[MEDIA] RESENSI BUKU: HALAMAN RUMAH/ YARD
By: Date: September 19, 2018 Categories: Uncategorized

RESENSI BUKU: Halaman Rumah/Yard

Oleh: Kukuh Samudra

Judul                     : Halaman Rumah

Penyunting         : Anwar Jimpe Rahman

Penerbit              : Tanahindie Press

Halaman              : x + 183

Lima puluh tahun lalu di Karanganyar – sebuah kota kecil sebelah timur kota Solo – berukuran tempat tinggal lazimnya besar . Luas tanah bangunan 500 m2 belum mampu dikatakan luas, itu pun belum ditambah pekarangan atau kebun di belakang tempat tinggal .

Sekarang, menggunakan ukuran yang sama pada tempat yang sama, 500 m2 tanpa pekarangan sudah sanggup dianggap luas. Tidak perlu pekarangan, yg penting ada garasi.

Di kota Bandung berbeda lagi. Di kampung-kampung kota, mulai sering dijumpai rumah dengan ukuran lebih sempit. Pemiliknya pun tidak menganggap garasi atau pekarangan sebagai hal penting; pagar rumah langsung mepet dengan jalan.

Sisi lain dunia memiliki cerita yg tidak sinkron lagi. Hidup di ruangan 5×4 meter buat sekeluarga, melakukan aktivitas apapun di ruangan yang sama.

Cerita mengenai ruang mampu tidak sinkron pada aneka macam loka dan kebudayaan. Seperti yang disampaikan sang Koentjaraningrat, apa yang material (artefak kebudayaan) sesungguhnya adalah sublimasi menurut sistem sosial dan mental warga .

Dalam buku ?Halaman? Ini, sebuah lokus bernama halaman coba ?Diperbesar? Buat menerima penekanan yg lebih tajam.

Bermacam Narasi Mengenai Halaman

Terdapat 14 esai yang tertuang dalam buku ?Halaman Rumah?. Tidak seluruh tulisan secara spesifik membahas tentang laman tempat tinggal , meski masih ada sebuah bisnis buat membidiknya.

Esai pertama berjudul ?Di Kota Kita Meraya, Di Halaman Kita Berjaya? Ditulis Anwar Jimpe Rahman. Seperti dimaksudkan menjadi esai pembukaan, Anwar memperkenalkan definisi awal mengenai laman dan pekarangan yg menurutnya ?Setara dan sedaya?; dipahami menjadi tanah pada kurang lebih tempat tinggal . Tulisan ini mencoba mendedah laman dan pekarangan terkait poly konteks: filsafat, proses berkesenian, sosial, sampai permenungan yang transenden.

Selanjutnya kita akan disuguhi langsung tiga narasi mengenai 3 kampung di Makassar: Kampung Paropo, Kampung Rama, & Permukiman Jalan Sukaria. Ketiga tulisan ini secara garis besar membahas 3 kampung dari segi yg sama: sejarah & proses perubahan sosial akibat modernisasi. Sesekali narasi mengenai page coba diselipkan.

Esai-esai selanjutnya menghubungkan halaman dengan berbagai tema. Terdapat beberapa benang merah topik: tradisi, interaksi sosial, dan ruang hidup.

Kaitan antara tradisi dengan laman atau pekarangan tertuang pada esai ?Kesenian, Panggung, dan Halaman yg Tersisa pada Paropo? Serta esai ?Nam?A dan El?A bagi Orang Lewotala di Kepulauan Solor?.

Esai pertama berbicara tentang kesenian tradisional yang berlangsung di Paropo yg kerap berlangsung pada lapangan. Sementara esai yang disebutkan ke 2 menjabarkan kiprah tempat tinggal norma sebagai ruang publik tempat memperbincangkan & menyelenggarakan urusan publik-tata cara.

Halaman atau pekarangan sebagai ruang hidup dijabarkan sang dua esai menurut Saleh Abdullah dan Fitriani A Dalay. Esai berdasarkan Saleh Abdullah menggunakan tegas memposisikan "balik ke pekarangan menjadi upaya melawan budaya kota yg menurutnya sarat akan ketidakadilan & sudah ?Memutus solidaritas bersama menggunakan melahirkan insan-manusia kota yang impersonal?.

Melalui kegiatan menanam makanan sendiri pada pekarangan kita sudah berupaya buat mengurangi ketergantungan kita terhadap budaya kota. Dia memberikan tekanan bahwa pekarangan tidak sekadar berkaitan dengan kegiatan tanam-menanam, tetapi jua terkait dengan wilayah kedaulatan politis. Sehingga, menggarap lahan ?Menggunakan begitu mempunyai alasan eksistensial & politis sekaligus? (hal. 87).

Perincian yang baik ditulis oleh Fitriani A Dalay yang juga mengaitkan isu halaman/pekarangan dengan ruang hidup. Dengan pencatatan yang baik, diperoleh data dari seorang warga dari Desa Soga, Kabupaten Soppeng yang menghemat hingga 1,8 juta (dari total 2,7 juta) per bulan untuk kebutuhan pangan. Sayang pencatatan tersebut tidak mencantumkan luas lahan yang digunakan warga. Meski demikian, pemaparan rincian kebutuhan pokok dalam bentuk tabel sangat mengena dalam memberikan insight tentang pemenuhan kebutuhan secara mandiri.

Halaman rumah secara langsung juga menghipnotis hubungan dan perilaku insan. Halim HD & Askaria Putri memotret paradoksal perubahan interaksi & perilaku ini berdasarkan kenangan mereka akan masa lalu.

Halim membandingkan masa kecilnya saat pada Serang, Banten. Halaman rumah rakyat pada kampung ketika itu, tak ubahnya anjung dan mimbar. Tempat hubungan berbagai budaya berlangsung. Dari page tempat tinggal , Halim mengaku sanggup mengetahui secara eksklusif kesenian seperti Gambang Kromong, Keroncong, Wayang Golek, dan musik melayu. Sesuatu yang susah dijumpai saat ini, ketika tempat tinggal menjadi arena terutup yg cenderung mengisolasi anak terhadap pergaulan dengan kurang lebih.

Kenangan kehidupan kampung menggunakan laman juga dibeberkan sang Asri. Ketika hayati di Jogja, banyak sekali kegiatan bermain biasa dilakukan pada pekarangan/halaman. Sementara nasib tidak selaras wajib dialami anaknya yg bersama Asri tinggal di komplek perumahan tanpa ada tempat luas yg layak buat bermain.

Usaha Dokumentasi Ingatan Ruang

Tidak mudah memadukan empat belas esai dari orang-orang yg tidak selaras tentang topik yg sama. Konsistensi terhadap sebuah pandangan baru awal dan teori dasar, sebagai kendala dalam buku ini. Meski pada judul buku adalah ?Halaman Rumah?, esai pertama sebagai pembuka sudah memperluas cakupan buku sebagai ?Page? & ?Pekarangan?.

Esai-esai selanjutnya pun cenderung tidak konsisten terhadap tema ?Halaman? Tempat tinggal . Alih-alih sebuah pekarangan, ruang yang dimaksud dalam esai ?Kesenian, Panggung, & Halaman yang tersisa pada Paropo? Justru dengan gamblang menyebut kata ?Lapangan? Pada awal.

Apabila esai di awal menyebut inspirasi bahwa ?Laman? Dan ?Pekarangan sebagai setara & sedaya, esai paling akhir yang ditulis sang Yoshi Fajar Kresno Murti justru menyiratkan pemahaman yang antagonis.

Halaman tempat tinggal menjadi entitas ruang mungkin belum baku, atau memang percuma buat dibakukan. Sementara garis besar kitab ini terasa kental menggunakan nuansa romantisisme; ingatan akan kondisi rumah dengan halaman atau pekarangan luas yang leluasa.

Hal ini dibenturkan menggunakan perubahan sosial yang dialami masyarakat. Lahan yang menyempit lantaran kepadatan penduduk semakin tinggi atau lantaran prosedur pasar membuat rakyat lokal tidak berdaya untuk mempertahankan tanahnya.

Tetapi, yg terbentuk oleh puluhan atau mungkin ratusan tahun, nir ingin tinggal membisu. Tradisi sosial yg telah hayati di warga , nir serta merta meninggal. Buku ini mereka dengan baik hal tadi. Ibu-bunda yg memanfaatkan ruang buat pengajian, pelaku kesenian yang berpentas pada tanah lapang yg belum termanfaatkan, atau warga norma yg menyelesaikan masalahnya pada depan rumah norma.

Memang ada beberapa kekurangan dari buku ini. Soal koherensi maupun landasan teori. Namun, dalam konteks masyarakat yang ‘memiliki ingatan pendek’, buku ini adalah mata air. Anda pasti juga setuju setelah membaca buku ini ,bahwa dengan kata kunci semangat,  buku “Halaman Rumah” mengatasi kendala-kendala teknis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *