[EDITORIAL] PRO:AKTIF ONLINE NO 19/APRIL 2018
By: Date: September 21, 2018 Categories: Uncategorized

Salam transformasi,

Pro:aktif Online kembali hadir di tengah pembaca sekalian. Dalam edisi ini, mari kita refleksikan galat satu proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan.

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah pangan yang memberi asupan nutrisi dan energi untuk berkembang serta beraktivitas. Sebagai kebutuhan dasar, kebutuhan pangan harus dipenuhi oleh setiap manusia secara cukup, tidak berlebih dan tidak kekurangan. Jika manusia kekurangan atau kelebihan konsumsi pangan, maka kesehatannya akan terganggu. Manusia telah mengembangkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Berbagai kemajuan telah dicapai, baik dari sisi produksi pangan, maupun kualitas pengolahannya. Namun demikian, apakah cara-cara tersebut memberikan pengaruh yang baik pada kesehatan manusia dan kelestarian alam? Adakah dampak-dampak negatif dari sistem pangan yang ada sekarang? Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pangan yang sehat sekaligus ramah lingkungan?

Dengan tema ?Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Pangan yang Sehat & Ramah Lingkungan? Pro:aktif Online menghadirkan berbagai tulisan buat merefleksikan tema tersebut.

Berikut ini merupakan artikel-artikel yang ada pada dalam Proaktif Online edisi ini.

Rubrik PIKIR mengajak kita merenungkan pilihan pangan dan makna pangan dari dua sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, Angga Dwiartama merefleksikan pilihan pangan sebagai sebuah pilihan politik yang menubuh. Ketika satu pilihan diambil oleh pemilik tubuh, misalnya pilih junk food atau pangan sehat, maka seketika itu pula tubuh menyatakan haluan politiknya. Di sisi yang lain, Umbu Justin merefleksikan makna proses makan pada manusia yang sejatinya merupakan wujud dari interaksi manusia dengan alam. Orisinalitas proses makan kini banyak dikaburkan oleh ego manusia. Ketika ego manusia dimenangkan, makan dapat menjadi proses yang menginjak-nginjak pihak lain, termasuk alam itu sendiri.

Dalam rubrik MASALAH KITA, 2 penulis mengangkat bagaimana produksi dan konsumsi insan ketika ini telah berdampak pada kesehatan manusia dan keberlanjutan alam. Penulis pertama, Any Sulistyowati menceritakan secara singkat banyak sekali masalah pangan yg terjadi saat ini berdasarkan aspek produksi & konsumsi, baik di tingkat lokal & dunia. Sementara penulis kedua, Fransiska Damarratri memaparkan bagaimana efek tingginya kegiatan manusia pada atmosfer bumi dan bagaimana pola produksi dan konsumsi tersebut telah sebagai kekuatan geologis sendiri yang mengancam keberlanjutan alam.

Fictor Ferdinand pada rubrik OPINI menuliskan pendapatnya bahwa pemenuhan kebutuhan pangan berada di antara interaksi paternalistik antara pemerintah dengan masyarakat negara. Pemenuhan kebutuhan pangan warga negara dikondisikan menjadi tergantung pada program-program dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, pemerintah seharusnya tetapkan kebijakan-kebijakan yg menciptakan masyarakat negaranya berdikari dalam pemenuhan kebutuhan pangan mereka.

Dalam Rubrik TIPS, Any Sulistyowati memamparkan pilihan-pilihan upaya pemenuhan kebutuhan pangan yg sehat sekaligus ramah lingkungan. Jika semakin banyak orang mempraktekkan upaya-upaya ini, dibutuhkan akan terwujud sistem pangan yg sehat & ramah lingkungan, serta semakin poly orang mampu meningkatkan kualitas hayati mereka.

Navita K. Astuti menciptakan resensi kitab Gesang pada Lahan Gersang yang ditulis oleh Diah Widuretno pada rubrik MEDIA. Buku tadi memuat sepak terjang penulis beserta warga dampingannya di Desa Girimulya, Kabupaten Gunungkidul, pada pendidikan berbasis syarat sosial dan budaya masyarakat, termasuk pada dalamnya pendidikan seputar kemandirian pada pemenuhan kebutuhan pangan yang selaras alam.

Artikel rubrik JALAN-JALAN yang ditulis oleh Deta Ratna Kristanti menceritakan proses pelatihan para petani di Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur untuk mencapai desa yang berkedaulatan pangan. Kedaulatan tersebut dicapai melalui pertanian organik, kedaulatan benih dan kedaulatan lahan.

Rubrik PROFIL kali ini mengangkat dua aktor pembawa perubahan di sektor pangan, yaitu Warung Sehat 1000 Kebun dan Komunitas di Girimulya yang mempertahankan tradisi pangan lokal mereka dari masa ke masa. Kisah tentang aktor pertama ditulis oleh Vania Febriyantie dan Raden Galih Raditya, sementara kisah tentang aktor kedua ditulis oleh Diah Widuretno.

Artikel rubrik RUMAH KAIL, yg ditulis oleh Any Sulistyowati, memuat upaya KAIL buat memproduksi pangan pada kebun sendiri menggunakan metode permakultur. Kebun KAIL dijalankan menggunakan prinsip-prinsip pertanian selaras alam. Di kebun ini, pangan dihasilkan tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida. Hasil panennya lalu dipakai sebagai bahan makanan dalam kegiatan-kegiatan di KAIL.

Dari artikel-artikel tadi, kita bisa lebih memahami dilema pangan berdasarkan banyak sekali sudut pandang, mengenali beberapa tantangan utama, dan menemukan inspirasi-wangsit kreatif untuk penyelesaian persoalan pangan tadi. Kita pula bisa mengetahui beberapa aktor pada negeri ini yang sudah & sedang berjuang buat pangan sehat dan ramah lingkungan.

Mengingat usaha para pendahulu yg diperingati setiap bulan April, di antaranya: Hari Perlawanan Petani Sedunia (17 April), Hari Kartini (21 April) dan Hari Bumi (22 April), akan sangat sempurna kiranya apabila mulai saat ini kita menentukan untuk memulai perjuangan menurut diri sendiri ? Melalui pilihan-pilihan pangan kita, atau menciptakan komunitas buat berjuang bersama memenuhi kebutuhan pangan yang sehat & ramah lingkungan.

Navita Kristi Astuti

Penanggungjawab Pro:aktif Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *