[MASALAH KITA] Pergulatan dan Dialektika Aktivis Perempuan
By: Date: October 20, 2018 Categories: Uncategorized

Dengan makin kuatnya tuntutan arus demokrasi, dibarengi krisis yang melanda negeri ini, yg makin diperparah menggunakan tanggapan pihak penguasa lewat rekayasa dan teror kekerasan; kesadaran & gerakan masa warga yg selama ini mengalami ketidakadilan dan ketertindasan sebagai makin terlihat. Termasuk para mak yang tergabung pada SIP (Suara Ibu Peduli) mulai memasuki kancah publik menggunakan menggunakan berita domestik buat memperjuangkan keprihatinan mereka. Isu SARA yang digunakan buat menghidupkan kerusuhan pada banyak sekali wilayah pada negeri ini, yg berpuncak pada bencana Mei 1998 makin memperkuat solidaritas para wanita & pula pria buat berkiprah. Aktivis-aktivis belia dan tua bangkit balik , beserta-sama berkecimpung menantang teror, rekayasa dan kekerasan ini. Realita ketidakadilan sosial yg dialami mulai dikaitkan dan dimintakan pertanggungjawaban lewat ideologi negara dan agama dan budaya.

Kail berkesempatan mewawancarai 7 orang bunda yg aktif pada JMP (Jaringan Mitra Perempuan) mengenai pergulatan & tanggapan mereka pada menyiasati konstruksi sosial (melalui famili, budaya & negara) tentang Kedanquot;ibu"an mereka, khususnya pada menjalankan peran mereka sebagai aktivis.

Konstruksi sosial mengenai ?Ibu?

Dari ketujuh responden, konstruksi sosial keluarga-lah yg pertama-tama mereka alami dan paling berpengaruh bagi pembentukan gender mereka, yang tercerap dalam perihal, pikiran, pemahaman, perilaku dan tindakan mereka baik secara eksklusif juga sosial. Dari keluargalah (terutama dari ibu & relasinya menggunakan ayah & kakek mereka), mereka belajar buat sebagai seseorang perempuan , & kelak menjadi seorang istri & bunda. Ajaran, larangan & nilai-nilai yang disosialisasikan kadangkala nir eksplisit, tapi menjadi contoh hayati yg harus mereka teladani. Dari ketujuh responden ini kebetulan 5 berdasarkan mereka kebetulan dari berdasarkan Jawa Tengah (orang Jawa), sebagai akibatnya budaya Jawa yg patriarkhis mendominasi skenario hidup mereka. Dua orang lainnya yg beretnis Tionghoa jua membicarakan bagaimana tradisi menjadi unsur yg secara umum dikuasai dalam konstruksi sosial mereka.

Sumber gambar: Kompas, 1 Oktober 2003, halaman 2.

Pada konteks Indonesia, negara merogoh alih pendefinisian makna rakyat negara perempuannya. Pada masa Orba, wanita diideologikan menggunakan bahasa yang mempesona dan diberi peranan mendukung pada (proyek) pembangunan. Pengideologian ini berhasil membangun identitas perempuan dalam berbagai bentuk pemuliaan semu dengan karakteristik utamanya adalah kepatuhan. Konstruksi keibuan ini merupakan deretan konsep budaya Jawa & Belanda (Sears, Laurie. Introduction: Fragile Identities, pada Sears, L (Ed). Fantasizing The Feminine in Indonesia. London: Duke University Press. 1996. Hal 33). Selama ini negara cenderung memanipulasi konsep wanita menjadi "istri", " ibudanquot;, atau keduanya, tergantung kebutuhan. Misalnya melalui Dharma Wanita, peran perempuan jelas-kentara secara struktural dipercaya menjadi pendukung karir suami, seolah-olah perempuan nir memiliki pekerjaan dan karir sendiri. Demikian pula mobilisasi massa wanita buat mensukseskan acara pembangunan, baik secara sukarela juga paksaan, melalui acara PKK, Posyandu dan Keluarga Berencana.

Konstruksi sosial tentang wanita, khususnya sebagai istri & mak ini disadari benar sang para aktivis ini, dan poly berdasarkan mereka yg menginternalisasinya selama ini. Misalnya, Bu Pratiwi wajib siap menggunakan resiko dicerca atas pemberontakannya menjadi aktivis sebagai konsekuensi berdasarkan menjadi bagian menurut keluarga yang termasuk birokrat.

Pergulatan dan Dialektikanya

Konstruksi sosial yang ditanamkan ternyata membawa dampak yg tidak sama & ditanggapi secara tidak sinkron dalam masing-masing individunya. Beberapa berdasarkan mereka bahkan sering dihinggapi rasa bersalah & merasa bukan perempuan , bahkan menjadi "sakit jiwadanquot; karena konsep ke-bunda-an yg dikonstruksikan bagi mereka.

Bagi Bu Pratiwi misalnya, konstruksi ini membuat dia putus harapan dan sempat merasa bukan perempuan (sempurna) karena tidak bisa mengurus tempat tinggal dan tidak bisa masak; lantaran konsep perempuan ideal yang selama ini diajarkan merupakan bahwa perempuan mesti bisa mengurus urusan rumah, memasak, mencuci dan menjahit. Perasaan ini makin kuat ketika belum kunjung punya anak. Tapi selesainya ada perubahan pandangan, ternyata hayati sebagai wanita dirasakan lebih nyaman, tidak terdapat keharusan yg ditentukan menurut luar, sebagai akibatnya nir menjadi kaku. Proses perubahan paradigma itu membuat ia lebih menerima orang apa adanya. Perubahan ini diperoleh menurut kecintaannya pada kitab , lewat pergaulan dengan teman-teman aktivis wanita, lewat pergaulan dengan JMP dan menggunakan mengobrol. Suami Bu Pratiwi yg orang Kalimantan, sedikit poly pula berperan pada proses penerimaan diri dan perubahan kerangka berpikir ini. Budaya & langsung sang suami yg tidak merogoh peran stereotipe dan kaku mengenai seorang suami & bapak, walaupun menggunakan kekeraskepalaannya sendiri, sudah membentuk sebuah dialektika tersendiri bagi kehidupan famili mereka sebagai sesama aktivis.

Bu Lim, kebalikannya, menggunakan suami yg sangat patriarkhis, mengalami pergulatan yang lebih berat buat berdialektika menggunakan pemahaman barunya mengenai rekanan perempuan dan pria. Aktivitas dan perjuangannya menjadi aktivis perempuan tidak berarti dia mampu mengganti atau mempengaruhi suaminya semudah itu. Perlu terdapat strategi dan perundingan eksklusif sehingga sedikit-sedikit mereka berproses beserta menuju relasi yang lebih setara. Pengakuan akan eksistensi diri & perjuangannya hanya sanggup dicapai dengan taktik yg nir frontal, nir dengan marah-marah, akan tetapi justru dengan kepekaan dan sosialisasi diri pasangannya, fleksibilitas dan kelincahan berbahasa.

Strategi dan negosiasi yang cerdik ini pula diterapkan oleh Yani dalam menghadapi suaminya yang patriarkhis dan cenderung tidak setia. Hanya dalam hal pendidikan anak, mereka sanggup mencapai kesepakatan , & hal inilah yg menjadi titik berangkat bagi Yani buat mempertahankan keluarganya. Pengalamannya hidup dalam konstruksi keluarga Jawa yg patriarkhis & feodal, yg beliau internalisasi pada paruh ketika kehidupan rumah tangganya, ternyata membuat beliau merasa sebagai "sakit jiwadanquot;, terguncang dan capek sekali. Ia malah membuahkan dirinya orang lain, sebagai terasing dari dirinya sendiri. Kesempurnaan kiprah istri yg beliau jalankan dari idealisasi konsep istri dan ibu yang dikonstruksikan budaya, famili & negara nir membuat beliau terlepas dari korban ketidakadilan dari suaminya & keluarganya. Pengalaman menyakitkan ini untungnya nir ia tanggapi menggunakan berputus harapan dan pasrah saja. Didukung sang rekan-rekan aktivisnya, ibunya dan terutama keyakinan dan kemauan dirinya, Yani mampu mengganti pengalaman ketertindasannya sebagai momen buat memberdayakan pulang dirinya. Proses jatuh bangun yg beliau alami nir menyurutkan langkahnya untuk terus bertahan & membantu orang lain buat berjuang pula. Kunci berdasarkan proses pendewasaannya adalah kerelaan dan kerendahan hati buat memberi kesempatan bagi dirinya & orang lain buat mendapatkan yang terbaik, kerendahan hati buat belajar dan tetap memiliki harapan. Semuanya berasal menurut kekuatan Iman & Kasih.

Lain lagi menggunakan Bu Wati, dialektika relasinya dengan suami dan anak, dan menggunakan famili ke 2 belah pihak terjadi lewat percakapan yg timbul lantaran kebutuhan mudah. Misalnya masalah pembagian peran pada rumah tangga dan tanggung jawab & pengambilan keputusan. Beruntung memang, suaminya nisbi mudah diajak berkompromi dan berproses bersama, walaupun proses ini tidak terlepas berdasarkan permasalahan & tegangan. Masalah kegiatan di luar rumahnya yg menuntut gerak tinggi telah dinegosiasikan jauh sebelumnya dengan suaminya, sehingga nir lagi sebagai potensi pertarungan di lalu hari.

Perasaan bersalah seringkali kali menjadi bagian dari diri Bu Ambar ketika konstruksi itu beliau internalisasi. Otonomi diri dipercaya identitik menggunakan egoisme, dan itu berlawanan dengan kasih – yang seharusnya dimiliki sang seseorang bunda. Tuntutan-tuntutan yang diberikan dalam seorang mak dirasakan olehnya terlalu berat & membebani, merasa terbelenggu, tertekan & merasa "diperbudak". Kesadaran akan ketidakadilan gender dampak konstruksi budaya khususnya, mulai dirasakan lewat bacaan dan cerita tentang wanita Jawa; terutama juga lewat pengalaman konkretnya. Selanjutnya kesadaran itu mulai disosialisasikan lewat goresan pena-goresan pena & lewat aktivitasnya pada JMP.

Perasaan bersalah juga hinggap di hati Bu Sri, lantaran beliau nir mampu memasak. Tapi ini harus beliau bayar dengan mengkompensasikan dengan kesempurnaan pekerjaan tempat tinggal tangga lainnya dan menggunakan menaruh pekerjaan mengolah ini dalam pembantunya. Ketakutan kalau-jikalau dia nir mampu membahagiakan suaminya dan ketakutan untuk menentukan, serta keharusan buat berbasa-basi makin dirasakan melelahkan. Keterlibatannya di JMP telah membawa perubahan, termasuk cara berelasi menggunakan suaminya. Ia sebagai lebih berani buat menentukan sikap, lebih terbuka dan bisa mengambil posisi menjadi langsung. Perubahan ini dirasakan lebih membebaskan, tidak lagi tertekan; mampu mendengarkan orang lain & menghargai mereka. Selain itu jua belajar menerima disparitas dan nir memaksakan kehendak, lebih inklusif dan tidak feodal. Yang krusial bagaimana kegiatan di luar rumah nir menciptakan keadaan pada rumah menjadi berkonflik.

Bagi para mak yang aktivis ini, usaha visi mereka sebagai aktivis tidak terlepas berdasarkan proses dialektika mereka pada rumah tangga mereka sendiri. Keberhasilan mensugesti & membawa perubahan yang lebih baik dalam relasi mereka sendiri, nir berarti bahwa sekarang giliran mereka buat mendominasi atau sewenang-wenang, tapi justru lebih pada penghormatan, kesetaraan dan penerimaan dan keterbukaan akan orang lain.

Akhir Kata?.

Pilihan sebagai seorang aktivis tidaklah gampang. Dilahirkan menjadi seorang wanita dalam budaya dan sistem yg patriarkhis jua nir mudah. Maka, menjadi wanita sekaligus aktivis sebagai kesulitan dan tantangan tersendiri, apalagi jika beliau memperjuangan keadilan dan perubahan bagi ketertindasan kaumnya sendiri. Perseteruan & pergulatan yg dihadapi membutuhkan proses panjang dan kerjasama dari pasangannya, menurut masyarakat dan perlu dukungan berdasarkan institusi negara, budaya dan jua kepercayaan . Siasat dan strategi yg tidak konfrontatif, kreatif & fleksibel dibutuhkan pada usahanya buat mendekonstruksi simbol dan pemaknaan konsep yang terlanjur dipercaya kodrat selama ini.

Upaya transformasi & perubahan kerangka berpikir ini hanya mungkin ditempuh menggunakan berjejaring & membangun solidaritas beserta dalam gerakan bersama: wanita & laki-laki . Semuanya mungkin buat dilaksanakan & bertahan, karena ada roh yang menggerakkan mereka. Seperti yang dikemukakan Pratiwi, bahwa dia melakukan semuanya ini karena dorongan hati, dan kepedulian terhadap insan. Kepedulian ini jua yg menggerakkan Wati, lantaran beliau ingin lebih banyak orang yg punya kepedulian terhadap perkara-perkara yang kita hadapi, sebagai akibatnya tercipta dunia baru yang lebih adil. Visi ini diteguhkan sang semangat & ajaran yg beliau yakini, yaitu mengenai Kasih & pengampunan.

Semoga saja semangat kasih yang demikian bertenaga didengungkan dan dimaknai pada rekonstruksi konsep ke-bunda-an para aktivis ini pula bergema & menyemangati kita dan para aktivis lainnya, tidak hanya terbatas pada relasi antar perempuan dan laki-laki , tapi pula rekanan kita menggunakan alam lingkungan kita!

(Intan Darmawati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *