[PROFIL] Perpustakaan Jalanan
By: Date: September 29, 2018 Categories: Uncategorized

Penulis: Senartogok

Masa mudaku berkisar pada perpindahan kata jalanan. Selepas dari Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan, aku terdampar di sepetak omong kosong lain bernama Perpustakaan Jalanan. Enam tahun silam, tak ada yang bisa diharapkan dari sekelompok orang menongkrong yang mengatasnamakan literasi dalam kegiatannya ini. Lagipula keikutsertaanku pada mereka berawal dari bergabungnya aku sebagai vokalis dalam band mereka yang juga angin-anginan. Ya, kelompok ini hanyalah personil dari grup punk rock setengah hati yang namanya juga buruk: Masturbasi Distorsi. Band yang lebih banyak menebar bualan dalam setiap terbitan tak berkalanya ketimbang membuat musik, mengisi panggung, atau promosi rilisan fisik yang sampai saat ini belum ada albumnya, kecuali demo versi lagu berkualitas murahan yang banyak disebar.

Sial? Tak sepenuhnya kurasa, karena berdasarkan sekawanan mini pemuda, jauh lebih banyak faedah waktu hal tersebut merupakan representasi sebuah upaya & daya atas kemarahan, pujian, kegenitan, kegelisahan, yang sebagai kehendak mereka. Saat itu, kami terpukau menggunakan kelompok Baader Meinhoff alias RAF yg bututnya pula kami telan mentah-mentah dari tayangan layar lebar. Meskipun tak radikal, kami menduga diri kami bisa mengubah keadaan; sesuatu yg banyak tersebar di dada kaum belia waktu menginjak usia 23 tahunan mereka. Tak banyak yg kami lakukan. Hanya gerilya mini , kekanak-kanakan, & bersifat sesaat, & paling lembutnya sekedar menghamparkan kitab di pinggiran kota.

Aku bukan orang pertama, akan tetapi keempat lain kawanku kala itu pastinya sepakat bahwasanya Perpustakaan Jalanan di awal sejarahnya hanyalah hasrat mendayu ketika buku dan semangat Iqra mengudara ke dalam keseharian. Ilustrasinya begini : apabila di perpustakaan umumnya, kita mesti diam dan tertib, tak bisa merokok, tak diperbolehkan membuat gaduh, tak bisa sebebas-enak-jidat-nya meminjam buku, hingga tak bisa pula menyeduh kopi sambil guling-guling di lantai seraya menikmati Kejahatan Dan Hukuman-nya Fyodor Dostoyevski, kami ingin menggantikan penertiban itu di jalanan bersama buku-buku.

Buku tak lagi ventilasi dunia, melainkan istana tidak megah tanpa gapura, sehingga siapapun mampu masuk, menjelajah, menempatkan ego juga harapannya, dalam sebaris kalimat, majas, metafor, & bongkahan kisah dalam sebuah bacaan. Maka tidak bisa disangkal lagi, Perpustakaan Jalanan hanyalah sebuah episode lama berdasarkan jutaan narasi yang membentuk kokohnya kota Bandung. Kami berlima, kadang berempat, kadang berdua, meski tidak selalu sendiri, selalu terdapat tukang cuanki, pejalan kaki, mungkin pencuri, mungkin pula peri. Singgah, bertandang & menikmati apa yg kami sajikan. Seperti gorengan yg terlalu dini matang, kami terlalu bangga menyampaikan ini arena juang. Setidaknya kami tidak ingin terlalu usang menatap jurang.

Tidaklah sulit, sebab kami semua merupakan dekaden yang hampir membusuk, mengoleksi buku bukannya batu akik. Ratusan buku kala itu tidaklah sukar mengumpulkannya. Dengan kain putih calon kafan pembungkus salah satu dari kami yang lebih dulu mati nanti, dengan spidol tegas, perlak sederhana, kantong plastik besar penggenap pepatah Sedia Payung Sebelum Hujan, kami menuju Taman Cikapayang. Menjejerkan buku, barisan novel cinta dan tak cinta, majalah Sabili hingga 100 Teknik Menjadi Orang Kaya”, atau zine-zine yang dicetak mandiri, kusam warna, font teramat kecil, hingga komik bergambar yang jauh lebih menarik hati ketimbang epos panjang filsafat Madilog karya Tan Malaka.

Siapa bilang poly yang bertandang, orang-orang berlalu lalang, banyaknya melenggang dengan alis mata melintang. Terlalu tak jarang pula, hanya kami berempat pada sana, ditemani sosok tuhan yang entah di mana. Lambat laun, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun mendapat giliran, umur Perpustakaan Jalanan ditambal jumlah mitra yang tiba. Dari lingkaran kami, jejaring, yang sempat patah hati pada banyak sekali komunitas dan klub budaya berserak, kami kian ramai. Kami belajar bahwa Perpustakaan ternyata bukan urusan membaca buku dan menggali ilmu saja, namun memperluas arena perkawanan, saluran curahan hati, sampai mulainya perdebatan, ketika-waktu kami mulai terpukau dengan yg mereka sebut sastra, walaupun kami lebih acapkali bersitegang urat mempersoalkan janggut siapa yang lebih panjang, Karl Marx atau Mikhail Bakunin.

Rupanya perjalanan ditandai menggunakan ratapan. Buku yg dipinjamkan poly yg hilang, kawan yang tiba poly yg tak tahu jalan pulang, dan kami mulai sok memahami, bahwa ini semacam gerakan literasi. Sebuah riak mini buat menghegemoni, mengutip Gramsci, sebuah tandingan yang seringnya menerima tendangan, dari kekerdilan, uang saku nan sulit disiasati, atau mimpi-mimpi melebarkan sayap walau menggunakan informasi kami tinggal tulang dan kentut saja. Sekelompok bajingan dari banyak sekali wilayah, mantan petinju, jurnalis angin-anginan, musisi tidak laku , artis gagal, jua nabi palsu, bergabung. Seperti diserang endemi, kami semua mulai dirundung sakit, homogen rindu, homogen kebersamaan & menginjak kudapan manis ulang tahun tak berlilin, nomor 3 tahun menandai, & saat itu, kami memecah sel-sel Perpustakaan Jalanan menjadi kegiatan yang tak lagi membaca. Kadangkala terdapat pameran karya, ekshibisi seni, pajang lukisan, jualan murah, lapakan tak rutin, sehingga kami menemui aroma-aroma baru yg memberi wangi sekaligus bau dalam sepak terjang kami.

Perpustakaan Jalanan adalah inisiatif majemuk pemuda yg berniat memindahkan kitab -buku ke jalanan supaya bisa dinikmati makhluk-makhluk yang berkeliaran di sana. Tak menutup kemungkinan ini semacam modus yg mengatasnamakan kolektif dan bersembunyi pada kembali jubah membaca untuk mencapai tujuannya: menciptakan global terpingkal-pingkal adanya.

Sepanjang perjalanannya, yang akan menginjak nomor 7 tahun tidak berapa usang lagi, Perpustakaan Jalanan tak ubahnya sebuah rutinitas mingguan. Dikarenakan keyakinan kami mengenai ke-jomblo-an sahabat-sahabat kami sudah sebagai wabah, dipilihlah Sabtu malam sekitar pukul 7 menggunakan catatan sudah makan & shalat maghrib, menjadi saat berkumpul, & mestilah pada Taman Cikapayang sempurna di depan alfabet ?D? Yg mengindikasikan kami merupakan Dinamit, lokasi dimana harus bersua. Terkadang kami berpikir, momen setiap malam minggu yg wajib berebut loka dengan klub motor atau nak-kanak sepeda/skateboard, adalah muara pelepas lelah. Kebanyakan berdasarkan kami, mungkin juga tamu, mungkin juga pengunjung yg intens tiba menemui kami, datang menurut kelas pekerja, buruh upahan, atau pegawai berpenghasilan pas-pas-an, yg lebih poly waktunya dikuras deadline kantor daripada berisitirahat. Saat bertemu inilah kami melepaskan semuanya, ada yg membawa kuliner, ada yang membawa judul-judul buku baru, terdapat yang memamerkan zine buatannya sendiri, ada juga yg menghiasi kami menggunakan formasi nasihat atau kelakarnya. Dengan begini Perpustakaan Jalanan bisa jadi sebuah camp mini tanpa tenda dimana rekreasi sebagai sajian utamanya.

Selama bertumbuhnya, Perpustakaan Jalanan telah poly berubah, wajahnya kini tak melulu dipulas kosmetik literasi, meskipun menggunakan sekuat tenaga kami akan terus bernaung pada bawah panji tersebut, tetapi jua bertransformasi menjadi sepetak ruang bertukar berita, ihwal, kabar, juga huma loka solidaritas, inisiatif, agenda; atau imajinasi digarap, menggunakan cangkul kegembiraan, atau menggunakan pupuk semangat yang bersumber dari bacaan kami, musik-musik yg kami dengarkan, film yg kami tonton, kabar perjuangan sosial yang kami serap, sampai gosip-isu receh yang bisa menelan petang hingga tak bersisa. Maka, kami menganggap, Perpustakaan Jalanan sudah bergerak berdasarkan fungsi perdana sebagai hubungan aksara menggunakan pembaca, menjadi hubungan manusia & kesehariannya. Kami terhubung, lebih tepatnya masing-masing kehidupan kami terkorelasikan, sebagai akibatnya sangat menarik buat tetap berkumpul, menuangkan aspirasi & tragisnya hari sesama mitra-mitra dan pengunjung kami.

Akhirnya kami mulai memberanikan diri mencetak pamflet, menggurat pena buat edisi zine kami, mengorganisasir pentas-pentas musik kecil, mulai berani ikut solidaritas, menjadi partner dan lingkar pada diskusi hingga sebagai pengisi acara ulang tahun kawan-kawan kami. Entahlah, cita rasanya kami memiliki global baru, dunia kerdil yg pantas dihidupi. Seakan takdir ini berkisar nikotin, bungkusan Kapal Api, dan sederet puisi-puisi Widji Thukul yg kami rengkuh sebelum kelam malam muncul. Sederhana & berlangsung terus sampai angka 6 tahun, dimana perayaan ulang tahun yang kami agendakan relatif memadati Taman Cikapayang. Semua itu rapat pada ingatanku, dan tak terasa 2016 tiba menghampiri, dengan segudang kecewa, sepeti harapan, aku mulai hanyut dalam keheningan, saat banyak badai & topan yang melanda di dalam dan di luar diri oleh Perpustakaan Jalanan.

Di titik ini, aku mengusap dada, meneriakkan sekali lagi sepenggal lirik Minor Threat .

I was early to finish, I was late to start

I might be an adult, but I’m a minor at heart

Go to college, be a man, what’s the f***ing deal?

It’s not how old I am, it’s how old I feel

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *