[Pikir] Pluralisme, Sekarang dan Esok
By: Date: October 10, 2018 Categories: Uncategorized

Dalam rubrik catatan pinggir Tempo edisi 6 Maret 1982, Goenawan Mohamad mengulas kisah Nathan karya Gotthold Lessing yg terbit tahun 1779 berjudul Nathan der Weise, yg setidaknya telah menaruh citra bahwa memiliki pandangan yang berbeda & penghargaan dalam keanekaragaman, merupakan perilaku yg penuh resiko.

Latar belakang dalam karya tersebut merupakan masa perang salib yg telah memasuki gelombang keempat, pada mana pertarungan antara mereka yg Nasrani & Islam, bahkan Yahudi masih terus berkobar.

Ada dialog yang menarik pada karya itu saat Saladin, Gubernur Yerusalem yg Islam dan populer berbudi, bertanya kepada Nathan yg Yahudi & populer bijak. Saladin menanyakan apa agama yang terbaik bagi Nathan. Pertanyaan itu tidak dijawab langsung oleh Nathan, akan tetapi melalui ibarat. Ia mengisahkan seorang ayah yg menyayangi ketiga puteranya & memberikan mereka masing-masing cincin yg sebentuk dan sebangun. Masalah timbul saat oleh ayah mati, lantaran ketiga putra tersebut berdebat dan berselisih mengenai cincin mana yang sejati. Itulah ibarat, terdapat cincin Yudaisme, ada cincin Nasrani, ada cincin Islam. Setiap cincin merupakan sejati, kata Nathan, sepanjang beliau menciptakan orang yg memakainya punya kemuliaan hati. Dan Saladin puas dengan amsal yg disampaikan Nathan tadi.

Ceritanya memang nir berakhir di situ, akan tetapi berdasarkan kisah tersebut Lessing telah menyampaikan pesan bahwa yg bijak merupakan yg nir mengukuhi bahwa pihaknya saja yang paling benar. Lessing setidaknya sudah mewakili mereka yg percaya pada pluralisme, walaupun beliau ditentang keras sang publik Jerman yg Protestan.

Pluralisme dewasa ini

Pandangan & penafsiran tentang pluralisme memang sangat beragam, ada yang memandangnya secara positif tapi nir sedikit yang memahaminya secara negatif. Pandangan negatif terhadap pluralisme, khususnya di Indonesia, seringkali disebabkan ketidakmampuan mengelola antara idealitas yg mereka miliki dengan empiris yang terdapat. Pluralisme mengandaikan pemahaman & kesadaran terhadap adanya keragaman kelas sosial, aliran politik, budaya, agama, ras, & sebagainya sebagai sesuatu yg niscaya dan alami. Dengan demikian, perjumpaan antara nilai-nilai yang tidak selaras dicermati menjadi sesuatu yg positif karena setiap nilai mempunyai kelebihan masing-masing.

Namun empiris yang plural & nilai-nilai yg tidak selaras tadi selama ini malah sebagai persoalan & dijadikan alasan banyak grup atau negara buat berkonflik. Permasalahan ?Kekal? Antara Israel dan Palestina, India menggunakan Pakistan, Barat menggunakan Timur, konflik di bekas Uni Soviet, sering dilatarbelakangi & diperuncing sang disparitas nilai-nilai yang dianut. Yang mencoba menjembatani malah diteror dan dibunuh, seperti yang dialami Gandhi dan Yasser Arafat.

Indonesia sebenarnya mampu sebagai medan percontohan bagaimana pluralisme itu tumbuh & hayati. Telah menjadi realitas historis, adanya keragaman budaya, agama, ras, bahasa, genre politik, & juga kelas sosial di Indonesia. Tetapi keragaman itu selama ini malah sebagai bahan bakar perseteruan sosial & politik. Apa yang terjadi pada Aceh, Papua, Maluku, & Poso, mengindikasikan bahwa pluralitas yg ada nir dipahami sebagai sesuatu yang positif. Untuk hal-hal yang lingkupnya lebih kecil sebenarnya perseteruan jua poly terjadi karena tidak adanya pemahaman & pula kesadaran terhadap pluralitas, misalnya perseteruan dalam keluarga, masyarakat kampung, organisasi politik atau organisasi massa, & sebagainya

Pandangan negatif terhadap pluralisme tumbuh fertile karena mereka mengukuhi bahwa nilai-nilai atau pihaknya saja yang paling benar dan seluruh yg tidak sama menggunakan mereka merupakan lawan & wajib dikalahkan. Mereka menduga pluralisme menyembunyikan kedok atas ketidakadilan selama ini & cenderung membenarkan semua hal.

Harapan ke depan

Realitas yg plural, nilai-nilai yang hidup yang menghargai terhadap keragaman & sejarah perjumpaan nilai-nilai yang beragam akan menjadi bekal yg cukup bagi perkembangan pluralisme pada global, khususnya pada negeri ini. Nilai-nilai yang menekankan penghargaan terhadap kelompok lain yg bersumber dari ajaran kepercayaan harus lebih dimunculkan dan dikembangkan daripada nilai-nilai yg bertentangan dengan itu. Misalnya dalam ajaran Islam, bisa kita jumpai Firman Allah maupun sabda Nabi yg menekankan bahwa perbedaan adalah Rahmat & dengan perbedaan itu seharusnya berakibat insan saling belajar dan saling kenal.

Sejarah pembentukan Republik ini pula mampu menjadi model sekaligus bekal bahwa disparitas suku, ras, agama, bahasa, genre politik, dan kelas sosial tidak menjadi penghalang bagi kehidupan bersama sebuah negara. Pendiri Republik ini telah memiliki pencerahan, pemahaman, & perilaku pluralis menggunakan menempatkan kepentingan beserta pada atas kepentingan golongan yg prosesnya dilalui menggunakan obrolan.

Jika pencerahan akan empiris yang plural tumbuh dan jua nilai-nilai yg mengedepankan keragaman dipegang, maka perilaku yg pluralis akan ada. Dengan begitu, setidaknya asa terhadap kehidupan dunia yang lebih baik, lebih toleran, tidak terdapat lagi luka & duka monoton, akan terwujud. (AU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *