[PROFIL] ORGANISASI DAN KOMUNITAS PEMERHATI ISU PAPAN
By: Date: September 17, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Fransiska Damarratri

Lebih dari 7 milyar insan hidup di ruang-ruang bumi ini. Dalam ruang-ruang hayati tersebut, manusia hidup beserta membangun rumah-rumah buat bermukim & semua pendukung kehidupan mereka. Manusia pun memenuhi kebutuhan hayati dengan banyak sekali upaya kebudayaan, termasuk melalui teknologi, pada antara tegangan antar pihak dan batasan daya dukung alam.

Masalah-perkara, wacana, dan upaya penyelesaian pun muncul. Manusia lantas berkumpul buat mengusahakan ruang hayati yang lebih baik. Usaha-usaha kolektif itulah yang tidak sporadis menjadi arus-arus pergerakan sosial.

Tak terkecuali di Indonesia, wacana-wacana tentang isu ruang hidup juga digerakkan oleh berbagai kelompok. Kelompok-kelompok ini cukup beragam, dari yang berbasis gerakan warga, sosial kebudayaan, keprofesian, akademik, hingga komunitas anak muda. Kali ini Pro:aktif Online mencoba mencuplik profil 4 organisasi dan komunitas  yang peduli terhadap isu papan di Indonesia.

1.      Kolektif Agora (Bandung)

Melihat ruang kosong akan literasi mengenai perkotaan di Bandung, 3 anak muda menginisiasi sebuah program diskusi yang diberi nama Agora. Diskusi itu pun berkembang sebagai sebuah kolektivitas yang selain berdiskusi juga mengumpulkan pemikiran dalam bentuk tulisan, dan menyebarluaskannya pada media sosial. Kolektif Agora menjadi wadah pada mana info-info tentang perkotaan dibahas, lalu pembahasan tersebut dikumpulkan dan dikomunikasikan ke khalayak, terutama kaum belia kota.

Diskusir #8 Kolektif Agora menggunakan tajuk "Memungut Remah-remah Wacana Rumah" (Mei 2018, Sumber: Instagram @kolektifagora)

Pembahasan mengenai kota, dari Kolektif Agora, penting buat disebarluaskan lantaran rakyat kota perlu memahami kota menjadi sistem yg saling berkaitan satu sama lain. Agar rakyat kota yang masing-masing sudah memiliki kesadaran atau perhatian terhadap satu info tertentu, sebagai terbuka wawasannya atas keterkaitan majemuk isu kota secara keseluruhan. Di kota Bandung, sudah banyak upaya pemerintah buat menciptakan rakyat kota nyaman. Namun di luar itu, warga kota sendiri perlu mengulik hal-hal apa yg masih bisa terus diperbaiki.

Kolektif Agora memang lebih fokus pada proses literasi kaum belia. Harapannya, kaum belia bisa terinspirasi dan akhirnya berefleksi bahwa penyelesaian kasus kota nir bisa hanya mengandalkan satu-2 pihak saja yang menyediakan kebijakan & infrastruktur. Penyelesaian bersama wajib dimulai jua dari diri & lingkungan kaum muda.

Beberapa isu yang pernah dibahas di Kolektif Agora antara lain transportasi yang berkelanjutan, bangunan heritage, pangan, serta papan atau rumah. Salah satu tema yang akan digarap berikutnya adalah soal persampahan, yaitu bagaimana kota berinteraksi dan memproduksi sampahnya sendiri. Proses literasi di Agora pun mencoba menyentuh banyak sisi, mulai dari sisi psikologi hingga tataran abstrak seperti filsafat, hingga aspek teknis seperti kebijakan. Kolektif Agora memang menjadi wadah urun rembug dan diskusi, bukan sebuah kolektif yang sudah sedia dengan jawaban-jawaban akan sebuah isu.

Unggahan Kolektif Agora mengenai masalah perumahan di Instagram (Sumber: Instagram @kolektifagora)

Terkait isu papan di perkotaan, Agora pernah mengangkat beberapa tajuk seperti: “Kelak Rumah Jadi Tak Lumrah”. Kolektif Agora juga pernah membuat survey kecil dibantu oleh @rumahpertama.id tentang bayangan rumah ideal oleh generasi muda. Hasil survey tersebut menunjukkan harapan yang jika disandingkan dengan kondisi riil terpaut jarak yang jauh karena berbagai hal: keterbatasan lahan, harga lahan, dan pendapatan. Namun banyak alternatif yang bisa diperjuangkan di luar solusi top down dari pemerintah atau developer. Terutama jika melihat pembangunan properti kini lebih berpihak pada kaum atas.

Alternatif-alternatif yang muncul dari diskusi antara lain konsep rumah tumbuh, social housing atau hidup secara komunal. Lalu juga pemanfaatan ruang-ruang kecil yang bisa ditinggali. Diskusi juga menguak akan mitos-mitos bahwa rumah susun atau apartemen itu tidak lebih buruk dari pada rumah biasa (landed house). Akan tetapi perlu diperhatikan cara-cara bagaimana perumahan vertikal itu dibentuk dan dibangun. Pasca diskusi, juga muncul wacana tentang kampung di Indonesia, sebuah proses pembangunan yang terkadang diberi stigma negatif, namun sifatnya yang organik dan swadaya bisa menjadi penting bagi masa depan perumahan kita. Sedangkan pertanyaan ke depan yang perlu dijawab juga adalah isu papan bagi mereka yang lebih membutuhkan dibandingkan kaum muda atau kelas menengah.

***

Kolektif Agora berharap lebih banyak lagi orang mampu terlibat pada kegiatan-kegiatannya. Kolektif Agora membuka rubrik menulis untuk siapa saja yg tertarik. Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada blog & media umum.

Kunjungi Kolektif Agora

Email: kolektif.agora@gmail.com

Instagram: @kolektifagora

Medium: medium.com/kolektif-agora

Hubungi Kolektif Agora

Nayaka Angger: 0877-7797-7710

Naufal Rofi: 0857-6248-2052

2.      ASF-ID (Jakarta, Bandung, Malang, Semarang)

ASF-ID, Architecture Sans Fronti?Res Indonesia didirikan pada tahun 2015. ASF-ID sendiri merujuk dalam organisasi arsitektural non-profit Architectes Sans Fronti?Res (Arsitek tanpa Batas), yang didirikan pada 1979, dan hub internasionalnya, ASF-Int (2007), yg bertujuan buat memberi wawasan sosial pada arsitek, sarjana arsitektur, maupun mahasiswa lewat tentang juga aksi arsitektural. Kegiatan ASF-ID didasari sang kesukarelaan & kontribusi berdasarkan anggota juga simpatisan.

Dari grup yang bergiat pada seputar Jakarta & Bandung sejak tahun 2015, ASF-ID pun berkembang ke 2 kota yaitu Malang dan Semarang mulai kurang lebih tahun 2017. Pada 6 Mei 2017 pun diselenggarakan kegiatan Hari Relawan ASF-ID serentak pada 4 kota jaringan tadi. Lantas dalam lepas 30 September-1 Oktober 2017, diadakanlah Musyawarah yang mengumpulkan para perwakilan kota buat saling bertukar warta & berembuk tentang organisasi ke depan.

ASF-ID sendiri memiliki visi sebagai perkumpulan arsitek, akademisi, maupun profesional yang bekerja di akar rumput, bergiat untuk memfasilitasi komunitas maupun masyarakat yang membutuhkan pendampingan arsitektur maupun keswadayaan. Kegiatan ASF-ID pun beragam mulai dari kegiatan workshop, fasilitasi desain, diskusi wacana-wacana alternatif hingga pemetaan.

Warga Kampung Tongkol dan maket Rumah Contoh

Pada akhir 2015 hingga awal 2016, ASF-ID mendampingi pembangunan partisipatif rumah contoh di Kampung Tongkol, bantaran anak Sungai Ciliwung, Jakarta Utara. Rumah contoh dengan konsep co-housing ini merupakan salah satu hasil kerja bersama perbaikan kampung dengan Komunitas Anak Kali Ciliwung, Jaringan Rakyat Miskin Kota, Urban Poor Consortium, Universitas Indonesia dan berbagai pihak lainnya. Perbaikan kampung (kampung upgrading) tersebut adalah upaya warga Kampung Tongkol, Krapu dan Lodan yang tergabung dalam Komunitas Anak Kali Ciliwung untuk mengantisipasi penggusuran yang akan dilakukan pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Karya rumah contoh tersebut mendapatkan penghargaan dari jaringan ASF Award 2017: Social Construction of Habitat.

Rumah Contoh pada Kampung Tongkol, Anak Kali Ciliwung, Jakarta Utara

Gotong royong menciptakan rangka bambu buat atap

ASF-ID pula melaksanakan kegiatan seperti Pemetaan di Kampung Pasirluyu-Bandung, Lokakarya Perencanaan dan Konstruksi pada Desa Jengger-Malang, Pembangunan Jembatan Bambu pada Solo, dan pembangunan PAUD Nur Hikmat pada Tasikmalaya.

Selain itu, ASF-ID juga mengadakan kegiatan yang memantik wacana-wacana alternatif. Contoh kegiatan yang pernah dilaksanakan adalah Workshop Konstruksi Bambu, Pemutaran Film Dokumenter Chile Barrio, Pemutaran Film The Pruitt-Igoe Myth: An Urban Historydi berbagai kota, Diskusi “Arsitektur Partisipatoris: (di mana) Arsitektur, (siapa) Arsitek, dan (apa) Keindahan?”, serta banyak lagi diskusi dan kuliah umum lainnya di berbagai kota.

Acara nonton bareng dan diskusi film The Pruitt-Igoe Myth di ITB, Bandung

Terbuka kesempatan bagi siapa saja yg tertarik bergabung menggunakan ASF-ID, baik menjadi relawan juga donatur. Untuk menilik aktivitas-kegiatan terbaru ASF-ID silakan mengunjungi media sosial yg tercantum berikut.

Kunjungi ASF-ID

Website: http://asf.or.id

Meniti Batas: http://blog.asf.or.id

Page: http://facebook.com/asfindonesia

Hubungi ASF-ID

jakarta@asf.Or.Id

bandung@asf.Or.Id

malang@asf.Or.Id

semarang@asf.Or.Id

3.      Praksis – Studio Perencanaan Partisipatif dan Kajian Pembangunan (Bandung)

Praksis adalah studio perencanaan partisipatif dan kajian pembangunan yang berbentuk yayasan, berkedudukan pada Bandung. Praksis mempunyai penekanan di tiga jenis kegiatan: pendampingan masyarakat, konsultasi kepada kawan-mitra yang membutuhkan, & riset aksi. Ada jua acara-acara lain seperti pembinaan & diskusi mengenai gosip-gosip partisipatif & pembangunan di warga .

Pertemuan lapangan Kelas Informal Praksis: presentasi hasil pemetaan dengan peserta dan masyarakat.

Yayasan Praksis didirikan oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi Arsitektur ITB pada tahun 1997. Pada masa itu, terutama pasca lengsernya Presiden Soeharto, salah satu isu utama yang dirasa para pendiri harus digarap adalah isu pemberdayaan masyarakat. Pendampingan pertama yang dilakukan adalah program pendampingan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Otto Iskandar Dinata, Bandung pada  1997-2000. Dilaksanakan program untuk membantu PKL agar bisa tetap berjualan tetapi tidak saling merugikan dengan pihak lain. Solusi yang dihasilkan berbentuk kesepakatan desain. Desain tersebut lalu diimplementasikan oleh para PKL. Akan tetapi, di periode pemerintahan yang selanjutnya PKL tetap digusur. Setelah tahun 2000-an, Praksis sempat mengalami kekosongan kegiatan sebelum mulai aktif lagi di 2010 hingga sekarang.

Nilai-nilai dasar yang diperjuangkan Praksis dalam kegiatannya adalah terbentuknya kesadaran manusia yang selaras antara diri sendiri, masyarakat luas dan alam. Pemetaan partisipatif dan kajian pembangunan secara prinsip adalah salah satu tools untuk membantu mengembangkan kesadaran manusia itu sendiri. Praksis percaya bahwa jika manusia sudah sadar dan bisa menyelaraskan antara diri, masyarakat dan alam, maka pembangunan yang baik pun bisa terjadi.

Salah satu penekanan program Praksis sekarang merupakan pendampingan pada wilayah RW 05, Kelurahan Cibangkong, Bandung. Program ini sedang dalam proses mengusahakan prototip sistem fakta berbasis data yg didapat menurut pemetaan partisipatif bersama masyarakat. Harapan berdasarkan acara ini adalah agar pembangunan yang dilakukan warga RW 05 sanggup sesuai menggunakan data-data riil di lapangan. Pembangunan tetap berjalan sinkron data lapangan, tidak bergantung pada pergantian periode pemerintahan atau rezim.

Pemetaan partisipatif bersama masyarakat RT 03/RW 05 Cibangkong, Kota Bandung

RW 05 Cibangkong sendiri merupakan daerah strategis yg terletak pada belakang daerah Trans Studio Mall. Wilayah memang sempat didesain ke dalam sebuah masterplan kawasan usaha. Tanah rakyat pun ditawar buat pembangunan apartemen & lainnya. Beberapa warga menjual tanahnya dengan harga yg cukup tinggi dan pindah ke lokasi lain. Namun mereka tetap bekerja pada wilayah Cibangkong, sebagai akibatnya mereka pulang-pergi setiap hari buat bekerja. Pada akhirnya, beberapa rakyat pun kembali ke Cibangkong & menyewa rumah.

Praksis memandang, rumah atau papan tidak mampu terpisah berdasarkan kehidupan insan. Rumah menjadi ruang itu sendiri terhubung dengan proses produksi ekonomi & sosial. Rumah wajib dicermati secara integral ke aspek-aspek lain pada kehidupan manusia. Salah satu kasus fundamental pada proses pembangunan sekarang adalah penekanan yg hanya melihat pada aspek fisik atau nilai tanah saja. Selain kasus ekonomi dan sosial, pembangunan juga wajib menyesuaikan asal-sumber daya alam yang ada.

Untuk berkontribusi di Praksis, siapa saja sanggup menghubungi hubungan atau akun sosial media yang tercantum. Praksis jua terbuka buat dikunjungi pada alamat kantor Jalan Tubagus IV no. Lima, Bandung. Kontribusi mampu berupa donasi, tenaga dan pikiran, ataupun sebagai pemberi saran & ilham. Terbuka jua kesempatan buat pemagang yang tertarik dengan info-info yang digarap.

Kunjungi Praksis

Facebook: Praksis Indonesia

Hubungi Praksis

Ahmad Syaiful: 0815-6035-164

Okie Fauzi Rachman: 0815-6353-3091

4.      Paguyuban Kalijawi (Yogyakarta)

Paguyuban Kalijawi merupakan perkumpulan kelompok-kelompok warga yang bermukim di bantaran sungai Gajah Wong dan Winongo, Yogyakarta. Sebelum Paguyuban Kalijawi terbentuk, terselenggara kegiatan pemetaan partisipatif oleh ArkomJogja di dua kampung bantaran sungai Winongo dan Gajah Wong. Dari kegiatan tersebut, terkumpul potensi serta permasalahan kampung yang diaudiensikan bersama kepada pemerintah. Masalah yang sama-sama dirasakan oleh warga bantaran antara lain: rumah tidak layak huni, status tanah informal, hingga masalah sanitasi dan sampah.

Akhirnya, masyarakat yg terkumpul bersepakat membangun Paguyuban Kalijawi mulai Juli 2012. Kini Paguyuban Kalijawi meliputi 21 gerombolan aktif di 14 kampung bantaran Sungai Winongo dan Gajah Wong. Paguyuban ini kini memiliki 7 divisi acara: permukiman, ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial-kemasyarakatan, advokasi-jaringan, dan kesekretariatan.

Kegiatan Paguyuban dimulai berdasarkan mengajak masyarakat bantaran sungai menuntaskan masalah yang urgen berdasarkan hasil pemetaan dengan cara menabung berkelompok. Masalah urgen tersebut adalah rumah yang nir layak huni. Warga yang tergabung lantas menciptakan grup berisikan 10 orang. Setiap orang mewakili satu famili, menyisihkan Rp 2.000 per hari. Sehingga pada 2 bulan terkumpul Rp 1.200.000 berdasarkan seluruh anggota.

Kelompok berkumpul buat melaksanakan pemetaan kasus dan potensi dan merencanakan aneka macam hal mengenai kampung.

Lalu dana tersebut bergulir setiap dua bulan sekali selama 20 bulan, ditambah dengan dana stimulan dari ArkomJogja, buat acara renovasi rumah. Para anggota kelompok pun memetakan prioritas pemugaran tempat tinggal , sebagai akibatnya dana tadi bisa bermanfaat dengan baik. Selain swadaya anggota, mereka pun mencari asal daya lain di luar Paguyuban Kalijawi. Dalam 10 bulan, terjadi renovasi buat 165 rumah. Di luar itu, ada 4 grup warga yang secara khusus menabung buat pemugaran talud sungai atau menciptakan balai masyarakat.

Setelah itu, grup tabungan tetap berjalan. Dana Pembangunan Komunitas yg terkumpul digulirkan pulang menggunakan peruntukan yang lebih luas selain permukiman misalnya untuk ekonomi, kesehatan, pendidikan, bahkan kebutuhan spesifik buat terbebas dari hutang menggunakan bunga tinggi.

Sementara program pemetaan permukiman tetap berkembang hingga kampung lain. Hasil pemetaan pun pernah mempengaruhi kebijakan pemerintah. Salah satunya ketika warga Pringgodani, Mrican di bantaran Sungai Gajah Wong dapat terbebas dari wacana penggusuran permukiman kumuh di tahun 2016 dengan konsep perencanaan Mundur, Munggah, Madep Kali (M3K) atau Mundur, Naik dan Menghadap Sungai.

Paguyuban Kalijawi & ArkomJogja mendapat kunjungan mahasiswa S2 Master of Human Rights and Democratization, FISIPOL UGM pada Kampung Tegal RT 38/RW 08, Pakuncen, Yogyakarta. (Maret 2018, Sumber: Instagram @paguyuban_kalijawi)

Tujuan akbar Paguyuban Kalijawi adalah hak bermukim. Hak bermukim yg dimaksud bukan berarti bangunan fisik rumah, namun lebih luas dan mendasar mencakup keamanan & kenyamanan bermukim, serta terwujudnya masyarakat yg harmonis, cerdas, dan sehat. Paguyuban Kalijawi mengupayakan harmonis famili, dengan alam & bernegara dalam acara-programnya.

Ke depan, Paguyuban Kalijawi mempunyai mimpi yang lebih akbar. Di antara perkara ketidakadilan kepemilikan tanah, harga tanah meroket tinggi, hingga program pemerintah yang susah diakses masyarakat informal, Paguyuban Kalijawi bermimpi akan keamanan bermukim. Di huma informal bantaran sungai, Paguyuban Kalijawi mencoba memenuhi kewajiban dan mengikuti regulasi agar tidak terjadi penggusuran. Cita-cita besar selanjutnya merupakan menabung beserta buat membeli huma komunal.

Semangat Paguyuban sangatlah besar untuk memetakan tanah potensial di pinggiran kota dan mencari skema dana di jaringan-jaringan seperti credit union. Dalam mimpi tinggal secara komunal, diharapkan terbangun permukiman yang layak huni, sehat, dengan masyarakat yang baik. Kepemilikan secara kolektif mendorong para pemilik lebih melindungi aset. Kasus penggadaian sertifikat hingga hilangnya aset kepemilikan tanah dapat dihindari.

Selain itu, Paguyuban Kalijawi juga mendorong anggota komunitasnya untuk belajar. Di antaranya pernah dilakukan lokakarya belajar acupressure hingga pembuatan jamu. Jika anggota Paguyuban menerima kenyataan paling pahit, yaitu tergusur dan kehilangan pekerjaan karena itu, anggota punya kemampuan untuk bisa bekerja mandiri dan memiliki perencanaan untuk menjadi ahli di bidang tertentu.

Paguyuban Kalijawi bekerja sama dengan Warga Pringgodani RW 08 menyelenggarakan Bakti Sosial memperingati Hari Habitat menggunakan tema: ‘Kesehatan cara lain adalah galat 1 cara cerdas rakyat Kalijawi pada mencapai terwujudnya pemukiman sehat nyaman & berkualitasdanquot; (8 Oktober 2017, Sumber: Instagram @paguyuban_kalijawi)

***

Paguyuban Kalijawi membuka kesempatan buat donasi pada siapa saja yg tertarik ingin berkegiatan maupun belajar bersama.

Kunjungi Paguyuban Kalijawi

Facebook: Paguyuban Kalijawi

Instagram: @paguyuban_kalijawi

Email: paguyubankalijawi@gmail.Com

Hubungi Paguyuban Kalijawi

Atik (Sekretaris): 0838-1610-5939

Ainun (Divisi Advokasi-Jaringan): 0818-0426-0626

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *