[PIKIR] Menjadi Keluarga di Indonesia
By: Date: November 7, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh : David A. Setiady

Sumber:pelajaranilmu.blogspot.com

Sebagai insan, kita semua terlahir dari sebuah keluarga, pada bentuk yang paling sederhana yakni ayah & mak .

Keluarga?

Kita mengenal keluarga tertua di global ini merupakan famili Adam dan Hawa, berdasarkan cerita yang ada di pada kitab kudus agama samawi (Kristiani, Islam, Yahudi), pada mana diyakini bahwa mereka merupakan manusia pertama yg terdapat pada muka bumi ini. Adam dan Hawa membangun keluarga menggunakan ke 2 anak mereka yg bernama Kain & Habel, jadilah mereka famili pertama pada dunia. Tentunya menurut kisah buku suci tersebut.

Terlepas apa pun keyakinan Anda, kita tahu bahwa menggunakan komposisi yg membentuk sebuah famili, tidak memiliki banyak perubahan berdasarkan jaman dahulu hingga kini . Sebuah famili pada umumnya terdiri menurut seseorang ayah & seseorang ibu, serta anak-anak, inilah yg dianggap menjadi keluarga inti.

Kemudian ada juga yang disebut keluarga Konjugal, di mana keluarga inti berinteraksi dengan kerabat lainnya dari salah satu atau kedua pihak orang tua, misalnya paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya. Selanjutnya ada yang disebut sebagai keluarga luas yang ditarik berdasarkan garis keturunan yang ada di atas keluarga inti, artinya mencakup seluruh rantai keluarga dari ayah dan ibu.

Bentuk-bentuk famili demikian dihubungkan oleh pertalian darah ataupun perkawinan.

Perubahan Bentuk Keluarga

Namun lalu seiring dengan perkembangan jaman ataupun pada praktek di masa lalu, kita juga mengenal famili yang tidak melulu dikaitkan dengan pertalian darah ataupun perkawinan. Misalnya pengangkatan anggota famili, yang mungkin relatif lazim kita temukan adalah anak angkat-orang tua angkat. Pengangkatan di sini tidak sinkron menggunakan adopsi, di mana proses adopsi melibatkan proses aturan sebagai akibatnya terdapat persyaratan administratif yang wajib dipenuhi oleh calon orang tua. Sementara pengangkatan keluarga biasanya bersifat informal hanya didasarkan dalam kesepakatan lisan antara ke 2 belah pihak, yang (salah satunya) tercermin melalui panggilan.

Di sisi lain, faktor ekonomi sudah menggerakkan masyarakat buat berubah, baik gaya hidup juga kondisi keluarga yg membentuk warga itu sendiri. Dulu, menggunakan pola pembangunan yang cenderung berpusat pada pulau Jawa, maka poly pemuda-pemuda menurut banyak sekali kampung merantau ke perkotaan yang terdapat di pulau Jawa. Tidak sedikit jua, para ayah ada pada dalam rombongan perantauan yang terpaksa meninggalkan famili mereka pada kampung demi mencari sesuap nasi ataupun merogoh peluang buat mengubah peruntungan famili. Bahkan mereka yg tinggal di kota-kota pun kadang merasa wajib merantau ke kota yg lain karena nir menemukan lapangan pekerjaan yg sinkron menggunakan diri mereka. Kondisi tersebut mempengaruhi bentuk keluarga yg ada, pada mana anak-anak tidak mencicipi kehadiran ?Ayah? Mereka dalam galat satu episode hayati mereka. Di sini, syarat keluarga tanpa ayah menjadi hal yg cukup lumrah ditemukan.

Sementara pada beberapa daerah tertentu, keluarga-keluarga malah harus kehilangan sosok bunda yg merantau ke negeri jiran sebagai asisten rumah tangga yg kita kenal sebagai TKI. Ketiadaan sosok bunda dalam keluarga, terutama pada proses tumbuh kembang sang anak, tentu sangatlah berat di mana mereka masih sangat membutuhkan afeksi berdasarkan sang bunda. Tetapi situasi yg sangat tidak ideal ini dijalani juga oleh sebagian keluarga pada Indonesia.

Komunitas, Sebuah Keluarga Baru

Satu bentuk famili yg lain adalah keluarga yg sebetulnya merupakan komunitas atas dasar kesamaan pada satu atribut eksklusif, contohnya wilayah asal, suku, hobi, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. Komunitas ini merupakan bentuk keluarga yang ?Baru?, namun nir benar-sahih baru, dalam artian bahwa bentuk ini sudah ada sebelumnya, tetapi semakin poly pada hari-hari ini. Komunitas ini diklaim menggunakan famili karena dibentuk atas dasar kekeluargaan, ataupun rasa kekeluargaan yg melingkupi para anggotanya. Di kota-kota tertentu, komunitas atas dasar suku ataupun wilayah dari adalah kelompok yang cukup jamak terbentuk. Contohnya di kota-kota Sumatera mempunyai serikat PUJAKESUMA yang merupakan singkatan berdasarkan Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera. Anggota-anggota menurut perkumpulan tadi tampak sangat hangat apabila berjumpa, laksana famili yg sudah usang nir berjumpa. Yang mengikat mereka merupakan kesamaan identitas suku Jawa yg hidup di pulau Sumatera. Kelompok ini terbentuk, melalui sejarah panjang negeri ini, di mana pada jaman penjajahan Belanda, orang-orang Jawa yang didatangkan ke Pulau Sumatera buat ?Dipekerjakan? Pada perkebunan-perkebunan yang dibuka oleh Belanda.

Sementara gerombolan -grup yg saat ini mulai poly terbentuk adalah atas dasar kesamaan hobi atau selera akan sesuatu. Ada grup gamer, yakni orang-orang yg mempunyai selera akan game berbasis personal komputer . Ada jua kelompok pecinta anak-anak, yakni orang-orang yg memiliki kepedulian terhadap nasib anak-anak. Ada pula grup pecinta lingkungan, yg berhubungan dengan informasi pelestarian lingkungan. Dan masih banyak lagi grup-gerombolan yang berdasarkan dalam kesamaan hal yang disukai.

sumber:djepok.blogspot.com

Kelompok misalnya ini bisa mengkategorikan menjadi sebuah famili jua di mana anggota-anggota di dalamnya merasakan kenyamanan dalam hubungan.

Keluarga pada masa kini , di satu sisi masih sama dalam bentuk yang terdapat, tetapi di sisi lain pula memunculkan bentuk yang tidak sama, yg tidak terkait dengan pertalian darah & perkawinan. Bentuk-bentuk famili tadi berusaha menyediakan hubungan yg nyaman bagi para anggota yang tergabung di dalamnya. Seperti halnya keluarga pada umumnya, interaksi antar anggotanya belum tentu berfungsi sebagaimana mestinya. Pada syarat eksklusif, hubungan di pada famili bisa berjalan menggunakan dingin, sehingga mengakibatkan perseteruan terselubung di antara anggotanya. Setiap keluarga dalam umumnya berusaha menaruh kenyamanan bagi para anggotanya.

Dengan ketenangan tadi, anggotanya dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang maksimal , terutama buat memenuhi panggilan hidupnya. Kenyamanan tadi terwujud pada dukungan yang didapatkan sang para anggotanya. Begitulah yg terjadi dalam orang yg sukses menjawab panggilan hidupnya, keliru satu faktor yang memampukannya adalah adanya dukungan yang diberikan sang keluarga kepadanya. Dukungan ini sanggup dihasilkan, baik menurut keluarga biologis maupun dari famili komunitas.

Peran Keluarga Dalam Panggilan Hidup

Sumber:www.kaskus.co.id

Setiap orang sangat membutuhkan dukungan berdasarkan keluarganya dalam menghadapi apapun masalah hidupnya. Walaupun keluarga belum tentu bisa menjamin tuntasnya problem yang kita hadapi, akan tetapi dukungan tadi akan menguatkan kita buat bertahan pada menyelesaikan duduk perkara yang dihadapi.

Seorang aktivis tentu jua mempunyai keluarga, paling tidak, dari berdasarkan sebuah famili juga. Dalam menjalankan aktivismenya tentu menghadapi berbagai dilema terkait dengan info yang digeluti sehari-hari. Kadang isu tersebut sebagai begitu pelik & menguras begitu poly tenaga sebagai akibatnya seorang aktivis mampu merasa begitu lelah luar biasa. Belum lagi masalah hidup lain yg nir berkaitan pribadi dengan berita aktivismenya, contohnya saja buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, belum lagi bila menjadi aktivis yg menikah dan memiliki anak, maka masalah tadi menjadi kian kompleks.

Dukungan famili bagi seorang aktivis tentu laksana oase yg menyegarkan & selalu dapat memulihkan semangat yg luntur karena aktivitas seharian. Percakapan yg intim menggunakan pasangan, bermain dengan anak, ataupun rendezvous menggunakan saudara/orang tua, tentu menjadi penghiburan tersendiri. Seorang aktivis akan semakin dikuatkan dengan dukungan berdasarkan famili, apa pun bentuknya.

Tetapi, kadangkala dukungan tadi nir selalu tersedia. Tidak semua famili berkenan memberikan dukungannya pada pilihan hidup menjadi seorang aktivis, terlebih bila berita yg dikerjakan penuh menggunakan tekanan menurut warga ketimbang dukungan. Belum lagi jika dihadapkan dalam kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, aktivisme mengalami tantangan terberatnya. Bayangkan, bilamana seseorang aktivis terpaksa banting setir lantaran oleh anak meminta buat dibelikan seragam sekolah ataupun famili masih wajib berpikir apa yg bisa dimakan besok. Atau ketika aktivis sakit, namun nir memiliki porto untuk berobat. Belum lagi hal-hal lain yg dianggap dengan cermin sosial yang terpampang di mana pun mata memandang. Keteguhan buat menjalankan aktivisme pun seolah menipis tanpa adanya dukungan keluarga.

Dukungan dari famili, baik orang tua juga pasangan, akan membantu meringankan persoalan yang dihadapi. Namun bagaimana apabila itu memang nir tersedia sama sekali?

Ada famili lain yg siap ditemukan & mampu ?Menggantikan? Kiprah pendukung. Ya, komunitas. Komunitas merupakan famili baru yg mampu kita temukan dan akan mendukung kita karena kecenderungan visi/misi dalam hidup. Menemukannya memang persoalan lain, tergantung bagaimana kita menentukan jalan dan pergaulan pada hayati ini. Sederhananya, salah pergaulan hanya akan menambah problem yang tidak berguna pada kehidupan kita. Bahkan nir jarang, komunitas sebagai famili yang sangat suportif terhadap pilihan hidup kita, maka tak heran jika komunitas berbasis isu aktivisme mampu menjadi penopang bagi keteguhan hati seseorang aktivis. Misalnya Walhi, yg sebagai salah satu corong pembela lingkungan Indonesia, bagaikan sebuah wadah bernaung bagi para pejuang lingkungan buat permanen setia pada panggilan aktivismenya. Keberadaan komunitas demikian sangatlah membantu menjaga aktivis untuk permanen hidup di tengah syarat yg berat.

Lalu, bilamana kita merupakan keluarga, apakah kita siap buat menaruh dukungan yang diperlukan bagi aktivis selanjutnya?

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *