[TIPS] Berbagi Waktu Antara Keluarga dan Aktivitas
By: Date: November 9, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Any Sulistyowati

Sebagai manusia, kita tentu merupakan bagian dari sebuah keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar.  Posisi dan peran kita di dalam sebuah keluarga pun berbeda-bada, misalnya sebagai istri, suami, anak, menantu, kakek, nenek, paman dan bibi dan sebagainya. Setiap peran tentu menuntut perhatian kita yang kita berikan antara lain dalam bentuk waktu.

Sebagai aktivis, kita juga perlu melakukan kerja-kerja krusial kita buat mewujudkan impian kita akan perubahan global ke arah yang lebih baik. Masalahnya, kerja-kerja krusial kita tadi banyak sekali membutuhkan saat berdasarkan kita. Jangankan membuatkan saat buat keluarga, banyak aktivis bahkan kekurangan saat buat mengurus dirinya sendiri.

Akibat situasi ini amatlah beragam. Banyak aktivis kemudian memilih untuk tidak menikah, sehingga mereka bisa fokus membaktikan diri mereka pada kerja-kerja penting untuk mewujudkan impian mereka. Ada yang menikah, tetapi memilih untuk tidak memiliki anak, agar masing-masing bisa fokus pada kerja-kerja aktivis mereka. Ada juga yang menikah, memiliki anak dan kemudian berbagi waktu dengan pasangannya agar masing-masing dari mereka dapat tetap beraktivitas dengan porsi waktu kerja yang lebih sedikit. Ada yang kebetulan cukup berada sehingga bisa membayar pembantu atau mengirim anaknya ke daycare, sehingga keduanya tetap bisa beraktivitas secara penuh. Apapun pilihan kita, semua memiliki konsekuensi.

Salah satu konsekuensi berdasarkan pilihan berkeluarga dan berkarir menjadi aktivis merupakan pengelolaan ketika. Waktu adalah sumberdaya yg sangat unik & berharga yang dimiliki oleh setiap orang. Semua orang mempunyai 24 jam sehari, tidak lebih, tidak kurang. Apabila tidak digunakan, waktu akan berlalu begitu saja. Tidak sanggup kita simpan atau ditumpuk sebagai tabungan. Bagaimana menggunakan saat 24 jam setiap hari tadi kita bisa memenuhi semua tuntutan, baik untuk pekerjaan-pekerjaan krusial kita juga buat keluarga yg kita sayangi.

Setiap orang tentu bebas untuk menggunakan waktunya. Hanya saja setiap dari kita tidak bebas dari konsekuensi dari pilihan kita tersebut, termasuk dari cara kita menggunakan waktu yang kita miliki. Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin dapat berguna bagi para aktivis untuk mengambil pilihan-pilihan dalam pengelolaan waktunya.  Di luar tips ini mungkin ada banyak tips lain yang bisa digunakan. Silakan dimanfaatkan jika dirasa berguna atau cocok dengan kebutuhan anda. Atau anggaplah sebagai tambahan pengetahuan, jika ternyata anda sudah memiliki tips lain yang lebih cocok untuk kondisi anda masing-masing.

Langkah 1: Sediakan saat buat diri sendiri

Sebagai aktivis, acapkali kita perlu bertindak tidak sinkron dari kebiasaan yg berlaku generik dan sebagai contoh supaya orang lain meniru tindakan kita buat mewujudkan dunia yg lebih baik. Kerja-kerja aktivis semacam ini menuntut tenaga yg akbar, baik menurut sisi fisik maupun mental. Untuk itu, kita perlu memperkuat diri sendiri, baik menurut sisi fisik, intelektual, mental juga spiritual. Untuk semua itu, kita membutuhkan saat. Jika kita tidak menyediakan ketika buat itu, yg terjadi ibaratnya misalnya gergaji yg tumpul yang dipaksakan buat memotong balok yang besar dan keras.

Waktu buat diri sendiri ibarat aktivitas mengasah gergaji itu. Ada ketika yang diperlukan untuk mengasah gergaji. Setelah diasah, gergaji menjadi tajam dan pekerjaan memotong kayu sebagai lebih cepat menggunakan gergaji yang lebih tajam. Sebaliknya bila gergaji tidak diasah, gergaji sebagai tumpul, & akhirnya membutuhkan waktu yg lebih lama dan energi yg lebih besar untuk memotong kayu yang akbar dan keras itu.

Banyak orang merasa enggan meluangkan waktu untuk diri sendiri. Merasa sayang untuk meluangkan waktu 20 menit setiap hari untuk berolahraga, atau membaca buku, atau sekedar bersantai untuk kesenangan diri sendiri. Mereka selalu menghabiskan waktu untuk orang lain, entah di pekerjaan ataupun di keluarga. Tidak ada waktu untuk diri sendiri. Kalau kebetulan hubungan di dalam keluarga dan pekerjaan baik, mungkin tidak terlalu masalah; tetapi jika kondisi tersebut tidak didapatkan, kemungkinan kita akan merasa kelelahan (burnt out). Dalam kondisi seperti ini tentu sangat sulit bagi kita untuk fokus melanjutkan kerja-kerja pelayanan kita. Bahkan kalau kita kelelahan, keluargapun dapat terkena dampak dari kondisi kita. Khususnya untuk orang-orang terdekat seperti anak-anak dan pasangan.

Menyediakan Waktu untuk Diri Sendiri

Kondisi kelelahan dapat memunculkan stress dan berbagai bentuk emosi negatif yang dapat mendorong kita menjadi lebih tidak sabaran dan tidak dapat berpikir jernih, sehingga tindakan kita justru berdampak negatif baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, termasuk orang-orang yang kita layani. Jika hal ini terjadi, tentu kualitas kerja-kerja aktivis kita menjadi menurun. Kita akan menjauh dari impian kita. Demikian juga dengan hubungan kita dengan rekan-rekan sekerja dan juga keluarga kita kemungkinan akan ikut terpengaruh.

Diri kita merupakan aset terpenting dalam mewujudkan virtual kita. Saya merupakan orang yg paling bertanggung jawab terhadap diri saya. Begitu pentingnya diri kita, maka krusial sekali bagi kita buat merawat dan mengasihi diri kita lebih menurut kita mencintai apapun di global ini. Hal ini mungkin tampak egois dari ukuran moral yg berlaku pada masyarakat. Namun jika kita tidak memiliki cinta buat diri kita sendiri, bagaimana kita bisa membuatkan cinta yg nir kita miliki pada pekerjaan & famili kita?

Bagaimana kita dapat mewujudkan cinta dalam diri kita sendiri? Salah satu bentuk cinta dalam diri sendiri merupakan memberi alokasi waktu spesifik untuk diri kita sendiri.

Pertama-tama, kita perlu mengenali diri kita sendiri dan kebutuhan-kebutuhannya. Kita perlu mencari hal-hal apa yang kita sukai. Ketika kita melakukan itu kita merasa bahagia. Tidak masalah apakah ketika kita akan melakukannya dibayar atau tidak, diketahui orang atau nir, berhasil atau nir. Kita hanya merasa bahagia & berenergi lagi waktu sedang dan sudah melakukannya. Apabila terdapat kegiatan-aktivitas semacam itu yang bisa anda lakukan, mungkin anda perlu mengalokasikan ketika buat melakukannya secara rutin sebagai cara buat mengisi ulang batere energi anda. Dengan pasokan energi internal yang tinggi, kita akan siap lagi buat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan krusial kita & pula memberikan perhatian yg dibutuhkan sang keluarga dan orang-orang yg kita sayangi.

Berapa lama & berapa seringkali kita perlu mengalokasikan saat buat diri sendiri, tentu berbeda-beda buat setiap orang. Kita perlu mengenal diri kita sendiri buat dapat menetapkan polanya. Ada orang yg mengambil waktu buat diri sendiri setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, setiap 5 tahun & bahkan setiap sepuluh tahun.

Bentuk kegiatannya pun bermacam-macam. Ada yang mengambil aneka macam jenis olah raga buat kegiatan untuk diri sendiri harian, ikut klub hobi buat aktivitas mingguan, atau berkunjung ke tempat-tempat menarik buat belajar sesuatu untuk kegiatan tahunan. Apapun bentuk aktivitas tersebut, pastikan bahwa kegiatan-kegiatan tadi memang kita sukai, kita inginkan, menggunakan alokasi ketika yg memang kita luangkan & biaya yang memang kita rela buat keluarkan. Jangan hingga saat melakukan aktivitas tersebut kita justru kepikiran beban pekerjaan atau keluarga yg ditinggalkan atau merasa rugi lantaran membayar terlalu mahal. Jika ini terjadi, tujuan awal melakukan aktivitas justru berbalik menimbulkan stress baru bagi kita.

Langkah 2 ? Tetapkan orang-orang kunci dan alokasikan saat buat mereka

Langkah kedua yg perlu dilakukan adalah mengenali kiprah-kiprah kita. Peran-peran kita ini lahir menurut impian kita tentang hidup misalnya apa yg ingin kita wujudkan. Untuk mencapai impian tersebut, kiprah-kiprah apa yg perlu kita lakukan. Untuk setiap kiprah kita, kita perlu mengalokasikan ketika yang relatif agar pelaksanaan peran tersebut bisa berjalan menggunakan baik.

Misalnya, saya adalah aktivis yg berkeluarga. Peran aku saat ini adalah aktivis di organisasi aku , mak buat ke 2 anak aku , pasangan hidup buat suami saya dan anak buat orang tua aku . Dalam peran-kiprah itu saya menemukan bahwa orang-orang kunci bagi aku adalah: kawan-kawan pada organisasi, anak-anak, pasangan dan orang tua saya. Nah selesainya itu, kita perlu menciptakan daftar tentang hal-hal krusial apa yang perlu kita lakukan bersama dengan orang-orang kunci tersebut. Misalnya, buat mitra-kawan di organisasi, aku perlu meluangkan saat buat mengerjakan banyak sekali proyek impian bersama-sama. Saya perlu mendata kebutuhan waktunya & mendistribusikannya pada dalam hari-hari saya. Demikian juga dengan anak-anak. Saya perlu mendata hal-hal penting apa yang perlu aku lakukan beserta menggunakan anak-anak dan kapan aku akan melakukannya bersama mereka. Hal yg sama berlaku buat orang-orang & peran-peran kunci lainnya.

Setelah seluruh terdata maka aku akan memasukkannya pada kalender atau agenda. Dengan memasukkan semua daftar yang ingin saya lakukan berikut alokasi waktunya, aku akan tahu apakah ketika aku cukup buat melakukan semua hal penting yg ingin saya lakukan? Berdasarkan data tadi, saya bisa membuat keputusan apakah aku perlu melakukan penjadwalan ulang, atau perlu menciptakan alokasi baru kegiatan-kegiatan yg aku anggap penting buat setiap orang kunci dan banyak sekali penyesuaian lainnya.

Dengan melakukan langkah di atas, kita akan memastikan bahwa orang-orang yg terpenting pada pada hayati kita sudah menerima alokasi waktu yang cukup menurut diri kita. Orang-orang krusial tadi termasuk famili yang kita sayangi, baik keluarga inti, maupun keluarga akbar.

Menyediakan waktu untuk orang-orang kunci

Berapa banyak waktu dan seberapa sering waktu yang perlu kita alokasikan untuk masing-masing peran dan orang-orang kunci tentu berbeda-beda untuk setiap orang. Hal pertama yang dapat dijadikan pertimbangan adalah kebutuhan. Hal kedua yang menjadi pertimbangan adalah ketersediaan waktu. Pada akhirnya waktu yang kita alokasikan adalah optimasi antara kebutuhan dan ketersediaan waktu.

Kadang-kadang kita perlu melakukan berbagai penyesuaian terhadap planning, karena salah satu aktivitas yang sudah dijadwalkan ternyata berubah waktunya, sebagai akibatnya perlu menggeser kegiatan yang sudah terdapat pada saat tadi. Ketika hal ini terjadi, kita perlu mengkomunikasikan dengan baik rencana perubahan tersebut kepada pihak-pihak terkait. Hal penting yg perlu kita pertimbangkan merupakan perilaku hormat kita pada pihak-pihak tersebut yang mungkin sudah mengalokasikan waktunya buat kita juga.

Pihak-pihak tersebut termasuk juga anak-anak kita yang masih kecil atau pasangan kita, jika kebetulan kita berkeluarga dan memiliki anak-anak. Kebanyakan anak-anak sangat mengharapkan menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Mereka merasa disayangi ketika kita meluangkan waktu khusus untuk mereka. Ketika kita telah menjanjikan sesuatu, sangat penting bagi kita untuk memenuhi janji kita tersebut. Dan jika kita tidak dapat memenuhi janji tersebut, kita perlu berani meminta maaf dengan tulus kepada mereka. Dengan begitu, mereka dapat merasakan bahwa kita memang sungguh-sungguh menganggap mereka orang-orang penting di dalam hidup kita.  Banyak orang justru mengabaikan orang-orang terpenting dalam hidup mereka, karena mereka menganggap orang-orang terdekat tersebut otomatis mengerti dan memaklumi akan tindakan kita. Kalaupun memang demikian, tetaplah baik untuk memberitahukan perubahan jadwal kita yang menyangkut mereka kepada orang-orang penting tersebut.

Langkah 3 ? Fokus dalam waktu kini

Ketika kita sudah memutuskan pilihan buat melakukan apa pada setiap waktu kita, yg perlu kita lakukan adalah penekanan dalam waktu kini . Jika kita telah memutuskan waktu buat menulis laporan, fokuslah pada laporan itu & lupakan yang lain. Dedikasikan seluruh konsentrasi, energi dan perhatian kita buat sesuatu yang sudah kita putuskan. Pasrahkan yang lain dalam perawatan Tuhan atau pemeliharaan alam semesta.

Hanya dengan cara demikian kita bisa menggunakan waktu kita secara efektif.  Akan sangat sulit ketika kita sudah memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak, tetapi pikiran kita melayang-layang ke pekerjaan yang belum selesai. Atau ketika kita sedang mengalokasikan waktu untuk bekerja, kita teringat anak-anak yang sedang ulangan umum. Dengan penggunaan waktu semacam itu, tentulah hasil yang kita capai malah tidak maksimal. Penggunaan waktu yang tidak maksimal artinya, kita akan perlu mengalokasikan waktu lagi untuk melaksanakan kegiatan yang terhutang. Bisa jadi akhirnya malah mengurangi waktu kita untuk mengurus hal-hal yang kita cemaskan.

Kemampuan berfokus dalam ketika sekarang adalah salah satu kunci keberhasilan banyak orang. Cara-cara buat membantu kita berfokus tidak sama buat setiap orang. Ada orang yang memerlukan waktu tenang, tanpa suara buat bekerja. Ada yang memerlukan musik atau suara pengiring buat membantu fokus. Ada orang yang perlu kita tatap matanya saat kita bicara. Ada yg justru merasa nyaman waktu kita berbicara menggunakan mereka sambil melakukan sesuatu yg lain. Pilihan-pilihan untuk dapat serius perlu dikenali baik untuk kita sendiri juga buat orang-orang kunci. Dengan demikian, kita sanggup saling membantu buat fokus di pada rendezvous-rendezvous kita menggunakan mereka. Mudah-mudahan menggunakan demikian, setiap saat yg kita luangkan buat orang-orang kunci tadi menjadi saat yang bermakna, baik bagi kita maupun bagi mereka.

Demikian beberapa saran membuatkan ketika antara famili & kegiatan. Semoga bermanfaat. Jika anda tertarik buat mendalami lebih jauh tentang pengelolaan ketika anda, anda dapat menghubungi KAIL buat mendapatkan layanan pembinaan & pendampingan mengenai Pengelolaan Waktu Pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *