[PROFIL] Profil Ibu Menurut Aktivis Perempuan
By: Date: October 18, 2018 Categories: Uncategorized

Selama ini umumnya Konsep Ibu hanya melekat pada seorang perempuan, dan dikaitkan pada fungsi-fungsi tradisionalnya serta kemampuan mempunyai anaknya. Sharil Thurer dalam bukunya: The Myths of Moherhood (1994) memaparkan bagaimana budaya manusia telah mengintervensi konsep ibu yang baik/ideal ini, serta apa dampaknya bagi perempuan. Ada yang dimaknai dan didefinisikan oleh perempuan sendiri, tapi ada juga yang didefinisikan dan dikonstruksikan oleh mereka yang bukan perempuan untuk perempuan.

Bagaimana Konsep Ibu menurut aktivis perempuan yang juga sekaligus bunda? Bagaimana pada budaya waktu ini ibu-bunda, para aktivis kita ini mendefinisikan ke-ibu-an mereka? Apa yang mereka idealkan berdasarkan konsep ini? Berikut ini rangkuman wawancara Kail dengan tujuh orang aktivis yg jua mak dari Jaringan Mitra Perempuan.

Pratiwi: Siapa saja bisa dianggap mak , kalau dia punya rasa cinta, rasa sayang, open, punya kemampuan memelihara (roh, jiwa, badan), yg menggunakan sendirinya akan lembut, murah hati. Maka Keibuan dan Pengibuan tidak hanya inheren dalam perempuan (secara fisik), tapi pula bisa ada di pria. Kemampuan & fungsi buat memelihara dan merawat, yang sebagai sifat yg melekat pada mak , mampu pula dimiliki oleh pria, dimiliki sang mereka yg nir menikah & nir punya anak, tua juga muda. Ibu yang baik adalah mak yg memiliki cinta, yg bisa mengekspresikan cintanya dalam kehidupan konkret menggunakan perbuatan konkret dan menularkannya dengan memberi model berbuat baik dalam orang sekitar (menjadi panutan) dalam menyebarkan cinta.

Lim: Yang disebut mak nir harus merupakan ibu biologis, & nir harus mencurahkan afeksi hanya ke anaknya sendiri (relasinya tidak monopoli ke anaknya saja); dan nir wajib hadir pada sebuah "keluarga". Tapi lebih adalah relasi kasih sayang dan saling mengisi. Ini bisa dilakukan oleh baik oleh perempuan juga laki-laki , melampaui batas usia, & tidak wajib sudah pernah menikah. Panggilan "ibudanquot; jua mampu dilekatkan pada orang kita kita hormati dan karena itu kita rasa layak dipanggil sebagai mak . Keberhasilan sebagai seorang bunda merupakan jikalau berhasil mengantar anak kita buat menjadi orang, yaitu berdasarkan kualitas manusianya.

Yati: seorang ibu bertanggung jawab pada keluarganya, yg besarnya sama menggunakan suaminya. Yang kedua dia menjadi rakyat negara, menyumbangkan apa yg dia miliki demi kesejahteraan negara, masyarakat & lingkungan sekitar di mana ia berada. Konsep ke-ibu-an lebih adalah sesuatu yg membangun suatu keadaan (fisik dan non fisik) yang lebih indah, lebih sejahtera, lebih harmonis. Ciri ini tidak hanya inheren pada wanita, akan tetapi juga pada laki-laki . Dalam konteks famili, ibu tidak wajib punya anak. Ia sanggup menikmati diri dan memiliki dirinya sediri, menggunakan tetap memikirikan kepentingan orang lain. Seorang mak tetap wajib peduli menggunakan lingkungannya, lantaran dia harus membangun kesejahteraan, keharmonisan dan membuat orang lain bahagia & damai; tanpa menegasi pribadiya sendiri. Tetap sine qua non waktu buat dirinya sendiri.

Wati: Ibu merupakan orang yg mengayomi, seseorang wanita yang mengasuh. Seseorang jua bisa dipanggil bunda lantaran punya karisma tertentu, yang dikagumi karena kepakarannya atau lantaran pengetahuannya. Konsep ibu pertama-tama ditinjau lebih ke arah sifat, yg sangat erat berhubungan dengan biologisnya (wanita), karena dia sudah melahirkan anak. Tapi dalam perkembangannya, ke-ibu-an lebih adalah sifat -sifat yg menurut segi afektif & kognitifnya; meskipun Ia tidak menikah dan nir punya anak. Sebagai sebuah sebutan, "ibu" melekat dalam jenis kelamin wanita, walaupun sebagai sebuah sifat dan karakteristik-ciri, bisa pula dimiliki dan dipelajari oleh laki-laki .

Menurut Yani, istilah ibu itu melekat pada wanita, yang punya anak (baik anak kandung juga bukan) dan menjalankan kegunaannya sebagai ibu. Ia mengandung, melahirkan, merawat anak & mendampingi anak. Fungsi keibuan ini sebetulnya bukan hanya dijalankan sang wanita (bunda), tapi juga oleh pria (bapak). Yang ditekankan pada sini adalah funsi nurturing (merawat, mengasihi, menyayangi, membimbing, dsb) yg dijalankan & ikatan emosianal yang dibangun dengan orang yg pada-nurture itu. Ibu yang ideal adalah ibu yg sayang dan mengasihi anaknya sepenuh hati dan mengabdikan dirinya dalam anak & keluarganya. Di sini dituntut pengorbanan, akan tetapi beliau tetap harus punya kesempatan buat menjadi dirinya sendiri dan berbagi dirinya sendiri serta mengaktualisasikan diri. Sebisa mungkin ia proporsional menjalankan kegunaannya menjadi mak menurut anaknya & kegunaannya pada tempat lain. Proporsional di sini berarti seimbang, pada mana ukurannya bisa berbeda antara bunda yang satu menggunakan ibu yang lainnya.

Ambar mendefinisikan seseorang mak itu sebagai orang yang melahirkan anak, menyusui, dan sebagai imbas psikologisnya mempunyai kepedulian terhadap anak. Dia menambahkan pula bahwa sifat caring dan kepedulian serta peka terhadap orang lain itu pula sanggup dilatih, sebagai akibatnya sanggup juga dimiliki sang laki-laki . Si ibu itu menjadi satu-satunya tumpuan seorang (anak) & sebagai loka mengadu. Walaupun bunda itu juga mempunyai dirinya sendiri (bukan hanya milik anak & suaminya). Ibu yg ideal merupakan yg sanggup bebas mengaktualisasikan diri, dan menyebarkan potensinya; sekaligus mampu menempatkan kiprah-kiprahnya sebagai bukti diri diri. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi dia bahwa anak dan suaminya tidak pernah menghalangi bagian dirinya yg lain, yg nir sebagai mak & istri, tapi menjadi seseorang individu, buat bisa memakai kebebasannya. Keberhasilan seseorang bunda bagi Ambar adalah kalau beliau dicintai dan mengasihi anak-anaknya.

Sri: Ibu adalah seseorang istri yang punya suami, punya pendamping, dan mungkin punya anak atau tidak. Dia melengkapi suaminya, saling memberi dan bersama-sama bertanggungjawab buat kehidupan famili. Ibu pula wajib sanggup sebagai teladan bagi anaknya, sebagai panutan, berdikari & pandai mengendalikan ekonomi, serta sanggup merogoh sikap. Panggilan "ibudanquot; juga sanggup diberikan bagi perempuan yang tidak menikah, menjadi penghormatan lantaran dia memiliki posisi atau jabatan, atau karena usianya. Ibu yang sukses adalah mak yang bisa menghantarkan anak-anaknya menuntaskan tugasnya, menjadi anak yang punya kepribadian yang baik, antar anak bisa hidup rukun dan cara hidupnya baik.

Ketujuh aktivis wanita ini menginterpretasikan & mendekonstruksi konsep & simbol ?Ibu?. Menurut mereka yang kebetulan mempunyai anak, pengalaman keibuan yg paling berkesan dan penting adalah relasinya dengan anak. Tapi pemaknaan terhadap konsep ini dan relasinya menggunakan suami dan anak, dipahami secara lebih luas dan inklusif. Hampir seluruh berpendapat bahwa sifat-sifat keibuan ini nir hanya & tidak otomatis inheren dalam wanita secara biologis, tapi jua bisa dipelajari & melekat pada pria. Pemaknaan yg paling menonjol menurut fungsi pengibuan ini adalah Cinta Kasih dalam kehidupan, yang mau tidak mau berkaitan dengan pemeliharaan bagi keberlangsungan oleh kehidupan itu sendiri.

Keberhasilan ataupun konsep ideal tetang bunda ini memang nir mungkin diukur secara kuantitatif. Bahkan beberapa dari mereka putusan bulat buat nir menciptakan definisi dan kriterianya, karena setiap orang punya ukurannya sendiri-sendiri. Ukuran itu tidak sanggup dipaksakan pada orang lain, apalagi dipaksakan menurut luar diri si ibu itu sendiri. Gambaran mak yang ideal itu sendiri berkembang dan mengalami perubahan dari masa ke masa.

Tidak ada yg bisa menilai keidealan seorang bunda. Semua akan dimaknai ulang sinkron dengan pengalaman eksklusif masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *