[RUMAH KAIL] KERAGAMAN DI KEBUN KAIL
By: Date: September 26, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : Any Sulistyowati

Dari tahun lalu KAIL telah berbagi halamannya sebagai sebuah kebun. Kebun tadi berisi beraneka ragam tumbuhan. Ada tanaman sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, bunga-bungaan dan banyak sekali pohon kayu. Kebun tersebut dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip Permakultur.

Beragam tumbuhan di kebun KAIL. Sumber foto : KAIL

Mengapa Permakultur?

Menurut wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Permaculture , permakultur adalah sebuah sistem pertanian yang memanfaatkan pola-pola dan bentuk-bentuk yang ada di alam. Pola-pola dan bentuk-bentuk ini kemudian diadaptasi untuk perancangan berbagai sistem yang dibutuhkan manusia, seperti pertanian, pembuatan bangunan, dan bahkan sistem ekonomi. Hasil akhir yang diharapkan dalam jangka panjang adalah sebuah sistem pertanian yang kompleks dengan produksi pangan dan materi yang tinggi tetapi dengan input yang minimal.

Sistem ini mula-mula dikembangkan oleh David Holmgren dan Bill Molisson sejak tahun 1978. Pada awalnya istilah permakultur mengacu pada permanen agrikultur (pertanian permanen), tetapi kemudian berkembang dan meluas menjadi permanen kultur, yang mencakup pula aspek sosial dan ekonomi.

Dalam permakultur digunakan pendekatan cara berpikir sistem yang menyeluruh ( https://permacultureprinciples.com/ ). Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan elemen-elemen, tetapi juga sangat menekankan pada hubungan antar elemen. Dengan pendekatan ini diharapkan akan dihasilkan sinergi, yaitu hasil keseluruhannya lebih besar daripada penjumlahan masing-masing bagian-bagian.

Sistem permakultur dikembangkan dengan menggunakan tiga prinsip utama, yaitu (1) peduli pada bumi/alam, (2) peduli pada sesama manusia, (3) pembagian keuntungan yang adil. Tiga prinsip utama ini kemudian diturunkan menjadi prinsip-prinsip perancangan permakultur yang lebih praktis, dalam bentuk strategi perancangan dan pengelolaan lahan. Strategi-strategi yang digunakan di dalam permakultur sangat bervariasi sesuai dengan kondisi alam dan budaya masing-masing. ( https://permacultureprinciples.com/ ).

Zonasi di kebun KAIL

Salah satu keunikan permakultur adalah adanya sistem zonasi. Sistem zonasi dibuat untuk memaksimalkan hasil dengan minimum upaya pengelolaan. Zonasi dibuat dengan nomor 0 sampai 5, yang didasarkan pada intensitas pengelolaan dan jaraknya dari rumah sebagai pusat pengelolaan permakultur. Semakin jauh dari rumah, semakin besar nomor zonasinya.

Rancangan awal pengembangan zonasi di kebun KAIL. Sumber foto : KAIL

Rumah & kebun KAIL berusaha menyebarkan sistem zonasi tersebut dengan cara sebagai berikut:

Zona 0, yaitu Rumah KAIL

Rumah KAIL dirancang dengan menggunakan sebanyak mungkin prinsip-prinsip selaras alam. Bahan kayu yang merupakan sumberdaya yang dapat diperbarui dipilih sebagai elemen desain utama rumah. Untuk meningkatkan nilai keberlanjutannya dipilih kayu-kayu bekas dari bongkaran rumah-rumah yang tidak terpakai. Untuk meminimalisir dampak pembuatan rumah terhadap alam, sumberdaya yang tidak diperbarui digunakan sesedikit mungkin. Penggunaan semen, pasir, besi dan bahan-bahan tambang lainnya diminimalisir. Penggunaan bahan-bahan tersebut terutama untuk memenuhi fungsi keamanan dari rumah yang sulit digantikan dengan bahan yang lain. Untuk komponen-komponen yang memungkinkan menggunakan bahan bekas, maka penggunaan bahan bekas lebih diutamakan daripada bahan yang baru. Keramik, kaca dan kloset yang ada di Rumah KAIL merupakan bahan-bahan bekas.  Rumah KAIL juga meminimalisir penggunaan energi dengan cara menggunakan banyak bukaan untuk mengurangi penggunaan listrik untuk penerangan dan AC.

Zon a  1 , yaitu bagian kebun yang terdekat dengan Rumah KAIL.

Di zona-zona ini ditanam berbagai tanaman yang paling membutuhkan perawatan intensif. Termasuk di dalamnya adalah aneka sayuran dan bumbu yang sering dimanfaatkan sebagai bagian dari konsumsi kegiatan-kegiatan di Rumah KAIL. Dalam bed-bed di zona ini terdapat rumah-rumah cacing untuk mengolah sisa-sisa makanan dari Rumah KAIL. Diharapkan tanah di sekitarnya akan menjadi gembur dan subur secara alami. Di dekat zona ini juga terdapat kolam ikan.

Menara cacing di bed kebun KAIL. Sumber foto : KAIL

Zona 2, yaitu zona yang berisi tanaman-tanaman tahunan yang membutuhkan perawatan yang tidak intensif, seperti berbagai jenis tanaman buah-buahan, sayur dan bumbu yang dipanen musiman. Di zona ini terdapat lubang-lubang kompos untuk memproses daun kering dan ranting-ranting yang gugur.

Zona 3, yaitu zona yang berisi berbagai tanaman yang kurang membutuhkan perawatan. Di zona ini mulai ditempatkan unggas, yaitu bebek yang menghasilkan telur untuk memenuhi sebagian kebutuhan protein di Rumah KAIL.

Zona 4, berisi berbagai  tanaman kayu yang menghasilkan stok kayu bakar dan bahan bangunan.

Zona 5 adalah zona liar yang dalam jangka panjang tidak memerlukan campur tangan manusia. Di Rumah KAIL, zona ini terletak di tebing dekat sungai. Dalam jangka panjang diharapkan zona ini berkembang secara alami dan tidak memerlukan perawatan sama sekali. Saat ini, kami masih melakukan intervensi berupa penanaman kayu dan perdu untuk mencegah longsor.

Di Rumah KAIL, batas-batas antar zona nir terlalu jelas terlihat. Hal ini disebabkan karena (1) ada jenis tanaman yang cocok ditempatkan pada lebih berdasarkan satu zona; & (2) luas huma Rumah KAIL yg relatif mini sehingga agak sulit dibuat batas zonasi yang tegas. Kami pula membuat integrasi antar zona dengan membuat jalan setapak yang dapat digunakan buat jalur lari atau jalan kaki. Ini jua menambah fungsi kebun menjadi loka rekreasi dan bermain anak-anak, pada samping fungsi utamanya menjadi asal pangan & materi.

Beragam tumbuhan di bed kebun KAIL bagian depan. Sumber foto : KAIL

Pengelolaan kebun KAIL

Sebelum melakukan perancangan, kami melakukan beberapa proses lokakarya untuk mendalami metode permakultur. Setelah itu, kami mengambil waktu untuk mengamati pola di alam dan di masyarakat. Dari proses tersebut, kami mencari inspirasi untuk perancangan kebun.

Pak Enjang, koordinator kebun KAIL panen kacang tanah. Sumber foto : KAIL

Di kebun KAIL, setiap staff dapat mengelola minimal satu bed. Bed adalah unit terkecil satuan ruang yang digunakan untuk bercocok tanam. Bentuk bed bisa bermacam-macam, sesuai ketersediaan lahan dan kreativitas pembuat. Kami dapat memilih lokasi, mengamati karakteristik lokasi tersebut dan memilih tanaman-tanaman yang cocok untuk ditanam di sana. Adakalanya sebuah bed mengalami pembongkaran berkali-kali. Biasanya hal ini terjadi karena kami salah memperkirakan karakteristik bed dengan kebutuhan tanaman. Akibatnya tanaman-tanaman tidak berkembang dengan baik atau mati. Kemudian kami memindahkan tanaman-tanaman tersebut ke bed lain yang lebih cocok serta menanam tanaman-tanaman baru yang lebih cocok ditanam di bed kami. Dari proses ini kami membuat perbaikan rancangan sehingga kualitas masing-masing bed semakin lama semakin baik, semakin permanen dan semakin berkurang kebutuhan perawatannya.

Pembuatan bed. Sumber foto : KAIL

Di Kebun KAIL kami menanam majemuk jenis tanaman . Selain untuk menerima majemuk output panen, hal ini pula kami lakukan buat mengurangi kerentanan terhadap serangan hama dan penyakit. Kami mengutamakan spesies-spesies lokal yg banyak di temukan di Jawa Barat. Kami mempunyai koleksi beraneka flora kayu yang asal dari hutan alam Indonesia, flora umbi-umbian, flora bumbu & sayuran yg berguna. Dari jenis-jenis tersebut, ada yg sudah kami ketahui cara pemanfaatannya, ada jua yg masih pada termin eksplorasi. Ada jua beberapa spesies asing yg kami tanam namun terbatas dalam jenis-jenis yang memang kami konsumsi buat keperluan pangan atau bumbu pada Rumah KAIL.

Rumah dan kebun KAIL juga menerapkan sebanyak mungkin siklus materi tertutup. Untuk itu kami menerapkan biodigester untuk toilet, yang hasilnya adalah biogas yang dapat digunakan untuk memasak, serta slurry yang dapat digunakan sebagai pupuk cair. Penggunaan biogas ini juga sejalan dengan semangat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Kegiatan anak-anak di tengah kebun KAIL. Sumber foto : KAIL

Kebun KAIL juga berkontribusi pada pengelolaan sampah organis pada Rumah KAIL. Semua sampah organis menurut Rumah KAIL disalurkan ke kebun, diantaranya buat pakan kelinci, marmut, pakan bebek, atau diurai di rumah cacing, bak kompos & biodigester. Hasilnya merupakan sumber nutrisi bagi kebun dalam bentuk pupuk sangkar, pupuk cair dan kompos.

Saat ini Kebun KAIL belum bisa membuat 100% bahan pangan yg kami butuhkan. Sebagian akbar masih dibeli dari pasar atau tetangga lebih kurang. Waktu panen pun sering tidak sinkron dengan jadwal kegiatan. Kami masih perlu memperbaiki penjadwalan dan mencari cara-cara pengolahan output panen sebagai akibatnya dapat dipakai dalam jangka panjang.

Lepas dari aneka macam dilema yang terdapat, kebun KAIL telah menaruh berbagai manfaat bagi kami seluruh. Selain menjadi sumber pangan yang sehat & ramah lingkungan, ada jua banyak sekali manfaat lainnya seperti: kenyamanan dan estetika, tempat buat melakukan aneka macam kegiatan pada luar ruangan, udara yang lebih segar & bersih, dan kesempatan buat menyalurkan kegemaran berkebun. Kebun KAIL juga sudah menjadi media buat menjalin silaturahmi dengan tetangga pada bentuk membuatkan hasil panen.

Demikian cerita singkat mengenai kebun KAIL. Jika tertarik buat menyelidiki prinsip permakultur atau bergabung sebagai relawan, silakan berkunjung ke Rumah KAIL.

Menikmati roti bakar di kebun KAIL. Sumber foto : KAIL

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *