[MASALAH KITA] Refleksi 71 tahun HUT RI : Sudahkah Indonesia Merdeka?
By: Date: October 30, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Latar Belakang

Untuk menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-71, Proaktif Online melakukan survey online untuk menggali Refleksi mengenai Kemerdekaan Indonesia. Dua puluh lima orang mengisi survey tersebut. Mereka adalah para aktivis dari berbagai bidang dengan komposisi sebagai berikut: Alam dan Lingkungan (13 orang), Pendidikan (sembilan orang), Seni, Sastra dan Budaya (delapan orang), Teknologi (empat orang), Pertanian dan Pangan (tiga orang), Hukum dan HAM (dua orang), Ekonomi (dua orang), dan bidang lainnya (empat orang). Satu orang responden dapat mengisi lebih dari satu bidang garap.

Pertanyaan-pertanyaan refleksi pada berita umum ini terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu: sejauh mana Indonesia sudah merdeka di banyak sekali bidang, ancaman yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Survey ditutup dengan pertanyaan apa yg ingin disampaikan para aktivis seputar kemerdekaan Indonesia.

Rangkuman Persepsi Responden tentang Tingkat Kemerdekaan Indonesia

Menurut para responden, secara generik hingga saat ini Indonesia belum sepenuhnya merdeka di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Ringkasan pendapat mereka dapat ditinjau di grafik pada bawah ini.

Secara keseluruhan hanya dua orang mengganggap Indonesia telah merdeka 100%, yaitu satu orang buat bidang Agama dan satu orang buat bidang seni & budaya. Sebaliknya selalu terdapat responden yg menjawab Indonesia sama sekali belum merdeka (0% merdeka) di banyak sekali bidang, kecuali di bidang Seni & Budaya tidak terdapat responden yang menentukan Indonesia baru 0% merdeka. Di bidang-bidang lain, yang menjawab Indonesia masih 0% merdeka merupakan di bidang Agama (tiga orang), Ekonomi (tiga orang), Kesehatan (dua orang), Lingkungan (2 orang), Pangan (satu orang), Pendidikan (2 orang), Perumahan (2 orang), Politik (satu orang), Sandang (2 orang), Sosial (satu orang) & Teknologi (dua orang).

Apabila di lihat pada masing-masing bidang, maka di bidang Agama, hanya satu dari 25 orang yang menduga Indonesia sudah merdeka 100%. Sebaliknya 3 berdasarkan 25 orang menganggap belum merdeka sama sekali (0%). Sisanya tersebar 2 orang menduga sudah merdeka 80%, delapan orang menduga telah merdeka 60%, lima orang mengganggap telah merdeka 40% & enam orang mengganggap sudah merdeka 20%.

Di bidang Ekonomi, satu orang menduga Indonesia sudah merdeka 80%, tiga orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, sembilan orang menganggap Indonesia sudah merdeka 40%, sembilan orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20% dan 3 orang menganggap Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Kesehatan, satu orang menganggap Indonesia telah merdeka 80%, tujuh orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, delapan orang menganggap Indonesia sudah merdeka 40%, tujuh orang mengganggap Indonesia telah merdeka 20% dan 2 orang menduga Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Lingkungan, nir ada responden yg menjawab Indonesia sudah merdeka lebih berdasarkan 60%. Mereka menjawab menggunakan komposisi sebagai berikut: empat orang menjawab Indonesia telah 60% merdeka pada bidang lingkungan, sembilan orang menjawab 40% merdeka, sepuluh orang menjawab 20% merdeka & 2 orang menjawab belum merdeka sama sekali. Seperti dalam bidang Lingkungan, di bidang Pangan jua nir ada responden yg menjawab Indonesia telah merdeka lebih dari 60%. Di bidang ini enam orang menjawab Indonesia sudah 60% merdeka di bidang lingkungan, sepuluh orang menjawab 40% merdeka, delapan orang menjawab 20% merdeka & satu orang menjawab belum merdeka sama sekali.

Di bidang Pendidikan, dua orang menduga Indonesia telah merdeka 80%, empat orang mengganggap Indonesia telah merdeka 60%, sebelas orang menduga Indonesia telah merdeka 40%, enam orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20% & 2 orang menganggap Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Perumahan, tiga orang menganggap Indonesia sudah merdeka 80%, empat orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, tiga belas orang menganggap Indonesia telah merdeka 40%, tiga orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20% & dua orang menganggap Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Politik, 2 orang menganggap Indonesia sudah merdeka 80%, satu orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, dua belas orang menduga Indonesia sudah merdeka 40%, sembilan orang mengganggap Indonesia telah merdeka 20% dan satu orang menganggap Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Sandang, empat orang menganggap Indonesia telah merdeka 80%, enam orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, sebelas orang menduga Indonesia sudah merdeka 40%, 2 orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20% dan 2 orang menduga Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Seni & Budaya, satu orang menganggap Indonesia sudah sepenuhnya merdeka, lima orang menganggap Indonesia sudah merdeka 80%, enam orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, sepuluh orang menganggap Indonesia sudah merdeka 40% dan 3 orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20%. Tidak ada yang menduga Indonesia sama sekali belum merdeka di bidang Seni dan Budaya.

Di bidang Sosial, 3 orang menganggap Indonesia sudah merdeka 80%, sembilan orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 60%, delapan orang menduga Indonesia telah merdeka 40%, empat orang mengganggap Indonesia telah merdeka 20% dan satu orang menduga Indonesia sama sekali belum merdeka.

Di bidang Teknologi, 2 orang menganggap Indonesia sudah merdeka 80%, enam orang mengganggap Indonesia telah merdeka 60%, tujuh orang menganggap Indonesia sudah merdeka 40%, delapan orang mengganggap Indonesia sudah merdeka 20% dan 2 orang menduga Indonesia sama sekali belum merdeka.

Persoalan-persoalan Seputar Kemerdekaan IndonesiaMeskipun sudah secara resmi 71 tahun merdeka, Indonesia belum sepenuhnya dianggap merdeka oleh para responden. Ada banyak persoalan, tantangan dan ancaman yang dihadapi negeri ini untuk memperjuangkan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Anilawati Nurwakhidin berdasarkan YPBB menyatakan bahwa sebenarnya secara status Indonesia memang merdeka, tapi ancaman tiba menurut aneka macam sisi dan dari berbagai bidang. Masalahnya ancaman-ancaman ini sering nir disadari. Sementara itu, Huyogo berpendapat bahwa merdeka sepenuhnya memang mungkin tidak terdapat. Masih banyak impak dari luar. Kukuh Samudra berdasarkan Unit Tenis ITB berpendapat bahwa pada hampir semua bidang, Indonesia masih dikendalikan sang orang lain. Barangkali secara deklaratif, secara aturan Indonesia telah merdeka. Hal yang sama pula dinyatakan sang Melly Amalia berdasarkan KAIL & YPBB bahwa persentase kemerdekaan Indonesia pada segala bidang masih pada bawah 80%. Indonesia masih poly disetir atau diarahkan sang pihak ketiga. Ivan Sumantri Bonang dari Komunitas Dongeng Dakocan, Bandar Lampung menyatakan masih diperlukan poly waktu buat merdeka pada aneka macam bidang tadi.

Fransiska Damarratri (Siska) dari ASF ID beropini bahwa seluruh hal tersebut terkait, terutama budaya & sistem, mempengaruhi kemerdekaan. Merdeka selayaknya dimulai sejak menurut pikiran. Namun terkadang sistem yg langgeng membatasi hal tsb & aksi-aksi insan.

Pesa Pecong menurut Front Api, Bandung, menduga bahwa merdeka, atau yg diklaim menjadi sebuah negara sendiri nir merubah keadaan menurut bentuk negara sebelumnya yaitu Hindia Belanda. Menumpuknya harta dalam segelintir orang, institusi pendidikan hanya mencetak calon buruh buat perusahaan, poly rakyat yg tidak mempunyai tanah, bahkan tanahnya dirampas negara, masyarakat dibentuk tidak berdaya dan poly terjadi perampasan-perampasan hak kemanusiaan yg dilakukan oleh negara & aparatnya merupakan bukti-bukti bahwa kemerdekaan belum dirasakan sang rakyat Indonesia. Kukuh pula menekankan bahwa bentuk penjajahan senantiasa berkembang berdasarkan ketika ke ketika. Indonesia ketika ini tidak mempunyai agama-diri (mental negara terjajah). Semua yang baik seolah-olah dari bukan dari diri sendiri. Mental yg misalnya ini pada akhirnya mensugesti sistem produksi yang pada akhirnya mensugesti kembali ke mental. Mulai menurut pangan. Indonesia mempunyai bahan pangan utama beraneka macam. Tapi mengapa wajib nasi & kentang? Toh, keripik singkong pun apabila diolah dengan benar tidak kalah rasanya. Sementara sandang, mengapa sandang menurut Bandung atau kota pusat garmen perlu melewati benua biru sekedar buat menerima label garis-tiga atau centrang?

Seperti Kukuh, Navita K.Astuti dari KAIL pula membicarakan keliru satu bentuk ketidakmerdekaan dari aspek pangan yaitu nir merdeka berdasarkan jenis pangan sehat & bergizi. Orang-orang tergoda (terjajah) sang musim masa kini , seperti makanan instan maupun kuliner cepat saji. Sementara buat sandang, tampak pola konsumtif orang waktu berbelanja baju. Mereka masih terjajah oleh pandangan, contohnya, harus membeli baju baru ketika lebaran.

Menurut Ajat Sutarja (Mang Ayut), pemerintah masih berpihak pada korporasi-korporasi dibanding pada kepentingan hajat hidup warga yang sejati, kurang mendukung sektor produksi ekonomi lemah dan menengah terbukti dengan lebih banyaknya import barang-barang jadi.

Abrori berdasarkan Turun Tangan, Bandung, pula memberi catatan tentang produk pangan impor. Sebetulnya bukan kita tidak mampu membentuk produk-produk pangan yg baik, sampai pemerintah merogoh langkah impor. Dalam beberapa hal, tentu memang baik impor sesuatu. Tapi apa benar hasil produksi terbaik kita memang mandul sehingga wajib impor ataukah output produksi terbaik kita belum terjaga menggunakan baik? Sehingga podusen pangan kita lebih memilih mendistribusikannya ke luar daripada mengutamakannya buat distribusi dalam negeri? Sejauh apa evalusi yang dilakukan pemerintah? Kita bahkan nir pernah tahu sejauh apa daya kita dalam memberi makan bangsa sendiri. Kita nir sanggup merdeka sepenuhnya sebelum upaya dalam menghasilkan pangan buat bangsa sendiri dilakukan dengan semaksimal mungkin. Melakukan riset-riset & menciptakan kualitas-kualitas unggulan buat diutamakan dikonsumsi sang masyarakat Indonesia.

Selain pangan dan sandang, ketidak merdekaan juga terjadi pada pelayanan kesehatan & berbagai bidang sosial. Abrori menyatakan bahwa semua sangat terpengaruh oleh politik. ‘Parapelaku’ politik kepentingan selalu berbicara mengatasnamakan warga . Korupsi ketika mengurusi banyak sekali ‘proyek buat warga ‘, dampaknya artinya pandangan sini warga terhadap segala pemugaran yg dilakukan sang pemerintah. Baik infrastruktur, atau apa pun. Masyarakat seolah diutamakan, padahal nyatanya ‘sinisitas’ mereka semakin beranggapan bahwa mereka semakin ditinggalkan oleh keputusan-keputusan yg mengutamakan warga .

Wisnu berdasarkan Bandung menyatakan bahwa kasus terbesar merupakan kasus pendidikan. Abrori menyoroti layanan pendidikan yg semakin komersil. Sektor pendidikan yang semula sebagai andalan buat membebaskan rakyat menurut kebodohan & kemiskinan ternyata sebagai asal kesenjangan sosial. Yang kaya bisa mengakses pendidikan yang cantik & mahal, sementara si miskin relatif puas menggunakan pendidikan ala kadarnya. Pendidikan sebagai asal pengelompokkan masyarakat menurut kelas ekonomi. Belum lagi pendidikan sebagai ajang adu gengsi antar orang tua atau sebagai tempat bagi para pengajar buat menerima penghasilan tambahan. Sekolah sebagai bentuk penjajahan baru, pada mana orang tua dan murid terjajah sang harga pendidikan yg ditetapkan oleh sekolah. Abrori pula menyoroti soal teknologi. Ia mempertanyakan, sejauh apa pemerintah berani mengambil risiko memberi modal pada developer-developer pada negeri, menaruh keleluasaan & memfasilitasi para ahli dengan fasilitas yang tidak 1/2-setengah, serta mewadahi paraahli buat mencurahkan wangsit dan ciptaan mereka. Ia melihat bahwa sejauh ini teknologi kita didominasi sang produsen asing. Produksi pada negeri sepertinya sulit sekali membentuk sesuatu. Proses birokrasi, tes uji kelayakan, surat biar edar, dan langkah-langkah lain nampaknya dirasa menyusahkan. Apalagi kadang terdengar selintingan yang melibatkan perut-perut profesi lain yang terancam terambil pangsa pasarnya.

Ancaman-ancaman terhadap Kemerdekaan Indonesia

Ancaman yang dirasa paling akbar waktu ini adalah kesenjangan antara yang kaya & miskin (dipilih sang 17 orang) dan Perubahan Hutan menjadi Perkebunan Sawit (dipilih oleh 15 orang). Ancaman yang dirasa cukup akbar, yaitu dipilih sang 12 orang merupakan Putus Sekolah & Buta Huruf serta Polusi Udara dan Air. Diikuti dengan rawan Pangan yang dipilih sang sebelas responden. Sembilan orang memilih Permasalahan antar Suku, Etnis dan Agama serta Bencana Alam terkait Perubahan Iklim menjadi ancaman primer. Sementara Kekisruhan Politik dalam negeri dipilih oleh delapan orang. Ketergantungan dalam Gadget & Intrusi Budaya barat di kalangan kaum muda dipilih oleh tujuh orang sebagai ancaman primer terhadap kemerdekaan Indonesia.

Lima orang menduga Menumpuknya Sampah pada TPA menjadi ancaman terhadap kemerdekaan, disusul ancaman-ancaman yang dipilih oleh empat orang merupakan Penjarahan hasil Laut Indonesia oleh kapal asing, Naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah serta Meningkatnya Jumlah rakyat Miskin pada Perkotaan. Sisanya beragam ancaman dipilih oleh satu sampai tiga orang dengan total 12 pilihan.

Bagaimana Cara Mengatasi Ancaman-Ancaman terhadap Kemerdekaan? Debby Josephine berdasarkan Rumput Kecil menyatakan bahwa mengatasi ancaman terhadap kemerdekaan bagaikan mencari cara buat membangunkan orang yang pretensi tidur. Anilawati berdasarkan YPBB beropini bahwa buat menghadapi ancaman-ancaman tersebut, kita perlu mengusut & menyadari masalah-masalahnya dan mulai memecahkannya sedikit demi sedikit. Sementara Pesa Pecong berdasarkan Front API berpendapat bahwa Rakyat wajib berkecimpung untuk melawan; Abrori menambahkan pentingnya gotong-royong buat mengatasi ancaman-ancaman tadi.

Navita Kristi Astuti dari KAIL menyatakan bahwa buat membangun Indonesia diharapkan niat baik dan saling percaya satu sama lain baik dalam komunitas mini RT/RW juga dalam lingkup besar kabupaten, provinsi sampai lingkup negara. Bukik Setiawan menurut Kampus Pengajar CIKAL, Serpong menyatakan pengakuan terhadap keragaman & penghargaan terhadap potensi lokal sangat penting untuk mengatasi ancaman-ancaman di atas.

Menurut Fransiska Damarratri dari ASF-ID, cara mengatasi ancaman-ancaman terhadap kemerdekaan perlu dimulai dari pendidikan. Aksi-aksi tersebut perlu digerakkan secara merata, pada desa dan pada perkotaan. Aksi & pendidikan wajib diorganisasi, dicatat, dikombinasikan. Literasi bangsa sangatlah rendah saat ini. Bangsa yang tidak membaca mampu jadi tidak berpikir – secara merdeka. Senada menggunakan Siska, Melly Amalia berdasarkan KAIL dan YPBB menyatakan perlunya upaya terus menerus buat melakukan edukasi lewat penyuluhan & pembinaan. Juga kampanye ke banyak sekali lini rakyat menggunakan perubahan kerangka berpikir yang sempurna. Ia berharap rakyat Indonesia bisa mandiri, kreatif, berkarya & berhubungan (kolaborasi) lewat komunitas-komunitas terkecil.

Masih pada bidang pendidikan, Wisnu menyatakan pentingnya perubahan sistem pendidikan dasar. Dhika Pranastyasih menurut Yahintara & Yayasan Sadagori Indonesia menekankan pentingnya edukasi sejak dini pada keluarga. Ivan Sumantri Bonang menurut Komunitas Dongeng Dakocan, Bandar Lampung menyatakan bahwa buat mengatasi ancaman-ancaman di atas pendidikan harus diperbaiki secara fundamental. Ia menyatakan bahwa selama ini pendidikan yg berkembang di Indonesia tidak membebaskan. Krisna beropini bahwa pendidikan yang perlu dikembangkan merupakan mengedepankan pemakaian akal. Tien Widyaningrum dari WSDK, Bandung menganggap perlunya pendidikan & aneka macam media buat menguatkan konsep mengenai Indonesia dalam diri masing-masing.

Shintia Arwida berdasarkan CIFOR menyatakan perlunya investasi & perombakan besar -besaran di bidang pendidikan dan penegakan hukum. Ia menyatakan bahwa selama ini penegakan aturan di Indonesia masih sangat lemah. Hal yg sama ditekankan oleh Abrori dari Turun Tangan Bandung. Ia menyatakan perlunya penegakkan aturan yg sangat tegas untuk mengatasi ancaman-ancaman terhadap kemerdekaan. Ajat Sutarja (Mang Ayut) dari Bandung menyatakan vahwa buat mengatasi lemahnya penegakkan aturan pada segala sektor, maka sangat penting pencerahan warga dan pemerintah terutama penegak aturan buat berbuat yg terbaik berdasarkan lingkup terkecil

Selain penegakan aturan, Willy Hanafi menekankan perlunya peningkatan pemahaman rakyat akan haknya sebagai rakyat negara buat mendapatkan akses keadilan dan kesejahteraan. Mang Ayut menyatakan bahwa kesenjangan pembangunan antara kota & desa dan Jawa & luar Jawa masih menjadi masalah yang sangat krusial di era kemerdekaan ini. Willy merasa prihatin akan banyaknya investasi kapital besar yg datang ke Indonesia yg tidak di imbangi oleh niat baik pemerintah untuk mendapatkan akses keadilan & kesejahteraan rakyat secara generik.

Raden Rhea menurut LISES UNPAD mengatakan bahwa hal yg paling mengancam kemerdekaan Indonesia merupakan yg terkait ketersediaan bahan pokok. Ia meyakini bahwa bila kasus sandang pangan papan dan pendidikan telah terpenuhi, masalah lain sanggup teratasi. Seandainya warga telah berpendidikan & kebutuhan pokok mereka telah terpenuhi, maka mereka nir mempunyai emosi negatif yang umumnya disalurkan dgn pergaulan bebas, atau mabok-mabokan yg berujung pada bentrok antar kelompok. Untuk menjawab hal tersebut Abrori dari Turun Tangan Bandung menyatakan bahwa Indonesia harus mandiri. Hal ini akan memunculkan kepercayaan diri bangsa. Ia beropini bahwa selama ini Indonesia sudah dijajah sang Neo-kolonialisme. Hanya kita yang nir sadar & telah terlanjur nyaman dengan kondisi yang terlalaikan ini. Untuk keluar berdasarkan situasi ini, diharapkan kiprah yg serius dari 2 belah pihak; pemerintah & konvoi rakyat. Tidak mampu jalan hanya keliru satunya saja. Kita perlu mengembalikan integritas bangsa, barulah mampu merdeka. Indonesia wajib berupaya semaksimal mungkin supaya bisa mandiri dan berkedaulatan masyarakat. Tentunya menggunakan mengesampingkan perut sendiri & mengutamakan kemaslahatan umat.

Mendukung hal tadi, Huyogo berdasarkan AJI Bandung menyatakan perlunya Indonesia sebagai bangsa yg mandiri, bukan pemalas supaya dapat mengatasi ancaman-ancaman tersebut. Raden Rhea menurut LISES UNPAD, Bandung, menekankan mandiri pangan, jaga lingkungan dan bijak pengelolaan sumberdaya manusia menjadi hal-hal krusial buat mengatasi ancaman terhadap kemerdekaan.

Selain itu Shintia Arwida dari CIFOR menyatakan perlunya perubahan sistem ekonomi & pertanian yg lebih berdaya ke dalam. Untuk itu, Daniel Mangoting dari Koperasi Lestari menekankan pentingnya pembangunan gerakan di taraf komunitas. Ia menyatakan bahwa Indonesia ini masih setengah merdeka karena masih jauh berdasarkan maju & berdaulat.

Dewi Amelia melihat bahwa telah terjadi pelaksanaan kebijakan neoliberal pada pada negeri dan semakin berkembangnya monopoli dan perampasan tanah warga . Ia menekankan pentingnya pelaksanaan reforma agraria sejati dan pembangunan industri dasar nasional.

Ismail Agung menekankan pentingnya pemimpin yg baik dan masyarakat yg baik di dalam upaya mengatasi ancaman-ancaman tadi. Muhammad Habibullah menurut ITB menyatakan bahwa salah satu bentuk nyata yang perlu dilakukan merupakan menghapus budaya korupsi di pemerintahan. Hal senada disampaikan oleh Abrori menurut Turun Tangan Bandung yang menekankan pentingnya Pembasmian hama-hama koruptor & mafia peradilan. Krisna beropini contoh konkretnya adalah penghapusan Departemen Agama.

Dari aspek Bahasa & Budaya, Ismail Agung menekankan minimnya pencerahan generasi muda terhadap integritas bangsa. Selain itu, Huyogo & Dhika pula mencatat bahwa agama diri dalam bukti diri bangsa mulai hilang, khususnya pada kalangan generasi belia. Seperti yg diungkapkan sang Muhammad Habibullah bahwa bangsa kita belum punya rasa mempunyai bangsanya sendiri. Untuk itu, Abrori menyatakan perlunya mengembalikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan tanpa terdapat embel-embel Bahasa Inggris karena dinilai lebih modern dan kekinian oleh anak belia. Kontrol berdasarkan pemerintah terhadap media pemberitaan & hiburan terutama televisi jua diperlukan. Selain itu perlu dihidupkan kembali kegiatan-kegiatan pesta rakyat.

Selain bidang-bidang di atas, Kukuh Samudra berdasarkan unit Tenis ITB menyatakan bahwa Indonesia pula perlu menyebarkan olah raga. Melalui olah raga, Indonesia dapat membuatkan kesehatan fisik rakyatnya. Selain buat mencari sehat atau mencari kesegaran tubuh & jiwa. Lebih jauh lagi, olahraga merupakan juga bisa sebagai kebanggaan. Misalnya pada masa kemudian, konon, Indonesia populer lantaran 3 hal, yaitu: Sukarno, Bali & Bulutangkis. Indonesia jua pernah begitu perkasa di level Asia Tenggara bahkan taraf Asia. Sayangnya hal tadi tidak lagi terjadi pada masa sekarang. Padahal hal-hal tersebut bisa menjadi asal kebanggaan sebagai orang Indonesia.

Lepas dari banyak sekali ancaman yg dihadapi kemerdekaan Indonesia, Krisna menekankan bahwa Indonesia masih perlu bersyukur melihat peluang hayati di Indonesia. Potensi Indonesia sangat luar biasa, yg belum tentu dimiliki sang negara lain. Untuk itu, marilah kita peringati hari ulang tahun RI ke 71 ini menggunakan penuh rasa syukur, sambil tidak lupa menyiapkan diri buat memperjuangkan kemerdekaan sejati !

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *