari ketidaknyamanan hidup yang disebabkan oleh kepanasan terik matahari atau udara yang  sangat dingin dan musibah-musibah alam serta ancaman-ancaman yang membahayakan hidup mereka. IstilahUma bermakna sebagai sebuah tempat tinggal yang biasanya disebutUma Tur Fatin dan sebuah tempat tinggal yang biasanya dihuni oleh sebuah keluarga rumah tangga atau yang disebut dengan istilahUma Kain.

Rangka-rangka bangunanuma ini biasanya terbuat dari kayu-kayu balok, bambu betung yang besar dan atapnya dari alang-alang dan gaun gewang. Bangunan umaini biasanya mempunyai dua pintu, sebuah menghadap ke arah matahari terbit yang disebut,oda matan lor, dan pintu yang lain menghadap ke arah matahari terbenam yang disebut,oda matan rae. Ternyata tidak sesederhana itu, orang Timor memiliki makna khusus mengenai tata letak tersebut,Oda matan lor yang diperuntukkan bagi tamu dan kaum laki-laki harus menghadap ke sebelah Timur atau sebelah matahari terbit karena jurusan ini dianggap sebagai posisi yang membawa keberuntungan, kesejahteraan material, kehidupan, kebaikan dan prospek yang cerah dalam hidup sebagaimana sang surya yang mulai menyinari bumi dengan sinarnya yang terang benderang dan terik panasnya.

Oda matan rae yang diperuntukkan khusus bagi anggota-anggota rumah tangga dan kaum perempuan pada umumnya biasanya menghadap ke arah Barat ke jurusan terbenamnya matahari sebagai pintu yang melambangkan waktu senja dari kehidupan seseorang di dunia ini. Keadaan ini adalah saat-saat ketika seseorang berhadapan dengan banyak kesulitan, penyakit, kesengsaraan, kesepian dalam hidupnya dan pada akhirnya meninggal dunia. Atap rumah biasanya hampir menyentuh tanah maka bagian dalam rumah itu gelap gulita tetapi sejuk rasanya. Suasana gelap dan sejuk melambangkan bahwa manusia itu lahir dari satu dunia yang suci dan penuh ketenangan (sejuk).

Uma tersebut pun memiliki tiga tingkat panggung. Panggung yang pertama adalah dijadikan sebagai tempat bersosialisasi, tingkat yang kedua untuk tamu, dan tingkat yang ketiga adalah untuk keluarga dan tingkat yang keempat untuk persembahan atau sesajen. Masing-masing tingkatan memiliki arti yang sangat mendalam, yakni tingkat pertama adalah bumi sebagai tempat lahirnya setiap ciptaan Allah. Tingkat kedua sebagai tempat tinggal atau tempat berdiamnya para leluhur, tingkat ketiga sebagai alam kebebasan manusia untuk memilih yang baik dan yang benar antara surga dan neraka, serta tingkat keempat sebagai pertemuan kudus dengan Allah.

Banyak ahli yang  berpendapat bahwa tempat-tempat sakral mendukung terjadinya makna, dan menyediakan konteks untuk aktivitas religius. Makna tempat ini muncul karena unsur penggunaan, sedangkan keberadaan tempat itu sendiri membantu menstrukturkan hubungan sosial dan aktivitas religius. Makna dalam arsitektur seakan adalah segenap pesan yang terkandung di dalam tatanannya. Dalam tatanan arsitektur tersebut terdapat sejumlah makna yang dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Pertama, adalah makna yang melekat pada bentuk arsitekturnya tanpa perlu interpretasi dari manusia pengamat atau penggunanya (makna konkrit). Kelompok kedua adalah sejumlah makna yang terkait erat dengan pemikiran manusia, baik yang dibubuhkan pada tatanan arsitektur oleh perancangnya maupun makna yang lahir dari pengalaman penggunanya. Makna yang dibubuhkan perancang pada arsitektur Umaatau makna yang dimunculkan oleh pemerhati arsitektur Uma, merupakan makna teoritis yang terbentuk melalui perencanaan sesuai prinsip-prinsip tatanan dan bahkan teori arsitektur religi. Sedangkan makna yang lahir dari pengguna adalah makna aktual yang terbentuk melalui pengalaman langsungnya baik melalui proses penginderaan maupun interpretasi pengalamannya. Makna teoretis yang digagas perancang, tidak selalu sama dengan makna yang dirasakan atau dialami oleh penggunanya.

Terlepas dari semua makna yang terkandung di dalamnya, sebuah Umamemiliki permasalahannya sendiri, yakni (1) rawan terjadi kebakaran. Sebab hampir 99% bahan yang digunakan untuk membangun rumah sangat cepat untuk dihabisi oleh si jago merah alias api. Lalu, (2) desain yang kurang sistematis dan (3) cepat rusak. Alasan cepat rusak tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor spiritual, jika yang menghuni rumah tersebut tidak mengetahui ritual-ritual yang perlu dilakukan sebelum dan sesudah Uma  tersebut dibangun. Karena alasan-alasan tersebut, akhirnya banyak orang Timor tidak lagi ingin membuat Uma  dengan tipe seperti penjelasan di atas.  Namun beberapa aktivis masih mempelajari bentuk desain dari rumah tersebut untuk dimodifikasi tanpa harus mengubah esensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *