[MASALAH KITA] SUKA DUKA MENJADI AKTIVIS LINGKUNGAN HIDUP
By: Date: September 22, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Ratna Ayu Wulandari

Menjadi seseorang yang bergerak di isu lingkungan memang tidak mudah. Awal masuk dunia perkuliahan belum terpikirkan nantinya akan menjadi apa. Sejalan dengan aktivitas perkuliahan,  muncul keinginan untuk bisa menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Terinspirasi ketika melihat  iklan di TV tentang dedikasi seorang wanita untuk mengajar di pedalaman hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Semenjak saat itu selalu tertarik untuk melihat hal-hal yang berbau  edukasi untuk anak-anak di pedalaman, sampai akhirnya terbuka peluang untuk melakukan  studi akhir melengkapi tuntutan agar bisa menyelesaikan kuliah. Saya memilih untuk mengambil penelitian mengenai pendidikan konservasi untuk masyarakat di sekitar TNBD.

Banyak hal baru yang bisa saya dapatkan, termasuk berkesempatan untuk mengenal lebih tentang masyarakat rimba atau suku Anak Dalam (begitu pemerintah kita menyebutnya). Selesai  kuliah dengan idealisme yang masih tinggi, saya lebih memilih untuk  bergabung dengan lembaga-lembaga  yang bergerak untuk edukasi dan masyarakat. Saya tertarik mempelajari kearifan tradisional yang ada dan telah berakar lama di masyarakat.

Sampai pada akhirnya,memilih bergabung dengan sebuah lembaga  yang bergerak untuk perlindungan hutan dan satwaliar. Bergabung menjadi tim edukasi dan sosialisasi ke masyarakat termasuk untuk anak-anak sekolah. Pengalaman berkeliling desa untuk sosialisasi program telah mengguratkan berbagai pengalaman suka dan duka, beserta tantangannya, namun hal itu justru terkadang menerbitkan rindu untuk kembali ke perkampungan di pedalaman Sumatera.

Foto beserta anak-anak suku Talang Mamak (Dokumen langsung)

Berhadapan dengan warga yang tidak semua menerima dengan baik apa yang kita kerjakan, bahkan ada yang menolak dengan mendatangi saya dan tim begitu tiba di desa. Tentu saja ada juga yang meminta untuk meninggalkan desa. Rasa panik, takut yang muncul sampai akhirnya proses komunikasi dan negosiasi dilakukan dengan warga dan dibantu Bapak Kepala Desa. Sebenarnya warga sangat terbuka dengan hal-hal yang berbau edukasi terutama untuk anak-anak, saya dan tim memang menitik beratkan pada edukasi anak. Warga sudah bosan dan jenuh dengan janji-janji yang tidak jelas, begitu ungkap Bapak Kepala Desa. Lokasi desa itu berada di titik terujung dari Taman Nasional yang waktu itu hanya bisa dilalui dengan mobil double gardan. Entah apa alasan dimasukkannya desa Melayu Tua ke dalam kawasan Taman Nasional, padahal mereka telah lama ada jauh sebelum penetapan kawasan Taman Nasional itu sendiri. Di desa ini terdapat kecemburuan yang sangat tinggi dengan desa tetangga terdekat yang berjarak sekitar 23 km karena desa tetangga memiliki kesempatan untuk memiliki aktivitas produksi yang bernilai ekonomi, sedangkan mereka sendiri hanya bisa bertani secara alami dengan tanaman karet. Ternyata dari apa yang kita bawa menjadi penentu bisa diterima di masyarakat, dan yang terpenting jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak jelas ke masyarakat.

Bergerak buat isu lingkungan, terutama yang berkaitan menggunakan konservasi hutan, banyak permasalahan kepentingan yang acapkali aku temukan pada lapangan. Gesekan antara warga dengan pemerintah atau sesama rakyat. Pemicunya jelas peningkatan ekonomi warga buat pemenuhan kebutuhan hayati, kecemburuan menggunakan perusahaan-perusahaan yang ?Tampaknya mendapatkan ijin pengelolaan hutan lebih mudah?. Tingkat kebutuhan yang tinggi itu yang membuahkan warga berani buat membuka hutan, memanfaatkan lahan negara bahkan hutan lindung buat sebagai area produksi. Tetapi tidak seluruh warga membuka hutan baru itu buat memenuhi kebutuhan primer, terkadang itu hanya sifat manusia yg nir pernah merasa puas & punya asa memilki lebih banyak dalam segala hal.

Upaya konservasi yg poly dilakukan sang lembaga-forum baik lokal juga internasional merupakan upaya buat mencegah kerusakan hutan yg hebat. Saya sadar secara langsung nir punya kuasa dan wewenang buat mampu berbuat lebih untuk kelestarian hutan, namun yakin apa yang saya lakukan ada manfaatnya.

Foto beserta anak-anak suku Talang Mamak (Dokumen langsung)

Sampai suatu saat  saya memutuskan untuk berhijrah ke bandung, sekitar 2,5 tahun yang lalu dan masih bertahan untuk bekerja mengangkat isu lingkungan. Semua yang kita lakukan mempunyai tantangan dan kendala tersendiri, tidak bisa kita bandingkan dengan tempat lain, semua lokasi mempunyai tingkat kebutuhan yang berbeda. Saat ini berhadapan dengan masyarakat perkotaan, tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial yang berbeda. Ini pengalaman baru, karena selama ini selalu berhadapan dengan masyarakat desa pinggiran hutan. Tingkat pendidikan dan ekonomi tinggi pun tidak menjadi jaminan kita mudah diterima masyarakat kalau apa yang kita kerjakan tidak bermanfaat.

Pernah merasakan beranjak buat warga pedalaman, pinggiran hutan, & perkotaan berakibat pengalaman hayati ini sangat berharga. Mungkin aku sendiri belum sanggup membawa efek besar menggunakan apa yg sudah aku lakukan.

Begitu banyak pengalaman hayati saya dapatkan, bertemu orang baru yang ternyata tidak seseram yang saya bayangkan, menyelidiki sesuatu yg baru yang tidak sama buat setiap lokasi yang saya datangi , menjadikan hambatan & tantangan sebagai motivasi buat terus maju dan bergerak.

Saya percaya dengan menyenangi pekerjaan dan menjadi bermanfaat bagi orang lain, pekerjaan yang berat pun akan terasa menjadi ringan,  dan  saya terus berusaha untuk melakukan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *