[MASALAH KITA] Konflik Peran Ganda Ibu Aktivis
By: Date: November 15, 2018 Categories: Uncategorized

Oleh: Anastasia Levianti

Ibu aktivis menjalankan setidaknya dua peran, yakni kiprah domestik menjadi bunda menurut anak-anaknya ataupun istri, & kiprah sosial sebagai agen perubahan di masyarakat. Di samping idealisme yang intensif, ke 2 kiprah ini menuntut anugerah ketika, pikiran, perhatian, & tindakan menurut ibu. Ada kalanya, ke 2 kiprah menuntut hadiah yang sama banyaknya dalam saat bersamaan, sehingga mak mengalami perseteruan.

Saat menghadapi situasi pertarungan, ibu dihadapkan pada setidaknya 3 pilihan, yakni : (1) mendahulukan peran domestiknya, (dua) mengutamakan peran sosialnya, atau (3) mencari cara buat memadukan keduanya. Yang paling sering terjadi merupakan mak mengedepankan keliru satu kiprah dan mengebelakangkan kiprah yang lain. Sebagai akibatnya, ibu merasa bersalah lantaran galat satu kiprah tidak dia jalankan secara optimal.

Ibu kemudian melakukan evaluasi dan merencanakan langkah perbaikan, mulai dari penetapan skala prioritas, manajemen ketika, strategi mengelola stamina dan emosi, serta hal lain-lainnya. Rencana pemugaran tidak pribadi berhasil dijalankan. Rangkaian perseteruan, langkah solusi, penilaian, dan rencana pemugaran pun menjadi siklus berulang yang dialami ibu. Perubahan terjadi sedikit demi sedikit, lambat, kurang signifikan, & melelahkan. Oleh lantaran itulah Rubrik ?Masalah Kita? Mengangkat topik ini, untuk menguraikan permasalahan menurut konflik kiprah ganda mak aktivis, dan memperoleh gambaran mengenai alternatif penyelesaiannya.

Berikut jawaban 7 responden buat permasalahan kiprah ganda yang dialami.

# Marah pada anak lantaran bunda stress oleh aktivitas padat dalam saat sempit

# Merasa bersalah kepada anak lantaran bunda mendahulukan pekerjaan

# Merasa ragu apakah aktivitas sosial permanen perlu dipertahankan

# Tak terdapat perkara, konfiden anak didukung lingkungan eksternal waktu mak beraktivitas pada luar

Dari hasil rekap di atas, tampak bahwa salah satu keluhan utama bunda adalah perasaan terhimpit sang banyaknya tugas yang perlu beliau selesaikan pada waktu terbatas. Perasaan terhimpit lahir dampak desakan cita-cita buat mewujudkan hasil paripurna di kedua bidang secara cepat & sempurna. Keterhimpitan bunda umumnya disalurkan pada bentuk konduite marah kepada suami yang dianggap kurang kooperatif, maupun anak-anak yang cita rasanya sulit diatur dan menuntut perhatian lebih. Perilaku marah terjadi semakin seringkali, semakin intens, dan semakin sulit dikendailkan, meski perasaan menyesal selalu datang selesainya amarah reda. Mengapa demikian?

Ibu mengalami frustrasi berulang-ulang. Pikiran ibu tentang “apa yang seharusnya” berkebalikan dengan kenyataan di depan mata. Tanpa sadar, ibu terjebak pada idealismenya sendiri.  Ditambah dengan cermin sosial yang terbentuk selama ini bahwa seorang ibu haruslah sempurna, senantiasa sabar, telaten merawat dan mengasihi keluarganya. Dari sinilah pangkal mula seorang ibu mengharuskan dirinya memenuhi kondisi tertentu, dengan dalih, “Berperilaku marah-marah itu tidak baik. Segala perilaku kurang optimal harus diperangi, tidak boleh dibiarkan begitu saja” Ibu menolak untuk menerima diri dan lingkungannya secara apa adanya, karena segala hal yang tidak sesuai idealismenya dianggap buruk dan merasa wajar untuk diperbaiki. Dalam hal ini, ibu telah mencintai diri sendiri secara berpamrih. Artinya, ia hanya mampu merasa bahagia ketika idealismenya tercapai.

Pamrih atau cinta bersyarat ibu terapkan secara otomatis juga pada lingkungan di luar dirinya. Anak, suami, rekan, atau lingkungan harus memenuhi idealismenya, barulah mereka semua itu dapat ibu balas sikapi dengan baik. Padahal kenyataannya, setiap orang itu  beranekaragam, dengan cara mereka masing-masing untuk memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan memenuhi keinginan mereka sendiri, baik dengan cara yang kasar maupun dengan cara yang halus. Kenyataan ini sungguh buruk bagi ibu, karena bertentangan dengan konsep idealnya mengenai manusia sebagai makhluk berbudi tulus. Ibu tidak mau melihat mereka secara transparan. Ibu belum bisa mencintai mereka secara apa adanya. Ibu mudah dikecewakan.

Akar masalah yg perlu ibu aktivis pahami ialah ketidakmauan mengasihi diri sendiri secara apa adanya, yang berkembang menjadi ketidakmauan mengasihi realita & lingkungan yang lebih luas secara apa adanya pula. Seperti perempuan yang menutupi perasaan jeleknya dengan berdandan, apapun upaya yang dilakukan, sekedar menimbulkan ria sesaat, & nir berdaya melahirkan perasaan anggun dari pada dan cinta.

Alternatif solusi yang perlu ibu aktivis pertimbangkan adalah berhenti memoles diri dan orang lain, ataupun kenyataan di depan mata. Berhenti mencocokkan keadaan diri sesuai cermin sosial. Setiap yang ada pada suatu saat sudah hadir dengan kesejatiannya yang penuh, tanpa perlu perbaikan ataupun sekedar pelengkap kemasan. Getaran cinta tanpa syarat akan melahirkan tindakan memelihara, bukan memerangi, seperti wanita yang menyayangi fisiknya dan merawat kondisinya. Karena tanpa pamrih, ibu akan terbuka menerima keadaan chaos dan spontanitas pihak lain, tidak lagi memaksakan perwujudan idealisme pribadi. Tindakannya bersifat merespon kebutuhan bersama dari hatinya, bukannya membalas atau re-aksi. Sebaliknya, aksi yang ibu lakukan akan menggugah hati pihak lain untuk memberikan respon sesuai kebutuhan bersama, bukannya memancing balasan atau re-aksi mereka.

Bagaimana menunda dorongan buat memoles diri, mengingat dorongan tadi tiba secara kuat dan cepat, nyaris seperti refleks saja sifatnya? Cara primer adalah, menyadari momen 1-dua dtk ketika dorongan itu ada, menerimanya hadir pada dalam diri, kemudian melepaskannya, dorongan itu secara alamiah akan reda.

Di samping keluhan perasaan terhimpit dan respon amarah, terdapat juga keluhan tentang kelelahan dan ketidakberdayaan, dan keraguan buat tetap menekuni ke 2 kiprah atau ketakutan buat melepas salah satunya. Saat bunda merasa lelah dan tidak berdaya, secara jujur tubuh bunda mengungkap kebutuhannya akan istirahat. Namun amanah jua diakui bahwa pikiran mak tidak mampu menghentikan semua aktivitas rutin dari kedua peran yang sudah dia jalani selama ini. Ibu misalnya robot pekerja yg mulai aus dimakan usia. Orientasi utamanya merupakan produktivitas. Tindakan mak berlandaskan prediksi logis & mengabaikan dorongan perasaan. Tanpa sadar, bunda menyikapi kehidupannya sebagai proses bisnis yg perlu beliau kelola, bukan menjadi misteri yg perlu beliau hidupi.

Di tengah-tengah itu, terdapat kalanya, ibu merasa bimbang. Ibu ragu apakah kedua kiprah perlu ia pertahankan, ataukah lebih tepat penekanan menekuni keliru satu peran & peran lain sekedar menjadi pengisi ketika luang. Berbagai pro kontra timbul pada pulang setiap peran, seakan saling ingin mengalahkan satu sama lain dan hanya akan ada satu kiprah yang timbul menjadi pemenang. Ragam pertimbangan semakin berseliweran, dan semakin sulit dipilah, mana yg kebutuhan sejati dan mana yg perangkap pembenaran. Berbagai ketakutan merintangi itikadnya melepas anak dalam penyelenggaraan lingkungan lebih kurang. Ibu juga risi kelompok masyarakat binaannya akan telantar jika dia menghentikan peran sosialnya. Sementara permanen menjalankan keduanya tanpa prioritas kentara membebani mak .

Akar masalah dari keluhan-keluhan ibu ini adalah rasa takut atau kurang percaya terhadap situasi ketidakpastian. Sebagai aktivis, keberanian ibu sebatas menghadapi situasi pasti, yakni memperjuangkan idealisme yang ia yakini benar dan memerangi perihal yang sudah jelas dianggap negatif oleh lingkungan. Situasi terus mempertahankan produktivitas meski dibebani kelelahan juga merupakan situasi pasti, yang enggan diubah karena khawatir menimbulkan chaos.

Alternatif solusi yang perlu ibu pertimbangkan adalah mengembangkan courage, more than brave. Ibu perlu berani mengambil keputusan berdasarkan suara hatinya. Bagaimana mendeteksi suara hati yang perlu diikuti? Suara hati memiliki kuasa, yang mendorong manusia secara alamiah untuk bertindak, meski menghadapi macam-macam rintangan. Dan begitu keputusan ditetapkan, semua kemudahan bergulir memenuhi kebutuhan semua pihak.

Berikut perilaku yang diambil responden atas konflik peran ganda yang dialaminya.

# Membuat planning lebih baik, melakukan penilaian terpola, dan mendapat apapun hasilnya

# Memilih alternatif yang dapat menciptakan mak bahagia, dan menularkan kebahagiaannya

# Percaya dalam lingkungan, waktu menyerahkan anak ke dalam proteksi ?Rahim global?

Ketidaksempurnaan ini, benar-benar, sudah paripurna. Selamat Menikmati Harimu, Ibu!

Sumber gambar: http://www.noormafitrianamzain.com/2012/03/prestasi-dan-prestise.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *