[MEDIA] The Pursuit of Happyness – Kehadiran Seorang Ayah
By: Date: November 13, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Agustein Okamita

Perjuangan Hidup

Chris Gardner merupakan seorang bapak yang memiliki seorang anak, mereka tinggal di San Fransisco, USA. Sehari-hari, Chris berprofesi menjadi penjual indera kesehatan. Isteri Chris, Linda, bekerja menjadi pelayan pada sebuah hotel. Kehidupan keluarga ini cukup sederhana. Mereka tinggal di sebuah rumah sewaan bersama anak laki-laki mereka, Christopher.

Sumber gambar: https://cronk3rdhoureng12.wikispaces.com/Pursuit+of+Happyness

Chris menjual portable bone-density scannersatau alat pemindai kerapatan tulang. Alat tersebut memberikan hasil yang sedikit lebih baik daripada x-ray scanners, tetapi harganya lebih mahal dua kali lipat. Penjualan alat ini tidak selalu berjalan mulus karena harganya yang mahal. Selain itu, banyak rumah sakit dan dokter merasa tidak memerlukan alat seperti itu.

Penghasilan Chris tidak menentu karena bergantung pada keberhasilannya menjual scanner itu. Jika bisa menjual dua buah alat dalam satu bulan, penghasilan Chris cukup untuk membayar sewa rumah dan pajak. Tetapi tak jarang juga Chris tidak bisa menjual satu alat pun.

Suatu hari, ketika sedang berjalan menuju sebuah rumah sakit untuk menawarkan alat kesehatan, Chris bertemu dengan Jay Twistle. Pertemuan itu memberi kesempatan pada Chris untuk bertanya tentang pekerjaan Jay. Jay adalah salah seorang stockbroker (makelar saham) di perusahaan Dean Witter. Ketika perusahaan itu membuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan menjadi stockbroker di sana, Chris mengirimkan lamaran. Ia mendapat panggilan untuk wawancara dengan para direkturnya. Akan tetapi, sebelum tiba hari wawancara, Chris mengalami persoalan berat. Polisi mendatangi rumahnya dan menangkapnya.

Peristiwa itu terjadi waktu Chris akan menawarkan indera pemindai di sebuah tempat tinggal sakit. Rumah sakit itu tidak mempunyai tempat parkir, sebagai akibatnya Chris memarkirkan mobilnya pada pinggir jalan. Lantaran parkir pada loka yg keliru, Chris harus membayar hukuman. Chris nir bisa membayar hukuman, sebagai akibatnya polisi menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dia harus menginap pada penjara selama beberapa hari, dan keluar pada hari beliau akan diwawancara oleh para direktur perusahaan saham itu. Dia tiba ke tempat wawancara menggunakan mengenakan sandang yang dikenakannya saat dia ditangkap sang polisi.

Chris lulus wawancara dan ditawari untuk ikut dalam pelatihan stockbroker  yang diadakan oleh perusahaan Dean Witter. Pelatihan itu gratis, tetapi dia tidak dibayar sepeser pun. Karena tidak digaji selama masa training yang berlangsung enam bulan, awalnya Chris menolak untuk ikut pelatihan itu. Akhirnya ia bersedia untuk ikut, setelah Jay membujuknya.

Ketidakpastian penghasilan Chris dan tuntutan kehidupan menciptakan isterinya merasa kepahitan. Linda seringkali mengeluh dan murka kepada Chris, yg dianggapnya tidak sanggup memberi nafkah bagi famili mereka. Pada suatu hari, Linda berkata bahwa beliau akan meninggalkan Chris & pindah ke New York untuk bekerja pada restoran kakaknya. Chris mengizinkan Linda pulang, tetapi meminta Linda membolehkannya buat mengasuh anak mereka. Linda sepakat bahwa Chris yg akan merawat Christopher, kemudian beliau pergi meninggalkan suami & anaknya.

Sambil mengikuti pelatihan untuk menjadi stockbroker, Chris tetap harus menjual alat kesehatannya, agar dia dan anaknya tetap bisa makan. Kehidupan memang tidak selalu berjalan lancar. Pada suatu waktu, Chris dan anaknya terpaksa meninggalkan rumah sewaan karena pemilik rumah mengusirnya. Mereka diusir karena Chris tidak membayar uang sewa selama beberapa bulan.

Karena tidak mempunyai uang yg relatif buat membayar sewa rumah, mereka terpaksa menjadi tuna wisma. Mereka wajib pindah menurut satu loka ke loka lain setiap hari, sembari membawa barang-barang milik mereka. Kadang-kadang mereka harus menginap di stasiun atau pada tempat-loka yg dirasa aman. Setelah berpindah-pindah tempat, akhirnya mereka mampu tinggal di barak-barak penampungan yg disediakan sang sebuah gereja untuk para tuna wisma. Ini cukup melegakan, meskipun buat menerima loka penginapan itu mereka wajib antri pada barisan yg panjang.

Titik kembali

Chris Gardner bukanlah seorang yang bodoh. Ketika remaja, dia dijuluki oleh teman-temannya sebagai ‘ten-gallons head’ (orang yang kepalanya berisi), karena pintar. Di kelasnya dia selalu berada di peringkat pertama sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah. Chris pernah berpikir bahwa kepintarannya dapat membawanya ke mana saja dia mau. Dia berpikir bahwa dunia akan berpihak padanya kalau dia cerdas. Tetapi kenyataan yang terjadi tidaklah demikian.

Chris tidak pernah memberitahukan masalah keuangannya kepada teman-temannya, sehingga mereka tidak tahu bahwa Chris hidup berpindah-pindah. Meskipun menjadi tuna wisma, Chris tetap bekerja dan belajar dengan giat. Setelah mengikuti ujian, Chris dinyatakan lulus dan diterima bekerja sebagai stockbroker di Dean Witter. Sejak saat itu kehidupannya mulai membaik.

Ayah yang hadir

Film “Pursuit of Happyness” diambil dari sekelumit kisah nyata kehidupan Chris Gardner. Film ini menceritakan peristiwa ketika Chris mengalami masalah keuangan dan bahkan pernah menjadi tuna wisma, yang berlangsung kurang lebih selama satu tahun.

Sumber gambar: www.Popmatters.Com

Hal yang menarik dari kehidupan Chris Gardner ini merupakan, beliau sangat memperhatikan anaknya dan selalu terdapat untuknya. Kehadirannya sebagai ayah terlihat dalam kesehariannya. Setiap pagi sebelum memulai pekerjaannya, Chris mengantar anaknya ke sekolah yg sekaligus sebagai tempat penitipan anak. Setelah mengantar Christopher, baru Chris memulai aktivitasnya dalam hari itu. Sepulang dari bekerja, Chris menjemput anaknya berdasarkan tempat penitipan, & mereka bersama-sama pulang ke rumah. Kadang-kadang mereka berjalan-jalan pada taman beserta-sama & menikmati kebersamaan mereka.

Chris Gardner pertama kali bertemu dengan ayah kandungnya pada usia 28 tahun. Pengalaman masa kanak-kanak yang sulit karena ayah tirinya membuat Chris berjanji untuk tidak meninggalkan anak-anaknya. Dia pernah bertekad, jika ia memiliki anak-anak, maka anak-anaknya harus mengenal siapa ayahnya dan mengetahui bahwa ayah tidak pernah meninggalkan mereka.[i]

Meskipun tidak mengenal figur seseorang ayah yg baik saat kanak-kanak, Chris permanen bertekad menjadi ayah yg baik bagi anak-anaknya. Selama masa-masa yg berat dalam kehidupannya & saat sebagai tuna wisma, nir pernah sekali pun Chris meninggalkan anaknya. Meskipun wajib berpindah-pindah loka berteduh setiap hari, Christopher permanen ikut bersamanya.

Saat ini Chris Gardner adalah CEO dari perusahaan brokerage (penjualan saham) Gardner Rich & Co di Chicago, yang berbasis di Illinois, USA. Chris juga berprofesi sebagai seorang entrepreneur, stockbroker, dan motivator. Chris Gardner adalah dermawan yang mensponsori banyak organisasi amal, terutama Program Cara dan United Methodist Church Glide Memorial di San Francisco, di mana ia dan anaknya diterima pada saat sangat membutuhkan tempat berlindung. Chris membantu pembangunan rumah-rumah sederhana bagi orang-orang berpenghasilan rendah dan membuka kesempatan pekerjaan bagi orang-orang di San Fransisco, tempat dia pernah menjadi seorang tuna wisma. [ii]

[i] http://www.chrisgardnermedia.com/chris-gardner-biography.html

[ii] http://en.wikipedia.org/wiki/Chris_Gardner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *