[Opini] Absurdnya Ekonomi Uang
By: Date: October 7, 2018 Categories: Uncategorized

Banyak orang kini yang menyatakan bahwa kegilaan pada uang merupakan hidup yang realistis. Kita kini nir mampu hayati tanpa uang. Betulkah ? Apakah uang dapat kita makan atau mengobati kita dari penyakit ?

Bila anda terperangkap sendirian di sebuah pulau kosong pada tengah samudera luas, menggunakan segudang uang atau emas, apakah uang bisa membantu anda hayati ? Paling-paling uang kertas hanya menjadi kertas tissue, uang logam buat mainan anak-anak & emas nir lebih menurut sebuah batu. Kenyataannya yang benar adalah, kita tidak sanggup hayati tanpa makanan, tanpa air & tanpa udara.

Uang, nir memiliki nilai pada dirinya sendiri bagi insan. Uang hanya bernilai pada saat suatu komunitas menyepakatinya menjadi indera tukar. Ya, nilai uang merupakan murni output mufakat sosial.

Kegilaan pada penumpukan uang membawa kita pada situasi yang absurd.

Absurditas yang paling kuno adalah perburuan terhadap logam mulia[1], yang merupakan salah satu pendorong utama kolonialisme. Logam mulia menjadi bernilai karena digunakan sebagai sarana pertukaran, bukannya karena bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tentu kita ingat kisah-kisah perburuan emas di Amerika, begitu banyak orang yang telah menjadi korban dalam perburuan logam mulia yang absurd ini.

Kekacauan Penilaian

Di luar absurditas kuno itu, ekonomi berbasis uang ketika ini telah membangun kekacauan kemampuan kita melakukan evaluasi. Kegilaan kita buat menumpuk lebih banyak uang sudah membuat kita menghancurkan jutaan hektar hutan yg kaya akan kehidupan. Pertanyaannya, pada ketika seluruh hutan sudah rusak, uang yg kita kumpulkan akan kita pakai untuk apa ? Ini bukan problem ayam atau telur, lantaran jelas hutan, lahan yang fertile, sungai yg sehat jauh lebih bernilai menurut setumpuk uang kertas.

Saat ini barang-barang glamor, seperti perhiasan & kosmetik, dianggap lebih bernilai dibandingkan makanan yg sehat. Sebagian akbar dana buat penelitian farmasi dipakai untuk berbagi kosmetik & bukannya buat menyebarkan obat bagi penyakit yg mengancam nyawa seseorang seperti malaria atau kanker. Mana yang lebih krusial, nyawa seorang atau wajah putih yg bersih menurut jerawat ?

Penilaian kita terhadap suatu barang-barang glamor itu bukanlah nilai yg alami. Itu adalah nilai-nilai yang diciptakan melalui rekayasa persepsi yang sophisticated, menggunakan memanfaatkan semangat hedonis. Suatu strategi klasik para pedagang. Tujuannya tentu adalah buat memompa perdagangan, karena perdaganganlah sarana primer buat menumpuk uang.

Banyak pendukung ekonomi perdagangan & uang, yg versi canggihnya bernama Neoliberalisme atau pasar bebas dunia, menyatakan bahwa ekonomi neoliberalisme akan mendorong alokasi sumberdaya secara rasional. Tetapi, dalam kenyataannya nir demikian, kita justru mengalokasikan sumberdaya ke hal-hal yg tidak bermanfaat, bukannya kepada hal-hal yg fundamental bagi kehidupan kita.

Memperkaya Diri Dari Kelangkaan

Karena ekonomi uang dikembangkan buat kepentingan para pedagang, nalar pedagang sebagai berperan penting. Salah satu cara pedagang dalam merekayasa nilai barang merupakan menggunakan memanfaatkan kelangkaan. Ini versi yang lebih telanjang berdasarkan aturan penawaran-permintaan.

Kolonialisme berkembang keliru satunya buat mencari barang-barang yang langka. Walaupun barang langka itu nir terlalu bernilai bagi kehidupan, contohnya perhiasan atau bumbu masak, tetapi para pedagang memaksakan harga mahal buat barang itu menggunakan alasan bahwa itu barang langka.

Karena barang yang langka dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, nir sebagai masalah atau justru baik apabila kita mencemari sungai & Mengganggu hutan-hutan. Air higienis melimpah tidak ada harganya bagi perdagangan, tetapi apabila air higienis semakin langka, muncullah usaha dagang air. Tidak heran bila di tengah kerusakan alam sekarang ini, para investor mulai sibuk menyebarkan investasi di sektor air. Air yang langka sebagai bernilai pada ekonomi uang. Mungkin hal yg sama akan terjadi dalam udara bersih.

Contoh lain, hancurnya lahan hijau kota atau tercemarinya sungai dan pantai di dekat rumah kita, tidak menjadi persoalan bagi para pedagang. Bila alam di sekitar tempat kita rusak, semakin banyak orang yang harus menempuh perjalanan jauh untuk berwisata. Artinya, semakin berkembang pula bisnis wisata (tepatnya, perdagangan objek wisata). Demikian pula, tempat yang alami dan berudara bersih sekarang dijual sebagai lokasi real estate dengan harga mahal.

Dunia ini telah terkurung oleh logika pedagang. Karena itu, jangan heran jikalau kita begitu sulit memperoleh dana buat kegiatan pelestarian alam. Bila sumberdaya alam kembali berlimpah, habislah peluang berdagang.

Pendarahan Ekonomi Lokal

Para petani sekarang pun harus menjalani kehidupan yang absurd. Sebelumnya mereka menyimpan hasil panen untuk makanan mereka sendiri. Namun mereka diajarkan untuk menyimpan uang di bank. Akibatnya mereka harus menjual hasil panennya untuk mendapatkan uang, yang kemudian mereka belikan makanan.

Konversi suatu barang menjadi uang, dan membelinya balik , tidak akan pernah efisien. Untuk proses jual beli, kita harus membayar porto perdagangan dan para pedagangnya, yg umumnya mengambil untung besar . Akibatnya para petani sebenarnya merugi. Jumlah beras yg mampu kita beli tidak akan sama dengan jumlah beras yang sudah kita jual.

Bagi petani, atau desa pada mana petani tinggal, kentara ini merupakan ekonomi yang tidak efisien & hanya menguntungkan para pedagang. Banyak petani di wilayah-wilayah lumbung padi yg kelaparan karena tidak sanggup membeli makanan. Jelas ini cara yg janggal pada menjalankan ekonomi.

Ekonomi yang absurd dari sudut pandang lokal ini, sebenarnya terjadi karena pertanian dimanfaatkan untuk mendukung ekonomi perkotaan. Sekali lagi ini kepentingan kaum pedagang dan industrialis. Petani didorong untuk menjual makanannya ke kota , agar mereka memperoleh makanan tanpa harus menanamnya sendiri. Ini kebiasaan para investor yang ingin memperoleh sesuatu dengan ongkang-ongkang kaki[2].

Lebih jauh lagi, dengan banyak sekali cara, harga kuliner dipaksakan buat permanen rendah. Dengan demikian, biaya operasional aktivitas perdagangan & industri bisa ditekan. Sekali lagi, ini proses pengacauan penilaian.

Persoalannya menjadi lebih sulit saat orang-orang desa digoda sang kemewahan kehidupan perkotaan. Mereka membutuhkan uang buat membeli barang-barang mewah. Ini semakin mendorong petani atau suatu desa untuk menjual hasil buminya daripada menyimpannya untuk kebutuhan sendiri.

[1] yang kemudian dalam dunia modern digantikan oleh uang.

[2] Ini yang disebut oleh penulis buku “Rich Dad Poor Dad” sebagai ‘kebebasan finansial’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *