[MASALAH KITA] Mengapa hanya sedikit perempuan yang menjadi aktivis?
By: Date: October 19, 2018 Categories: Uncategorized

David kuliah pada Jurusan Biologi, di mana 70% mahasiswanya merupakan perempuan , namun berdasarkan sekitar enam tahun masa studinya, hanya sekali perempuan menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Biologi. Setelah itu dia membuat LSM yang memiliki program relawan, yang mayoritas perempuan . Dari ratusan relawan yg lalu direkrut menjadi staff, yang kemudian berkomitmen dan bertahan lebih menurut 5 tahun semua pria. Ia jua berkawan menggunakan poly aktivis yg pula wanita, dan sayangnya? Sesudah menikah, mereka berhenti. Fenomena apakah ini?

Fenomena serupa ternyata nir hanya terjadi pada global aktivis saja, namun pula terjadi pada panggung politik bangsa kita, di mana lebih banyak didominasi penduduknya juga wanita. Sampai-sampai dalam pemilu tahun 2004, setiap partai harus mempunyai calon wanita minimal 30%.

Meskipun ada pesimisme apakah wanita-wanita itu benar-sahih mempunyai perspektif gender, menjadi langkah awal keputusan ini perlu disambut baik. Hal serupa terjadi pada sektor ekonomi, pendidikan, agama & teknologi. Beberapa institusi internasional sudah membuat anggaran ekuilibrium gender pada organisasinya. Demikian juga beberapa perusahaan internasional yg selama ini dianggap daerah kerja laki-laki , misalnya perusahaan-perusahaan tambang, mulai mengutamakan peluang kerja bagi perempuan -wanita. Meskipun demikian permanen saja, sektor-sektor tersebut didominasi oleh pria. Apakah tidak ada wanita yg cukup berkualitas untuk mengisi posisi-posisi penting pada sektor-sektor tersebut?

Gadis Arivia dalam bukunya Filsafat berperspektif Feminis menuliskan hal serupa jua terjadi pada dunia filsafat. Filsafat yang tercatat dalam sejarah semenjak zaman Yunani, hampir seluruh laki-laki . Dalam buku tersebut, ia menuliskan bahwa hal tersebut nir berarti wanita nir berkualitas atau tidak bisa berfilsafat, melainkan sengaja dipinggirkan dari panggung filsafat melalui anggaran main yg ada.

Bagaimana dengan peluang yang terbuka luas, contohnya pada sektor ekonomi & politik tersebut? Jawabannya, hayati kita tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Demikian juga ketika seorang perempuan menciptakan keputusan buat terlibat/tidak terlibat dalam satu aktivitas, contohnya menentukan pekerjaan. Keputusannya nir akan semata-mata ditentukan sang faktor ekonomi & peluang yg ada. Dalam melakukan pilihan aksi, seseorang aktivis wanita dipengaruhi oleh poly hal. Sedikitnya ada tiga faktor yg mempunyai pengaruh relatif akbar bagi pengambilan keputusan seseorang aktivis wanita, yaitu: famili, budaya dan kepercayaan .

Keluarga

Entah itu nasib, takdir atau pilihan bebas, poly perempuan yg mengutamakan keluarga pada atas karirnya. Banyak sekali wanita yg berhenti berkarir setelah menikah, sibuk dengan pekerjaan domestik & melupakan kiprahnya pada kehidupan sosial. Karir mereka identik menggunakan sukses suami & anak-anak mereka. Seringkali bila sang suami & anak-anak gagal, wanita yang disalahkan lantaran dipercaya tidak becus sebagai istri & ibu.

Nilai inilah yg poly menghantui poly perempuan , waktu mereka harus mengambil pilihan-pilihan hidup, misalnya pekerjaan. Yang paling sebagai pertimbangan tak jarang adalah apakah pekerjaan ini cocok buat kehidupan anak-anak & suami mereka, dan bukannya apakah pekerjaan ini cocok buat mereka. Hidup mereka berpusat pada suami dan anak-anak, dan bukannya dalam panggilan mereka sendiri.

Sangat rupawan, bila ada perempuan yg akhirnya dapat mengkombinasikan pilihan hidupnya menggunakan kepentingan suami dan anak-anaknya. Membagi hidup secara seimbang antara karir dengan keluarganya. Sayangnya, sangat sedikit wanita yg bisa hidup menggunakan cara ini.

Budaya

Budaya adalah faktor kedua yang mempengaruhi keputusan seorang perempuan . Kalaupun famili pada dasarnya (suami dan anak-anak) mendukung pilihannya, belum tentu ia berani menghadapi cermin sosial yang asal berdasarkan warga yang lebih luas. Pertama, mungkin akan terdapat tekanan berdasarkan keluarga akbar, ayah, ibu, mertua, nenek, kakek, paman, bibi dkk. Kedua, kalaupun keluarga besar telah ok, masih ada tekanan menurut tetangga/rakyat tempat tinggal/kerja nya.

Tekanan ini dapat dilancarkan dengan berbagai alasan, misalnya care, peduli atau sayang hingga takut tersaingi alias sirik. Meskipun tampaknya tidak selaras, sayangnya keduanya berujung sama, peminggiran perempuan menurut pilihan hayati dan karyanya.

Agama

Agama adalah faktor yg paling sulit dilawan pada konstruksi sosial yg meminggirkan wanita. Misalnya, waktu Megawati akan menjadi presiden, beliau dihadapkan pada fenomena bahwa yang diangkat ke bagian atas bukannya apakah dia sungguh-sungguh memiliki kapasitas sebagai presiden, tetapi jenis kelaminnya. Lantaran dalam agama Islam yang harus menjadi pemimpin merupakan laki-laki .

Dalam banyak agama besar , hak untuk sebagai pemimpin & mendalami agama masih didominasi sang laki-laki . Gereja Katolik masih melarang wanita menjadi imam. Demikian juga dengan kepercayaan Islam. Agama Budha pada poly negara jua menerapkan pola yang sama, yang sebagai biku merupakan laki-laki .

Lalu apa yang harus dilakukan?

Lepas berdasarkan segala analisis yg rumit-rumit tentang penyebab segala hal tadi, wanita permanen harus merogoh perilaku. Sebagaimana pula pria & semua orang, wanita paling berhak atas pilihan hidupnya, atas masa depannya, atas pilihan karirnya. Pilihan-pilihan itu hendaknya berdasarkan pada potensi aporisma perannya sebagai bagian menurut umat manusia, panggilan/perutusan uniknya buat berkarya pada global ini. Bukannya, ditentukan oleh famili, warga atau bahkan agama.

Pertama-tama, beliau harus menjernihkan & mendengarkan suara hatinya, menemukan arah hidupnya, apa kiprahnya menjadi manusia. Kedua, ia butuh keberanian untuk menghadapi cermin sosial. Berani mengungkapkan tidak, buat sesuatu yg menghambat aplikasi visi dan misi hidupnya. Tentu saja ini sulit, apalagi dalam tahap awal. Karena itu langkah ketiga menjadi penting, yaitu menemukan komunitas sevisi. Dalam komunitas sevisi, wanita akan menemukan dukungan pada bentuk persahabatan, sharing pengalaman, pengetahuan atau bahkan sekedar loka curhat. Ini akan menguatkan perjalanan beratnya melaksanakan misi hidup. Yang terakhir & terpenting adalah hayati menggunakan komitmen. Lantaran tanpa komitmen yg bertenaga segala keinginan akan sia-sia. Komitmen juga berarti kesediaan menanggung resiko dampak pilihan-pilihan yg diambilnya, misalnya stereotipe berdasarkan masyarakat, perseteruan dengan keluarga & bahkan mengorbankan hidupnya sendiri buat asa yg lebih besar .

(Any Sulistyowati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *