[MEDIA] Perspektif Gender dalam Pendidikan
By: Date: October 22, 2018 Categories: Uncategorized

Penulis :Nurul Azkiyah, Budi Rajab, Gaby Weiner, Budie Santi, Gaguk Margono, Gadis Arivia, Eko Bambang Subiantoro, M.B. Wijaksana

Penerbit :Yayasan Jurnal Perempuan

Tebal :171 page

Terbit :Mei, 2002

Pendidikan adalah hal yang esensial & krusial pada hidup berbangsa & bernegara. Apalagi pada negara yang mengakui demokrasi misalnya misalnya Indonesia, pada mana idealnya kesetaraan gender pula diakui secara moral & bertanggung jawab. Namun masalahnya merupakan bahwa pendidikan praksis yg selama ini berjalan pada dasarnya terbentuk atas konstruksi sosial yg telah berakar dalam tatanan masyarakat yg sanggup gender atau seksis. Padahal, suatu bangsa akan menjadi bangsa yg mudun dan berharkat apabila tolak ukurnya bahwa bangsa tadi terdidik tanpa terkecuali., dalam hal ini perempuan dan pria sama-sama memiliki peluang pada mengenyam pendidikan buat saling bahu membahu menciptakan bangsa dan negara.

Dalam Jurnal Perempuan No. 23 ini membahas mengenai “Perspektif Gender dalam Pendidikan”, di mana para penulisnya memetakan pemikiran masing-masing yang sama-sama ditujukan pada focus utamanya pada masalah ketidaksetaraan kesempatan pendidikan perempuan dan laki-laki dalam berbagai pendekatan dan kasus yang berbeda.

Gadis Arivia dalam prolognya menegaskan bahwa kontribusi perempuan sangat penting dalam bidang pendidikan, mengingat bahwa dalam setiap sendi pembangunan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lainnya diperlukan partisipasi perempuan, apalagi populasi perempuan di Indonesia lebih banyak dibandingkan populasi laki-laki. Demikian halnya, Indonesia yang merupakan negara berkembang memprioritaskan pembangunan negara sebagai titik sentralnya.

Analisis data kuantitatif tahun 1980-1998 dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan politik oleh Nurul Azkiyah dipaparkan dalam tulisannya yang berjudul “Keterkaitan Pendidikan Formal Perempuan dan Dunia Pembangunan”. Dalam penelitiannya tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa korelasi antara pendidikan perempuan dengan pembangunan sosial menempati peringkat tertinggi, korelasi dengan pembangunan ekonomi menempati peringkat kedua, namun korelasi dengan pembangunan politik sangat kecil. Korelasi yang sangat kecil tersebut ternyata disebabkan oleh budaya patriarki yang masih kuat serta interpretasi agama yang seksis sehingga asertivitas dan progresifitas perempuan terhambat. Sehingga hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut adalah perlunya peningkatan akses perempuan terhadap pendidikan dan sumber daya lainnya serta dekonstruksi interpretasi agama yang bias gender (misalnya Al-Qurán).

Membahas masalah kesetaraan perempuan dengan laki-laki dalam bidang-bidang tersebut di atas tidak akan lengkap tanpa kita mengingat kembali pada sejarah dari sosok pejuang wanita yang bernama R.A. Kartini. Budi Rajab, dalam tulisannya yang berjudul “Pendidikan Sekolah dan Perubahan Kedudukan Perempuan” mengawalinya dengan mencoba flash back pada sejarah R.A. Kartini, yaitu sosok perempuan bersahaja yang pernah hidup dalam apa yang kita namakan Indonesia ini. Beliau seorang perempuan yang hidup pada zaman yang sarat akan budaya patriarki dan bergulat serta berjuang dalam memberikan penyadaran bagi kaummnya untuk eksis sebagai perempuan yang sebenarnya mampu untuk setara dengan kaum pria dalam mengenyam pendidikan, menentukan sikap, dan mengambil keputusan dalam hidup (mempunyai hak memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri). Selain, penokohan R.A. Kartini, Budipun melengkapi wawasan pembacanya dengan pemikiran dan kritikan tokoh-tokoh pendidikan lainnya, seperti Ester Boserup dan Kate Young, bahkan konsep Gramsci mengenai eksistensi ideologi patriarki karena berlakunya konsep hegemoni. Di samping itu yang cukup memberikan makna dalam proses kesadaran dengan pendekatan filsafat pendidikan, adalah Paulo Freire dengan Ivan Illich yang mengkritisi sistem pendidikan sekolah yang secara hegemonis dominatif merupakan penyelewengan yang dilakukan untuk menindas dan bahkan sebagai sarana doktrinasi propaganda ideologi untuk memperkuat kekuasan pemerintah yang bercokol.

Dalam dunia pendidikan formal, bagi kita tidak asing lagi dengan istilah kurikulum. Kurikulum merupakan bagian yg tak terpisahkan menurut konsep pendidikan formal. Hal ini dikarenakan pada dalam kurikulumlah materi-materi ajaran oleh para pendidik dikumpulkan, diklasifikasikan, disusun, diprioritaskan, & disampaikan kepada anak didik-muridnya.

(Maria Clara Neti Veronica)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *