[Wawancara] Ketika Aktivis Perempuan Menjatuhkan Pilihan
By: Date: October 5, 2018 Categories: Uncategorized

Seseorang adalah sahabat bagi dirinya sendiri & karenanya ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri: beliau sendirilah yang menentukan segala sesuatu mengenai dirinya.

(Mahabaratha)

Ungkapan di atas, sejalan dengan sikap para aktivis wanita. Para aktivis wanita tampaknya sangat paham bahwa setiap langkah / keputusan yg diambil, lahir menurut diri mereka sendiri lantaran memang mereka yang menginginkannya & siap menggunakan segala konsekwensinya. Salah satu misalnya, perilaku mereka terhadap pernikahan dan mempunyai anak.

Para aktivis wanita menjatuhkan pilihan mereka. Ada sebagian aktivis wanita yg menentukan melajang dan sebagian lagi menentukan menikah / berkeluarga. Untuk kenyataan yang kedua, terbagi lagi atas 3 kelompok: terdapat yg menentukan menikah & meninggalkan aktivitas-kegiatan mereka sebelumnya, menentukan menikah namun memilih buat tidak memiliki anak dan menikah & mempunyai anak.

Tim redaksi berhasil menghubungi beberapa aktivis wanita & menyampaikan tentang pilihan yang mereka jalani.

Indrasari Tjandraningsih (Mbak Asih,Peneliti Bidang Perburuhan AKATIGA, Bandung)

Mbak Asih menikah & memiliki anak. Ia permanen beraktivitas sehabis menikah & memiliki anak. Sebagai seseorang peneliti bidang perburuhan & acapkali perjalanan ke luar kota atau luar negeri, Mbak Asih sering meninggalkan anak-anaknya. Anak-anak tinggal beserta suami dan pengasuh.

Mbak Asih memberikan pengertian pada anak-anaknya bahwa, seorang mak harus bekerja. Bukan buat kepentingan finansial semata, tetapi pula tentang ekspresi si bunda. Tetapi kerja itu macam-macam. Nah, diberi pengertian lagi ke anak, bahwa mak mereka peneliti & akan tak jarang meninggalkan kalian. Mbak Asih jua menyebutkan ke anak-anaknya bahwa waktu ia meninggalkan mereka itu bukan buat tamasya, tetapi bekerja. Intinya anak memahami kegiatan ibunya. Apa, kapan, pada mana dan bagaimana-nya.

Wardah Hafidz (Mbak Wardah,Koordinator UPLINK, Jakarta)

Seperti halnya Mbak Asih, Mbak Wardah menetapkan buat menikah. Namun, tidak sama menggunakan Mbak Asih, Mbak Wardah memutuskan buat tidak memiliki anak. Memutuskan pada sini memang sehabis melewati pemikiran & pertimbangan-pertimbangan.

Mbak Wardah berkata bahwa pada awal-awal pernikahan, dirinya dan suami memang ingin mempunyai anak. Tetapi, waktu semakin sibuk menggunakan aktivitas masing-masing, mereka pulang mempertanyakan hasrat mereka buat punya anak tadi. Apakah pada tengah kesibukan keduanya yang sedemikian padat, mereka mampu mengurus anak? Anak, menurut Mbak Wardah, selain menjadi hadiah atau anugrah jua merupakan amanah. Sebagai jujur, merawat dan mendidik anak itu wajib sebaik mungkin. Kalau sanggup malah seratus % saat & perhatian. Mbak Wardah dan suami tidak mau 1/2-1/2. Kembali melihat kesibukan keduanya, akhirnya mereka menetapkan buat tidak mempunyai anak. Perhatian & tenaga seratus persennya, dicurahkan ke aktivitas-aktivitas sosial.

Evelyn (Eppel), Bandung

Sebelum menikah, Eppel sempat aktif sebagai relawan di beberapa LSM. Kemudian, ketika “ada lamaran yang datang”, ia memutuskan menikah dan mempunyai anak. Pada awalnya, Eppel sempat mencoba tetap beraktivitas. Namun, ia merasakan bahwa ruang geraknya dalam beraktivitas jadi terbatas karena ada anak dan ia juga belum rela melepas perawatan anaknya ke orang lain (orang lain di sini bukan hanya pengasuh, tetapi juga anggota keluarga yang lain, seperti ayah ibu atau mertua). Hal ini karena ia ingin membesarkan anaknya dengan cara yang menurutnya terbaik, yang mungkin cara-caranya agak berbeda dengan orang lain. Misalnya dengan home-schooling.

Namun, Eppel membicarakan bahwa nir tertutup kemungkinan bahwa ia akan kembali beraktivitas, pada bidang apapun.

Dari ?Curhatan? 3 wanita aktivis di atas, tergambar bahwa ternyata nir terdapat keseragaman pilihan. Hal ini tentunya pula berlaku universal. Pilihan, akhirnya tetap sebagai dilema personal, masing-masing, berikut alasan-alasan dan konsekuensi-konsekuensinya. Dan yg terpenting merupakan apakah pilihan itu benar-benar merupakan pilihan bebas, sadar yang dapat dipertanggungjawabkan & bukan sekedar mengikuti tuntutan sosial semata (Tim Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *