[Jalan-jalan] Cerita dari Bali
By: Date: October 14, 2018 Categories: Uncategorized

Pertengahan desember 2004 lalu saya beserta 5 orang tim fasilitator KaIL menerima kesempatan terlibat dan memfasilitasi aktivitas Pertemuan Nasional (PeNas) Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) yang diselenggarakan pada loka galat satu anggotanya di Bali. Lokasinya di daerah wisata Pantai Sanur, lebih kurang 200 meter berdasarkan tepian pantai, relatif beberapa mnt saja saat yang diharapkan buat mencapainya.

Tema yang diangkat dalam rendezvous nasional kali ini merupakan Peran Pendidikan Lingkungan Hidup Dalam Realitas Kemiskinan dan Pertarunga Gender. Peserta yang hadir adalah utusan menurut kurang lebih 40 anggota JPL yang diseleksi berdasarkan semua anggota yang ada di semua Indonesia, baik atas nama forum ataupun perorangan. Selain itu ada poly pula undangan pada program ini, yg mempunyai latar belakang kegiatan sesuai menggunakan tema besar yang di angkat dalam PeNas.

Acara berlangsung pada tengah animo hujan yang kerap turun relatif deras pada sela-sela aktivitas. Tetapi permanen saja saya & beberapa fasilitator dari Bandung masih merasa kegerahan lantaran kami memang terbiasa menggunakan udara Bandung, walaupun belakangan ini suhu Bandung lebih panas dari umumnya.

Tuan rumah yg cekatan

PPLH Bali (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bali), itulah nama lembaga yg dianggap menjadi tuan rumah hajatan nasional JPL kali ini. Walau hanya dengan jumlah staff tidak lebih berdasarkan 10 orang namun tuan rumah ternyata punya cukup banyak relawan yang membantu hajatan ini, sehingga mereka nampak nir mengalami kesulitan pada mengorganisasi semua kegiatan.

Selain itu penyelenggara program ini terlihat sangat cekatan menangani segala macam urusan peserta, apalagi jika terkait akomodasi & pelayanan bagi peserta. Ini tentunya karena loka acara berlangsung ini sehari-harinya merupakan hotel dan penginapan yg dikelola oleh PPLH Bali, tak heran jika tuan tempat tinggal terlihat profesional pada urusan akomodasi peserta ini. Walaupun bila ditinjau berdasarkan namanya, hotel milik PPLH Bali yang diberi nama Hotel Santai, bukan berarti mereka memang kalem-kalem dalam mengelola acara ini.

Seminar di tengah tempat mangrove

Hari pertama rangkaian kegiatan PeNas ini dimulai dengan seminar sehari yg diselenggarakan di Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Centre) JICA Bali. Kompleks Pusat Informasi Mangrove ini berdiri cukup megah di tengah-tengah daerah hijau hutan mangrove yang rimbun dan terjaga. Kawasan yang sebagai loka penelitian dan sentra liputan mangrove ini tentunya pula mempunyai fungsi primer menjadi sabuk penyangga pesisir pantai dari pengikisan air bahari. Selain itu kawasan hutan mangrove ini sebagai loka hayati beberapa jenis burung bahari.

Memang jarak menurut penginapan ke lokasi itu relatif jauh bahkan wajib memakai bis buat mengangkut peserta sebanyak itu. Namun tuan rumah berhasil memberdayakan banyak potensi di Bali buat terlibat dan membantu terselenggaranya acara ini. Seperti halnya Pusat Informasi Mangrove JICA yg berdasarkan panitia sengaja dipinjamkan kepada PPLH Bali buat seminar, bis yang mengangkut seluruh peserta berdasarkan hotel menuju lokasi seminar pun merupakan pinjaman berdasarkan Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Bali. Jadi sekali lagi ini menerangkan bahwa panitia tidaklah kalem-santai seperti nama resmi hotelnya yg terpampang besar di depan page hotel. Karena tentunya semua bantuan itu diperoleh dengan proses lobby yang tidak mudah. Yang tak kalah menariknya merupakan beberapa pembicara pada seminar itu sengaja tiba menurut berbagai daerah pada luar Bali seperti Jawa dan Sulawesi, yg spesifik tiba buat membantu suksesnya hajatan ini, luar biasa.

Seminar ini merupakan awal rangkaian aktivitas Pertemuan Nasional yang mengupas informasi kemiskinan dan kaitannya menggunakan permasalahan lingkungan dan gender yg menjadi tema akbar rendezvous JPL. Isu dalam tema besar ini dikupas dengan relatif menarik oleh lima orang pembicara yang hadir, bahkan respon peserta terlihat sangat antusias. Karena gosip yang diangkat adalah isu yang cukup terkenal yang belum sepenuhnya digeluti sang anggota JPL. Tidak heran apabila cukup poly pertanyaan yang dilontarkan sang peserta dalam seminar ini buat memuaskan rasa penasaran mereka.

Dalam sesi terakhir peserta dibagi pada beberapa gerombolan mini buat menggali & merumuskan definisi kemiskinan dari pengalamannya masing-masing. Dari proses ini tergali relatif banyak dan majemuk rumusan definisi kemiskinan. Tentunya semua itu berasal berdasarkan pengalaman masing-masing peserta pada lapangan.

Misalnya menurut pendamping warga petani, kemiskinan bagi warga petani adalah ketika para petani nir lagi memiliki tanah buat pertanian & mereka hanya menjadi buruh tani saja tanpa memiliki tanah, & banyak definisi lain yg timbul dari beberapa peserta yg terlibat pada ekskavasi definisi itu dari bidang kegiatannya masing-masing. Seluruh rumusan mengenai definisi kemiskinan ini menjadi modal awal lokakarya yang dilaksanakan dalam hari-hari berikutnya.

Sore hari seusai seminar semua peserta mendapat kesempatan buat melihat-lihat tempat mangrove pada sekitar kompleks itu, sebelum lalu balik ke hotel loka program berikutnya dilangsungkan.

Metode Cara Berpikir Sistem dan Tantangannya.

Proses lokakarya yang dilakukan dalam 3 hari selanjutnya sebagai bagian yang sangat penting bagi KaIL lantaran tim ini terlibat penuh dalam fasilitasi proses buat mencapai target yang optimal, di mana diperlukan menurut lokakarya ini didapatkan tema-tema pendidikan lingkungan yang terkait menggunakan empiris kemiskinan dan ketimpangan gender.

Metode untuk membawakan materi dalam proses lokakarya ini sebenarnya biasa dibawakan dalam aktivitas training rutin KaIL, yaitu menggunakan Metode Cara Berpikir Sistem buat Menganalisa Konflik Sosial, Lingkungan dan Gender. Namun aktivitas kali ini sebagai jauh lebih menantang lantaran baru pertama kalinya bagi KaIL memfasilitasi aktivitas menggunakan metode cara berpikir sistem ini menggunakan jumlah peserta lebih dari 35 orang dengan usia & karakteristik peserta yang beragam, walaupun bidang garapnya sama yaitu pendidikan lingkungan.

Metode yg dipakai ini memang bukanlah metode yg ringan karena menuntut poly kesabaran dan ketekunan bahkan menuntut kita buat berpikir menggunakan alur nalar yang terstruktur yg dituangkan dalam peta konflik.

Selain itu metode cara berpikir sistem semacam ini masih sporadis diketahui apalagi diterapkan oleh banyak kalangan termasuk sang organisasi dari peserta lokakarya. Tetapi demikian peserta nampak sangat antusias mengikuti rangkaian proses ini. Walau terlihat wajah-paras yg kelelahan namun mereka tetap tekun dan sabar menggeluti proses ini. Tentunya mereka sadar supaya hasil yg diperoleh pada hajatan tiga tahunan ini bisa berguna optimal & output kerja mereka tidak manjadi percuma.

Salah satu tantangan berat lainnya bagi KaIL merupakan mengungkapkan berita gender pada peserta yg kebanyakan masih asing menggunakan istilah ?Gender?, baik dari bahasanya maupun menurut substansinya. Sepertinya bagi kebanyakan peserta yg hadir kata gender itu dipahami sebagai wanita & permasalahannya.

Untuk menaruh pemahaman & esensi istilah gender itu memang cukup memakan ketika. Apalagi apabila peserta yg dihadapi itu berdasarkan awal cenderung enggan memahas berita ini. Keengganan ini mengakibatkan peran gender hanya sedikit terangkat dan sedikit mempengaruhi setiap peta konflik yang dibentuk peserta. Memang masih sebagai tantangan berat bagi poly kalangan buat mangangkat dan menaruh pemahaman gender pada tengah kultur rakyat kita yang masih misalnya sekarang.

Hasil Yang Tidak Sia-Sia.

Secara holistik proses tiga hari lokakarya ini memang tidaklah sia-sia. Melalui kesabaran, saling mengembangkan pengalaman antar peserta serta ketekunan menggeluti sesi demi sesi, akhirnya peserta bisa menuntaskan semua tugasnya & tentunya sasaran yang direncanakan & diperlukan pun mampu tercapai. Terlepas menurut itu semua, poly kesan & pengalaman baru yg aku peroleh selama terlibat pada keseluruhan proses Pertemuan Nasional JPL. Tentunya karena dalam tim fasilitator KaIL ini saya sebagai salah satu fasilitator junior yg masih perlu banyak menambah pengalaman & jam terbang melalui kegiatan semacam ini.

Perasaan bahagia bukan hanya dirasakan sang peserta namun tentunya pula dirasakan sang tim fasilitator KaIL. Bayangkan, selama 3 hari menguras tenaga dan pikiran bahkan saat tidurpun selalu lewat tengah malam karena padatnya materi yang disampaikan setiap harinya.

Untuk mengobati rasa lelah sesudah merampungkan sesi demi sesi kegiatan, jalan-jalan di tepi pantai atau sekedar berendam pada kolam renang hotel menjadi pilihan yg pada gemari kebanyakan peserta. Pilihan jalan-jalan pada pantai pun tentunya berlaku pula bagi aku & tim fasilitator KaIL, tidak mengecewakan sekedar melepaskan rasa penat seharian di ruang lokakarya.

Terakhir dari Bali

Alokasi ketika selama 3 hari itu memang cukup padat sebagai akibatnya tidak ada kesempatan bagi kami buat sengaja jalan-jalan di pulau wisata ini, apalagi untuk belanja & mencari sang-sang spesial Bali. Tapi terdapat satu hal menarik yang sempat saya perhatikan selama pada sana, selain kawasan mangrove yg terpelihara kelestariannya, pada setiap daerah yang sempat saya perhatikan jua pada hampir setiap laman rumah, begitu poly pepohonan besar dan kondisinya terjaga. Serta begitu poly jua daerah-daerah yg hijau dengan ditumbuhi beragam tanaman dan tegakan pohon mulai berdasarkan yg kecil hingga yg akbar & berusia tua.

Ini mengindikasikan bahwa rakyat Bali begitu menghargai nilai-nilai kelestarian alam sekitarnya, dan kabarnya bukan hanya pada pohon saja mereka menaruh penghargaan, tapi juga dalam hewan yg ada pada sana. Sungguh luar biasa, satu konduite yang perlu kita model jika kita memang menghargai alam ini.

(Dedy Supriatna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *