[MASALAH KITA] Tulang rusuk yang hilang? Refleksi hidup bersama seorang aktivis
By: Date: October 15, 2018 Categories: Uncategorized

Kami, tidak pernah bercita-cita jadi aktivis, tapi melihat kondisi yang ada di sini, kami terpanggil untuk itu. Pada akhirnya, teman-teman jugalah yang menyandangkan gelar aktivis itu ke bahu kami”.

(Seorang aktivis mahasiswa, Bandung, 1999)

Kami baru menikah bulan Februari yang lalu, pada saat dunia merayakan hari kasih sayang. Sebuah perhelatan sederhana namun meriah di halaman rumah orangtua saya menandai mulainya status saya sebagai seorang istri. Namun tak hanya itu. Istri dari seorang aktivis. Usai hingar-bingar perhelatan, mulailah kami menapaki hidup. Kami tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota Solo yang uang mukanya saja (bukan kreditnya) dicicil 13 kali oleh suami saya. Maklum, namanya juga aktivis, walau sudah lulus S1 sejak 1994, mana bisa membayar uang muka sekian belas juta sekaligus. Rumah ini, ketika Bapak saya berkunjung, diberi sebutan mewah-mabur, artinya, mepet sawah, madhep kuburan (dekat sawah dan menghadap kuburan). Geli juga, tapi itu sebutan yang tepat.

Rumah mini ini tak jarang penuh dengan teman-sahabat yg acapkali berdiskusi & bahkan bermalam disana. Wah, kadang aku senang berandai-andai untuk menciptakan tempat tinggal ini jadi 2 lantai sebagai akibatnya terdapat privasi bagi kami. Setidaknya agar begitu anak kami lahir, tidak perlu saling mengganggu antara asap rokok menggunakan tangis bayi. Tapi, mengingat pekerjaan suami, cita rasanya juga butuh ketika usang buat mewujudkan virtual itu. Karena buat makan sehari-hari saja, tak jarang saya wajib lebih tak jarang memutar otak kiri (buat belanja) daripada otak kanan (buat meracik sajian) agar kebutuhan itu tercukupi. Sementara buat menghentikan aktivitas diskusi mereka, cita rasanya jua tidak mungkin. Karena itulah jadwal malam hari kalau suami saya ada pada tempat tinggal selama 10 hari pada sebulan. Yang 20 hari dia bagikan buat teman-sahabat di kota-kota lain pada seminar-seminar, ceramah, lokakarya atau lainnya.

Itulah pengalaman saya menikah dengan seorang aktivis. Mungkin delapan bulan terlalu cepat untuk mengatakan bahwa saya tidak terlalu mempermasalahkan aktivitasnya. Atau, siapa tahu memang persoalan yang lebih pelik belum datang menimpa kami. Tapi melihat diri saya yang juga ‘sempat’ menjadi aktivis sebelum menikah (dan masih ingin tetap menggeluti aktivitas sosial setelah menikah), saya melihat setidaknya ada pengalaman berbeda yang dialami oleh kawan saya, yang notabene bukan aktivis, menikah dengan seorang aktivis. Dia seorang wanita karir yang cukup mapan secara ekonomi, namun pada akhirnya dia kesulitan mengikuti gaya hidup suaminya yang kelewat sederhana (sementara dia sangat trendy dan modis!). Untuk membeli barang baru pun ia harus berdiskusi panjang atau mendapat ceramah dari suaminya itu.

Lalu, apakah lalu menikah menggunakan aktivis (baik itu akhirnya menjadi sepasang aktivis maupun satu aktivis dan satu bukan) menjadi penuh konsekuensi pada banyak sisi?

Apakah aktivis sosial itu? Apakah yang sebenarnya dia lakukan? Apakah menjadi aktivis merupakan ?Panggilan?? Atau sekedar gengsi-gengsian? Saya langsung mencatat, dari pergumulan saya menggunakan berbagai aktivitas sosial, aktivis ditinjau menjadi sebuah ?Simbol kepahlawanan? Di jaman ini. Ia muncul pada bentuk perlawanan, mulai menurut sekedar mengambil loka menjadi oposisi sampai yg sangat radikal sekalipun, terhadap ketidakadilan. Tetapi ironisnya, pula pada catatan aku , aktivis yang selalu sebagai tumpuan seluruh pekerjaan melawan ketidakadilan itu tidak pernah menerima apa-apa. Apakah ini kodrat sejatinya para aktivis sosial?

Aktivis Indonesia masih berkabung atas meninggalnya Munir, seorang pejuang HAM. Tetapi kematiannya masih menyisakan poly pertanyaan waktu orang mulai mengkaitkan peristiwa kematian ini menggunakan sejumlah aktivitas yang ia jalani sebelumnya menjadi pilihan hayati. Sampai ketika ini pun aneka macam media tak jarang diwarnai dengan aneka macam goresan pena tentang hilangnya aktivis buruh, penculikan dan penyiksaaan aktivis, teror & ancaman yang sedikit poly menyebutkan situasi yang dihadapi sang para aktivis tersebut.

Tetapi sebagaimana kutipan di awal goresan pena ini, seingkali sebagai aktivis itu bukanlah cita-cita semenjak awal. Menjadi aktivis, acapkali dimulai dari sebuah ?Keterjebakan?, atau ?Pencerahan? Yang melahirkan ?Panggilan?. Suami aku bercita-cita sebagai masinis (ketika masih mini ), insinyur teknik nuklir (sebelum kuliah) & bahkan seniman musik (waktu kuliah). Saya sendiri pula bercita-cita sebagai insinyur yang bekerja pada pertambangan minyak dan punya poly duit. Kini, tak satupun berdasarkan ?Impian? Kami itu tercapai.

Suami saya ?Tersadar? Pada bepergian hidupnya bahwa terdapat nilai yang lebih tinggi daripada sekedar sebagai insinyur teknik industri. Dia pun mengolah ?Panggilan? Itu (dan wajib rela berjarak menggunakan hobi musiknya) buat lalu memilih jalan hidup menjadi aktivis sosial dan seorang guru hingga kini . Saya sendiri ?Terjebak? Saat ingin mengenal dunia LSM lebih jauh. Bekerja menjadi peneliti di LSM, mau tidak mau saya dihadapkan dalam segunung warta akan ketidakadilan global ini. Menutup mata? Tak mungkin. Itu hanya akan menipu hati nurani saya sendiri, yang sebenarnya sudah tergerak sejak kuliah. Maka, ya telah, saya terima ?Keterjebakan? Itu, dan kini malah menghidupinya.

Secara umum aku temukan, baik ?Kesadaran? Maupun ?Keterjebakan? Yang kini diolah menjadi ?Panggilan hayati? Aktivis itu bersumber karena melihat kondisi ketidakadilan tadi merambat ke segala bidang. Dalam penelusuran data-data saat aku sebagai peneliti, ketidakadilan itu melanda bidang politik, ekonomi, agama, pendidikan, kesehatan, dan masih pada poly bidang hayati lain yg berkembang pada negara kita. Berikut ini hanya contoh berdasarkan apa yang bisa saya cerna secara terbatas: kepercayaan dijadikan institusi konfliktual, pendidikan hanya dimiliki anak-anak berduit, kesehatan hanya menjadi hak mereka yg beruang (betapa nir, hanya orang kaya yg bsia membayar dokter-dokter terbaik & mendapatkan perawatan kesehatan lantaran harga obat seringkali mencekik!). Itu baru sebagian. Belum lagi soal harga beras yg merugikan petani atau upah buruh yang demikian rendah.

Keprihatinan semacam ini baik secara intelektual, emosional dan bahkan dalam keseharian hidup, ditunjukkan dengan jelas oleh banyak aktivis. Menjadi aktivis tak bisa tidak harus ditunjukkan dalam sikap egaliter, demokratis dan partisipatoris, yang harus mereka hidupi. Karenanya tak heran jika sebutan aktivis itu dibarengi dengan gelar idealis. Kata idealis sendiri seharusnya berkonotasi baik. Cuma, pada tahap berikutnya, idealis diidentikkan dengan ‘mengambil pilihan untuk memperjuangkan cita-cita atau keyakinan, meski ganjarannya adalah kemiskinan, setumpuk masalah, penolakan, teror, dan ancaman’. Bahkan banyak aktivis kemudian melakukan ‘bunuh diri kelas’ untuk lebih dalam ‘mengalami’ penderitaan bagi yang didampingi dan meningkatkan solidaritas dalam perjuangannya.

Dari pengalaman aku dan suami saya, perdebatan panjang dan terkadang melelahkan pada membangun proyek-proyek perubahan sosial, acapkali melanda banyak aktivis termasuk kami. Apalagi, waktu teori yang dibicarakan dalam satu diskusi ke diskusi lainnya kadang nir relevan atau nir secara konkret mengurangi jutaan orang yg sekarang semakin mengalami keterpurukan hayati. Perjuangan ini tentu tidaklah gampang buat dijalani. Dan secara langsung, poly aktivis menerima penolakan baik dari orang terdekat maupun famili. Tidak poly orang mampu mengerti mengapa pilihan ini diambil & bukan pilihan yg lebih baik, lebih mapan atau setidaknya lebih nir beresiko.

Keluarga atau pasangan aktivis, dalam banyak hal, tentu saja akan sangat merasa keberatan untuk ‘terlibat’ di dalam aktivitas yang dirasakan menjadi demikian menuntut. Menjadi sebuah dilema tersendiri bagi banyak aktivis ketika mengalami hal seperti ini. Bahkan saya sendiri, yang cukup merasa dekat dengan pesoalan-persoalan sosial, terkadang masih merasa sulit untuk juga untuk ‘merestui’nya. Karena konsekuensinya adalah hilangnya waktu bersama, atau hilangnya kenyamanan-kenyamanan yang sepantasnya saya dapatkan kalau saja saya tidak lebih jauh mengingat bahwa hidup kami juga satu dari bagian yang sedang diperjuangkannya. Namun dalam renungan saya, mungkin ini adalah sesuatu yang ‘menyatukan’ saya dengan apa yang diperjuangkan oleh suami saya, sehingga apa yang kami alami dalam suka-duka hidup perkawinan tidak menjadi meaningless dan sia-sia.

Belajar menurut pengalaman langsung, berelasi menggunakan seorang aktivis memang tidak selalu gampang & menyenangkan. Relasi selalu akan menuju pada proses melahirkan pemahaman yg terus menerus dan integral mengenai perseteruan dunia kerja masing-masing selain, tentu saja, persoalan rekanan karakter interpersonal. Upaya buat sebagai pendorong perkembangan integritas dan mendukung setiap pengembangan kompetensi pasangan juga seharusnya sebagai sebuah keseimbangan dengan pengembangan hidup famili itu sendiri. Menjadi aktivis atau pasangan aktivis, aku konfiden, bukanlah sesuatu yg mudah jika kita ingin, nilai usaha itu nir sebagai surut. Sekali ini sebagai pilihan hayati, siaplah buat menyanding tongkat konsekuensinya sampai akhir.

Melihat bepergian saya bersama suami pada berkeluarga yg sebenarnya masih sangat pendek ini, aku telah acapkali bertanya: inikah jalan hayati saya seterusnya nanti? Benarkah saya ini ?Tulang rusuk yg hilang? Menurut suami saya yg merupakan seseorang aktivis? Benarkah dia orang yang tepat bagi aku ? Benarkah ini hidup berkeluarga yang aku mau? Mungkin hanya waktu yg bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, menyadari rumitnya ini seluruh, aku kini malah terdorong memberanikan diri punya hasrat baru: menulis novel. Ya, novel tentang hayati seorang aktivis. Ide yang mengagumkan, bukan?

***

Dominika Oktavira Arumdati

Program Koordinator (2002-2004) dan Mitra Peneliti (sejak 2004) pada The Business Watch Indonesia dan calon ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *